Masyarakat Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat ternyata punya kearifan lokal untuk menjaga alam. Sanksi adat pun siap diberikan pada perusak alam. Bahkan sebuah pohon dihargai sama dengan nyawa ketua adat, Demong. Menebang pohon sama artinya membunuh Demong. Siapa berani menghadapi mandau?

Jalan tanah ke kawasan pemukiman masyarakat adat Dayak itu penuh debu. Panas yang membara di jalur khatulistiwa berpadu dengan jalan tanah yang mengurai debu saat ada kendaraan lain yang lewat. Riau Pos beruntung datang ke Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat itu ketika musim panas terik. Sebab jika musim hujan, medannya sangat berat, karena jalannya penuh lumpur. Perlu waktu tempuh satu jam dengan kendaraan roda empat double gardan untuk memasuki kawasan perkampungan Dayak di pedalaman Kalimantan itu.

Sepanjang perjalanan, seorang pemandu dari warga lokal meminta untuk mematuhi segala hal yang berkaitan dengan larangan adat setempat. Salah satunya adalah harus izin tetua setempat untuk masuk kawasan adat mereka. Ada juga larangan saat berada di hutan.

“Kalau melanggar adat, mandau sudah siap di mana-mana seperti kami dulu,” ujarnya mengingatkan.

Cerita tentang Dayak dan mandau (senjata khas Dayak) memang cukup menyeramkan, apalagi jika dikaitkan dengan berbagai kasus dan konflik yang pernah terjadi. Tapi cerita itu ternyata tak seseram kenyataannya. Yohannes Terang, tetua Sakai di Dusun Manjau, Desa Laman Satong yang ditemui tak jauh dari hutan desa setempat ternyata sangat ramah dan jauh dari kesan menyeramkan. Yohannes menyambut dengan mengenakan kaos bergambar orangutan. Sikapnya penuh respek. Tapi dia juga mengakui bahwa ada beberapa larangan dan kearifan lokal dalam masyarakat adat Dayak yang tak boleh dilanggar. Tidak oleh masyarakat Dayak sendiri, apalagi orang luar.

“Banyak sanksinya berupa hukuman adat yang disesuaikan dengan berat atau ringan kesalahannya,” ujar Yohannes Terang kepada Riau Pos, Ahad (22/6).

Salah satu larangan adat Dayak, seperti dituturkan Yohannes adalah menebang pohon durian. Pohon ini dianggap sebagai pohon kehidupan bagi masyarakat Dayak. Pohon durian sama nilainya dengan nyawa Demong, ketua suku Dayak. Memotong pohon durian sama artinya dengan membunuh Demong. Sanksinya cukup berat, berupa denda beberapa tajau, tempayan, reyal, yang ditetapkan Demong. Bahkan bisa jadi sanksinya lebih berat lagi jika Demong menganggap perlu.

“Kalau Demong meninggal, baru boleh ditebang pohon durian untuk dibuatkan kerandanya,” ujar Yohannes.

Selain durian, pohon kehidupan lain yang dipelihara secara ketat adalah pohon mentawak. Pohon mentawak ini sama nilainya dengan nyawa Ngalang, wakil Demong. Pohon mentawak juga tak boleh ditebang sembarangan. Hanya dengan wafatnya Ngalang, pohon mentawak boleh ditebang untuk keranda. Bagi orang Dayak, durian dan mentawak adalah pohon kehidupan karena buahnya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan.

Tak hanya dua pohon itu, berbagai pohon lain sebenarnya juga merupakan bagian dari kehidupan Dayak, karena prinsip mereka yang selalu bersebati (berpadu) dengan hutan dan alam. Beberapa pohon yang terlarang ditebang misalnya kembayau, kapul, sanggau, duku, langsat, yang nilainya hampir sama dengan durian dan mentawak.

“Pohon dan hutan bagian dari rumah kami. Kalau hutan hancur, hancurlah rumah dan kehidupan kami,” ujar Yohannes yang rajin membuat puisi tentang hutan dan alam ini.

Bagi orang Dayak, hutan adalah bagian dari kehidupan. Mereka masih mempercayai kekuatan alam dan kekeramatan hutan. Masyarakat adat Dayak juga memiliki kearifan lokal yang disebut pukung pahewan. Pukung berarti pulau atau kawasan dan pawehan berarti keramat. Pukung pahewan merupakan kawasan dan berbagai jenis pohon yang dianggap keramat bagi masyarakat Dayak di kawasan tertentu. Ada berbagai makhluk halus yang “menunggu” di pohon-pohon itu.

Ada beberapa hutan yang telah menjadi larangan, tak hanya jenis tertentu semacam durian atau tembawak, tapi juga jenis lainnya di areal hutan larangan itu. Hutan larangan itu tak hanya berkaitan dengan menebang pohon, tapi juga larangan membunuh hewan-hewannya. Salah satu yang dijaga misalnya kawasan pepohonan tanggiran, tempat lebah bersarang yang menghasilkan madu.

Bagi orang Dayak, hutan yang dianggap keramat itu harus dijaga, karena penunggunya bisa marah jika hutan rusak. Bencana bisa datang kepada mereka yang merusak hutan.

Tapi tantangan kehidupan juga tak bisa diabaikan. Maka membuka hutan, yang tak dianggap bagian dari hutan adat atau hutan larangan masih diperbolehkan. Ada adat Dayak yang disebut nyapat tahun, yakni bersama-sama membuka hutan untuk lahan pertanian. Mereka bersama menabuh api, menugal, kemudian memanen.

“Kawasan ini dapat dijadikan lahan pertanian di tahun kedua, tapi di tahun berikutnya dijadikan hutan lagi. Biasanya ditanami pohon kehidupan seperti durian, mentawak dan beberapa jenis pohon lain,” ujar Yohannes yang berpuluh tahun menjadi kepala desa di Laman Satong.

Dalam masyarakat adat Dayak, pemanfaatan lahan dan kawasan pertanian untuk kemudian dijadikan semacam hutan adat desa disebut tembawang. Hutan ini tak lagi hutan murni sepenuhnya, tapi sudah bercampur dengan tanaman kehidupan. Hanya saja, tanaman ini tidak monokultur atau seragam dalam satu jenis, melainkan ditanam bervariasi, di antaranya tanaman buah, hingga tanaman yang bisa dimanfaatkan getahnya seperti karet atau yang dapat dimanfaatkan bagian lainnya, tapi bukan dengan cara ditebang.

Di tempat ini terdapat hutan desa bernama Hutan Desa Laman Satong. Sudah ada SK Menteri Kehutanan yang mengatur eksistensi Hutan Desa Laman Satong ini. Sudah ada pula pengelolanya yakni Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) yang baru diresmikan Februari 2014 lalu. Hutan Desa Laman Satong memiliki luas 1.070 hektare dengan flora dan fauna yang beragam.

Beberapa kawasan hutan desa ini dikuasai masyarakat adat Dayak Laman Satong. Sisanya milik pribadi masyarakat, termasuk Yohannes sendiri yang memiliki lahan seluas 5 hektare. Seperti komitmen masyarakat adat Dayak Laman Satong, kendati lahan itu milik pribadi mereka, tapi mereka tak boleh menebangnya, walaupun durian, mentawak dan gaharu itu ditanam di tanah mereka sendiri, dari bibit yang mereka usahakan dan keringat yang mereka keluarkan sendiri.

“Hutan desa ini merupakan perjuangan panjang kami yang akhirnya ada hasil. Jadi tentunya harus kami pertahankan sekuat tenaga,” ujar Yohannes.

Salah satu aspek penting dari terpeliharanya hutan Desa Laman Satong adalah adanya sumber air alami di desa ini. Tak hanya sebagai mata air bagi masyarakat setempat, mata air ini juga menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup dikenal di Ketapang, Kalimantan Barat. Destinasi ini bernama Goa Maria, karena terdapat mata air yang berasal dari lobang berbentuk goa di tempat ini. Mata airnya jernih, sejuk dan menyegarkan. Beberapa ikan berwarna-warni, khas aliran air di sungai kecil ini dapat terlihat dengan jelas di kedalaman satu hingga dua meter.

“Mata air Goa Maria ini penting bagi kami, dan oleh karenanya penting juga menjaga hutan desa ini dengan cara dan tradisi kami,” ujar Yohannes.

Bukan tak ada tantangan bagi masyarakat adat Dayak Laman Satong dalam menjaga hutan desa mereka. Tantangan paling besar datang dari perusahaan kebun sawit yang sudah merambah ke mana-mana, termasuk di wilayah Ketapang ini. Status kawasan Laman Satong yang hanya kategori HPL (hutan pemanfaatan lain) masih memungkinkan untuk dikonversi menjadi perkebunan sawit. Banyak sudah perusahaan yang datang kepada Yohannes sebagai tetua adat dan mantan kades di Laman Satong agar mau menyerahkan kawasan hutan ini untuk dijual dan dijadikan kebun sawit.

“Tapi ini bukan sekadar uang atau kompensasi apapun. Ini soal kehidupan kami. Rimba sudah saya rumahkan. Rimba merupakan bagian dari hidup saya. Kalau rimba hancur, rumah saya hancur, hidup saya hancur,” ujar Yohannes yang memberi nama anaknya Monika Rimbawati dan Rimbawan ini.

Penyangga TNGP

Kendati tidak termasuk kawasan konservasi, namun hutan Desa Laman Satong termasuk penyangga bagi Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Taman nasional ini berada di dua kabupaten, yakni Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Provinsi Kalbar. TNGP merupakan salah satu taman nasional terpenting di Kalbar karena memiliki keanekaragaman hayati khas. Salah satunya adalah orangutan.

Yohannes menyebutkan, orangutan kadang ditemukan dan melintas di pepohonan hutan Desa Laman Satong. Masyarakat adat Dayak Laman Satong sendiri percaya bahwa orangutan adalah bagian dari kehidupan rimba yang harus dijaga. Mereka pun tak saling ganggu, dan tak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu kehidupan.

Secara geografis, hutan Desa Laman Satong terletak di antara TNGP dan kawasan hutan lindung Gunung Putri. Di dua kawasan itu terdapat orangutan dengan jumlah individu cukup besar. Penelitian terakhir menyebut, ada sekitar 2 ribu individu orangutan di sana. Hutan Desa Laman Satong dianggap strategis dan penting karena menjadi bagian dari koridor TNGP menuju hutan lindung Gunung Putri.

Tradisi Melayu Lindungi Hutan

Selain kearifan lokal masyarakat adat Dayak, orang Melayu di Kalimantan Barat juga memiliki tradisi tersendiri dalam memelihara hutan dan alam. Salah satunya, seperti yang berlaku di Dusun Begasing, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Pemuka masyarakat setempat, Mat Ali Jaafar menyebutkan, ada suatu masa ketika tradisi Melayu mereka tinggalkan saat hutan dihancurkan. Mereka mengakui lalai telah sempat membuat hutan di sekitar Bukit Natai Biansang, tak jauh dari desa mereka yang mulai gundul akibat pembalakan liar. Akan tetapi mereka mulai menyadarinya ketika pembalakan liar tak banyak mengubah nasib mereka. Bahkan sumber air di bukit itu berkurang, nyaris kering ketika pepohonannya mulai habis.

“Tahun 2000-an awal kami mulai menanam kembali hutan yang gundul. Kami menghidupkan kembali tradisi selamat kampung,” ujar Mat Ali.

Hutan di Bukit Natai Biansang seperti yang dimaksud Ali sebenarnya masuk dalam areal Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang seharusnya aman dari pembalakan. Tapi baru tahun 2000-an awal, masyarakat sekitar mulai menyadari tentang kerusakan alam dan kembali menggunakan kearifan lokal Melayu untuk menjaganya.

“Di beberapa tempat sudah dibuat sanksi adat bagi siapa yang merusak hutan,” ujar Ali.

Di antara kawasan yang telah menerapkan sanksi adat ini adalah di Desa Matan, Kecamatan Simpanghilir, Kabupaten Kayong Utara. Di antara sanksi penebang pohon antara lain, harus membayar tepung tawar, beliung, mangkuk putih, tempayan tajau, ayam hitam, kain putih, dan lainnya, sebagai syarat adat.

“Kelihatannya sepele, tapi ternyata harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu kalau pohon biasa. Kalau yang ditebang itu pohon lalau (pohon sarang lebah, red), biasanya meranti, keladan, atau kruing, sanksinya lebih berat lagi,” ujar Ali.

Selain sanksi adat, banyak juga tradisi Melayu di Kalbar yang masih dipertahankan hingga sekarang. Di antaranya tak boleh memotong pohon yang berdaun lebat. Orang Melayu juga tak boleh mencemari air tergenang, lewat di bawah pohon yang bersilang atau berbentuk x, meludah sembarangan di hutan, bersiul di hutan, memukul dan memotong akar yang menyembul dari tanah, menyebut langsung nama hewan yang buas dan dianggap bertuah seperti harimau (harus menggantinya dengan sebutan datuk atau ninik), dan sejumlah pantang larang lainnya. Jika larangan itu dilanggar, maka biasanya dampaknya akan kembali pada manusia sekitar yang melanggar larangan adat.

Ali Jaafar menyebut, tradisi Melayu untuk melestarikan hutan ini perlu terus dijaga dan dilestarikan. “Kami akan hidupkan kembali tradisi Melayu dalam menjaga hutan ini. Memang sekarang belum sepenuhnya, tapi terus diusahakan,” ujar Ali.

Dukung Kearifan Lokal

Di pihak lain, pemerintah, dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mendukung upaya masyarakat dalam melestarikan hutan dengan cara kearifan lokal mereka. Pasalnya, pihak Balai TNGP tak punya cukup personel untuk menjaga seluruh wilayah TNGP seluas 90 ribu hektare. Wilayah konservasi ini, sesuai dengan yang ditunjuk Menteri Kehutanan, dengan SK No 448/Kpts-II/1990 memiliki vegetasi dan kontur yang beragam, mulai dari pantai hingga perbukitan. Untuk menjaganya, hanya ada 17 personel Polhut (polisi hutan).

“Makanya kami mendukung upaya masyarakat adat dengan kearifan lokal mereka dalam menjaga kawasan taman nasional, maupun yang berada di sekitarnya,” ujar Saryono, Kasatgas Polhut Balai TNGP saat dikonfirmasi terpisah.

Saat itu, dia bersama Bambang Hari Tri Marsito, Kasi Pengelolaan Wilayah II Teluk Melano dan Faizal Riza, Polhut SPTN Wilayah I Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Bentuk dukungan itu antara lain adalah pihak Balai TNGP memberi keleluasaan masyarakat adat menjalankan tradisinya, bahkan memberi dukungan dalam hal pelestarian lingkungannya. Pihak Balai juga menjamin bahwa tak semua kawasan TNGP tak boleh sama sekali dimanfaatkan masyarakat. Sebab, terdapat beberapa kawasan yang sejak lama memang sudah dihuni masyarakat setempat, baik Dayak maupun Melayu. Mereka pun sudah memiliki pengalaman tradisional yang berbilang tahun dengan alam sekitar sebelum ditetapkannya TNGP.

Pihak Balai TNGP membagi kawasan konservasi ini menjadi zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba, zona rehabilitasi, dan zona khusus. Termasuk dalam zona khusus dalam konteks ini adalah kawasan pemukiman seluas 37,33 hektare atau 0,04 persen, kawasan perladangan seluas 458,32 hektare atau 5,6 persen dan kawasan religi, budaya dan sejarah, seluas 13,64 hektare di Kecamatan Sukadana dan 267,04 hektare di Kecamatan Teluk Melano.

“Di kawasan khusus religi, termasuk tradisi atau adat ini biasanya ada perkampungan lama dan terdapat makam-makam tua. Tentunya banyak tradisi di sana. Kami menghargai itu sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat adat,” ujarnya.***

Sumber: Laporan MUHAMMAD AMIN, Ketapang, riaupos.co

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Masyarakat Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat ternyata punya kearifan lokal untuk menjaga alam. Sanksi adat pun siap diberikan pada perusak alam. Bahkan sebuah pohon dihargai sama dengan nyawa ketua adat, Demong. Menebang pohon sama artinya membunuh Demong. Siapa berani menghadapi mandau?

    Jalan tanah ke kawasan pemukiman masyarakat adat Dayak itu penuh debu. Panas yang membara di jalur khatulistiwa berpadu dengan jalan tanah yang mengurai debu saat ada kendaraan lain yang lewat. Riau Pos beruntung datang ke Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat itu ketika musim panas terik. Sebab jika musim hujan, medannya sangat berat, karena jalannya penuh lumpur. Perlu waktu tempuh satu jam dengan kendaraan roda empat double gardan untuk memasuki kawasan perkampungan Dayak di pedalaman Kalimantan itu.

    Sepanjang perjalanan, seorang pemandu dari warga lokal meminta untuk mematuhi segala hal yang berkaitan dengan larangan adat setempat. Salah satunya adalah harus izin tetua setempat untuk masuk kawasan adat mereka. Ada juga larangan saat berada di hutan.

    “Kalau melanggar adat, mandau sudah siap di mana-mana seperti kami dulu,” ujarnya mengingatkan.

    Cerita tentang Dayak dan mandau (senjata khas Dayak) memang cukup menyeramkan, apalagi jika dikaitkan dengan berbagai kasus dan konflik yang pernah terjadi. Tapi cerita itu ternyata tak seseram kenyataannya. Yohannes Terang, tetua Sakai di Dusun Manjau, Desa Laman Satong yang ditemui tak jauh dari hutan desa setempat ternyata sangat ramah dan jauh dari kesan menyeramkan. Yohannes menyambut dengan mengenakan kaos bergambar orangutan. Sikapnya penuh respek. Tapi dia juga mengakui bahwa ada beberapa larangan dan kearifan lokal dalam masyarakat adat Dayak yang tak boleh dilanggar. Tidak oleh masyarakat Dayak sendiri, apalagi orang luar.

    “Banyak sanksinya berupa hukuman adat yang disesuaikan dengan berat atau ringan kesalahannya,” ujar Yohannes Terang kepada Riau Pos, Ahad (22/6).

    Salah satu larangan adat Dayak, seperti dituturkan Yohannes adalah menebang pohon durian. Pohon ini dianggap sebagai pohon kehidupan bagi masyarakat Dayak. Pohon durian sama nilainya dengan nyawa Demong, ketua suku Dayak. Memotong pohon durian sama artinya dengan membunuh Demong. Sanksinya cukup berat, berupa denda beberapa tajau, tempayan, reyal, yang ditetapkan Demong. Bahkan bisa jadi sanksinya lebih berat lagi jika Demong menganggap perlu.

    “Kalau Demong meninggal, baru boleh ditebang pohon durian untuk dibuatkan kerandanya,” ujar Yohannes.

    Selain durian, pohon kehidupan lain yang dipelihara secara ketat adalah pohon mentawak. Pohon mentawak ini sama nilainya dengan nyawa Ngalang, wakil Demong. Pohon mentawak juga tak boleh ditebang sembarangan. Hanya dengan wafatnya Ngalang, pohon mentawak boleh ditebang untuk keranda. Bagi orang Dayak, durian dan mentawak adalah pohon kehidupan karena buahnya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan.

    Tak hanya dua pohon itu, berbagai pohon lain sebenarnya juga merupakan bagian dari kehidupan Dayak, karena prinsip mereka yang selalu bersebati (berpadu) dengan hutan dan alam. Beberapa pohon yang terlarang ditebang misalnya kembayau, kapul, sanggau, duku, langsat, yang nilainya hampir sama dengan durian dan mentawak.

    “Pohon dan hutan bagian dari rumah kami. Kalau hutan hancur, hancurlah rumah dan kehidupan kami,” ujar Yohannes yang rajin membuat puisi tentang hutan dan alam ini.

    Bagi orang Dayak, hutan adalah bagian dari kehidupan. Mereka masih mempercayai kekuatan alam dan kekeramatan hutan. Masyarakat adat Dayak juga memiliki kearifan lokal yang disebut pukung pahewan. Pukung berarti pulau atau kawasan dan pawehan berarti keramat. Pukung pahewan merupakan kawasan dan berbagai jenis pohon yang dianggap keramat bagi masyarakat Dayak di kawasan tertentu. Ada berbagai makhluk halus yang “menunggu” di pohon-pohon itu.

    Ada beberapa hutan yang telah menjadi larangan, tak hanya jenis tertentu semacam durian atau tembawak, tapi juga jenis lainnya di areal hutan larangan itu. Hutan larangan itu tak hanya berkaitan dengan menebang pohon, tapi juga larangan membunuh hewan-hewannya. Salah satu yang dijaga misalnya kawasan pepohonan tanggiran, tempat lebah bersarang yang menghasilkan madu.

    Bagi orang Dayak, hutan yang dianggap keramat itu harus dijaga, karena penunggunya bisa marah jika hutan rusak. Bencana bisa datang kepada mereka yang merusak hutan.

    Tapi tantangan kehidupan juga tak bisa diabaikan. Maka membuka hutan, yang tak dianggap bagian dari hutan adat atau hutan larangan masih diperbolehkan. Ada adat Dayak yang disebut nyapat tahun, yakni bersama-sama membuka hutan untuk lahan pertanian. Mereka bersama menabuh api, menugal, kemudian memanen.

    “Kawasan ini dapat dijadikan lahan pertanian di tahun kedua, tapi di tahun berikutnya dijadikan hutan lagi. Biasanya ditanami pohon kehidupan seperti durian, mentawak dan beberapa jenis pohon lain,” ujar Yohannes yang berpuluh tahun menjadi kepala desa di Laman Satong.

    Dalam masyarakat adat Dayak, pemanfaatan lahan dan kawasan pertanian untuk kemudian dijadikan semacam hutan adat desa disebut tembawang. Hutan ini tak lagi hutan murni sepenuhnya, tapi sudah bercampur dengan tanaman kehidupan. Hanya saja, tanaman ini tidak monokultur atau seragam dalam satu jenis, melainkan ditanam bervariasi, di antaranya tanaman buah, hingga tanaman yang bisa dimanfaatkan getahnya seperti karet atau yang dapat dimanfaatkan bagian lainnya, tapi bukan dengan cara ditebang.

    Di tempat ini terdapat hutan desa bernama Hutan Desa Laman Satong. Sudah ada SK Menteri Kehutanan yang mengatur eksistensi Hutan Desa Laman Satong ini. Sudah ada pula pengelolanya yakni Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) yang baru diresmikan Februari 2014 lalu. Hutan Desa Laman Satong memiliki luas 1.070 hektare dengan flora dan fauna yang beragam.

    Beberapa kawasan hutan desa ini dikuasai masyarakat adat Dayak Laman Satong. Sisanya milik pribadi masyarakat, termasuk Yohannes sendiri yang memiliki lahan seluas 5 hektare. Seperti komitmen masyarakat adat Dayak Laman Satong, kendati lahan itu milik pribadi mereka, tapi mereka tak boleh menebangnya, walaupun durian, mentawak dan gaharu itu ditanam di tanah mereka sendiri, dari bibit yang mereka usahakan dan keringat yang mereka keluarkan sendiri.

    “Hutan desa ini merupakan perjuangan panjang kami yang akhirnya ada hasil. Jadi tentunya harus kami pertahankan sekuat tenaga,” ujar Yohannes.

    Salah satu aspek penting dari terpeliharanya hutan Desa Laman Satong adalah adanya sumber air alami di desa ini. Tak hanya sebagai mata air bagi masyarakat setempat, mata air ini juga menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup dikenal di Ketapang, Kalimantan Barat. Destinasi ini bernama Goa Maria, karena terdapat mata air yang berasal dari lobang berbentuk goa di tempat ini. Mata airnya jernih, sejuk dan menyegarkan. Beberapa ikan berwarna-warni, khas aliran air di sungai kecil ini dapat terlihat dengan jelas di kedalaman satu hingga dua meter.

    “Mata air Goa Maria ini penting bagi kami, dan oleh karenanya penting juga menjaga hutan desa ini dengan cara dan tradisi kami,” ujar Yohannes.

    Bukan tak ada tantangan bagi masyarakat adat Dayak Laman Satong dalam menjaga hutan desa mereka. Tantangan paling besar datang dari perusahaan kebun sawit yang sudah merambah ke mana-mana, termasuk di wilayah Ketapang ini. Status kawasan Laman Satong yang hanya kategori HPL (hutan pemanfaatan lain) masih memungkinkan untuk dikonversi menjadi perkebunan sawit. Banyak sudah perusahaan yang datang kepada Yohannes sebagai tetua adat dan mantan kades di Laman Satong agar mau menyerahkan kawasan hutan ini untuk dijual dan dijadikan kebun sawit.

    “Tapi ini bukan sekadar uang atau kompensasi apapun. Ini soal kehidupan kami. Rimba sudah saya rumahkan. Rimba merupakan bagian dari hidup saya. Kalau rimba hancur, rumah saya hancur, hidup saya hancur,” ujar Yohannes yang memberi nama anaknya Monika Rimbawati dan Rimbawan ini.

    Penyangga TNGP

    Kendati tidak termasuk kawasan konservasi, namun hutan Desa Laman Satong termasuk penyangga bagi Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Taman nasional ini berada di dua kabupaten, yakni Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Provinsi Kalbar. TNGP merupakan salah satu taman nasional terpenting di Kalbar karena memiliki keanekaragaman hayati khas. Salah satunya adalah orangutan.

    Yohannes menyebutkan, orangutan kadang ditemukan dan melintas di pepohonan hutan Desa Laman Satong. Masyarakat adat Dayak Laman Satong sendiri percaya bahwa orangutan adalah bagian dari kehidupan rimba yang harus dijaga. Mereka pun tak saling ganggu, dan tak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu kehidupan.

    Secara geografis, hutan Desa Laman Satong terletak di antara TNGP dan kawasan hutan lindung Gunung Putri. Di dua kawasan itu terdapat orangutan dengan jumlah individu cukup besar. Penelitian terakhir menyebut, ada sekitar 2 ribu individu orangutan di sana. Hutan Desa Laman Satong dianggap strategis dan penting karena menjadi bagian dari koridor TNGP menuju hutan lindung Gunung Putri.

    Tradisi Melayu Lindungi Hutan

    Selain kearifan lokal masyarakat adat Dayak, orang Melayu di Kalimantan Barat juga memiliki tradisi tersendiri dalam memelihara hutan dan alam. Salah satunya, seperti yang berlaku di Dusun Begasing, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

    Pemuka masyarakat setempat, Mat Ali Jaafar menyebutkan, ada suatu masa ketika tradisi Melayu mereka tinggalkan saat hutan dihancurkan. Mereka mengakui lalai telah sempat membuat hutan di sekitar Bukit Natai Biansang, tak jauh dari desa mereka yang mulai gundul akibat pembalakan liar. Akan tetapi mereka mulai menyadarinya ketika pembalakan liar tak banyak mengubah nasib mereka. Bahkan sumber air di bukit itu berkurang, nyaris kering ketika pepohonannya mulai habis.

    “Tahun 2000-an awal kami mulai menanam kembali hutan yang gundul. Kami menghidupkan kembali tradisi selamat kampung,” ujar Mat Ali.

    Hutan di Bukit Natai Biansang seperti yang dimaksud Ali sebenarnya masuk dalam areal Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang seharusnya aman dari pembalakan. Tapi baru tahun 2000-an awal, masyarakat sekitar mulai menyadari tentang kerusakan alam dan kembali menggunakan kearifan lokal Melayu untuk menjaganya.

    “Di beberapa tempat sudah dibuat sanksi adat bagi siapa yang merusak hutan,” ujar Ali.

    Di antara kawasan yang telah menerapkan sanksi adat ini adalah di Desa Matan, Kecamatan Simpanghilir, Kabupaten Kayong Utara. Di antara sanksi penebang pohon antara lain, harus membayar tepung tawar, beliung, mangkuk putih, tempayan tajau, ayam hitam, kain putih, dan lainnya, sebagai syarat adat.

    “Kelihatannya sepele, tapi ternyata harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu kalau pohon biasa. Kalau yang ditebang itu pohon lalau (pohon sarang lebah, red), biasanya meranti, keladan, atau kruing, sanksinya lebih berat lagi,” ujar Ali.

    Selain sanksi adat, banyak juga tradisi Melayu di Kalbar yang masih dipertahankan hingga sekarang. Di antaranya tak boleh memotong pohon yang berdaun lebat. Orang Melayu juga tak boleh mencemari air tergenang, lewat di bawah pohon yang bersilang atau berbentuk x, meludah sembarangan di hutan, bersiul di hutan, memukul dan memotong akar yang menyembul dari tanah, menyebut langsung nama hewan yang buas dan dianggap bertuah seperti harimau (harus menggantinya dengan sebutan datuk atau ninik), dan sejumlah pantang larang lainnya. Jika larangan itu dilanggar, maka biasanya dampaknya akan kembali pada manusia sekitar yang melanggar larangan adat.

    Ali Jaafar menyebut, tradisi Melayu untuk melestarikan hutan ini perlu terus dijaga dan dilestarikan. “Kami akan hidupkan kembali tradisi Melayu dalam menjaga hutan ini. Memang sekarang belum sepenuhnya, tapi terus diusahakan,” ujar Ali.

    Dukung Kearifan Lokal

    Di pihak lain, pemerintah, dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mendukung upaya masyarakat dalam melestarikan hutan dengan cara kearifan lokal mereka. Pasalnya, pihak Balai TNGP tak punya cukup personel untuk menjaga seluruh wilayah TNGP seluas 90 ribu hektare. Wilayah konservasi ini, sesuai dengan yang ditunjuk Menteri Kehutanan, dengan SK No 448/Kpts-II/1990 memiliki vegetasi dan kontur yang beragam, mulai dari pantai hingga perbukitan. Untuk menjaganya, hanya ada 17 personel Polhut (polisi hutan).

    “Makanya kami mendukung upaya masyarakat adat dengan kearifan lokal mereka dalam menjaga kawasan taman nasional, maupun yang berada di sekitarnya,” ujar Saryono, Kasatgas Polhut Balai TNGP saat dikonfirmasi terpisah.

    Saat itu, dia bersama Bambang Hari Tri Marsito, Kasi Pengelolaan Wilayah II Teluk Melano dan Faizal Riza, Polhut SPTN Wilayah I Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

    Bentuk dukungan itu antara lain adalah pihak Balai TNGP memberi keleluasaan masyarakat adat menjalankan tradisinya, bahkan memberi dukungan dalam hal pelestarian lingkungannya. Pihak Balai juga menjamin bahwa tak semua kawasan TNGP tak boleh sama sekali dimanfaatkan masyarakat. Sebab, terdapat beberapa kawasan yang sejak lama memang sudah dihuni masyarakat setempat, baik Dayak maupun Melayu. Mereka pun sudah memiliki pengalaman tradisional yang berbilang tahun dengan alam sekitar sebelum ditetapkannya TNGP.

    Pihak Balai TNGP membagi kawasan konservasi ini menjadi zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba, zona rehabilitasi, dan zona khusus. Termasuk dalam zona khusus dalam konteks ini adalah kawasan pemukiman seluas 37,33 hektare atau 0,04 persen, kawasan perladangan seluas 458,32 hektare atau 5,6 persen dan kawasan religi, budaya dan sejarah, seluas 13,64 hektare di Kecamatan Sukadana dan 267,04 hektare di Kecamatan Teluk Melano.

    “Di kawasan khusus religi, termasuk tradisi atau adat ini biasanya ada perkampungan lama dan terdapat makam-makam tua. Tentunya banyak tradisi di sana. Kami menghargai itu sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat adat,” ujarnya.***

    Sumber: Laporan MUHAMMAD AMIN, Ketapang, riaupos.co

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on