BANJARMASIN, KOMPAS — Masyarakat adat yang bermukim di empat desa di Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, memprotes keberadaan perusahaan tambang batubara yang beroperasi di wilayah itu. Limbah domestik dan batubara dari aktivitas pertambangan diduga mencemari sungai.

”Sungai yang diduga tercemar adalah Sungai Sampanahan dan Sungai Tajam, anak Sungai Sampanahan. Secara kasatmata, warna air sungai berubah lebih keruh. Ikan dan udang susah didapatkan,” ujar Haspan Hamdan, tokoh masyarakat adat Dayak Kalimantan saat mendatangi ruang Redaksi Kompas di Banjarmasin, Kamis (28/8).

Hamdan mengatakan, selama ini warga memanfaatkan Sungai Sampanahan untuk berbagai aktivitas, seperti mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga juga mencari ikan dan udang di sungai itu. ”Beberapa warga yang bermukim di Desa Gendang Timburu, Magalau Hulu, Magalau Hilir, dan Sampanahan kini terserang gatal-gatal dan batuk akibat mengonsumsi air sungai,” katanya.

Menurut Hamdan, Sungai Tajam dan Sampanahan tercemar sejak perusahaan tambang batubara PT Kalimantan Energi Lestari (KEL) Site Gendang Timburu beroperasi tahun 2013. Limbah domestik dari permukiman karyawan perusahaan dan limbah pencucian batubara dialirkan ke Sungai Tajam.

Selain itu, kata Hamdan, conveyor atau alat pengantar batubara dari tempat penimbunan (stockpile) ke armada angkutan yang menuju pelabuhan juga melintasi Sungai Sampanahan. Ini membuat sebagian batubara jatuh ke sungai.

”Sungai Tajam dan Sampanahan diduga tercemar limbah batubara pula,” tuturnya.

Untuk membuktikan dugaan pencemaran Sungai Tajam dan Sampanahan, kata Hamdan, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Kotabaru sudah mengambil sampel air sungai pada 20 Agustus lalu. Namun, hingga kini hasil pemeriksaannya belum diketahui.

Menurut Kepala Bidang Pemantauan dan Pemulihan BLHD Provinsi Kalsel Ninuk Murtini, pihaknya belum menerima laporan terkait dugaan pencemaran Sungai Sampanahan di Kotabaru. ”Dugaan pencemaran itu masih dipantau oleh BLHD Kabupaten Kotabaru,” ujarnya.

Namun, Kepala BLHD Kotabaru Maslenawati, yang dihubungi dari Banjarmasin, Kamis, belum memberikan jawaban terkait dugaan pencemaran kedua sungai itu. Hingga Kamis malam, pihak perusahaan juga belum memberikan klarifikasi terkait dugaan pencemaran yang dilaporkan oleh masyarakat.

Seseorang yang mengaku Bagian Corporate Social Responsibility PT KEL Site Gendang Timburu, yang enggan disebut namanya, menyampaikan, tak ada persoalan antara perusahaan dan masyarakat. (JUM)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    BANJARMASIN, KOMPAS — Masyarakat adat yang bermukim di empat desa di Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, memprotes keberadaan perusahaan tambang batubara yang beroperasi di wilayah itu. Limbah domestik dan batubara dari aktivitas pertambangan diduga mencemari sungai.

    ”Sungai yang diduga tercemar adalah Sungai Sampanahan dan Sungai Tajam, anak Sungai Sampanahan. Secara kasatmata, warna air sungai berubah lebih keruh. Ikan dan udang susah didapatkan,” ujar Haspan Hamdan, tokoh masyarakat adat Dayak Kalimantan saat mendatangi ruang Redaksi Kompas di Banjarmasin, Kamis (28/8).

    Hamdan mengatakan, selama ini warga memanfaatkan Sungai Sampanahan untuk berbagai aktivitas, seperti mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga juga mencari ikan dan udang di sungai itu. ”Beberapa warga yang bermukim di Desa Gendang Timburu, Magalau Hulu, Magalau Hilir, dan Sampanahan kini terserang gatal-gatal dan batuk akibat mengonsumsi air sungai,” katanya.

    Menurut Hamdan, Sungai Tajam dan Sampanahan tercemar sejak perusahaan tambang batubara PT Kalimantan Energi Lestari (KEL) Site Gendang Timburu beroperasi tahun 2013. Limbah domestik dari permukiman karyawan perusahaan dan limbah pencucian batubara dialirkan ke Sungai Tajam.

    Selain itu, kata Hamdan, conveyor atau alat pengantar batubara dari tempat penimbunan (stockpile) ke armada angkutan yang menuju pelabuhan juga melintasi Sungai Sampanahan. Ini membuat sebagian batubara jatuh ke sungai.

    ”Sungai Tajam dan Sampanahan diduga tercemar limbah batubara pula,” tuturnya.

    Untuk membuktikan dugaan pencemaran Sungai Tajam dan Sampanahan, kata Hamdan, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Kotabaru sudah mengambil sampel air sungai pada 20 Agustus lalu. Namun, hingga kini hasil pemeriksaannya belum diketahui.

    Menurut Kepala Bidang Pemantauan dan Pemulihan BLHD Provinsi Kalsel Ninuk Murtini, pihaknya belum menerima laporan terkait dugaan pencemaran Sungai Sampanahan di Kotabaru. ”Dugaan pencemaran itu masih dipantau oleh BLHD Kabupaten Kotabaru,” ujarnya.

    Namun, Kepala BLHD Kotabaru Maslenawati, yang dihubungi dari Banjarmasin, Kamis, belum memberikan jawaban terkait dugaan pencemaran kedua sungai itu. Hingga Kamis malam, pihak perusahaan juga belum memberikan klarifikasi terkait dugaan pencemaran yang dilaporkan oleh masyarakat.

    Seseorang yang mengaku Bagian Corporate Social Responsibility PT KEL Site Gendang Timburu, yang enggan disebut namanya, menyampaikan, tak ada persoalan antara perusahaan dan masyarakat. (JUM)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on