Polisi Tangkap Jurnalis Asing; Penanganan di Papua Jangan Diperlambat

Home/Berita/Polisi Tangkap Jurnalis Asing; Penanganan di Papua Jangan Diperlambat
Share on

Jumat, 08 Agustus 2014

JAYAPURA, KOMPAS —  Polisi menangkap Thomas Charles Tendeis (40), jurnalis asal Perancis, bersama tiga anggota Organisasi Papua Merdeka di sebuah hotel di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu (6/8) sekitar pukul 14.30 WIT. Ketiga anggota OPM itu berinisial LK (17), DD (27), dan JW (24).

”Thomas telah melakukan peliputan secara ilegal,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Sulistyo Pudjo, Kamis, di Markas Polda Papua, Kota Jayapura.
Sesuai hasil pemeriksaan, Thomas diduga telah mendokumentasikan perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Purom Wenda dan Enden Waminbo di Lanny Jaya untuk pembentukan Negara Federal Republik Papua Barat.

Padahal, dalam visanya, Thomas tercatat sebagai turis. ”Karena itu, kami menangkapnya karena (dia) telah menyalahi visa kunjungannya selama berada di Papua,” ujar Sulistyo.

Ia menambahkan, tiga anggota OPM ini ditangkap ketika bersama Thomas. Bahkan, salah satu anggota OPM bersembunyi di septic tank ketika akan ditangkap. ”Kami masih mendalami tujuan utama Thomas di Lanny Jaya dan Wamena. Kami khawatir jurnalis asing itu sengaja ingin merekayasa kondisi keamanan di Papua. Sebab, Thomas selalu menggunakan tiga orang tersebut untuk menghubungi kelompok Purom dan Enden,” tutur Sulistyo.

Ia menyatakan, pihaknya menangkap Thomas sesuai informasi warga di Distrik Pirime, Lanny Jaya, dan Wamena yang melihat aktivitas Thomas. ”Saat ini (Kamis), Thomas dan ketiga orang lainnya ditahan di Polres Jayawijaya. Kami akan segera membawanya ke Jayapura untuk pemeriksaan lebih lanjut di Polda Papua,” katanya.

Dalami aturan hukumPolda Papua masih mendalami regulasi yang akan diterapkan terkait pelanggaran yang dilakukan Thomas. Ada tiga peraturan yang dapat dipakai dalam kasus ini, yakni Undang-Undang Pers, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dan peraturan tentang keimigrasian. ”Intinya, kami akan terlebih dahulu menyelidiki kebenaran status Thomas sebagai wartawan atau oknum dari lembaga swadaya masyarakat (LSM),” ujar Sulistyo.

Kepala Pelaksana Harian Kantor Imigrasi Wilayah Jayapura Edward Infaindan mengatakan, nama Thomas tidak terdaftar dalam daftar kunjungan di Jayapura. ”Kami belum mendapat kabar soal penangkapan Thomas. Kemungkinan dia telah membayar visa kunjungan di Denpasar, Bali, sebelum bertolak ke Papua. Berdasarkan data kami, biasanya warga asing di pegunungan di Papua bekerja di LSM-LSM internasional,” tutur Edward.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Wilayah Jayapura Viktor Mambor berpendapat, masalah terkait Thomas telah masuk ranah politik karena berkaitan dengan keamanan negara. Karena itu, lanjut Viktor, pihaknya masih menanti proses pemeriksaan Thomas di Polda Papua.

”Kami berharap Thomas segera dideportasi ke negara asalnya. Aparat keamanan jangan memperlambat penanganan Thomas di Papua,” kata dia.

Menurut dia, dalam konteks kebebasan pers, tindakan aparat keamanan menahan jurnalis asing di Wamena tidak dapat dibenarkan. ”Karena peluang wartawan asing mendapat izin meliput di Papua sangat sulit. Padahal, banyak wartawan asing bebas meliput di kota-kota lain di Indonesia,” ujar Viktor. (FLO)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008218692

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jumat, 08 Agustus 2014

    JAYAPURA, KOMPAS —  Polisi menangkap Thomas Charles Tendeis (40), jurnalis asal Perancis, bersama tiga anggota Organisasi Papua Merdeka di sebuah hotel di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu (6/8) sekitar pukul 14.30 WIT. Ketiga anggota OPM itu berinisial LK (17), DD (27), dan JW (24).

    ”Thomas telah melakukan peliputan secara ilegal,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Sulistyo Pudjo, Kamis, di Markas Polda Papua, Kota Jayapura.
    Sesuai hasil pemeriksaan, Thomas diduga telah mendokumentasikan perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Purom Wenda dan Enden Waminbo di Lanny Jaya untuk pembentukan Negara Federal Republik Papua Barat.

    Padahal, dalam visanya, Thomas tercatat sebagai turis. ”Karena itu, kami menangkapnya karena (dia) telah menyalahi visa kunjungannya selama berada di Papua,” ujar Sulistyo.

    Ia menambahkan, tiga anggota OPM ini ditangkap ketika bersama Thomas. Bahkan, salah satu anggota OPM bersembunyi di septic tank ketika akan ditangkap. ”Kami masih mendalami tujuan utama Thomas di Lanny Jaya dan Wamena. Kami khawatir jurnalis asing itu sengaja ingin merekayasa kondisi keamanan di Papua. Sebab, Thomas selalu menggunakan tiga orang tersebut untuk menghubungi kelompok Purom dan Enden,” tutur Sulistyo.

    Ia menyatakan, pihaknya menangkap Thomas sesuai informasi warga di Distrik Pirime, Lanny Jaya, dan Wamena yang melihat aktivitas Thomas. ”Saat ini (Kamis), Thomas dan ketiga orang lainnya ditahan di Polres Jayawijaya. Kami akan segera membawanya ke Jayapura untuk pemeriksaan lebih lanjut di Polda Papua,” katanya.

    Dalami aturan hukumPolda Papua masih mendalami regulasi yang akan diterapkan terkait pelanggaran yang dilakukan Thomas. Ada tiga peraturan yang dapat dipakai dalam kasus ini, yakni Undang-Undang Pers, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dan peraturan tentang keimigrasian. ”Intinya, kami akan terlebih dahulu menyelidiki kebenaran status Thomas sebagai wartawan atau oknum dari lembaga swadaya masyarakat (LSM),” ujar Sulistyo.

    Kepala Pelaksana Harian Kantor Imigrasi Wilayah Jayapura Edward Infaindan mengatakan, nama Thomas tidak terdaftar dalam daftar kunjungan di Jayapura. ”Kami belum mendapat kabar soal penangkapan Thomas. Kemungkinan dia telah membayar visa kunjungan di Denpasar, Bali, sebelum bertolak ke Papua. Berdasarkan data kami, biasanya warga asing di pegunungan di Papua bekerja di LSM-LSM internasional,” tutur Edward.

    Ketua Aliansi Jurnalis Independen Wilayah Jayapura Viktor Mambor berpendapat, masalah terkait Thomas telah masuk ranah politik karena berkaitan dengan keamanan negara. Karena itu, lanjut Viktor, pihaknya masih menanti proses pemeriksaan Thomas di Polda Papua.

    ”Kami berharap Thomas segera dideportasi ke negara asalnya. Aparat keamanan jangan memperlambat penanganan Thomas di Papua,” kata dia.

    Menurut dia, dalam konteks kebebasan pers, tindakan aparat keamanan menahan jurnalis asing di Wamena tidak dapat dibenarkan. ”Karena peluang wartawan asing mendapat izin meliput di Papua sangat sulit. Padahal, banyak wartawan asing bebas meliput di kota-kota lain di Indonesia,” ujar Viktor. (FLO)

    Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008218692

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on
      Go to Top