Peradaban manusia saat ini dihadapkan pada tantangan global kerusakan lingkungan akibat dampak industrialisasi dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. Hal ini berakibat pada meningkatnya pelepasan emisi karbon di atmosfer Bumi. Krisis lingkungan ini selanjutnya mengakibatkan perubahan iklim secara global dan memberikan dampak kepada seluruh umat manusia. Berbagai upaya inisiatif global telah dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Pada tingkat lokal, Kabupaten Berau merupakan salah satu dari beberapa kabupaten di Indonesia yang telah berupaya dengan mewujudkan sebagai wilayah pengembangan (Demontration Activities) program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) oleh Kementerian Kehutanan RI pada Januari 2010, melalui inisiasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau dan The Nature Conservancy (TNC).

Krisis lingkungan yang dihadapi saat ini membutuhkan kepedulian bersama dari berbagai unsur masyarakat. Kelompok Masyarakat Gaai adalah komunitas yang telah sejak ratusan tahun lalu menetap dan hidup selaras dengan lingkungan kawasan hutan dan meletakkan nilai-nilai kehidupan sosial, budaya dan hukum adat yang terinspirasi dari keberadaan hutan tempat tinggal mereka. Mereka menyakini bahwa tantan gan terhadap keberadaan hutan secara langsung juga mengamcam eksistensi kebudayaan dan pondasi kehidupan yang telah mereka miliki sebagai warisan leluhur sejak ratusan tahun lalu.

Arus moderinisasi disadari telah menggerus nilai-nilai budaya hidup dengan lingkungan hutan, hal ini lambat laun memudarkan kebanggaan terhadap budaya lokal di kalangan Pemuda hingga orang tua. Nilai–nilai eksotis budaya dan kearifan lokal pelan–pelan tergeser oleh budaya modern yang tidak bijak terhadap lingkungan.

Nilai-nilai budaya budaya yang kian hari semakin tergerus ini coba direkonstruksi dengan menggali jejak budaya melalui penuturan tetua adat dan orangtua yang masih mewarisi pemahaman budaya setempat. Dengan meningkatkan pengetahuan terkait budaya, kemudian mempelajari dan mengamalkannya, diharapkan secara perlahan dapat memberikan pencerahan dan menumbuhkan kembali kebanggaan akan budaya nenek moyang yang ramah terhadap hutan di kalangan pemuda–pemudi dan masyarakat kampung pada umumnya. Hipotesis yang dibangun adalah dengan menumbuhkan semangat kebanggaan budaya dan kearifan local yang ramah terhadap hutan maka keberadaan hutan akan menjadi bagian tidak terpisah bagi masyarakat sekitar hutan untuk dilestarikan.

Selengkapnya Download: yakobi.org

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Peradaban manusia saat ini dihadapkan pada tantangan global kerusakan lingkungan akibat dampak industrialisasi dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. Hal ini berakibat pada meningkatnya pelepasan emisi karbon di atmosfer Bumi. Krisis lingkungan ini selanjutnya mengakibatkan perubahan iklim secara global dan memberikan dampak kepada seluruh umat manusia. Berbagai upaya inisiatif global telah dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Pada tingkat lokal, Kabupaten Berau merupakan salah satu dari beberapa kabupaten di Indonesia yang telah berupaya dengan mewujudkan sebagai wilayah pengembangan (Demontration Activities) program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) oleh Kementerian Kehutanan RI pada Januari 2010, melalui inisiasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau dan The Nature Conservancy (TNC).

    Krisis lingkungan yang dihadapi saat ini membutuhkan kepedulian bersama dari berbagai unsur masyarakat. Kelompok Masyarakat Gaai adalah komunitas yang telah sejak ratusan tahun lalu menetap dan hidup selaras dengan lingkungan kawasan hutan dan meletakkan nilai-nilai kehidupan sosial, budaya dan hukum adat yang terinspirasi dari keberadaan hutan tempat tinggal mereka. Mereka menyakini bahwa tantan gan terhadap keberadaan hutan secara langsung juga mengamcam eksistensi kebudayaan dan pondasi kehidupan yang telah mereka miliki sebagai warisan leluhur sejak ratusan tahun lalu.

    Arus moderinisasi disadari telah menggerus nilai-nilai budaya hidup dengan lingkungan hutan, hal ini lambat laun memudarkan kebanggaan terhadap budaya lokal di kalangan Pemuda hingga orang tua. Nilai–nilai eksotis budaya dan kearifan lokal pelan–pelan tergeser oleh budaya modern yang tidak bijak terhadap lingkungan.

    Nilai-nilai budaya budaya yang kian hari semakin tergerus ini coba direkonstruksi dengan menggali jejak budaya melalui penuturan tetua adat dan orangtua yang masih mewarisi pemahaman budaya setempat. Dengan meningkatkan pengetahuan terkait budaya, kemudian mempelajari dan mengamalkannya, diharapkan secara perlahan dapat memberikan pencerahan dan menumbuhkan kembali kebanggaan akan budaya nenek moyang yang ramah terhadap hutan di kalangan pemuda–pemudi dan masyarakat kampung pada umumnya. Hipotesis yang dibangun adalah dengan menumbuhkan semangat kebanggaan budaya dan kearifan local yang ramah terhadap hutan maka keberadaan hutan akan menjadi bagian tidak terpisah bagi masyarakat sekitar hutan untuk dilestarikan.

    Selengkapnya Download: yakobi.org

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on