Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada sesi pleno 1 di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa 23 September 2014, membeberkan empat langkah yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi tantangan perubahan iklim. Salah satunya, menurut presiden dua periode ini, Indonesia sedang mempelajari potensi ekosistem karbon biru sebagai penyerap karbon untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius.

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Dalam sidang pleno ini, para kepala negara termasuk Indonesia diminta menyampaikan antara lain langkah-langkah yang telah ditempuh dalam mengatasai perubahan iklim serta langkah ke depannya. Diperkirakan  125 kepala negara dan pemerintah, yang hadir. Salah satu yang dibahas adalah upaya untuk membatasi peningkatan suhu dunia kurang dari 2 derajat Celcius yang akan ditetapkan pada tahun 2015.

Tak hanya kepala Negara dan pemerintah mengambil bagian di panggung iklim global itu. Aktor kawakan dunia, Leonardo DiCaprio ikut ambil bagian. Dia menyerukan aksi terhadap krisis iklim yang tengah dihadapi bumi kepada pemimpin-pemimpin negara dan seluruh masyarakat dunia.

“Sebagai aktor, Leonardo bilang dirinya berpura-pura untuk menjalani hidup. Saya memerankan banyak karakter fiktif yang seringkali memecahkan masalah-masalah fiktif. Saya percaya, umat manusia melihat perubahan iklim dengan cara yang sama seperti itu adalah fiksi yang terjadi di planet lain. Berharap bahwa berpura-pura menganggap perubahan iklim tidak nyata dapat membuatnya hilang begitu saja,” kata DiCaprio saat berpidato di Markas PBB, seperti dilansir laman Huffington Post.

Setiap negara anggota harus mampu menunjukkan perkembangan yang telah dicapai untuk membatasi dan mengurangi emisi gas rumah kaca. “Perubahan iklim merupakan isu yang jelas saat ini. Ini merupakan momen yang tepat untuk bertindak,” ungkap Sekjen Ban yang dialansir media massa.

Indonesia telah secara sukarela berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020, demikian pidato SBY di PBB. Lanjutnya, target itu akan naik menjadi 41 persen dengan dukungan internasional. “Untuk memenuhi janji ini, kami telah memberlakukan moratorium izin baru pada hutan primer dan lahan gambut sejak Mei 2011,” kata SBY.

Kepala Negara mengatakan Indonesia tegas memerangi deforestasi dan degradasi lahan. “Untuk tujuan ini, SBY menyampaikan aksi-aksi selama kepemimpinananya, antara lain mendirikan Badan Pengelola Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi (REDD +) yang bertugas meningkatkan tata kelola hutan. Saya senang menyebutkan bahwa dengan kerja sama yang erat dengan Pemerintah Norwegia kita dapat melakukan pengurangan emisi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat lokal di kawasan hutan dan lahan gambut kami,” ujar dia.

Indonesia sedang mempelajari potensi ekosistem karbon biru sebagai penyerap karbon. “Hal ini bisa mendukung upaya global untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius,” kata SBY. Keempat, Indonesia telah menandatangani surat persetujuan mengenai Amandemen Doha Protokol Kyoto.

Karbon Biru

Dari berbagai referensi tentang karbon biru, ditemukan bahwa beberapa habitat laut yang paling handal menjadi ‘karbon biru’ diantaranya: hutan bakau, padang lamun dan rawa asin. Luasan habitat mereka hanya menutup 0.5% dari lautan dunia, namun menahan 50% simpanan karbon dunia di sedimen laut. Kasarnya, tiap kilometer persegi luasan habitan ini terdapat lima kali lebih banyak simpan karbon dibanding hutan hujan tropis.

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Karbon biru dalam wujud vegetasi pesisir juga menyerap karbon jauh lebih efektif-hingga 100 kali lebih cepat-dan lebih permanen dibandingan hutan daratan. Substrat gambut tempat vegetasi tumbuh menyimpan karbon dalam lapisan vertikal yang menebal. Sebab sedimen didasar habitat-habitat ini umumnya anoksik (minim/tidak ada oksigen). Dalam keadaan ini kandungan karbon organik tidak terurai dan dilepas hanya oleh mikroba di dalam sedimen itu sendiri. Substrat pesisir mampu menahan karbon hingga ribuan tahun, berlawanan dengan hutan daratan dimana karbon terpusat di pohon.

Pada kesempatan pemaparan tentang lahan gambut Indonesia, Wetlands International Indonesia mengurai keberadaan lahan gambut adanya di wilayah pesisir. Menurut mereka, lahan gambut berisikan tumpukan bahan organik sudah mati berumur ribuan tahun. Luas lahan gambut Indonesia = 20,6 Juta Ha (1,600 ton C/ha) atau total 33.7 Gt C; ia bukan bahan tambang tapi pendukung kehidupan. Lanjut WII, topografi datar sampai sangat datar (Batas tangkapan sangat sukar dikenali di lapangan) sangat mudah mengalamai amblasan (subsiden). Karena berasal dari bahan organik gambut sangat mudah teroksidasi (secara cepat: kebakaran, secara lambat: dekomposisi mikrobial).

Gambut adalah danau yang tidak dapat dilayari (gambut terdiri dari 90-95% air). Kubah-kubah gambut besar berperanan dalam menjaga pola aliran sungai. Gambut adalah sumberdaya lahan yang menyandang peran layanan ekosistem, sekaligus sumberdaya alam yang tidak terbarukan. Sekali hilang, akan hilang selamanya. Ekosistem unik namun rentan. Pengelolaan terbaik hindarkan dari kerusakan,..karena sekali rusak akan sulit untuk memperbaikinya.

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

Lahan Gambut di Indonesia menurut WII, Luas sekitar 20.6 juta ha. Tersebar di Sumatera: pantai timur (utama), dan sedikit di pantai barat. Kalimantan: pantai barat dan selatan (utama), serta sedikit di pantai timur. Papua : pantai selatan dan utara, teluk Bintuni. Sulawesi : sempit; rawa Opa Kendari, rawa sekitar Kolonedale.

Kadar air di lahan gambut sangat tinggi (90% dari volume), sehingga untuk dapat menanam jenis tersebut, airnya harus di drainase. Drainase mengakibatkan: hilangnya partikel gambut, subsidense & kebanjiran, gambut menjadi kering dan mudah terbakar serta mengemisikan GRK. Pembangunan kanal-kanal untuk drainase menimbulkan fragmentasi habitat. Stok karbon lahan gambut sangat tinggi, jika dibuka emisi GRK tinggi.

Orang Adat dan Perubahan Iklim

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon secara resmi membuka Konferensi Masyarakat Adat Sedunia, (Senin (22/9/2014), di Markas Besar PBB New York Amerika Serikat. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan konferensi masyarakat adat untuk pertama kali. Sidang Umum PBB ke-69 tahun 2014, Konferensi WCIP (World Conference on Indigenous Peoples) ini, dalam pidatonya, Sekjend PBB, Ban Ki-Moon menyampaikan peran penting masyarakat adat dalam pembangunan global.

Ban Ki-Moon bilang (baca: Majelis Umum PBB Gelar Konferensi Masyarakat Adat Pertama), dirinya sangat setuju akan pentingnya janji pemerintah tetapi lebih penting lagi untuk melihat aksi. “Saya mendorong agar Dokumen Hasil Konferensi berisikan komitmen nyata untuk menjembatani antara janji-janji dan hasil,” pungkasnya.

Pada kesempaan membuka secara resmi konferensi WCIP tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menegaskan akan mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat adat di seluruh dunia, terutama yang menyangkut hak pengelolaan tanah dan sumber daya alam.

Indigenous peoples represent remarkable diversity – more than 5,000 distinct groups in some 90 countries, making up more than 5 per cent of the world’s population, some 370 million people. These peoples continue to self-identify as distinct peoples with strong links to traditional territories with their own social, economic and political systems as well as unique languages, cultures and beliefs.

Muara Kali Sima di Nabire Papua, perusahaan mengalihkan aliran sungai yang tadinya membelah kampung Sima dan kini muara kali ini sudah tidak asli lagi.

Muara Kali Sima di Nabire Papua, perusahaan mengalihkan aliran sungai yang tadinya membelah kampung Sima dan kini muara kali ini sudah tidak asli lagi.

Degradasi hutan mengurangi kontribusi karbon bagi mahluk hidup dunia. Investasi berskala besar merambah hutan-hutan alami yang selama ini menjadi ruang hidup orang-orang adat dan mahluk hidup lainnya. Perkebunan Sawit, industri ekstraktif berskala besar maupun kecil, minyak dan gas, berkontribusi pada perusakan alam yang berujung pada pengurangan karbon.

Apalagi, ruang eksploitasi semakin lebar seketika Negara Indonesia dibawah kendali rezim SBY, menerapkan projek MP3Ei secara nasional dan direduksi ke daerah-daerah dalam bentuk RTRWP. Parahnya lagi, rancagan pengelolaan bumi tak melibatkan partisipasi orang-orang penjaga hutan yang dikenal masyarakat hukum adat.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada sesi pleno 1 di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa 23 September 2014, membeberkan empat langkah yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi tantangan perubahan iklim. Salah satunya, menurut presiden dua periode ini, Indonesia sedang mempelajari potensi ekosistem karbon biru sebagai penyerap karbon untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius.

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Dalam sidang pleno ini, para kepala negara termasuk Indonesia diminta menyampaikan antara lain langkah-langkah yang telah ditempuh dalam mengatasai perubahan iklim serta langkah ke depannya. Diperkirakan  125 kepala negara dan pemerintah, yang hadir. Salah satu yang dibahas adalah upaya untuk membatasi peningkatan suhu dunia kurang dari 2 derajat Celcius yang akan ditetapkan pada tahun 2015.

    Tak hanya kepala Negara dan pemerintah mengambil bagian di panggung iklim global itu. Aktor kawakan dunia, Leonardo DiCaprio ikut ambil bagian. Dia menyerukan aksi terhadap krisis iklim yang tengah dihadapi bumi kepada pemimpin-pemimpin negara dan seluruh masyarakat dunia.

    “Sebagai aktor, Leonardo bilang dirinya berpura-pura untuk menjalani hidup. Saya memerankan banyak karakter fiktif yang seringkali memecahkan masalah-masalah fiktif. Saya percaya, umat manusia melihat perubahan iklim dengan cara yang sama seperti itu adalah fiksi yang terjadi di planet lain. Berharap bahwa berpura-pura menganggap perubahan iklim tidak nyata dapat membuatnya hilang begitu saja,” kata DiCaprio saat berpidato di Markas PBB, seperti dilansir laman Huffington Post.

    Setiap negara anggota harus mampu menunjukkan perkembangan yang telah dicapai untuk membatasi dan mengurangi emisi gas rumah kaca. “Perubahan iklim merupakan isu yang jelas saat ini. Ini merupakan momen yang tepat untuk bertindak,” ungkap Sekjen Ban yang dialansir media massa.

    Indonesia telah secara sukarela berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020, demikian pidato SBY di PBB. Lanjutnya, target itu akan naik menjadi 41 persen dengan dukungan internasional. “Untuk memenuhi janji ini, kami telah memberlakukan moratorium izin baru pada hutan primer dan lahan gambut sejak Mei 2011,” kata SBY.

    Kepala Negara mengatakan Indonesia tegas memerangi deforestasi dan degradasi lahan. “Untuk tujuan ini, SBY menyampaikan aksi-aksi selama kepemimpinananya, antara lain mendirikan Badan Pengelola Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi (REDD +) yang bertugas meningkatkan tata kelola hutan. Saya senang menyebutkan bahwa dengan kerja sama yang erat dengan Pemerintah Norwegia kita dapat melakukan pengurangan emisi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat lokal di kawasan hutan dan lahan gambut kami,” ujar dia.

    Indonesia sedang mempelajari potensi ekosistem karbon biru sebagai penyerap karbon. “Hal ini bisa mendukung upaya global untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius,” kata SBY. Keempat, Indonesia telah menandatangani surat persetujuan mengenai Amandemen Doha Protokol Kyoto.

    Karbon Biru

    Dari berbagai referensi tentang karbon biru, ditemukan bahwa beberapa habitat laut yang paling handal menjadi ‘karbon biru’ diantaranya: hutan bakau, padang lamun dan rawa asin. Luasan habitat mereka hanya menutup 0.5% dari lautan dunia, namun menahan 50% simpanan karbon dunia di sedimen laut. Kasarnya, tiap kilometer persegi luasan habitan ini terdapat lima kali lebih banyak simpan karbon dibanding hutan hujan tropis.

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Karbon biru dalam wujud vegetasi pesisir juga menyerap karbon jauh lebih efektif-hingga 100 kali lebih cepat-dan lebih permanen dibandingan hutan daratan. Substrat gambut tempat vegetasi tumbuh menyimpan karbon dalam lapisan vertikal yang menebal. Sebab sedimen didasar habitat-habitat ini umumnya anoksik (minim/tidak ada oksigen). Dalam keadaan ini kandungan karbon organik tidak terurai dan dilepas hanya oleh mikroba di dalam sedimen itu sendiri. Substrat pesisir mampu menahan karbon hingga ribuan tahun, berlawanan dengan hutan daratan dimana karbon terpusat di pohon.

    Pada kesempatan pemaparan tentang lahan gambut Indonesia, Wetlands International Indonesia mengurai keberadaan lahan gambut adanya di wilayah pesisir. Menurut mereka, lahan gambut berisikan tumpukan bahan organik sudah mati berumur ribuan tahun. Luas lahan gambut Indonesia = 20,6 Juta Ha (1,600 ton C/ha) atau total 33.7 Gt C; ia bukan bahan tambang tapi pendukung kehidupan. Lanjut WII, topografi datar sampai sangat datar (Batas tangkapan sangat sukar dikenali di lapangan) sangat mudah mengalamai amblasan (subsiden). Karena berasal dari bahan organik gambut sangat mudah teroksidasi (secara cepat: kebakaran, secara lambat: dekomposisi mikrobial).

    Gambut adalah danau yang tidak dapat dilayari (gambut terdiri dari 90-95% air). Kubah-kubah gambut besar berperanan dalam menjaga pola aliran sungai. Gambut adalah sumberdaya lahan yang menyandang peran layanan ekosistem, sekaligus sumberdaya alam yang tidak terbarukan. Sekali hilang, akan hilang selamanya. Ekosistem unik namun rentan. Pengelolaan terbaik hindarkan dari kerusakan,..karena sekali rusak akan sulit untuk memperbaikinya.

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Manggrof di wilayah adat Suku Yerisiam di pesisir utara pulau Papua, daerah ini terancam terdegradasi karena diapit oleh dua perkebunan sawit PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri

    Lahan Gambut di Indonesia menurut WII, Luas sekitar 20.6 juta ha. Tersebar di Sumatera: pantai timur (utama), dan sedikit di pantai barat. Kalimantan: pantai barat dan selatan (utama), serta sedikit di pantai timur. Papua : pantai selatan dan utara, teluk Bintuni. Sulawesi : sempit; rawa Opa Kendari, rawa sekitar Kolonedale.

    Kadar air di lahan gambut sangat tinggi (90% dari volume), sehingga untuk dapat menanam jenis tersebut, airnya harus di drainase. Drainase mengakibatkan: hilangnya partikel gambut, subsidense & kebanjiran, gambut menjadi kering dan mudah terbakar serta mengemisikan GRK. Pembangunan kanal-kanal untuk drainase menimbulkan fragmentasi habitat. Stok karbon lahan gambut sangat tinggi, jika dibuka emisi GRK tinggi.

    Orang Adat dan Perubahan Iklim

    Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon secara resmi membuka Konferensi Masyarakat Adat Sedunia, (Senin (22/9/2014), di Markas Besar PBB New York Amerika Serikat. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan konferensi masyarakat adat untuk pertama kali. Sidang Umum PBB ke-69 tahun 2014, Konferensi WCIP (World Conference on Indigenous Peoples) ini, dalam pidatonya, Sekjend PBB, Ban Ki-Moon menyampaikan peran penting masyarakat adat dalam pembangunan global.

    Ban Ki-Moon bilang (baca: Majelis Umum PBB Gelar Konferensi Masyarakat Adat Pertama), dirinya sangat setuju akan pentingnya janji pemerintah tetapi lebih penting lagi untuk melihat aksi. “Saya mendorong agar Dokumen Hasil Konferensi berisikan komitmen nyata untuk menjembatani antara janji-janji dan hasil,” pungkasnya.

    Pada kesempaan membuka secara resmi konferensi WCIP tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menegaskan akan mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat adat di seluruh dunia, terutama yang menyangkut hak pengelolaan tanah dan sumber daya alam.

    Indigenous peoples represent remarkable diversity – more than 5,000 distinct groups in some 90 countries, making up more than 5 per cent of the world’s population, some 370 million people. These peoples continue to self-identify as distinct peoples with strong links to traditional territories with their own social, economic and political systems as well as unique languages, cultures and beliefs.

    Muara Kali Sima di Nabire Papua, perusahaan mengalihkan aliran sungai yang tadinya membelah kampung Sima dan kini muara kali ini sudah tidak asli lagi.

    Muara Kali Sima di Nabire Papua, perusahaan mengalihkan aliran sungai yang tadinya membelah kampung Sima dan kini muara kali ini sudah tidak asli lagi.

    Degradasi hutan mengurangi kontribusi karbon bagi mahluk hidup dunia. Investasi berskala besar merambah hutan-hutan alami yang selama ini menjadi ruang hidup orang-orang adat dan mahluk hidup lainnya. Perkebunan Sawit, industri ekstraktif berskala besar maupun kecil, minyak dan gas, berkontribusi pada perusakan alam yang berujung pada pengurangan karbon.

    Apalagi, ruang eksploitasi semakin lebar seketika Negara Indonesia dibawah kendali rezim SBY, menerapkan projek MP3Ei secara nasional dan direduksi ke daerah-daerah dalam bentuk RTRWP. Parahnya lagi, rancagan pengelolaan bumi tak melibatkan partisipasi orang-orang penjaga hutan yang dikenal masyarakat hukum adat.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on