Manokwari, TP – Sylva (Ikatan Mahasiswa Kehutanan Indonesia) Cabang Universitas Negeri Papua dan sejumlah mahasiswa UNIPA, merencanakan aksi demonstrasi ke Kantor Bupati dan DPRD Manokwari, Senin (3/3). Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan terhadap PT. Medco yang meanggar prosedur pengolahan hutan.

Seperti diketahui sebelumnya, PT. Medco merupakan salah satu perusahaan yang disebut dan erat kaitannya dengan banjir yang melanda dua kampung di Distrik Masni, yakni Kampung Mansiburi dan Wariori.

Koordinator aksi, Charles Sroyer saat ditemui kemarin mengaku, aksi yang akan digelar ini dilatarbelakangi oleh terpanggilnya para mahasiswa Kehutanan UNIPA atas tidak taatnya sejumlah perusahaan yang mengelola hutan tidak taat pada prosedur aturan. “Kita lihat sendiri bahwa banyak pelanggaran yang mereka (perusahaan hutan, red) dalam melakukan kerjanya tidak sesuai prosedur, sehingga mengancam kelestarian hutan. PT. Medco merupakan salah satu perusahaan itu,” kata Sroyer.

Dia menegaskan, sesuai dengan hasil observasi pihaknya di lahan PT. Medco, perusahaan tersebut sudah melanggar aturan penanaman sawit.

“Dia (Medco) telah menebang habis hutan yang berada disekitar sungai dan anak sungai Wariori, Distrik Masni. Ini sebenarnya tidak bisa dibiarkan terus menerus. Hal ini dampaknya merusak lingkungan dan bisa menyebabkan bencana alam, seperti bencana banjir yang terjadi di Kampung Mansaburi dan Kampung Wariori, Distrik Masni belum lama ini,” katanya.

Dia menyebutkan, aksi ini pun bertujuan menyuarakan aspirasi diantaranya, mendorong Pemkab dan DPRD Manokwari agar melakukan pengawasan terhadap izin yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Manokwari.

Selain itu, lanjut dia, mendesak pemerintah dan perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan agar berhenti membuka areal hutan di Manokwari terutama di kawasan Hutan Lindung, Hutan Konservasi serta kawasan hutan yang menjadi penyangga daerah rawan banjir dan longsor. Selain itu, meminta Pemkab Manokwari agar mendesak PT. Medco segera menormalisasi Kali Wariori secepatnya.

Tidak cuma itu saja, dari hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh Sylva, banyak lahan pertanian warga yang mengalami kerusakan akibat banjir yang diperkirakan karena kesalahan PT. Medco. Oleh karena itu, Sylva juga mendesak  agar PT. Medco mengganti kerugian 13 Hektar tanaman pertanian warga yang rusak akibat banjir.

“Kita minta Pemerintah agar segera memediasi pertemuan PT. Medco dan masyarakat untuk membicarakan kerguian 13 hektar tanaman pertanian warga ini,” kata Sroyer.

Sroyer juga mengaku bahwa aksi yang akan mereka lakukan hari ini telah mendapatkan restu dari pimpinan Fakultas Kehutanan Unipa dan sudah menyurat kepada Pemkab Manokwari, DPRD dan Polres Manokwari.

Sementara itu, seperti yang dirilis Koran ini sebelumnya, Kepala Dinas PU Manokwari, Wempy Bandung, menyebutkan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan PT. Medco untuk melakukan normalisasi sungai Wariori.

Pihak perusahaan yakni PT. Medco, hingga berita ini diturunkan belum dapat dikonfirmasi. Pihak Medco yang dihubungi per telepon seluler, mengaku konfirmasi harus menyertakan surat permohonan.

(GR15-R4)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Manokwari, TP – Sylva (Ikatan Mahasiswa Kehutanan Indonesia) Cabang Universitas Negeri Papua dan sejumlah mahasiswa UNIPA, merencanakan aksi demonstrasi ke Kantor Bupati dan DPRD Manokwari, Senin (3/3). Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan terhadap PT. Medco yang meanggar prosedur pengolahan hutan.

    Seperti diketahui sebelumnya, PT. Medco merupakan salah satu perusahaan yang disebut dan erat kaitannya dengan banjir yang melanda dua kampung di Distrik Masni, yakni Kampung Mansiburi dan Wariori.

    Koordinator aksi, Charles Sroyer saat ditemui kemarin mengaku, aksi yang akan digelar ini dilatarbelakangi oleh terpanggilnya para mahasiswa Kehutanan UNIPA atas tidak taatnya sejumlah perusahaan yang mengelola hutan tidak taat pada prosedur aturan. “Kita lihat sendiri bahwa banyak pelanggaran yang mereka (perusahaan hutan, red) dalam melakukan kerjanya tidak sesuai prosedur, sehingga mengancam kelestarian hutan. PT. Medco merupakan salah satu perusahaan itu,” kata Sroyer.

    Dia menegaskan, sesuai dengan hasil observasi pihaknya di lahan PT. Medco, perusahaan tersebut sudah melanggar aturan penanaman sawit.

    “Dia (Medco) telah menebang habis hutan yang berada disekitar sungai dan anak sungai Wariori, Distrik Masni. Ini sebenarnya tidak bisa dibiarkan terus menerus. Hal ini dampaknya merusak lingkungan dan bisa menyebabkan bencana alam, seperti bencana banjir yang terjadi di Kampung Mansaburi dan Kampung Wariori, Distrik Masni belum lama ini,” katanya.

    Dia menyebutkan, aksi ini pun bertujuan menyuarakan aspirasi diantaranya, mendorong Pemkab dan DPRD Manokwari agar melakukan pengawasan terhadap izin yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Manokwari.

    Selain itu, lanjut dia, mendesak pemerintah dan perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan agar berhenti membuka areal hutan di Manokwari terutama di kawasan Hutan Lindung, Hutan Konservasi serta kawasan hutan yang menjadi penyangga daerah rawan banjir dan longsor. Selain itu, meminta Pemkab Manokwari agar mendesak PT. Medco segera menormalisasi Kali Wariori secepatnya.

    Tidak cuma itu saja, dari hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh Sylva, banyak lahan pertanian warga yang mengalami kerusakan akibat banjir yang diperkirakan karena kesalahan PT. Medco. Oleh karena itu, Sylva juga mendesak  agar PT. Medco mengganti kerugian 13 Hektar tanaman pertanian warga yang rusak akibat banjir.

    “Kita minta Pemerintah agar segera memediasi pertemuan PT. Medco dan masyarakat untuk membicarakan kerguian 13 hektar tanaman pertanian warga ini,” kata Sroyer.

    Sroyer juga mengaku bahwa aksi yang akan mereka lakukan hari ini telah mendapatkan restu dari pimpinan Fakultas Kehutanan Unipa dan sudah menyurat kepada Pemkab Manokwari, DPRD dan Polres Manokwari.

    Sementara itu, seperti yang dirilis Koran ini sebelumnya, Kepala Dinas PU Manokwari, Wempy Bandung, menyebutkan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan PT. Medco untuk melakukan normalisasi sungai Wariori.

    Pihak perusahaan yakni PT. Medco, hingga berita ini diturunkan belum dapat dikonfirmasi. Pihak Medco yang dihubungi per telepon seluler, mengaku konfirmasi harus menyertakan surat permohonan.

    (GR15-R4)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on