Orang Malind di Kampung Baad, Distrik Animha, Merauke, sangat resah dengan kehadiran investor perkebunan tebu yang hendak memanfaatkan tanah dan hutan di wilayah adat mereka untuk pengembangan usaha perkebunan tebu komersial. Pasalnya, masyarakat merasa khawatir kehilangan tanah dan hutan, sumber kehidupan masyarakat setempat.

Sudah semenjak tahun 2010, investor hilir mudik melakukan negosiasi dan survey pengukuran tanah adat di Kampung Baad dan sekitarnya, antara lain: PT. Hardaya Sugar Papua Plantation, PT. Anugerah Rezeki Nusantara, dan kini PT. Global Papua Abadi. Pada akhir Juni 2014, Warga melaporkan via Short Message Service bahwa perusahaan baru PT. Global Papua Abadi (GPA) melakukan sosialisasi dan menyampaikan rencananya untuk mengembangkan perkebunan tebu di wilayah Kampung Baad, Wapeko, Salor dan Senayu, dengan luas areal sekitar 25.000 hektar.

Keluarga Baad

Tokoh masyarakat kampung yang hadir tidak banyak menanggapi dalam sosialisasi yang dilakukan di rumah salah seorang anggota TNI di Distrik Kurik. Perusahaan menjanjikan pembayaran uang tali asih Rp. 8 miliar untuk penggunaan lahan perkebunan tebu selama ± 35 tahun. Perusahaan juga menjanjikan pembagian hasil sebesar 20 %.

Operator perusahaan PT. GPA menyampaikan akan melibatkan Pemda Kabupaten Merauke saat penyerahan uang tali asih. Perusahaan tidak memberikan dokumen izin kepada masyarakat dan tidak menginformasikan dimana persisnya lokasi rencana usaha perkebunan tebu. Masyarakat khawatir tempat penting mereka, seperti: kebun, dusun sagu, tempat berburu, tempat keramat, jalur leluhur, dan sebagainya, akan tergusur oleh kepentingan perusahaan.

Mathias Mahuze, warga Kampung Baad, mengkhawatirkan keberadaan investasi akan membawa dampak merugikan usaha mereka dan masa depan anak cucu Orang Malind.

Ank, Juli 2014

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Orang Malind di Kampung Baad, Distrik Animha, Merauke, sangat resah dengan kehadiran investor perkebunan tebu yang hendak memanfaatkan tanah dan hutan di wilayah adat mereka untuk pengembangan usaha perkebunan tebu komersial. Pasalnya, masyarakat merasa khawatir kehilangan tanah dan hutan, sumber kehidupan masyarakat setempat.

    Sudah semenjak tahun 2010, investor hilir mudik melakukan negosiasi dan survey pengukuran tanah adat di Kampung Baad dan sekitarnya, antara lain: PT. Hardaya Sugar Papua Plantation, PT. Anugerah Rezeki Nusantara, dan kini PT. Global Papua Abadi. Pada akhir Juni 2014, Warga melaporkan via Short Message Service bahwa perusahaan baru PT. Global Papua Abadi (GPA) melakukan sosialisasi dan menyampaikan rencananya untuk mengembangkan perkebunan tebu di wilayah Kampung Baad, Wapeko, Salor dan Senayu, dengan luas areal sekitar 25.000 hektar.

    Keluarga Baad

    Tokoh masyarakat kampung yang hadir tidak banyak menanggapi dalam sosialisasi yang dilakukan di rumah salah seorang anggota TNI di Distrik Kurik. Perusahaan menjanjikan pembayaran uang tali asih Rp. 8 miliar untuk penggunaan lahan perkebunan tebu selama ± 35 tahun. Perusahaan juga menjanjikan pembagian hasil sebesar 20 %.

    Operator perusahaan PT. GPA menyampaikan akan melibatkan Pemda Kabupaten Merauke saat penyerahan uang tali asih. Perusahaan tidak memberikan dokumen izin kepada masyarakat dan tidak menginformasikan dimana persisnya lokasi rencana usaha perkebunan tebu. Masyarakat khawatir tempat penting mereka, seperti: kebun, dusun sagu, tempat berburu, tempat keramat, jalur leluhur, dan sebagainya, akan tergusur oleh kepentingan perusahaan.

    Mathias Mahuze, warga Kampung Baad, mengkhawatirkan keberadaan investasi akan membawa dampak merugikan usaha mereka dan masa depan anak cucu Orang Malind.

    Ank, Juli 2014

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on