Wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan penetapan Menteri ESDM, Jero Wacik sebagai tersangka kasus korupsi kembali mencuatkan pembicaraan tentang praktik mafia migas. Lantas bagaimana sebenarnya sepak terjang para mafia yang disebut-sebut sebagai biang keladi rusaknya tata kelola migas Indonesia itu? Karena mafia migas akhirnya dikeluarkan Peratuan Menteri (Permen) I dan Peraturan Pemerintah (PP) I yang melarang ekspor konsentrat mentah. Hal itu dikatakan oleh para ekonom Indonesia pada sebuah diskusi di Jakarta (Minggu 7 September 2014), antara lain Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang serta Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Hendrajit.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang mengungkapkan, pengaruh mafia terlihat jelas dari munculnya Permen ESDM tentang larangan ekspor konsentrat mentah. Poltak menjelaskan, dalam UU Minerba tidak ada satu pasal pun yang melarang ekspor konsentrat mentah. Namun karena para mafia merasa dirugikan dengan tidak adanya larangan tersebut maka mereka membujuk pemerintah untuk mengeluarkan peraturan tambahan. “Karena mafia migas akhirnya dikeluarkan Permen I dan PP I yang melarang ekspor konsentrat mentah,” tuturnya.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menjelaskan, salah satu contoh praktik mafia sektor migas adalah pengadaan BBM bersubsidi. Menurutnya, BBM jenis RON 88 yang digunakan Pertamina sekarang adalah produk yang sudah tidak laku di pasar internasional. “Di seluruh dunia tidak ada lagi yang pakai RON 88 karena merusak lingkungan. Dengan harga yang kita bayar sekarang, harusnya bisa dapat yang lebih bagus seperti RON 98,” kata Faisal kepada wartawan (JPNN) usai diskusi.

Faisal mengatakan, di balik pengadaan RON 88 adalah sosok  Muhammad Riza Chalid, pengusaha minyak terkemuka yang selama ini disebut-sebut sebagai orang dekat sejumlah elite pemerintahan. Faisal pun membeber cara Riza bermain migas. “Kita sebut sajalah terbuka namanya, Muhammad Riza Chalid. Pertamina dipaksa membeli minyak dari dia padahal gak perlu. Tapi dibuat situasinya seolah-olah tanpa Riza Chalid, Indonesia bakal kolaps,” jelasnya. Menurutnya, tidak hanya memonopoli suplai BBM, kerjasama Riza dan Pertamina juga sangat tertutup.

Mulai dari spesifikasi RON 88 sampai harga yang pembelian oleh Pertamina juga tidak pernah diungkap ke publik. Pengadaan BBM untuk keperluan pembangkit listrik milik PLN juga menjadi lahan basah bagi Riza Chalid. Menurut Faisal, PLN selama ini dipaksa membeli solar dari Riza dengan harga yang tidak wajar. Akibatnya, ongkos produksi BUMN itu membengkak dan pemerintah pun terpaksa harus menggelontorkan subsidi untuk menutupinya.

“Kenapa PLN tidak diizinkan beli solar sendiri, harus dari Pertamina yang sebenarnya cuma calo buat Riza? Kalau PLN beli sama orang lain nanti ketahuan harga yang sebenarnya bisa lebih murah,” tutur Faisal. Dia memberi solusi cara memberantas mafia migas adalah transparansi. Dengan membuka seluruh data terkait tata kelola migas, maka para mafia dipastikan tidak bisa berkutik lagi. “Mafia itu sama seperti hantu, dia tidak bisa hidup di ruang terang. Jadi bikin terang saja, buka semua,” pungkas pria yang pernah mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen itu.

Lebih rinci darimana para mafia migas datang, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Hendrajit, mengatakan mafia migas bisa memiliki pengaruh luas karena adanya sistem kaderisasi. Dengan cara ini pula gurita pengaruh mafia migas bisa tersamarkan. Menurutnya, para mafia sengaja membersarkan orang-orang berpotensi yang nantinya digunakan untuk mempengaruhi pemerintahan.

Latar belakang kader mafia migas pun bermacam-macam, mulai dari aktivis, akademisi, wartawan sampai politisi. “Jadi kalau bakatnya jadi wartawan, ya itu yang diasah, supaya ketika berkembang jadi tokoh terlihat karena prestasi dia. Intrest group itu jadi dasar utama mereka,” katanya.

Sumber: JPNN (satu), (dua)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan penetapan Menteri ESDM, Jero Wacik sebagai tersangka kasus korupsi kembali mencuatkan pembicaraan tentang praktik mafia migas. Lantas bagaimana sebenarnya sepak terjang para mafia yang disebut-sebut sebagai biang keladi rusaknya tata kelola migas Indonesia itu? Karena mafia migas akhirnya dikeluarkan Peratuan Menteri (Permen) I dan Peraturan Pemerintah (PP) I yang melarang ekspor konsentrat mentah. Hal itu dikatakan oleh para ekonom Indonesia pada sebuah diskusi di Jakarta (Minggu 7 September 2014), antara lain Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang serta Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Hendrajit.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang mengungkapkan, pengaruh mafia terlihat jelas dari munculnya Permen ESDM tentang larangan ekspor konsentrat mentah. Poltak menjelaskan, dalam UU Minerba tidak ada satu pasal pun yang melarang ekspor konsentrat mentah. Namun karena para mafia merasa dirugikan dengan tidak adanya larangan tersebut maka mereka membujuk pemerintah untuk mengeluarkan peraturan tambahan. “Karena mafia migas akhirnya dikeluarkan Permen I dan PP I yang melarang ekspor konsentrat mentah,” tuturnya.

    Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menjelaskan, salah satu contoh praktik mafia sektor migas adalah pengadaan BBM bersubsidi. Menurutnya, BBM jenis RON 88 yang digunakan Pertamina sekarang adalah produk yang sudah tidak laku di pasar internasional. “Di seluruh dunia tidak ada lagi yang pakai RON 88 karena merusak lingkungan. Dengan harga yang kita bayar sekarang, harusnya bisa dapat yang lebih bagus seperti RON 98,” kata Faisal kepada wartawan (JPNN) usai diskusi.

    Faisal mengatakan, di balik pengadaan RON 88 adalah sosok  Muhammad Riza Chalid, pengusaha minyak terkemuka yang selama ini disebut-sebut sebagai orang dekat sejumlah elite pemerintahan. Faisal pun membeber cara Riza bermain migas. “Kita sebut sajalah terbuka namanya, Muhammad Riza Chalid. Pertamina dipaksa membeli minyak dari dia padahal gak perlu. Tapi dibuat situasinya seolah-olah tanpa Riza Chalid, Indonesia bakal kolaps,” jelasnya. Menurutnya, tidak hanya memonopoli suplai BBM, kerjasama Riza dan Pertamina juga sangat tertutup.

    Mulai dari spesifikasi RON 88 sampai harga yang pembelian oleh Pertamina juga tidak pernah diungkap ke publik. Pengadaan BBM untuk keperluan pembangkit listrik milik PLN juga menjadi lahan basah bagi Riza Chalid. Menurut Faisal, PLN selama ini dipaksa membeli solar dari Riza dengan harga yang tidak wajar. Akibatnya, ongkos produksi BUMN itu membengkak dan pemerintah pun terpaksa harus menggelontorkan subsidi untuk menutupinya.

    “Kenapa PLN tidak diizinkan beli solar sendiri, harus dari Pertamina yang sebenarnya cuma calo buat Riza? Kalau PLN beli sama orang lain nanti ketahuan harga yang sebenarnya bisa lebih murah,” tutur Faisal. Dia memberi solusi cara memberantas mafia migas adalah transparansi. Dengan membuka seluruh data terkait tata kelola migas, maka para mafia dipastikan tidak bisa berkutik lagi. “Mafia itu sama seperti hantu, dia tidak bisa hidup di ruang terang. Jadi bikin terang saja, buka semua,” pungkas pria yang pernah mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen itu.

    Lebih rinci darimana para mafia migas datang, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Hendrajit, mengatakan mafia migas bisa memiliki pengaruh luas karena adanya sistem kaderisasi. Dengan cara ini pula gurita pengaruh mafia migas bisa tersamarkan. Menurutnya, para mafia sengaja membersarkan orang-orang berpotensi yang nantinya digunakan untuk mempengaruhi pemerintahan.

    Latar belakang kader mafia migas pun bermacam-macam, mulai dari aktivis, akademisi, wartawan sampai politisi. “Jadi kalau bakatnya jadi wartawan, ya itu yang diasah, supaya ketika berkembang jadi tokoh terlihat karena prestasi dia. Intrest group itu jadi dasar utama mereka,” katanya.

    Sumber: JPNN (satu), (dua)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on