TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Warga kontra (tolak) tambang merayakan misa di tengah hutan di Batu Sewo, Hutan Sawe Sange, Desa Legur Lai, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Dalam misa yang dipimpin tiga orang pastor dari Keuskupan Ruteng itu juga dilaksanakan ritual menyembelih satu ekor ayam hitam dan dua ekor ayam kecil lalu dilepas di hutan. Hal ini disampaikan beberapa warga pro tambang, Elias Panggal, Robert Guntur, Vinsensius Benda, Ambrosius Luwa, Wens Benda, dan beberapa warga pro tambang lainnya, ketika ditemui di lokasi tambang yang dikerjakan PT Manggarai Manganase (MM) di Watu Sewo, Hutan Sawe Sange, Desa Legur Lai, Kecamatan Elar, Kamis (4/9/2014) sore.

Warga menjelaskan, pada tanggal 2 Agustus 2014 pagi, tiga pastor berinisial SST, MT, dan SN bersama warga yang menolak tambang, babinsa dan Kapospol Elar bersama satu anggotanya mengikuti misa. Saat misa tersebut, warga dan para pastor mengadakan ritual adat membunuh satu ekor ayam hitam dan dua ekor ayam kecil dilepas di hutan.

“Mereka juga membuat compang (tumpukan batu yang dibangun melingkar) untuk dipersembahkan dalam acara adat itu. Paginya kami datang lihat ada di atas batu compang lima daun sirih dan ada darah ayam. Kami menduga  ini misa hitam dan ingin membunuh kami. Menurut adat tradisional di sini, kalau bunuh ayam hitam dan lepas ayam berarti buang kami,” kata warga pro tambang.

Warga pro tambang asal Kampung Bawar Tureng, Desa Legur Lai, ini mengatakan heran karena selama hidup, mereka baru pertama kali menyaksikan acara seperti ini. Mereka mengatakan, jika pastor ingin mengadakan misa, seharusnya mengundang semua warga baik kontra maupun pro tambang, karena semua masyarakat Bawar Tureng umat katolik.

“Kami semua umat Katolik. Kami juga butuh imam untuk keselamatan kerja dan kehidupan keluarga kami,” kata warga. Warga mengatakan, mereka yang pro tambang sebenarnya mendukung hanya karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kami bukan pro, kami tidak tahu apa itu tambang. Tetapi dengan adanya tambang ini kami bisa kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami,” kata warga.

Dikatakan, dengan adanya tambang mereka bisa membangun rumah, menyekolahkan anak dan bisa beli genset untuk penerangan listrik. “Saya merasa sangat bersyukur sekarang bisa bangun rumah setengah tembok, bisa menyekolahkan anak. Saya sudah beli genset untuk penerangan malam,” kata Panggal dibenarkan warga lainnya. Mereka mengatakan, warga yang bekerja di lokasi tambang saat ini 100 orang, masing-masing dari Kaju Wangi, Golo Lebo, Kelurahan Lempang Paji, dan  Desa Legur Lai.

Sementara 24 orang tenaga kerja dari 13 KK berasal dari Tureng Bawer, Desa Legur Lai. Para pekerja diberi upah Rp 45.000/hari. Biaya tersebut belum termasuk makan minum, rokok satu bungkus, dan biaya kesehatan. Selama ini warga sudah mengerjakan jalan sepanjang tujuh kilometer dan lebar satu meter di dalam kawasan tambang. Selain itu membangun basecamp di wilayah Salok dan basecamp Watu Sewo di dalam Hutan Sawe Sange lokasi tambang. Para pekerja menjalankan aktivitas mulai pukul 09.00 Wita- 15.00 Wita. *

Laporan Wartawan Pos Kupang, Robert Ropo

http://www.tribunnews.com/regional/2014/09/09/dipimpin-tiga-orang-pastor-warga-tolak-tambang-gelar-misa-di-tengah-hutan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Warga kontra (tolak) tambang merayakan misa di tengah hutan di Batu Sewo, Hutan Sawe Sange, Desa Legur Lai, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Dalam misa yang dipimpin tiga orang pastor dari Keuskupan Ruteng itu juga dilaksanakan ritual menyembelih satu ekor ayam hitam dan dua ekor ayam kecil lalu dilepas di hutan. Hal ini disampaikan beberapa warga pro tambang, Elias Panggal, Robert Guntur, Vinsensius Benda, Ambrosius Luwa, Wens Benda, dan beberapa warga pro tambang lainnya, ketika ditemui di lokasi tambang yang dikerjakan PT Manggarai Manganase (MM) di Watu Sewo, Hutan Sawe Sange, Desa Legur Lai, Kecamatan Elar, Kamis (4/9/2014) sore.

    Warga menjelaskan, pada tanggal 2 Agustus 2014 pagi, tiga pastor berinisial SST, MT, dan SN bersama warga yang menolak tambang, babinsa dan Kapospol Elar bersama satu anggotanya mengikuti misa. Saat misa tersebut, warga dan para pastor mengadakan ritual adat membunuh satu ekor ayam hitam dan dua ekor ayam kecil dilepas di hutan.

    “Mereka juga membuat compang (tumpukan batu yang dibangun melingkar) untuk dipersembahkan dalam acara adat itu. Paginya kami datang lihat ada di atas batu compang lima daun sirih dan ada darah ayam. Kami menduga  ini misa hitam dan ingin membunuh kami. Menurut adat tradisional di sini, kalau bunuh ayam hitam dan lepas ayam berarti buang kami,” kata warga pro tambang.

    Warga pro tambang asal Kampung Bawar Tureng, Desa Legur Lai, ini mengatakan heran karena selama hidup, mereka baru pertama kali menyaksikan acara seperti ini. Mereka mengatakan, jika pastor ingin mengadakan misa, seharusnya mengundang semua warga baik kontra maupun pro tambang, karena semua masyarakat Bawar Tureng umat katolik.

    “Kami semua umat Katolik. Kami juga butuh imam untuk keselamatan kerja dan kehidupan keluarga kami,” kata warga. Warga mengatakan, mereka yang pro tambang sebenarnya mendukung hanya karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kami bukan pro, kami tidak tahu apa itu tambang. Tetapi dengan adanya tambang ini kami bisa kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami,” kata warga.

    Dikatakan, dengan adanya tambang mereka bisa membangun rumah, menyekolahkan anak dan bisa beli genset untuk penerangan listrik. “Saya merasa sangat bersyukur sekarang bisa bangun rumah setengah tembok, bisa menyekolahkan anak. Saya sudah beli genset untuk penerangan malam,” kata Panggal dibenarkan warga lainnya. Mereka mengatakan, warga yang bekerja di lokasi tambang saat ini 100 orang, masing-masing dari Kaju Wangi, Golo Lebo, Kelurahan Lempang Paji, dan  Desa Legur Lai.

    Sementara 24 orang tenaga kerja dari 13 KK berasal dari Tureng Bawer, Desa Legur Lai. Para pekerja diberi upah Rp 45.000/hari. Biaya tersebut belum termasuk makan minum, rokok satu bungkus, dan biaya kesehatan. Selama ini warga sudah mengerjakan jalan sepanjang tujuh kilometer dan lebar satu meter di dalam kawasan tambang. Selain itu membangun basecamp di wilayah Salok dan basecamp Watu Sewo di dalam Hutan Sawe Sange lokasi tambang. Para pekerja menjalankan aktivitas mulai pukul 09.00 Wita- 15.00 Wita. *

    Laporan Wartawan Pos Kupang, Robert Ropo

    http://www.tribunnews.com/regional/2014/09/09/dipimpin-tiga-orang-pastor-warga-tolak-tambang-gelar-misa-di-tengah-hutan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on