Degeuwo-Papua, 1 Juli 2014. Kompleks pendulangan emas Degeuwo kembali longsor pada jam 23.00 Waktu setempat. Kejadian ini baru diketahui pada hari rabu 2 juli 2014. Sumber dari Nabire yang dihubungi pusaka mengatakan sampai saat ini baru 7 orang korban yang dievakuasi via helipad dari Degeuwo ke Rumah Sakit Umum Nabire. Rata-rata para korban merupakan pekerja dari perusahaan emas. Baru diketahui 6 orang meninggal dunia, 2 orang selamat dan 6 lainnya belum ditemukan. Menurut Gunawan, terowongan galian yang dilakukan ala kadarnya, tak mampu menahan beban tanah diatasnya, makanya barang rubuh dan tutup mereka didalam.

Tragedi Degeuwo memang dibiarkan negara sampai sekarang, bencana alam yang menewaskan manusia saat ini, akibat lalainya negara dalam mengawasi dan mengontrol pekerjaan galian tambang emas. Realitas seputar lokasi tambang cukup mengerikan. Ada terowongan yang dibuat dari kayu biasa, panjang terowongan mencapai kiloan meter. Napsu serakah bikin pemburu emas tutup mata, mereka lupa akan keselamatan, baik nyawa manusia maupun lingkungan sekitar. Mahluk hidup di sekitar sini gelisah, (baca: Sepintas Tentang Tambang Degeuwo Papua 2006-2013), terancam bahkan diambang kehancuran peradaban. Selayang Pandang Tambang Degeuwo Papua, malapetakan yang timbul kapan saja, akibat dari kurangnya kinerja aparat daerah yang betul-betul mengayomi rakyatnya dari serbuan pemburu emas dan kekayaan alam.

Insiden ini mengakibatkan korban yang paling banyak pekerja tewas. Enam orang teridentifikasi meninggal adalah, Subardi (30), Lukman (30), Iwan (30), Alafa (29), Arifin (30), Mardi (32). Korban selamat bernama Udin dan Fred Miokbun. Sisanya, 6 orang belum ditemukan di dari lokasi longsoran.

Nabire.net melansir bahwa longsor berasal dari gunung di sekitar lokasi pendulangan, di pinggiran sungai Degeuwo, dan longsoran jatuh menimpa basecamp para pendulang emas. Sampai saat ini 2 orang berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke RSUD Nabire. Namun kedua korban dalam kondisi cukup parah dan mengalami patah tulang. Sedangkan 13 orang lainnya masih dalam proses evakuasi karena diketahui mereka berada di bawah timbunan lumpur setinggi kurang lebih 15 meter. Saat ini, belum diketahui apa saja upaya negara demi menyelamatkan para korban. Bahkan apa sanksi pemda setempat terkait bencana ini.

degeuwo.jpg1.jpg1

Perlu diketahui, baru-baru ini, tiga suku di sekitar Tambang Degeuwo mendesak pemerintah menutup 26 perusahaan tambang, (baca: Masyarakat Adat Desak Pemerintah Tutup Pertambangan Pencemar Sungai Degeuwo), khususnya PT. Madinah Qurrata Air, PT. Martha Mining dan PT. Komputer. Menurut tiga suku setempat (Mee, Moni dan Walani), hadirnya industri tambang disini bukannya demi kesejahteraan, justru berdampak pada kerusakan lingkungan dan membawa kesengsaraan bagi warga adat. Mereka berharap aparat terkait menindak tegas pelaku usaha ilegal maupun legal yang selama ini merusak lingkungan dan habitat sekitar.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    3 Comments

    1. Johannes 21 Oktober 2014 at 12:03 - Reply

      Jika kita melihat kembali permasalahan ini terjadi karena lemahnya pengawasan oleh Pemerintah Daerah dan menurut saya yang menyebabkan terjadinya bencana ini adalah adanya aktifita penambangan liar bukan karena masuknya perusahaan, karena berdasarkan pengamatan saya yang terjadi bahwa para penambang liar tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dan sejak terjadinya penambangan liar ini sejak tahun 2006 masyarakat tidask merasakan manfaat atas terjadinya aktifita penambangan liar tersebut, bahkan menimbulkan masalah sosial yang baru, sementara kami melihat bahwa perusahaan-perusahaan yang telah mendapatkan ijin tersebut dari pemerintah kabupaten paniai tidak bisa berbuat banyak dikarenakan masyarakat sudah dicuci otaknya oleh penguasa penambangan liar untuk tidak memberikan akses kepada perusahaan.

      Buka mata, buka hati, dan pikiran sehingga bisa menilai secara bijaksana siapa yang benar siapa yang salah.jangan berpikiran picik karena membela kepentingan pribadi atau perorangan. mari kita sama sama bela kepentingan dan pembangunan masyarakat yang kita sama-sama tahu sangat susah kehidupannya.

      Shaloom
      Tuhan Yesus memberkati

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Degeuwo-Papua, 1 Juli 2014. Kompleks pendulangan emas Degeuwo kembali longsor pada jam 23.00 Waktu setempat. Kejadian ini baru diketahui pada hari rabu 2 juli 2014. Sumber dari Nabire yang dihubungi pusaka mengatakan sampai saat ini baru 7 orang korban yang dievakuasi via helipad dari Degeuwo ke Rumah Sakit Umum Nabire. Rata-rata para korban merupakan pekerja dari perusahaan emas. Baru diketahui 6 orang meninggal dunia, 2 orang selamat dan 6 lainnya belum ditemukan. Menurut Gunawan, terowongan galian yang dilakukan ala kadarnya, tak mampu menahan beban tanah diatasnya, makanya barang rubuh dan tutup mereka didalam.

    Tragedi Degeuwo memang dibiarkan negara sampai sekarang, bencana alam yang menewaskan manusia saat ini, akibat lalainya negara dalam mengawasi dan mengontrol pekerjaan galian tambang emas. Realitas seputar lokasi tambang cukup mengerikan. Ada terowongan yang dibuat dari kayu biasa, panjang terowongan mencapai kiloan meter. Napsu serakah bikin pemburu emas tutup mata, mereka lupa akan keselamatan, baik nyawa manusia maupun lingkungan sekitar. Mahluk hidup di sekitar sini gelisah, (baca: Sepintas Tentang Tambang Degeuwo Papua 2006-2013), terancam bahkan diambang kehancuran peradaban. Selayang Pandang Tambang Degeuwo Papua, malapetakan yang timbul kapan saja, akibat dari kurangnya kinerja aparat daerah yang betul-betul mengayomi rakyatnya dari serbuan pemburu emas dan kekayaan alam.

    Insiden ini mengakibatkan korban yang paling banyak pekerja tewas. Enam orang teridentifikasi meninggal adalah, Subardi (30), Lukman (30), Iwan (30), Alafa (29), Arifin (30), Mardi (32). Korban selamat bernama Udin dan Fred Miokbun. Sisanya, 6 orang belum ditemukan di dari lokasi longsoran.

    Nabire.net melansir bahwa longsor berasal dari gunung di sekitar lokasi pendulangan, di pinggiran sungai Degeuwo, dan longsoran jatuh menimpa basecamp para pendulang emas. Sampai saat ini 2 orang berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke RSUD Nabire. Namun kedua korban dalam kondisi cukup parah dan mengalami patah tulang. Sedangkan 13 orang lainnya masih dalam proses evakuasi karena diketahui mereka berada di bawah timbunan lumpur setinggi kurang lebih 15 meter. Saat ini, belum diketahui apa saja upaya negara demi menyelamatkan para korban. Bahkan apa sanksi pemda setempat terkait bencana ini.

    degeuwo.jpg1.jpg1

    Perlu diketahui, baru-baru ini, tiga suku di sekitar Tambang Degeuwo mendesak pemerintah menutup 26 perusahaan tambang, (baca: Masyarakat Adat Desak Pemerintah Tutup Pertambangan Pencemar Sungai Degeuwo), khususnya PT. Madinah Qurrata Air, PT. Martha Mining dan PT. Komputer. Menurut tiga suku setempat (Mee, Moni dan Walani), hadirnya industri tambang disini bukannya demi kesejahteraan, justru berdampak pada kerusakan lingkungan dan membawa kesengsaraan bagi warga adat. Mereka berharap aparat terkait menindak tegas pelaku usaha ilegal maupun legal yang selama ini merusak lingkungan dan habitat sekitar.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      3 Comments

      1. Johannes 21 Oktober 2014 at 12:03 - Reply

        Jika kita melihat kembali permasalahan ini terjadi karena lemahnya pengawasan oleh Pemerintah Daerah dan menurut saya yang menyebabkan terjadinya bencana ini adalah adanya aktifita penambangan liar bukan karena masuknya perusahaan, karena berdasarkan pengamatan saya yang terjadi bahwa para penambang liar tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dan sejak terjadinya penambangan liar ini sejak tahun 2006 masyarakat tidask merasakan manfaat atas terjadinya aktifita penambangan liar tersebut, bahkan menimbulkan masalah sosial yang baru, sementara kami melihat bahwa perusahaan-perusahaan yang telah mendapatkan ijin tersebut dari pemerintah kabupaten paniai tidak bisa berbuat banyak dikarenakan masyarakat sudah dicuci otaknya oleh penguasa penambangan liar untuk tidak memberikan akses kepada perusahaan.

        Buka mata, buka hati, dan pikiran sehingga bisa menilai secara bijaksana siapa yang benar siapa yang salah.jangan berpikiran picik karena membela kepentingan pribadi atau perorangan. mari kita sama sama bela kepentingan dan pembangunan masyarakat yang kita sama-sama tahu sangat susah kehidupannya.

        Shaloom
        Tuhan Yesus memberkati

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on