Pengetahuan dan sistem perladangan padi yang khas merupakan salah satu identitas budaya masyarakat adat Dayak Ngaju yang dikerjakan turun temurun. Hubungan ketergantungan yang kuat dengan hutan dan ladang membentuk pengetahuan kearifan dan pemaknaan yang luas terkait nilai kegunaan lahan dan hutan, juga terbentuknya hak-hak pemilikan dan pengelolaan atas tanah dan hutan.

Bagi masyarakat adat Dayak Ngaju, kehilangan hutan dan ladang akan mempengaruhi menekan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Mereka terancam kehilangan identitas, sejarah dan adat istiadat, melemahnya fungsi hukum adat dan kelembagaan adat, rentan dalam memenuhi pangan, menurunnya pendapatan dan terjadi disharmoni. Fenomena degradasi ini juga dialami masyarakat adat Dayak Ngaju di Desa Pulau Kaladan, mereka kesulitan menjelaskan status tanahnya dan munculnya klaim-klaim baru berdasarkan kedekatan kuasa. Ada kecenderungan perubahan pola pandang untuk mengkomersialkan tanah dan terpaksa menyerahkan tenaganya sebagai buruh perkebunan.

Ditengah serangan, tekanan dan pengaruh corak ekonomi baru dan rencana pemerintah, warga setempat masih mempraktikkan kebiasaan berladang padi lokal. Alasannya, untuk mempertahankan identitas sebagai masyarakat adat dan pengetahuan tradisi, sumber pangan dan ekonomi keluarga. Berladang padi masih dilakukan dengan menggunakan organisasi kelompok lokal, tenaga sendiri, gotong royong (handep), peralatan sederhana dan modal terbatas.

Baca selanjutnya pada: http://pusaka.or.id/perladangan-masyarakat-adat-dayak-ngaju-di-desa-pulau-kaladan/

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pengetahuan dan sistem perladangan padi yang khas merupakan salah satu identitas budaya masyarakat adat Dayak Ngaju yang dikerjakan turun temurun. Hubungan ketergantungan yang kuat dengan hutan dan ladang membentuk pengetahuan kearifan dan pemaknaan yang luas terkait nilai kegunaan lahan dan hutan, juga terbentuknya hak-hak pemilikan dan pengelolaan atas tanah dan hutan.

    Bagi masyarakat adat Dayak Ngaju, kehilangan hutan dan ladang akan mempengaruhi menekan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Mereka terancam kehilangan identitas, sejarah dan adat istiadat, melemahnya fungsi hukum adat dan kelembagaan adat, rentan dalam memenuhi pangan, menurunnya pendapatan dan terjadi disharmoni. Fenomena degradasi ini juga dialami masyarakat adat Dayak Ngaju di Desa Pulau Kaladan, mereka kesulitan menjelaskan status tanahnya dan munculnya klaim-klaim baru berdasarkan kedekatan kuasa. Ada kecenderungan perubahan pola pandang untuk mengkomersialkan tanah dan terpaksa menyerahkan tenaganya sebagai buruh perkebunan.

    Ditengah serangan, tekanan dan pengaruh corak ekonomi baru dan rencana pemerintah, warga setempat masih mempraktikkan kebiasaan berladang padi lokal. Alasannya, untuk mempertahankan identitas sebagai masyarakat adat dan pengetahuan tradisi, sumber pangan dan ekonomi keluarga. Berladang padi masih dilakukan dengan menggunakan organisasi kelompok lokal, tenaga sendiri, gotong royong (handep), peralatan sederhana dan modal terbatas.

    Baca selanjutnya pada: http://pusaka.or.id/perladangan-masyarakat-adat-dayak-ngaju-di-desa-pulau-kaladan/

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on