Kompas.com, RINO (12), bocah laki-laki bertubuh gemuk itu diantar oleh bapaknya, menemui ibunya, Sumini (38). Dengan hanya anggukan pelan, Rino mengakui, dia kangen bertemu ibunya. Pertemuan ibu dengan anak, pekan lalu, itu tidak berlangsung di swalayan atau rumah.

Rino menemui ibunya di tenda dalam kawasan hutan jati yang mulai gundul. Jarak masuk dalam hutan sekitar 4 kilometer dari jalan provinsi lintas Rembang–Blora di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Untuk bisa bertemu ibunya, Rino dibonceng menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer (km) dengan sepeda motor tua.

Kangen Rino untuk bertemu ibunya, wajar-wajar saja. Apalagi setelah Sumini, salah satu dari ratusan kaum ibu warga Desa Tegaldowo dan Timbrangan, Kecamatan Gunem, Rembang, sudah sekitar seminggu bergabung, beraktivitas dan tidur di tenda. Rino tidak canggung, setelah memeluk ibunya, dia mengabarkan kalau dirinya naik ke kelas VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegaldowo 1 Rembang, kemudian langsung bermain-main dengan beberapa pria di bawah tenda besar.

”Kalau tidak diajak bapaknya pergi ke lokasi lain, kemungkinan Rino akan menghabiskan masa liburannya di tenda bersama ibunya. Juga anak-anak lain yang ibunya ikut di sini,” ujar Sumini, lirih.

Lokasi Desa Tegaldowo jauh dari Kota Rembang. Keterbatasan transportasi, juga kesibukan ikut aksi ini praktis Sumini tidak sempat mengajak Rino liburan ke kota di pantai utara yang terkenal dengan museum dan Pantai Kartini itu.

Tenda itu dibangun oleh warga, sebagai bentuk keprihatinan atas kekhawatiran akan rusaknya kawasan Pegunungan Kendeng, utamanya kawasan Watuputih di Kendeng, Rembang. Lokasi tenda itu ke arah selatan, kurang lebih 25 km dari Kota Rembang. Di lokasi itu pulalah PT Semen Indonesia (Tbk) menetapkan lokasi penambangan karst, tanah liat, berikut pembangunan pabrik semen ramah lingkungan berkapasitas 36,5 juta ton per tahun.

Kaum ibu itu sehari-hari adalah petani ladang tadah hujan dan kebun hutan. Mereka menyatakan prihatin dengan usaha investor yang memaksa melakukan penambangan. Aksi penolakan ini juga untuk menyelamatkan lingkungan, termasuk menjamin kehidupan yang damai bagi anak-anak mereka, seperti Rino.

”Kami hanya melakukan aksi duduk, tinggal, dan beraktivitas di tenda. Kami tidak mengganggu. Kami hanya prihatin, tidak lebih dari itu. Kami mencoba bertahan, entah sampai kapan. Pokoknya sampai alat-alat berat yang beraksi di dalam hutan ditarik keluar,” ujar Sumini, yang diamini sejumlah ibu sederhana itu.

Lokasi tempat tenda itu dibangun, di tepi jalan baru yang membelah kawasan hutan jati. Semula hanya jalan berbatu kemudian dilebarkan dan diperkuat oleh investor, merupakan jalan masuk ke kawasan hutan jati, peninggalan Belanda sejak 1925 di area Kecamatan Bulu, Rembang.

Memasuki musim kemarau, jalan batu itu penuh debu beterbangan, manakala ada truk atau kendaraan proyek yang lewat di jalan yang menikung. Siang hari, panas menyengat hingga menembus tenda sampai memanaskan tikar plastik, tempat duduk kaum perempuan pedesaan itu.

Belajar dari alam

Ketika ditemui di pagi hari, beberapa ibu sudah mulai aktif menjalani kegiatan rutin di tenda. Kegiatan dari subuh hingga malam hari sudah terprogram, yakni mulai shalat Subuh, kemudian mandi di kamar mandi sederhana di bawah gorong-gorong saluran air, serta menunggu sarapan. Air untuk mandi dapat kiriman dari warga lain, ada puluhan jeriken tempat air menumpuk di samping tenda.

Pada siang hari, apabila tidak ada tutor datang untuk mengajarkan soal lingkungan, mereka berdiam diri. Pada waktu malam, sebelum tidur mereka biasanya mengaji atau membaca sholawat. Sudah lima hari, mereka memperoleh lampu penerangan, setelah pihak penjaga proyek mengizinkan warga lain memasang mesin genset kecil untuk listrik pembangkit lampu.

”Sarapan biasanya kami dikirim oleh bapak-bapak dari rumah. Kiriman sarapan ada yang hanya untuk istrinya, atau ada yang mau masak banyak untuk beberapa orang, selain kami masak sendiri,” kata Sukinah (40), salah seorang aktivis.

Beberapa saat kemudian, datang Sariman (50), asal Tegaldowo dengan sepeda motor butut. Petani ini mengirim sarapan buat istrinya yang juga ikut aksi. Sariman dengan lugu mengatakan, tidak tahu soal pabrik semen, tetapi mendukung istrinya ikut aksi untuk mengingatkan semua pihak kalau menjaga lingkungan dan kelestarian alam itu penting. ”Saya sudah biasa ditinggal istri karena lagi ikut aksi di tempat lain,” ujar dia.

Pagi itu, sudah tersedia sarapan berupa nasi campur kedelai. Hanya saja tanpa lauk, dan penyegarnya air minum dalam gelas. Dalam kesederhanaan itulah, sejumlah ibu meski belum mandi langsung sarapan. Sebagian lagi malah masih melanjutkan tidur di tikar plastik dengan selimut kain panjang (kain jarik).

Sejumlah ibu itu menuturkan, aksi yang mereka lakukan bukan hal baru. Sebelumnya, mereka sudah pernah melakukannya. Memprotes aksi dan ulah penambang kars dan batu kapur lokal, yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Belajar dari pengalaman alami itulah, ketika rencana penambangan besar-besar untuk pabrik semen, maka mereka pun tergugah untuk menentangnya.

Rukiyah (45), warga Timbrangan, mengemukakan, dalam dua tahun terakhir ini, aksi penolakan penambangan di Pegunungan Kendeng, Rembang, makin marak. Berulang kali, warga di sejumlah desa sudah menyampaikan aspirasi ke Bupati Rembang. Awalnya mereka memprotes maraknya penambangan liar, yang makin tidak terkendali. Namun, protes itu tidak pernah ada tanggapan.

Penambangan liar, dilakukan oleh perorangan maupun kumpulan pengusaha berkedok perusahaan, sudah berlangsung lebih dari 10 tahun di sejumlah kecamatan di Rembang. Penambangan itu menyebar mulai dari Lasem, Sale, Gunem, Sulang hingga perbatasan Rembang-Blora di Kecamatan Bulu.

Penambang itu mengambil batu gamping, karst, juga pasir besi. Kerusakan akibat ulah petambang, seperti meninggalkan cekungan tanah kapur, gundul, dan gersang menjadi ancaman lingkungan tersendiri. Sedianya, pabrik semen itu membutuhkan areal kawasan seluas 860 hektar.

”Setiap kali kawasan tertentu ditambang, lingkungan dekat permukiman yang tidak jauh dari penambangan akan terdampak. Polusi udara, kekurangan air bersih sampai kerusakan ladang tadah hujan pun diderita warga,” ujar Rukiyah.

Kaum ibu ini sesungguhnya lebih suka bertani di ladang. Mereka bisa menanam padi saat musim hujan, atau menanam jagung di musim panas, kedelai hingga singkong di kebun yang tidak luas. Ladang itu diakui, banyak yang bukan milik mereka melainkan hasil kerja sama dengan pihak Perhutani. Tiap panen mereka bisa menghasilkan antara Rp 6 juta hingga Rp 10 juta per tahun dari penjualan hasil tanaman di ladang.

Mereka juga membantah kalau tanah pasir atau tanah kapur di pegunungan Kendeng, tidak subur ditanami. Buktinya, tanaman jagung hasil ladang warga di sini memiliki tongkol yang besar dan butiran jagung yang laku dijual lebih dari Rp 3.500 per kilogram.

”Untuk menyatakan penolakan pabrik semen ini, kami rela tidak berkebun, menyerahkan pekerjaan rumah dan mengawasi anak-anak sama bapaknya. Kami rela tidur di tenda supaya pemerintah dan pihak lain mengerti bahwa lingkungan pun harus dijaga dari kerusakan,” ujar Sukinah, juru bicara warga. Inilah perjuangan warga, entah akan berlangsung sampai kapan.

(Winarto Herusanso

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kompas.com, RINO (12), bocah laki-laki bertubuh gemuk itu diantar oleh bapaknya, menemui ibunya, Sumini (38). Dengan hanya anggukan pelan, Rino mengakui, dia kangen bertemu ibunya. Pertemuan ibu dengan anak, pekan lalu, itu tidak berlangsung di swalayan atau rumah.

    Rino menemui ibunya di tenda dalam kawasan hutan jati yang mulai gundul. Jarak masuk dalam hutan sekitar 4 kilometer dari jalan provinsi lintas Rembang–Blora di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Untuk bisa bertemu ibunya, Rino dibonceng menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer (km) dengan sepeda motor tua.

    Kangen Rino untuk bertemu ibunya, wajar-wajar saja. Apalagi setelah Sumini, salah satu dari ratusan kaum ibu warga Desa Tegaldowo dan Timbrangan, Kecamatan Gunem, Rembang, sudah sekitar seminggu bergabung, beraktivitas dan tidur di tenda. Rino tidak canggung, setelah memeluk ibunya, dia mengabarkan kalau dirinya naik ke kelas VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegaldowo 1 Rembang, kemudian langsung bermain-main dengan beberapa pria di bawah tenda besar.

    ”Kalau tidak diajak bapaknya pergi ke lokasi lain, kemungkinan Rino akan menghabiskan masa liburannya di tenda bersama ibunya. Juga anak-anak lain yang ibunya ikut di sini,” ujar Sumini, lirih.

    Lokasi Desa Tegaldowo jauh dari Kota Rembang. Keterbatasan transportasi, juga kesibukan ikut aksi ini praktis Sumini tidak sempat mengajak Rino liburan ke kota di pantai utara yang terkenal dengan museum dan Pantai Kartini itu.

    Tenda itu dibangun oleh warga, sebagai bentuk keprihatinan atas kekhawatiran akan rusaknya kawasan Pegunungan Kendeng, utamanya kawasan Watuputih di Kendeng, Rembang. Lokasi tenda itu ke arah selatan, kurang lebih 25 km dari Kota Rembang. Di lokasi itu pulalah PT Semen Indonesia (Tbk) menetapkan lokasi penambangan karst, tanah liat, berikut pembangunan pabrik semen ramah lingkungan berkapasitas 36,5 juta ton per tahun.

    Kaum ibu itu sehari-hari adalah petani ladang tadah hujan dan kebun hutan. Mereka menyatakan prihatin dengan usaha investor yang memaksa melakukan penambangan. Aksi penolakan ini juga untuk menyelamatkan lingkungan, termasuk menjamin kehidupan yang damai bagi anak-anak mereka, seperti Rino.

    ”Kami hanya melakukan aksi duduk, tinggal, dan beraktivitas di tenda. Kami tidak mengganggu. Kami hanya prihatin, tidak lebih dari itu. Kami mencoba bertahan, entah sampai kapan. Pokoknya sampai alat-alat berat yang beraksi di dalam hutan ditarik keluar,” ujar Sumini, yang diamini sejumlah ibu sederhana itu.

    Lokasi tempat tenda itu dibangun, di tepi jalan baru yang membelah kawasan hutan jati. Semula hanya jalan berbatu kemudian dilebarkan dan diperkuat oleh investor, merupakan jalan masuk ke kawasan hutan jati, peninggalan Belanda sejak 1925 di area Kecamatan Bulu, Rembang.

    Memasuki musim kemarau, jalan batu itu penuh debu beterbangan, manakala ada truk atau kendaraan proyek yang lewat di jalan yang menikung. Siang hari, panas menyengat hingga menembus tenda sampai memanaskan tikar plastik, tempat duduk kaum perempuan pedesaan itu.

    Belajar dari alam

    Ketika ditemui di pagi hari, beberapa ibu sudah mulai aktif menjalani kegiatan rutin di tenda. Kegiatan dari subuh hingga malam hari sudah terprogram, yakni mulai shalat Subuh, kemudian mandi di kamar mandi sederhana di bawah gorong-gorong saluran air, serta menunggu sarapan. Air untuk mandi dapat kiriman dari warga lain, ada puluhan jeriken tempat air menumpuk di samping tenda.

    Pada siang hari, apabila tidak ada tutor datang untuk mengajarkan soal lingkungan, mereka berdiam diri. Pada waktu malam, sebelum tidur mereka biasanya mengaji atau membaca sholawat. Sudah lima hari, mereka memperoleh lampu penerangan, setelah pihak penjaga proyek mengizinkan warga lain memasang mesin genset kecil untuk listrik pembangkit lampu.

    ”Sarapan biasanya kami dikirim oleh bapak-bapak dari rumah. Kiriman sarapan ada yang hanya untuk istrinya, atau ada yang mau masak banyak untuk beberapa orang, selain kami masak sendiri,” kata Sukinah (40), salah seorang aktivis.

    Beberapa saat kemudian, datang Sariman (50), asal Tegaldowo dengan sepeda motor butut. Petani ini mengirim sarapan buat istrinya yang juga ikut aksi. Sariman dengan lugu mengatakan, tidak tahu soal pabrik semen, tetapi mendukung istrinya ikut aksi untuk mengingatkan semua pihak kalau menjaga lingkungan dan kelestarian alam itu penting. ”Saya sudah biasa ditinggal istri karena lagi ikut aksi di tempat lain,” ujar dia.

    Pagi itu, sudah tersedia sarapan berupa nasi campur kedelai. Hanya saja tanpa lauk, dan penyegarnya air minum dalam gelas. Dalam kesederhanaan itulah, sejumlah ibu meski belum mandi langsung sarapan. Sebagian lagi malah masih melanjutkan tidur di tikar plastik dengan selimut kain panjang (kain jarik).

    Sejumlah ibu itu menuturkan, aksi yang mereka lakukan bukan hal baru. Sebelumnya, mereka sudah pernah melakukannya. Memprotes aksi dan ulah penambang kars dan batu kapur lokal, yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Belajar dari pengalaman alami itulah, ketika rencana penambangan besar-besar untuk pabrik semen, maka mereka pun tergugah untuk menentangnya.

    Rukiyah (45), warga Timbrangan, mengemukakan, dalam dua tahun terakhir ini, aksi penolakan penambangan di Pegunungan Kendeng, Rembang, makin marak. Berulang kali, warga di sejumlah desa sudah menyampaikan aspirasi ke Bupati Rembang. Awalnya mereka memprotes maraknya penambangan liar, yang makin tidak terkendali. Namun, protes itu tidak pernah ada tanggapan.

    Penambangan liar, dilakukan oleh perorangan maupun kumpulan pengusaha berkedok perusahaan, sudah berlangsung lebih dari 10 tahun di sejumlah kecamatan di Rembang. Penambangan itu menyebar mulai dari Lasem, Sale, Gunem, Sulang hingga perbatasan Rembang-Blora di Kecamatan Bulu.

    Penambang itu mengambil batu gamping, karst, juga pasir besi. Kerusakan akibat ulah petambang, seperti meninggalkan cekungan tanah kapur, gundul, dan gersang menjadi ancaman lingkungan tersendiri. Sedianya, pabrik semen itu membutuhkan areal kawasan seluas 860 hektar.

    ”Setiap kali kawasan tertentu ditambang, lingkungan dekat permukiman yang tidak jauh dari penambangan akan terdampak. Polusi udara, kekurangan air bersih sampai kerusakan ladang tadah hujan pun diderita warga,” ujar Rukiyah.

    Kaum ibu ini sesungguhnya lebih suka bertani di ladang. Mereka bisa menanam padi saat musim hujan, atau menanam jagung di musim panas, kedelai hingga singkong di kebun yang tidak luas. Ladang itu diakui, banyak yang bukan milik mereka melainkan hasil kerja sama dengan pihak Perhutani. Tiap panen mereka bisa menghasilkan antara Rp 6 juta hingga Rp 10 juta per tahun dari penjualan hasil tanaman di ladang.

    Mereka juga membantah kalau tanah pasir atau tanah kapur di pegunungan Kendeng, tidak subur ditanami. Buktinya, tanaman jagung hasil ladang warga di sini memiliki tongkol yang besar dan butiran jagung yang laku dijual lebih dari Rp 3.500 per kilogram.

    ”Untuk menyatakan penolakan pabrik semen ini, kami rela tidak berkebun, menyerahkan pekerjaan rumah dan mengawasi anak-anak sama bapaknya. Kami rela tidur di tenda supaya pemerintah dan pihak lain mengerti bahwa lingkungan pun harus dijaga dari kerusakan,” ujar Sukinah, juru bicara warga. Inilah perjuangan warga, entah akan berlangsung sampai kapan.

    (Winarto Herusanso

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on