Kawasan hutan pegunungan Arfak merupakan rumah dan tempat hidup burung pintar, disebut juga Namdur Polos (amblyornis inornatus). Binatang endemic di hutan Papua ini dapat dengan mudah ditonton dari celah belukar dan balik pohon di hutan alam ketika burung pintar jantan hendak menggoda sang betina dengan tarian, suara dan dekorasi sangkar yang indah.

Suku Hatam yang berdiam dipegunungan Arfak menamakan burung pintar dengan sebutan Mbreceu dan mereka memberikan berbagai julukan atas kepintaran burung ini, antara lain: pemulung sampah karena hiasan sarangnya dari barang bekas, juga dijuluki pekerja keras karena burung jantan membangun sarang dengan usaha keras untuk mengumpulkan sampah hingga menyusun menjadi sarang.

Atraksi burung pintar dan hutan alam yang terjaga tersebut mendatangkan berkat pendapatan bagi warga setempat yang bersumber dari kunjungan wisatawan asal luar negeri. “Di Kampung Kwou sudah lebih dari 10 negara yang mengunjungi kampung ini, mereka melakukan perjalanan di hutan, mengamati burung pintar, menikmati air terjun dan pemandangan alam”, ujar Hans Mandacan, yang juga berprofesi sebagai pemandu local untuk tamu-tamu yang berkunjung ke daerah ini.

Hans mengakui kehadiran wisatawan luar negeri cukup membantu memberikan nilai tambah pendapatan warga di daerah ini. Mereka merasa pengelolaan wisata ala masyarakat ini paling cocok buat model ekonomi alternatif, mereka bisa mandiri dan bermanfaat untuk mengurangi tekanan terhadap hutan.

Pembukaan lahan hutan untuk pertanian dan perkebunan telah menyebabkan berkurangnya kawasan hutan dan hewan semakin sulit, juga burung pintar. Pendapatan dari hasil pertanian juga tidak menguntungkan masyarakat.

“Kalo masyarakat bawa hasil bumi dari Arfak ke pasar Wosi (Manokwari) hanya memiliki keuntungan sedikit. Mereka dapat uang 200 ribu hanya digunakan untuk biaya transport bolak balik ke kampung. Tapi ekowisata dari hutan alam dan burung pintar sangat membantu masyarakat di Kampung Kwau dan Syou”, kata Hans Mandacan. Orang dewasa, perempuan, janda dan bahkan anak remaja terlibat dalam bisnis wisata lokal ini dan mendapatkan uang.

“Masyarakat juga semakin peduli menjaga hutan agar tidak rusak. Pemerintah Daerah juga harus perhatikan ekonomi masyarakat dari wisata ini, juga kami tidak mengijinkan perusahaan dan segala hal yang merusak hutan.”, kata Hans Mandacan.

Hans Mandacan, Zeth Wonggor dan warga Arfak lainnya, khawatir dengan kebijakan pemerintah yang tidak serius untuk memberdayakan masyarakat dan menjaga hutan.

“Contohnya, kita melihat bagaimana perusahaan kelapa sawit yg ada di dataran Prafi saat ini, masyarakat lokal tidak tahu kelola dan mereka hanya jadi penonton, padahal mereka punya hasil sendiri, ini satu hal yang harus diperhatikan pemerintah. Pemerintah harus perjuangkan pembangunan yang tepat dan sesuai dengan kemampuan masyarakat sehingga mereka bisa terlibat secara langsung, tetapi kalo hanya jadi penonton itu sangat rugi bagi masyarakat,” ujar Hans berharap.

Ank, Feb 2014

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kawasan hutan pegunungan Arfak merupakan rumah dan tempat hidup burung pintar, disebut juga Namdur Polos (amblyornis inornatus). Binatang endemic di hutan Papua ini dapat dengan mudah ditonton dari celah belukar dan balik pohon di hutan alam ketika burung pintar jantan hendak menggoda sang betina dengan tarian, suara dan dekorasi sangkar yang indah.

    Suku Hatam yang berdiam dipegunungan Arfak menamakan burung pintar dengan sebutan Mbreceu dan mereka memberikan berbagai julukan atas kepintaran burung ini, antara lain: pemulung sampah karena hiasan sarangnya dari barang bekas, juga dijuluki pekerja keras karena burung jantan membangun sarang dengan usaha keras untuk mengumpulkan sampah hingga menyusun menjadi sarang.

    Atraksi burung pintar dan hutan alam yang terjaga tersebut mendatangkan berkat pendapatan bagi warga setempat yang bersumber dari kunjungan wisatawan asal luar negeri. “Di Kampung Kwou sudah lebih dari 10 negara yang mengunjungi kampung ini, mereka melakukan perjalanan di hutan, mengamati burung pintar, menikmati air terjun dan pemandangan alam”, ujar Hans Mandacan, yang juga berprofesi sebagai pemandu local untuk tamu-tamu yang berkunjung ke daerah ini.

    Hans mengakui kehadiran wisatawan luar negeri cukup membantu memberikan nilai tambah pendapatan warga di daerah ini. Mereka merasa pengelolaan wisata ala masyarakat ini paling cocok buat model ekonomi alternatif, mereka bisa mandiri dan bermanfaat untuk mengurangi tekanan terhadap hutan.

    Pembukaan lahan hutan untuk pertanian dan perkebunan telah menyebabkan berkurangnya kawasan hutan dan hewan semakin sulit, juga burung pintar. Pendapatan dari hasil pertanian juga tidak menguntungkan masyarakat.

    “Kalo masyarakat bawa hasil bumi dari Arfak ke pasar Wosi (Manokwari) hanya memiliki keuntungan sedikit. Mereka dapat uang 200 ribu hanya digunakan untuk biaya transport bolak balik ke kampung. Tapi ekowisata dari hutan alam dan burung pintar sangat membantu masyarakat di Kampung Kwau dan Syou”, kata Hans Mandacan. Orang dewasa, perempuan, janda dan bahkan anak remaja terlibat dalam bisnis wisata lokal ini dan mendapatkan uang.

    “Masyarakat juga semakin peduli menjaga hutan agar tidak rusak. Pemerintah Daerah juga harus perhatikan ekonomi masyarakat dari wisata ini, juga kami tidak mengijinkan perusahaan dan segala hal yang merusak hutan.”, kata Hans Mandacan.

    Hans Mandacan, Zeth Wonggor dan warga Arfak lainnya, khawatir dengan kebijakan pemerintah yang tidak serius untuk memberdayakan masyarakat dan menjaga hutan.

    “Contohnya, kita melihat bagaimana perusahaan kelapa sawit yg ada di dataran Prafi saat ini, masyarakat lokal tidak tahu kelola dan mereka hanya jadi penonton, padahal mereka punya hasil sendiri, ini satu hal yang harus diperhatikan pemerintah. Pemerintah harus perjuangkan pembangunan yang tepat dan sesuai dengan kemampuan masyarakat sehingga mereka bisa terlibat secara langsung, tetapi kalo hanya jadi penonton itu sangat rugi bagi masyarakat,” ujar Hans berharap.

    Ank, Feb 2014

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on