Ikan Mati Massal di Krueng Teunom

Home/Berita/Ikan Mati Massal di Krueng Teunom
Share on

BANDA ACEH, KOMPAS — Ribuan ikan jenis kerling yang mati di Sungai/Krueng Teunom, Aceh Jaya, seminggu ini, menjadikan warga resah. Sungai itu sumber air bersih, sedangkan ikan air tawar jadi sumber protein utama bagi warga setempat.

Mantan Keuchik Pasie Raya, Kecamatan Teunom, Muhibin, yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin (4/8), mengatakan, warga pertama kali melihat ikan kerling mati dalam jumlah banyak di sepanjang aliran Krueng Tuenom di Gampong Pasie Raya, sepekan lalu. Peristiwa itu membuat warga panik karena khawatir sungai tercemar racun atau zat kimia berbahaya. ”Sebelumnya tak pernah terjadi,” ujar dia.

Kepanikan warga semakin menjadi ketika ada laporan beberapa orang mengalami muntah-muntah setelah makan ikan kerling mati itu. ”Selain itu, beberapa orang ada yang pusing dan gatal setelah mandi di Krueng Teunom,” tutur dia.

”Jika terbukti Krueng Teunom tercemar zat kimia berbahaya, kami minta pemerintah mencari solusinya,” kata Muhibin.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Raihana menuturkan, Senin pagi, pihaknya bersama sejumlah dosen dari Fakultas Perikanan dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bergerak ke Krueng Teunom. Berdasar pantauan lapangan, kemungkinan besar ikan yang mati itu keracunan. Hal itu terlihat dari bentuk tubuh, insang memerah, sisik mengalami pendarahan, dan mata memutih. ”Namun, kami belum bisa memastikan asal racun tersebut,” papar dia.

Kemarin, DKP Aceh mengambil sampel air dan ikan mati dari Krueng Teunom. Sampel-sampel itu akan diuji di Laboratorium Patologi FKH Unsyiah. ”Baru diketahui dua hingga tiga hari lagi. Dari situ, kami baru bisa memastikan penyebab kematian itu,” ujar dia.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Dampak Lingkungan Daerah Aceh Anwar Muhammad mengutarakan, kemungkinan besar kematian massal ikan itu karena sungai tercemar limbah pertambangan. Kematian massal ikan sungai di Aceh bukan pertama kali ini terjadi. Dua bulan ini saja, ada dua laporan lain, yakni kematian massal ikan di Krueng Tangse (Pidie) dan Krueng Peuto (Aceh Utara). Tahun lalu, warga dihebohkan ikan mati massal di Krueng Sabee (Aceh Jaya).

Di sekitar Krueng Teunom, Krueng Tangse, Krueng Peuto, dan Krueng Sabee banyak terdapat tambang emas liar. Kemungkinan, kata Anwar, cairan limbah pertambangan, seperti merkuri dan sianida, mencemari krueng-krueng itu.

”Kami telah menginstruksikan para kepala dinas pertambangan setempat untuk menindak tegas para pelaku tambang emas ilegal tersebut. Namun, para pelaku tambang emas ilegal ini hanya pergi sesaat, kemudian kembali lagi,” ungkap dia. (DRI)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008177001

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    BANDA ACEH, KOMPAS — Ribuan ikan jenis kerling yang mati di Sungai/Krueng Teunom, Aceh Jaya, seminggu ini, menjadikan warga resah. Sungai itu sumber air bersih, sedangkan ikan air tawar jadi sumber protein utama bagi warga setempat.

    Mantan Keuchik Pasie Raya, Kecamatan Teunom, Muhibin, yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin (4/8), mengatakan, warga pertama kali melihat ikan kerling mati dalam jumlah banyak di sepanjang aliran Krueng Tuenom di Gampong Pasie Raya, sepekan lalu. Peristiwa itu membuat warga panik karena khawatir sungai tercemar racun atau zat kimia berbahaya. ”Sebelumnya tak pernah terjadi,” ujar dia.

    Kepanikan warga semakin menjadi ketika ada laporan beberapa orang mengalami muntah-muntah setelah makan ikan kerling mati itu. ”Selain itu, beberapa orang ada yang pusing dan gatal setelah mandi di Krueng Teunom,” tutur dia.

    ”Jika terbukti Krueng Teunom tercemar zat kimia berbahaya, kami minta pemerintah mencari solusinya,” kata Muhibin.

    Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Raihana menuturkan, Senin pagi, pihaknya bersama sejumlah dosen dari Fakultas Perikanan dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bergerak ke Krueng Teunom. Berdasar pantauan lapangan, kemungkinan besar ikan yang mati itu keracunan. Hal itu terlihat dari bentuk tubuh, insang memerah, sisik mengalami pendarahan, dan mata memutih. ”Namun, kami belum bisa memastikan asal racun tersebut,” papar dia.

    Kemarin, DKP Aceh mengambil sampel air dan ikan mati dari Krueng Teunom. Sampel-sampel itu akan diuji di Laboratorium Patologi FKH Unsyiah. ”Baru diketahui dua hingga tiga hari lagi. Dari situ, kami baru bisa memastikan penyebab kematian itu,” ujar dia.

    Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Dampak Lingkungan Daerah Aceh Anwar Muhammad mengutarakan, kemungkinan besar kematian massal ikan itu karena sungai tercemar limbah pertambangan. Kematian massal ikan sungai di Aceh bukan pertama kali ini terjadi. Dua bulan ini saja, ada dua laporan lain, yakni kematian massal ikan di Krueng Tangse (Pidie) dan Krueng Peuto (Aceh Utara). Tahun lalu, warga dihebohkan ikan mati massal di Krueng Sabee (Aceh Jaya).

    Di sekitar Krueng Teunom, Krueng Tangse, Krueng Peuto, dan Krueng Sabee banyak terdapat tambang emas liar. Kemungkinan, kata Anwar, cairan limbah pertambangan, seperti merkuri dan sianida, mencemari krueng-krueng itu.

    ”Kami telah menginstruksikan para kepala dinas pertambangan setempat untuk menindak tegas para pelaku tambang emas ilegal tersebut. Namun, para pelaku tambang emas ilegal ini hanya pergi sesaat, kemudian kembali lagi,” ungkap dia. (DRI)

    Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008177001

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on
      Go to Top