101 Tokoh Dayak yang Mengukir Sejarah

0
1015

SIAPA manusia Dayak? Siapa saja 101 prominent people di antara 6 juta populasi Dayak yang tersebar di satu pulau (Kalimantan) dan tiga Negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei)? Bagaimana metodologi pemilihan dan pemilahannya menjadi contents buku ini? Apa habitus yang menjadi ciri khas puak Dayak?

Sebagai gambaran sekilas bahwa pakar coba menjelaskan siapa manusia Dayak. Sekadar menyebut contoh, Ukur (1971), Lontaan (1975), Coomans (1987), Djuweng dan Krenak (1993). Pertanyaan itu akan terjawab dalam LAUNCHING DAN DISKUSI BUKU 101 TOKOH DAYAK (30 Juni 2014) yang disusun R. Masri Sareb Putra, periset di Essence – Surya Research (Surya University) yang oleh Wikipedia dibaiat sebagai salah satu tokoh Dayak kategori penulis.

Semua sepakat bahwa Dayak ialah nama kolektif untuk menyebut penduduk asli penghuni pulau Borneo yang belum dipengaruhi agama asing dan sentuhan unsur-unsur di luar dirinya. Bahkan, secara jelas-tegas, beberapa pakar menyatakan bahwa keaslian Dayak dapat dilihat dari “sensus divinitas” atau agama asli suku Dayak yakni sifat lokal keagamaan yang berasal dari daerah itu sendiri, sejak awal mula ada di sini dan tidak diimpor dari luar. Sifat asli itu oleh Bakker (1972: 1) disebut “autochton”, sebagai lawan dari “allochton”.

Para pakar telah memilah-milah indigenous people Borneo terdiri atas setidaknya tujuh rumpun besar suku dan sekitar 450 subsuku. Pemilahan itu berdasarkan kesamaan bahasa, adat istiadat, tempat tinggal, ritus, upacara, kesamaan fisik, dan artefak.

Atas pemilahan dan penggolongan tersebut, maka yang disebut “manusia Dayak” tersebar di tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), meski tetap bermukim di pulau sama. Populasinya mencapai sekitar 6 juta, terdiri atas hampir 3 juta di Indonesia, 2,9 juta di Malaysia, dan 100.000 di Brunei.

Buku ini adalah medium yang memuat 101 wajah Dayak, dari berbagai dimensi. Ternyata, Dayak manusia luar biasa! Mereka menonjol di bidang masing-masing. Mampu bersaing di mana pun, di level apa pun. Lalu, bagaimana cara mendapat 101 tokoh Dayak yang menjadi isi buku ini?

Ada pepatah, “Quot capita tot sensus”. Artinya: sebanyak kepala, sebanyak itu pula pendapat. Untuk menghindari silang pendapat ihwal ketokohan Dayak, baiklah kita buat kesepakatan. Mari pertama-tama mengacu ke definisi leksikal ihwal tokoh dan ketokohan.

Tokoh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1203) mengandung empat pengertian. Pengertian 1, 2, dan 4 tidak relevan dengan judul buku ini. Yang relevan ialah pengertian ke-3, tokoh = orang yang terkemuka dan kenamaan dalam berbagai bidang, bukan hanya politik dan kebudayaan.

Berangkat dari pengertian leksikal ini, penulis membuat 10 kriteria.

1) Tokoh Dayak yang lolos ialah sosok yang terkemuka dan kenamaan di bidangnya.

2) Dalam dirinya mengalir darah Dayak dari ayah atau ibunya.

3) Berasal dan lahir di bumi Borneo (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) meski

saat buku ini ditulis tinggal/ menuntut ilmu di luar pulau.

Tiga kriteria ini wajib hukumnya dan haruslah disepakati! Lalu dirasakan perlu menambahkan beberapa kriteria lagi, bahwa sang tokoh:

4) Hidup dari profesinya, karena itu, disebut “profesional”.

5) Menonjol (prominent) di antara kaumnya, atau kelompok lain.

6) Menjadi perhatian publik, dibuktikan dengan pernah dimuat/ diekspos di media

nasional atau internasional.

7) Menginspirasi.

8) Seorang pahlawan nasional.

9) Diabadikan namanya sebagai nama jalan/ gelanggang/gedung.

10) Namanya tidak tercemar.

Berdasar pada 10 kriteria itu, penulis memilah dan akhirnya memilih 101 Tokoh Dayak dalam buku jilid I. Untuk menghindari debat, tokoh yang belum masuk dalam buku I, akan dimasukkan dalam buku jilid II. Nantinya, akan menjadi Ensiklopedia Tokoh Dayak yang jumlahnya nirbatas.

Selama ini, musykil menemukan tokoh-tokoh Dayak dalam satu wadah. Selain tercecer di sana sini, informasi dan data sangat minim tentang mereka, belum ada upaya yang tekun serta teliti mengumpulkannya menjadi sebuah karya kreatif, sekaligus bernilai, yang disajikan dalam sebuah wadah bernama “ensiklopedi tokoh”.

Melalui upaya yang tidak mudah, didorong semangat menginspirasi dan mencerahkan kaumnya, penulis mengumpulkan 101 tokoh Dayak dalam sebuah karya yang data serta informasi tentang para tokoh tersebar di mana-mana. Hampir 60% tokoh dikenal penulis dengan baik, sehingga data dan informasi awal masih diolah dari data primer, diimbuhi dan diracik sedemikian rupa, kemudian disajikan secara informatif, tapi bernas.

Metodologi mulai dari melakukan overview tokoh Dayak yang tersebar di tiga negara melalui media. Sebagaimana sifatnya, media adalah symbolic reality dan tidak pernah bisa berbanding lurus dengan realitas objektif. Kesan pertama yang muncul dari pemandangan sekilas itu ialah bahwa tokoh Dayak yang menjadi perhatian ialah politikus, artis, dan akademisi. Padahal, tokoh bukan hanya sebatas tiga bidang itu.

Maka penulis pun mengumpulkan siapa saja tokoh Dayak yang sesuai dengan kriteria. Lalu dipilah-pilah berdasarkan 10 kriteria di atas. Penyusun buku ini mulai mengurutkan tokoh berdasarkan urut abjad nama (alfabetis) –untuk menghindari debat siapa harus nomor 1 berdasarkan apa, dan siapa urut 101.

Dalam menyusun 101 tokoh Dayak, penulis tidak mengikuti secara persis tokoh Dayak versi Wikipedia karena penggolongannya menyisakan persoalan ditilik dari sisi epistemologi. Lagi pula kurang up to date, apalagi masih data kasar: hanya nama berdasarkan bidang. Penggolongan oleh Wikipedia terkesan lebih berdasarkan riset pustaka, karena itu, perlu diimbangi dengan riset lapangan. Meski beberapa nama versi Wikipedia sama dengan 101 tokoh Dayak dalam buku ini.

Memilih satu tokoh di antara belantara tokoh Dayak tidak mudah, apalagi mengkategorikannya membutuhkan imaginasi. Dan sebagaimana lazimnya sebuah buku, kategori dapat dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, general tapi tidak dalam (seperti buku 101 tokoh dayak ini). Dan kedua, dalam tapi tidak general (satu tokoh yang akan menjadi biografi nanti).

101 tokoh Dayak sebagian adalah tokoh sejarah (history), meski sebagian besar adalah kisah seseorang (his/her story) yang sedang menjadi. Ia inspirator bagi siapa saja yang open minded: bahwa orang Dayak pun unggul, eksis, dan mampu bersaing di level apa pun, di mana pun.

Jika disederhanakan, 101 tokoh Dayak terbagi dalam tiga katagori, yakni: tokoh sejarah, tokoh masa kini, dan tokoh masa depan. Tokoh sejarah membuka jalan dan menjadi suri teladan. Tokoh masa kini manusia Dayak yang unggul dan sanggup bersaing di segala bidang. Tokoh masa depan memotivasi dan menginspirasi.

Itulah mosaik Dayak. Yang jika dilihat dalam sebuah medium mencitrakan manusia unggul di berbagai bidang. Membaca buku ini, citra serba peyoratif di masa lalu tinggallah kenangan. 101 tokoh Dayak mengubah stereotype negatif.

Kiprah dan kisah mereka adalah tentang sukses, kerja keras, semangat pantang menyerah, dan optimisme. Meski tanpa menyebut demikian pun, sebenarnya menampilkan 101 tokoh Dayak yang prominent dalam buku ini, otomatis mengkonstruk bahwa manusia Dayak hari ini etnis yang unggul luar biasa.

Dayak ditulis orang luar dan ditulis orang dalam, akan terasa berbeda nuansanya. Inilah buku dari Dayak insight, Dayak inside. Sudut padang Dayak, yang menyibak Dayak dari dalam.

Sebagaimana ditegaskan motivator Amerika, Harvey MacKay “our lives change in two ways: through the people we meet and the books we read”. Bahwa hidup kita diubah oleh dua hal saja: dari orang yang kita jumpai (interaksi/komunikasi) dan dari buku yang kita baca.

101 Tokoh Dayak yang Mengukir Sejarah memungkinkan pembaca berubah secara cepat ke arah positif. Sebab Anda bertemu sekaligus dengan dua cara untuk berubah: buku dan manusia.

Sumber: http://www.surya.ac.id/news-detail.php?id=257