Ditulis oleh Nasrudin Ansori sebagai wadah informasi tentang keindahan dan keunikan Pulau Kalimantan.

Ini pengalaman kedua saya mengeksplor alam dan budaya Kalimantan bersama kru televisi. Jika dulu saya diajak jalan-jalan barengan kru dan host acara Paradiso, Trans 7. Kali ini saya diajak kru dan host My Trip My Adventure Trans TV. Disini kapasitas saya adalah sebagai tur operator lokal yang mengakomodir kegiatan syuting selama di Kalimantan Tengah. My Trip My Adventure adalah program jalan-jalan yang lagi naik daun di Indonesia. Karena format acara nya yang fresh dan lucu, sambil mengulas kekayaan alam dan budaya di Indonesia. Termasuk warga suku Dayak Tomun yang akan saya bahas kali ini.

Warga suku Dayak Tomun umum nya bermukim di sekitaran perbatasan antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat di Kabupaten Lamandau. Mereka merupakan salah satu sub suku Dayak di Pulau Kalimantan ( Borneo ). Lamandau adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah. Jarak nya sekitar 15 jam perjalanan darat dari Palangka Raya. Lamandau masih kaya akan hasil alam , terutama hutan hujan nya yang masih melimpah.

Saya bertemu dengan kru Trans TV dan host program nya si Vicky Notonegoro & Denny Sumargo di Bandara Iskandar Pangkalan Bun di akhir Mei barusan. Tujuan utama kami adalah Taman Nasional Tanjung Puting di Kotawaringin Barat dan selanjutnya desa suku Dayak Tomun di Kudangan di Lamandau. Lokasi penjelajahan pertama adalah Tanjung Puting, dimana habitat orang utan berada. Namun kali ini saya akan fokus membahas tentang Lamandau dulu.

Hari keempat di Kalimantan Tengah, kami bertolak menuju Desa Delang, Kudangan di Lamandau. Perjalanan dari Pangkalan Bun adalah sekitar 5 jam saja. Jalanan nya sangat bagus. Ini merupakan jalan penghubung Kalimantan Tengah ke Pontianak di Kalimantan Barat.

dayak lambadau.JPG1

Tiba di Desa Delang, Kudangan, kami langsung diajak menyaksikan acara adat “maminang”. Ini merupakan acara akad nikah ala suku Dayak Tomun disini. Acara nya cukup sederhana. Ada seserahan adat , minum tuak ( minuman khas Dayak berbahan utama dari beras ketan dan ragi ), makan bersama dan tentu saja ada persembahan tarian adat nama nya tarian “Bagondang”.

Warga suku Dayak di Kalimantan pada umum nya sangat menyukai minuman tuak, semakin banyak minum semakin memabukan si peminum. Tuak ini biasanya diminum ketika acara adat seperti perkawinan, kematian dan berbagai kesempatan lainnya.

Ketika di acara maminang di desa Kudangan ini pun, saya diajak minum tuak. Saya terakhir minum tuak sekitar 8 tahun lalu ketika masih bersekolah di Sampit, Kalimantan Tengah. Ketika meminum nya kembali, saya merasa sangat tidak terbiasa dengan sensasi yang dimunculkan dari tuak ini. Rasa nya sangat kuat, campuran antara pahit, asam dan manis sedikit.

Acara maminang ini berlanjut hingga malam hari. Puluhan warga Dayak Tomun berkumpul di dalam sebuah rumah sederhana. Yang punya hajat telah menggelar makanan di tengah-tengah rumah, mulai dari makanan berbahan babi, ular sawa, ayam hingga sayur mayur yang di masak dengan berbagai bumbu khas Dayak Tomun.

dayak lambadau.JPG1.JPG1

Saya diajak makan oleh warga lokal, namun karena saya tidak bisa menyantap jenis makanan nya, warga Dayak Tomun tidak memaksa. Toleransi beragama yang mereka miliki sangat tinggi. Warga Dayak Tomun umum nya masih memegang teguh Kaharingan sebagai keyakinan mereka. Meski ada sebagian dari mereka telah memeluk agama Katholik dan Protestan.

Setelah makan-makan besar, puluhan warga termasuk tetua adat melaksanakan tari-tarian yang selalu ada di setiap acara besar. Warga Kudangan menyebut nya bagondang. Ini merupakan tarian yang cukup sederhana namun sangat di sakralkan. Puluhan warga Dayak Tomun lainnya akan membunyikan musik tradisional untuk mengiringi tarian bagondang tersebut. Sementara di pojok lain, tuan rumah sudah siap dengan minuman tuak nya. Acara bagondang ini tak terlepas dari yang nama nya prosesi minum tuak bersama.

Di salah satu sesi tarian, saya diajak ikut menari bersama. Awalnya saya menolak secara halus, namun karena rasa penasaran, akhirnya saya ikut menari juga. Dan tentu saja, saya juga harus meminum air tuak yang di sajikan di dalam gelas di setiap sesi tarian. Entah seperti apa ekspresi wajah saya ketika menghabiskan 1 gelas tuak dalam satu kali tegukan. Namun prosesi tersebut harus saya lewati, karena ini bagian dari adat warga lokal.

dayak lambadau.JPG1.JPG1.JPG1

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Saya sudah harus meninggalkan acara ini. Ketika tim TV memilih tidur di losmen lokal, saya memilih tidur di salah satu rumah adat Dayak di Kalimantan Tengah. Mereka biasa menyebutnya sebagai rumah “betang”. Akhir nya saya bisa merasakan bermalam di rumah betang asli. Inilah salah satu kekayaan otentik Pulau Kalimantan, rumah khas berbentuk panggung, memanjang dan indah sekali namun tetap sederhana.

Saya dan Agus, pemandu wisata asli Pangkalan Bun berjalan kaki sekitar 30 menit mencari salah satu rumah betang yang bisa disinggahi. Akhirnya kami menemukan salah satu rumah betang yang berada di dekat sungai. Pemilik rumah adalah Bapak Togas. Warga asli Dayak Tomun pemeluk Kaharingan. Beliau sangat ramah dan bahkan mau diajak diskusi tentang banyak hal malam itu.

Kami berdiskusi mulai dari soal budaya Dayak Tomun, hutan adat, air terjun Muhur Silingan yang ada di dalam hutan adat, pekerjaan umum warga desa Kudangan dan lain sebagai nya. Banyak wawasan yang kami dapat malam itu.

Rumah betang milik Bapak Togas adalah rumah asli peninggalan jaman dulu. Menuju area dalam rumah, saya harus menaiki anak tangga yang terbuat dari batang pohon. Di dalam rumah betang ini, saya disambut dengan penerangan lampu yang sangat redup. Lantai nya dilapisi oleh tikar hui, sebuah tikar tradisional khas Dayak berbahan rotan. Rumah ini sudah berumur sekitar 70 tahun, berbahan utama kayu ulin. Jenis kayu terkenal dari Pulau Kalimantan. Di beberapa titik di dalam rumah, saya menemukan banyak tulisan.

dayak lambadau.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1

Ternyata warga Dayak Tomun suka mencatat hal-hal penting di dalam hidup mereka dengan menulis nya di beberapa bagian rumah. Misal catatan mengenai tanggal lahir anak, tanggal perkawinan , tanggal upacara tewah pada kematian dan lain sebagai nya.

Warga Dayak Tomun juga punya budaya adat yakni “meluai”. Sebuah tradisi memasak beras hasil panen , kemudian dibacakan secara sakral dan kemudian disantap bersama dengan kerabat dan tetangga. Baru setelah beras hasil panen tersebut kelar diprosesikan, maka beras bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari di rumah.

Malam sudah makin tinggi, diskusi tentang suku Dayak Tomun pun kami akhiri. Bapak Togas menyediakan kami bantal dan selimut. Kami tidur hanya di atas tikar hui dari rotan. Rumah yang dulu hanya ada di bayangan saya, akhirnya bisa secara langsung saya rasakan bermalam disini.

Sumber: http://kalimantanku.blogspot.com/2014/06/suku-dayak-tomun-di-lamandau-trip-with.html

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Ditulis oleh Nasrudin Ansori sebagai wadah informasi tentang keindahan dan keunikan Pulau Kalimantan.

    Ini pengalaman kedua saya mengeksplor alam dan budaya Kalimantan bersama kru televisi. Jika dulu saya diajak jalan-jalan barengan kru dan host acara Paradiso, Trans 7. Kali ini saya diajak kru dan host My Trip My Adventure Trans TV. Disini kapasitas saya adalah sebagai tur operator lokal yang mengakomodir kegiatan syuting selama di Kalimantan Tengah. My Trip My Adventure adalah program jalan-jalan yang lagi naik daun di Indonesia. Karena format acara nya yang fresh dan lucu, sambil mengulas kekayaan alam dan budaya di Indonesia. Termasuk warga suku Dayak Tomun yang akan saya bahas kali ini.

    Warga suku Dayak Tomun umum nya bermukim di sekitaran perbatasan antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat di Kabupaten Lamandau. Mereka merupakan salah satu sub suku Dayak di Pulau Kalimantan ( Borneo ). Lamandau adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah. Jarak nya sekitar 15 jam perjalanan darat dari Palangka Raya. Lamandau masih kaya akan hasil alam , terutama hutan hujan nya yang masih melimpah.

    Saya bertemu dengan kru Trans TV dan host program nya si Vicky Notonegoro & Denny Sumargo di Bandara Iskandar Pangkalan Bun di akhir Mei barusan. Tujuan utama kami adalah Taman Nasional Tanjung Puting di Kotawaringin Barat dan selanjutnya desa suku Dayak Tomun di Kudangan di Lamandau. Lokasi penjelajahan pertama adalah Tanjung Puting, dimana habitat orang utan berada. Namun kali ini saya akan fokus membahas tentang Lamandau dulu.

    Hari keempat di Kalimantan Tengah, kami bertolak menuju Desa Delang, Kudangan di Lamandau. Perjalanan dari Pangkalan Bun adalah sekitar 5 jam saja. Jalanan nya sangat bagus. Ini merupakan jalan penghubung Kalimantan Tengah ke Pontianak di Kalimantan Barat.

    dayak lambadau.JPG1

    Tiba di Desa Delang, Kudangan, kami langsung diajak menyaksikan acara adat “maminang”. Ini merupakan acara akad nikah ala suku Dayak Tomun disini. Acara nya cukup sederhana. Ada seserahan adat , minum tuak ( minuman khas Dayak berbahan utama dari beras ketan dan ragi ), makan bersama dan tentu saja ada persembahan tarian adat nama nya tarian “Bagondang”.

    Warga suku Dayak di Kalimantan pada umum nya sangat menyukai minuman tuak, semakin banyak minum semakin memabukan si peminum. Tuak ini biasanya diminum ketika acara adat seperti perkawinan, kematian dan berbagai kesempatan lainnya.

    Ketika di acara maminang di desa Kudangan ini pun, saya diajak minum tuak. Saya terakhir minum tuak sekitar 8 tahun lalu ketika masih bersekolah di Sampit, Kalimantan Tengah. Ketika meminum nya kembali, saya merasa sangat tidak terbiasa dengan sensasi yang dimunculkan dari tuak ini. Rasa nya sangat kuat, campuran antara pahit, asam dan manis sedikit.

    Acara maminang ini berlanjut hingga malam hari. Puluhan warga Dayak Tomun berkumpul di dalam sebuah rumah sederhana. Yang punya hajat telah menggelar makanan di tengah-tengah rumah, mulai dari makanan berbahan babi, ular sawa, ayam hingga sayur mayur yang di masak dengan berbagai bumbu khas Dayak Tomun.

    dayak lambadau.JPG1.JPG1

    Saya diajak makan oleh warga lokal, namun karena saya tidak bisa menyantap jenis makanan nya, warga Dayak Tomun tidak memaksa. Toleransi beragama yang mereka miliki sangat tinggi. Warga Dayak Tomun umum nya masih memegang teguh Kaharingan sebagai keyakinan mereka. Meski ada sebagian dari mereka telah memeluk agama Katholik dan Protestan.

    Setelah makan-makan besar, puluhan warga termasuk tetua adat melaksanakan tari-tarian yang selalu ada di setiap acara besar. Warga Kudangan menyebut nya bagondang. Ini merupakan tarian yang cukup sederhana namun sangat di sakralkan. Puluhan warga Dayak Tomun lainnya akan membunyikan musik tradisional untuk mengiringi tarian bagondang tersebut. Sementara di pojok lain, tuan rumah sudah siap dengan minuman tuak nya. Acara bagondang ini tak terlepas dari yang nama nya prosesi minum tuak bersama.

    Di salah satu sesi tarian, saya diajak ikut menari bersama. Awalnya saya menolak secara halus, namun karena rasa penasaran, akhirnya saya ikut menari juga. Dan tentu saja, saya juga harus meminum air tuak yang di sajikan di dalam gelas di setiap sesi tarian. Entah seperti apa ekspresi wajah saya ketika menghabiskan 1 gelas tuak dalam satu kali tegukan. Namun prosesi tersebut harus saya lewati, karena ini bagian dari adat warga lokal.

    dayak lambadau.JPG1.JPG1.JPG1

    Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Saya sudah harus meninggalkan acara ini. Ketika tim TV memilih tidur di losmen lokal, saya memilih tidur di salah satu rumah adat Dayak di Kalimantan Tengah. Mereka biasa menyebutnya sebagai rumah “betang”. Akhir nya saya bisa merasakan bermalam di rumah betang asli. Inilah salah satu kekayaan otentik Pulau Kalimantan, rumah khas berbentuk panggung, memanjang dan indah sekali namun tetap sederhana.

    Saya dan Agus, pemandu wisata asli Pangkalan Bun berjalan kaki sekitar 30 menit mencari salah satu rumah betang yang bisa disinggahi. Akhirnya kami menemukan salah satu rumah betang yang berada di dekat sungai. Pemilik rumah adalah Bapak Togas. Warga asli Dayak Tomun pemeluk Kaharingan. Beliau sangat ramah dan bahkan mau diajak diskusi tentang banyak hal malam itu.

    Kami berdiskusi mulai dari soal budaya Dayak Tomun, hutan adat, air terjun Muhur Silingan yang ada di dalam hutan adat, pekerjaan umum warga desa Kudangan dan lain sebagai nya. Banyak wawasan yang kami dapat malam itu.

    Rumah betang milik Bapak Togas adalah rumah asli peninggalan jaman dulu. Menuju area dalam rumah, saya harus menaiki anak tangga yang terbuat dari batang pohon. Di dalam rumah betang ini, saya disambut dengan penerangan lampu yang sangat redup. Lantai nya dilapisi oleh tikar hui, sebuah tikar tradisional khas Dayak berbahan rotan. Rumah ini sudah berumur sekitar 70 tahun, berbahan utama kayu ulin. Jenis kayu terkenal dari Pulau Kalimantan. Di beberapa titik di dalam rumah, saya menemukan banyak tulisan.

    dayak lambadau.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1.JPG1

    Ternyata warga Dayak Tomun suka mencatat hal-hal penting di dalam hidup mereka dengan menulis nya di beberapa bagian rumah. Misal catatan mengenai tanggal lahir anak, tanggal perkawinan , tanggal upacara tewah pada kematian dan lain sebagai nya.

    Warga Dayak Tomun juga punya budaya adat yakni “meluai”. Sebuah tradisi memasak beras hasil panen , kemudian dibacakan secara sakral dan kemudian disantap bersama dengan kerabat dan tetangga. Baru setelah beras hasil panen tersebut kelar diprosesikan, maka beras bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari di rumah.

    Malam sudah makin tinggi, diskusi tentang suku Dayak Tomun pun kami akhiri. Bapak Togas menyediakan kami bantal dan selimut. Kami tidur hanya di atas tikar hui dari rotan. Rumah yang dulu hanya ada di bayangan saya, akhirnya bisa secara langsung saya rasakan bermalam disini.

    Sumber: http://kalimantanku.blogspot.com/2014/06/suku-dayak-tomun-di-lamandau-trip-with.html

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on