Oleh Pietsau Amafnini

Betapa terkejutnya masyarakat adat dan pemukim transmigrasi di SP 8 hingga SP 10 Masni dan Sidey, Kabupaten Manokwari. Hujan deras selama semalam suntuk akhirnya merubah suasana keceriaan di malam hari itu menjadi panik ketakutan pada pagi harinya, tanggal 16 Februari 2014. Nikson Kasi, relawan Jasoil Tanah Papua di Kampung Saray mengabarkan dari kampung bahwa banjir sedang melanda kampung Mansaburi. Kali Wariori merupakan sungai yang melintasi perkebunan sawit milik PT. Medco Papua Hijau Selaras (MPHS) meluap karena banjir dari gunung.

Sedikitnya 139 rumah masyarakat di Kampung Mansaburi yang terletak di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, hanyut terseret arus banjir luapan sungai Wariori. Tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian materiil ditaksir miliaran rupiah. Lebih sedih lagi dikabakan bahwa tanaman-tanaman di kebun milik masyarakat dan juga ternak-ternak peliharaan masyarakat terseret oleh banjir yang mengamuk di tengah kebun sawit itu.

Menurut cerita Nikson, sungai itu meluap sekitar pukul 04.30 WIT. Tanggul sungai itu jebol, sehingga banjir bandang menerjang rumah-rumah yang berada di bantarannya. Kepala Kampung Mansaburi, Robert Gasang membenarkan bahwa terdapat 139 rumah milik masyarakat setempat hanyut terseret arus. Sedangkan jumlah penduduk yang mencapai 700-an wrga itu terpaksa harus mengungsi untuk menghindari banjir dari sungai Wariori. Karena sampai dengan hari kedua dan ketiga, hujan deras pun masih terus terjadi, walaupun tinggi air semakin menurun.

“Kitorang hanya khwatir saja, kalau nanti hujan tidak berhenti selama 2 sampe 3 hari. Ini sudah, sawit dia punya pahit sudah datang berupa banjir”, kata Demmy Safe, aktivis Jasoil Tanah Papua yang berkunjung ke lokasi untuk memastikan rumah keluarganya yang juga didekat lokasi banjir itu. Lanjut Nikson, “memang tidak ada korban jiwa, tetapi banjir itu sapu bersih tanaman di kebun masyarakat seperti padi, cabe, kacang, tomat dan tanaman lainnya sebagainya. Hewan-hewan ternak juga turut terbawa banjir.”

Kejadian ini menurut sejumlah warga trans swakarsa maupun trans nasional di SP 8 Masni, mereka mengatakan bahwa sebelumnya waktu itu hanya lokasi perkebunan milik PT.PN II Parafi, banjir belum terlalu nampak.   Tetapi sekarang justru banjir terus mengancam masyarakat karena hutan sudah terbuka sampai daerah gunung, sehingga masyarakat sudah mulai dikhawatirkan oleh banjir yang selalu akan terjadi. Apalagi musim hujan begini, kita selalu harus waspada, karena bencana kalau mau datang itu tidak memberi pengumuman terlebih dahulu.***Koordinator JASOIL Tanah Papua

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh Pietsau Amafnini

    Betapa terkejutnya masyarakat adat dan pemukim transmigrasi di SP 8 hingga SP 10 Masni dan Sidey, Kabupaten Manokwari. Hujan deras selama semalam suntuk akhirnya merubah suasana keceriaan di malam hari itu menjadi panik ketakutan pada pagi harinya, tanggal 16 Februari 2014. Nikson Kasi, relawan Jasoil Tanah Papua di Kampung Saray mengabarkan dari kampung bahwa banjir sedang melanda kampung Mansaburi. Kali Wariori merupakan sungai yang melintasi perkebunan sawit milik PT. Medco Papua Hijau Selaras (MPHS) meluap karena banjir dari gunung.

    Sedikitnya 139 rumah masyarakat di Kampung Mansaburi yang terletak di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, hanyut terseret arus banjir luapan sungai Wariori. Tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian materiil ditaksir miliaran rupiah. Lebih sedih lagi dikabakan bahwa tanaman-tanaman di kebun milik masyarakat dan juga ternak-ternak peliharaan masyarakat terseret oleh banjir yang mengamuk di tengah kebun sawit itu.

    Menurut cerita Nikson, sungai itu meluap sekitar pukul 04.30 WIT. Tanggul sungai itu jebol, sehingga banjir bandang menerjang rumah-rumah yang berada di bantarannya. Kepala Kampung Mansaburi, Robert Gasang membenarkan bahwa terdapat 139 rumah milik masyarakat setempat hanyut terseret arus. Sedangkan jumlah penduduk yang mencapai 700-an wrga itu terpaksa harus mengungsi untuk menghindari banjir dari sungai Wariori. Karena sampai dengan hari kedua dan ketiga, hujan deras pun masih terus terjadi, walaupun tinggi air semakin menurun.

    “Kitorang hanya khwatir saja, kalau nanti hujan tidak berhenti selama 2 sampe 3 hari. Ini sudah, sawit dia punya pahit sudah datang berupa banjir”, kata Demmy Safe, aktivis Jasoil Tanah Papua yang berkunjung ke lokasi untuk memastikan rumah keluarganya yang juga didekat lokasi banjir itu. Lanjut Nikson, “memang tidak ada korban jiwa, tetapi banjir itu sapu bersih tanaman di kebun masyarakat seperti padi, cabe, kacang, tomat dan tanaman lainnya sebagainya. Hewan-hewan ternak juga turut terbawa banjir.”

    Kejadian ini menurut sejumlah warga trans swakarsa maupun trans nasional di SP 8 Masni, mereka mengatakan bahwa sebelumnya waktu itu hanya lokasi perkebunan milik PT.PN II Parafi, banjir belum terlalu nampak.   Tetapi sekarang justru banjir terus mengancam masyarakat karena hutan sudah terbuka sampai daerah gunung, sehingga masyarakat sudah mulai dikhawatirkan oleh banjir yang selalu akan terjadi. Apalagi musim hujan begini, kita selalu harus waspada, karena bencana kalau mau datang itu tidak memberi pengumuman terlebih dahulu.***Koordinator JASOIL Tanah Papua

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on