Ketika Petani Karet Terancam Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit

Ribuan hektare hutan di wilayah Tewai Baru, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini membuat petani karet terhimpit. Bahkan, masyarakat kesulitan melestarikan hutan, hingga mencari perlengkapan untuk upacara adat.

DAUN sawang salah satu tanaman keramat yang sangat penting untuk upacara adat. Tali tengang, tali dari kulit kayu sebagai lambang kekokohan dan kekompakan yang semakin susah dicari.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi, menyempitnya lahan ladang dan pertumbuhan masyarakat, handep atau gotong royong memudar di kalangan masyarakat. Seperti ketika mengadakan upacara pernikahan, membangun rumah, manugal (menanam padi di ladang), sampai kepada upacara-upacara keagamaan.

“Karena hutan sudah gak ada, jadi kalau ada upacara adat bahan-bahannya kebanyakan mencari di luar desa. Terakhir upacara adat Tewah dilaksanakan pada tahun 2010 lalu,” kata Usis warga Tewai baru dan diiyakan warga lainnya.

Tak terasa, hari sudah malam, dalam perbincangan diselingi suara hewan malam yang terdengar sedikit nyaring. Bersama rombongan Save Our Borneo, disambut Pastur Sani Lake.

Sang pastur mengatakan, tujuannya datang ke desa berpenduduk 1.516 jiwa tersebut untuk diskusi dan memberikan wejangan agar tetap berjuang mempertahankan hutan dari ancaman perusahaan sawit.

“Tak lepas dari lingkup, kita harus ambil bagian untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat,” katanya.

Menurutnya, ancaman perusahaan sawit akan berdampak sangat luas. Dari segi ekonomi, masyarakat akan kehilangan tanah, hutan, air yang menjadi darah daging bagi masyarakat itu sendiri.

“Kalau nanti pemerintah memberikan izin kepada perusahaan sawit untuk menginvestasikan uangnya di Bumi Tambun Bungai, pelan-pelan membunuh masyarakatnya sendiri,” ungkapnya.

Semakin malam, rombongan kembali ke penginapan sederhana terbuat dari kayu dengan cat terkupas.

Esok harinya, Sabtu (23/8) sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan menyempatkan mengintip acara Loka Karya Hak Ekosob yang dihadiri para undangan sekitar 20 orang dari  perwakilan kepala desa Sepang Kota, mantir adat, toko masyarakat serta undangan dari desa sekitar.

Mereka sangat menyimak pemaparan Sani Lake dalam memberikan gambaran akibat perusahaan sawit berdiri di daerah Gunung Mas.

Sekitar pukul 10.00 WIB, beranjak kembali ke Palangka Raya. Di tengah perjalanan, Safrudin Mahendra selaku ketua rombongan, mencoba mampir ke Desa Bawan, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau.

Mungkin masih ingat, pada Februari 2014 Desa Bawan termasuk salah satu desa dari 15 desa di Kecamatan Banama Tingang, yang perwakilannya menemui Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang untuk menyerahkan surat pernyataan penolakan terhadap dua Perusahaan Besar Swasta (PBS), PT Agroindo Citra Lestari dan PT Citra Agro Pratama lantaran yang mancaplok tanah warga.

“Sekarang sudah gak ada patok batas perusahan yang tertancap di wilayah sini,” kata Heri selaku kepala desa dan Pegun Algasan selaku tokoh masyarakat setempat.

Menurutnya, sampai kapan pun masyarakat desa tidak akan menerima perusahaan menancapkan bibit sawit di wilayahnya.  Meskipun, perusahaan sudah memiliki izin dari pemerintah, masyarakat akan berusaha mempertahankan tanah yang diwariskan secara  turun menurun dengan cara apapun.

“Sampai kapanpun kami menolak, kalau ada perusahaan nekat masuk, jangan salahkan masyarakat main hakim sendiri,” sahut Pegun. (AGUS PECE / Kalteng Pos ).

sumber : kaltengpos.we.id

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Ketika Petani Karet Terancam Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit

    Ribuan hektare hutan di wilayah Tewai Baru, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini membuat petani karet terhimpit. Bahkan, masyarakat kesulitan melestarikan hutan, hingga mencari perlengkapan untuk upacara adat.

    DAUN sawang salah satu tanaman keramat yang sangat penting untuk upacara adat. Tali tengang, tali dari kulit kayu sebagai lambang kekokohan dan kekompakan yang semakin susah dicari.

    Sejalan dengan perkembangan ekonomi, menyempitnya lahan ladang dan pertumbuhan masyarakat, handep atau gotong royong memudar di kalangan masyarakat. Seperti ketika mengadakan upacara pernikahan, membangun rumah, manugal (menanam padi di ladang), sampai kepada upacara-upacara keagamaan.

    “Karena hutan sudah gak ada, jadi kalau ada upacara adat bahan-bahannya kebanyakan mencari di luar desa. Terakhir upacara adat Tewah dilaksanakan pada tahun 2010 lalu,” kata Usis warga Tewai baru dan diiyakan warga lainnya.

    Tak terasa, hari sudah malam, dalam perbincangan diselingi suara hewan malam yang terdengar sedikit nyaring. Bersama rombongan Save Our Borneo, disambut Pastur Sani Lake.

    Sang pastur mengatakan, tujuannya datang ke desa berpenduduk 1.516 jiwa tersebut untuk diskusi dan memberikan wejangan agar tetap berjuang mempertahankan hutan dari ancaman perusahaan sawit.

    “Tak lepas dari lingkup, kita harus ambil bagian untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat,” katanya.

    Menurutnya, ancaman perusahaan sawit akan berdampak sangat luas. Dari segi ekonomi, masyarakat akan kehilangan tanah, hutan, air yang menjadi darah daging bagi masyarakat itu sendiri.

    “Kalau nanti pemerintah memberikan izin kepada perusahaan sawit untuk menginvestasikan uangnya di Bumi Tambun Bungai, pelan-pelan membunuh masyarakatnya sendiri,” ungkapnya.

    Semakin malam, rombongan kembali ke penginapan sederhana terbuat dari kayu dengan cat terkupas.

    Esok harinya, Sabtu (23/8) sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan menyempatkan mengintip acara Loka Karya Hak Ekosob yang dihadiri para undangan sekitar 20 orang dari  perwakilan kepala desa Sepang Kota, mantir adat, toko masyarakat serta undangan dari desa sekitar.

    Mereka sangat menyimak pemaparan Sani Lake dalam memberikan gambaran akibat perusahaan sawit berdiri di daerah Gunung Mas.

    Sekitar pukul 10.00 WIB, beranjak kembali ke Palangka Raya. Di tengah perjalanan, Safrudin Mahendra selaku ketua rombongan, mencoba mampir ke Desa Bawan, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau.

    Mungkin masih ingat, pada Februari 2014 Desa Bawan termasuk salah satu desa dari 15 desa di Kecamatan Banama Tingang, yang perwakilannya menemui Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang untuk menyerahkan surat pernyataan penolakan terhadap dua Perusahaan Besar Swasta (PBS), PT Agroindo Citra Lestari dan PT Citra Agro Pratama lantaran yang mancaplok tanah warga.

    “Sekarang sudah gak ada patok batas perusahan yang tertancap di wilayah sini,” kata Heri selaku kepala desa dan Pegun Algasan selaku tokoh masyarakat setempat.

    Menurutnya, sampai kapan pun masyarakat desa tidak akan menerima perusahaan menancapkan bibit sawit di wilayahnya.  Meskipun, perusahaan sudah memiliki izin dari pemerintah, masyarakat akan berusaha mempertahankan tanah yang diwariskan secara  turun menurun dengan cara apapun.

    “Sampai kapanpun kami menolak, kalau ada perusahaan nekat masuk, jangan salahkan masyarakat main hakim sendiri,” sahut Pegun. (AGUS PECE / Kalteng Pos ).

    sumber : kaltengpos.we.id

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on