Musim kemarau akhir-akhir ini terjadi kebakaran di daerah Sumatera (Riau dan sekitarnya). Negara Indonesia melalui aparat penegak hukum dikabarkan sudah tangkap ratusan pembakar hutan. Lain lagi ceritanya dibalik terbakarnya kawasan sabana seluas 600 hektare di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur diduga kuat ulah orang gila dan warga yang ingin mengambil hasil hutan. Hutan Baluran selama ini memang menjadi tempat pembuangan orang gila dari berbagai daerah. Belum lagi, degradasi hutan dilakukan atas dalil hukum seperti kasus dugaan peralihan status hutan tanaman industri (HTI) seluas 140 hektar di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6451

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6451

Baru-baru ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kesekian kalinya menyeret pejabat daerah yang seenaknya tukar balik aturan dengan uang para pengusaha. KPK menetapkan Annas dan Gulat sebagai tersangka setelah keduanya tertangkap tangan dalam operasi tangkap tangan yang berlangsung di perumahan Citra Grand, Cibubur, Jakarta, Kamis (25/9/2014) sore. Mereka menduga uang yang diterima Gubernur Riau Annas Maamun dari pengusaha kelapa sawit Gulat Medali Emas Manurung terkait dengan pengurusan peralihan status hutan tanaman industri (HTI) seluas 140 hektar di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Seperti yang dilansir, kompas.com, ketua KPK bilang dalam operasi tangkap tangan itu mereka menyita uang 156.000 dollar Singapura dan Rp 500 juta. “Jumlah keseluruhan alat bukti kurang lebih kalau dikurskan di Indonesia kurang lebih dua miliar,” kata Abraham. “Yang bersangkutan punya kebun kelapa sawit 140 hektare, jadi ada proses untuk menginginkan proses peralihan. Jadi kelapa sawit yang bersangkutan masuk kategori hutan tanaman industri, yang bersangkutan menginginkan ini dikeluarkan dan masuk APL,” ujar Abraham. Annas dan Gulat ditangkap bersama dengan tujuh orang lainnya. Setelah pemeriksaan 1×24 jam, KPK tidak menemukan bukti cukup untuk menetapkan tujuh orang lainnya sebagai tersangka. Ketujuh orang tersebut lalu dibebaskan KPK.

“Jadi itu lokasinya HTI yang kemudian ditanami kelapa sawit maka diperlukan pengalihan fungsi hutan melalui area peruntukan lain (APL)” kata Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta, Jumat (26/9/2014). Menurut Abraham, lahan HTI seluas 140 hektar tersebut ditanami kelapa sawit. Agar tidak melanggar aturan, Gulat menginginkan agar lahan HTI tersebut diubah statusnya menjadi area peruntukan lain.

Gila Hutan

Pejabat gila alihkan fungsi kawasan hutan demi harta dan kekuasaan semata, sementara aksi-aksi pembalakan hutan masih dibiarkan negara. Cerita punya cerita, berbagai cara dilakukan untuk mengelabui publik. Mulai dari cerita bahwa hutan dibakar orang gila, hingga polisi yang buru oknum tertentu yang dituding sebagai biang kerok pemberangusan hutan. Sembari negara membiarkan para broker hutan yang masuk ke Indonesia dengan uang besar untuk menanam investasi mereka dibidang perkebunan sawit.

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6445

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6445

Cara tipu publik paling halus adalah tudingan bahwa orang kurang waras yang bakar hutan. Salah satunya di kawasan sabana seluas 600 hektare di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Bencana ini terjadi sejak bulan Juni hingga September 2014. “Kebakaran terakhir terjadi Kamis sore kemarin,” kata Kepala Taman Nasional Baluran Emy Endah Suwarni, kala dihubungi Tempo, Jumat, 26 September 2014.

Menurut Emy, vegetasi sabana yang terbakar berada di resort Batu Numpuk, Labuan Merak, Perengan, Bitakol, dan Bekol. Terbakarnya sabana diduga kuat ulah orang gila dan warga yang ingin mengambil hasil hutan. Hutan Baluran selama ini memang menjadi tempat pembuangan orang gila dari berbagai daerah. “Tapi belum ada pembakar hutan yang berhasil kami tangkap,” kata dia.

Warga yang sengaja membakar untuk mengambil hasil hutan diduga masuk melalui dua jalur, yakni Kacangan-Karangtekok dan Batangan-Bekol. Kebakaran di Baluran mudah terjadi sebab ekosistem hutan di Baluran yang spesifik kering dan didominasi tipe sabana. Emy memprediksi musim kemarau berlangsung hingga Oktober mendatang. Oleh karena itu, agar kebakaran tak terjadi lagi, Taman Nasional Baluran sedang mengintensifkan penyuluhan dan patroli.

Kepala Brigade Pengendali Kebakaran Hutan Baluran, Dikaryanto, mengatakan kebakaran hutan selalu melanda Taman Nasional Baluran setiap musim kemarau. Pada 2012 lalu, api membakar 549 hektare sabana. Setahun kemudian, sabana seluas 700 hektare juga terbakar. Ada 49 titik jalan masuk dengan luas sekitar 1.000 hektare di luar kawasan taman nasional yang sering dipakai para pemburu. Di lain pihak, jumlah petugas lapangan hanya 31 orang. Kurangnya petugas lapangan inilah yang menjadi kendala serius untuk mengantisipasi kebakaran. Taman Nasional Baluran memiliki 444 jenis tumbuhan dan 26 jenis jenis mamalia, di antaranya banteng yang jadi maskot Baluran.

Perubahan alam dan sosial terjadi akibat faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu gejala dimana gerak dari alam itu sendiri yang berubah. Misal, hujan deras mengakibatkan luapan air dan banjir besar. Sementara faktor eksternal adanya perusahaan yang menebang kayu, mengakibatkan hutan menjadi gundul sehingga banjir meluap kemana-mana akibat erosi. Mengamuknya alam akibat pengaruh luar justru mematikan berbagai mahluk hidup, dari manusia hingga lainnya. Habitat menjadi terancam.

lokasi sebelah utara areal pt.nabire baru (dok.pusaka) IMG_6548

lokasi sebelah utara areal pt.nabire baru (dok.pusaka) IMG_6548

Dan lagi-lagi alasan kurangnya daya dukung penjaga hutan seperti petugas lapangan yang kurang hingga regulasi proteksi hutan yang minim. Alasan tersebut kerap diutarakan negara dalam menghadapi kerusakan hutan. Jarang sekali negara memproteksi hutan dari bedil kapitalisasi hutan dengan alasan demi devisa. Akibatnya, pejabat gila merubah fungsi hutan kepada investasi hingga kebakaran hutan dialihkan isunya dari orang gila yang bakar hingga perburuan oknum pembakar hutan. Sementara aktor kapitalisasi hutan bebas merambah hutan di Indonesia. Mereka smua pada gila hutan. #Dari berbagai sumber oleh (Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Musim kemarau akhir-akhir ini terjadi kebakaran di daerah Sumatera (Riau dan sekitarnya). Negara Indonesia melalui aparat penegak hukum dikabarkan sudah tangkap ratusan pembakar hutan. Lain lagi ceritanya dibalik terbakarnya kawasan sabana seluas 600 hektare di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur diduga kuat ulah orang gila dan warga yang ingin mengambil hasil hutan. Hutan Baluran selama ini memang menjadi tempat pembuangan orang gila dari berbagai daerah. Belum lagi, degradasi hutan dilakukan atas dalil hukum seperti kasus dugaan peralihan status hutan tanaman industri (HTI) seluas 140 hektar di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6451

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6451

    Baru-baru ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kesekian kalinya menyeret pejabat daerah yang seenaknya tukar balik aturan dengan uang para pengusaha. KPK menetapkan Annas dan Gulat sebagai tersangka setelah keduanya tertangkap tangan dalam operasi tangkap tangan yang berlangsung di perumahan Citra Grand, Cibubur, Jakarta, Kamis (25/9/2014) sore. Mereka menduga uang yang diterima Gubernur Riau Annas Maamun dari pengusaha kelapa sawit Gulat Medali Emas Manurung terkait dengan pengurusan peralihan status hutan tanaman industri (HTI) seluas 140 hektar di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

    Seperti yang dilansir, kompas.com, ketua KPK bilang dalam operasi tangkap tangan itu mereka menyita uang 156.000 dollar Singapura dan Rp 500 juta. “Jumlah keseluruhan alat bukti kurang lebih kalau dikurskan di Indonesia kurang lebih dua miliar,” kata Abraham. “Yang bersangkutan punya kebun kelapa sawit 140 hektare, jadi ada proses untuk menginginkan proses peralihan. Jadi kelapa sawit yang bersangkutan masuk kategori hutan tanaman industri, yang bersangkutan menginginkan ini dikeluarkan dan masuk APL,” ujar Abraham. Annas dan Gulat ditangkap bersama dengan tujuh orang lainnya. Setelah pemeriksaan 1×24 jam, KPK tidak menemukan bukti cukup untuk menetapkan tujuh orang lainnya sebagai tersangka. Ketujuh orang tersebut lalu dibebaskan KPK.

    “Jadi itu lokasinya HTI yang kemudian ditanami kelapa sawit maka diperlukan pengalihan fungsi hutan melalui area peruntukan lain (APL)” kata Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta, Jumat (26/9/2014). Menurut Abraham, lahan HTI seluas 140 hektar tersebut ditanami kelapa sawit. Agar tidak melanggar aturan, Gulat menginginkan agar lahan HTI tersebut diubah statusnya menjadi area peruntukan lain.

    Gila Hutan

    Pejabat gila alihkan fungsi kawasan hutan demi harta dan kekuasaan semata, sementara aksi-aksi pembalakan hutan masih dibiarkan negara. Cerita punya cerita, berbagai cara dilakukan untuk mengelabui publik. Mulai dari cerita bahwa hutan dibakar orang gila, hingga polisi yang buru oknum tertentu yang dituding sebagai biang kerok pemberangusan hutan. Sembari negara membiarkan para broker hutan yang masuk ke Indonesia dengan uang besar untuk menanam investasi mereka dibidang perkebunan sawit.

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6445

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 (dok.pusaka) IMG_6445

    Cara tipu publik paling halus adalah tudingan bahwa orang kurang waras yang bakar hutan. Salah satunya di kawasan sabana seluas 600 hektare di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Bencana ini terjadi sejak bulan Juni hingga September 2014. “Kebakaran terakhir terjadi Kamis sore kemarin,” kata Kepala Taman Nasional Baluran Emy Endah Suwarni, kala dihubungi Tempo, Jumat, 26 September 2014.

    Menurut Emy, vegetasi sabana yang terbakar berada di resort Batu Numpuk, Labuan Merak, Perengan, Bitakol, dan Bekol. Terbakarnya sabana diduga kuat ulah orang gila dan warga yang ingin mengambil hasil hutan. Hutan Baluran selama ini memang menjadi tempat pembuangan orang gila dari berbagai daerah. “Tapi belum ada pembakar hutan yang berhasil kami tangkap,” kata dia.

    Warga yang sengaja membakar untuk mengambil hasil hutan diduga masuk melalui dua jalur, yakni Kacangan-Karangtekok dan Batangan-Bekol. Kebakaran di Baluran mudah terjadi sebab ekosistem hutan di Baluran yang spesifik kering dan didominasi tipe sabana. Emy memprediksi musim kemarau berlangsung hingga Oktober mendatang. Oleh karena itu, agar kebakaran tak terjadi lagi, Taman Nasional Baluran sedang mengintensifkan penyuluhan dan patroli.

    Kepala Brigade Pengendali Kebakaran Hutan Baluran, Dikaryanto, mengatakan kebakaran hutan selalu melanda Taman Nasional Baluran setiap musim kemarau. Pada 2012 lalu, api membakar 549 hektare sabana. Setahun kemudian, sabana seluas 700 hektare juga terbakar. Ada 49 titik jalan masuk dengan luas sekitar 1.000 hektare di luar kawasan taman nasional yang sering dipakai para pemburu. Di lain pihak, jumlah petugas lapangan hanya 31 orang. Kurangnya petugas lapangan inilah yang menjadi kendala serius untuk mengantisipasi kebakaran. Taman Nasional Baluran memiliki 444 jenis tumbuhan dan 26 jenis jenis mamalia, di antaranya banteng yang jadi maskot Baluran.

    Perubahan alam dan sosial terjadi akibat faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu gejala dimana gerak dari alam itu sendiri yang berubah. Misal, hujan deras mengakibatkan luapan air dan banjir besar. Sementara faktor eksternal adanya perusahaan yang menebang kayu, mengakibatkan hutan menjadi gundul sehingga banjir meluap kemana-mana akibat erosi. Mengamuknya alam akibat pengaruh luar justru mematikan berbagai mahluk hidup, dari manusia hingga lainnya. Habitat menjadi terancam.

    lokasi sebelah utara areal pt.nabire baru (dok.pusaka) IMG_6548

    lokasi sebelah utara areal pt.nabire baru (dok.pusaka) IMG_6548

    Dan lagi-lagi alasan kurangnya daya dukung penjaga hutan seperti petugas lapangan yang kurang hingga regulasi proteksi hutan yang minim. Alasan tersebut kerap diutarakan negara dalam menghadapi kerusakan hutan. Jarang sekali negara memproteksi hutan dari bedil kapitalisasi hutan dengan alasan demi devisa. Akibatnya, pejabat gila merubah fungsi hutan kepada investasi hingga kebakaran hutan dialihkan isunya dari orang gila yang bakar hingga perburuan oknum pembakar hutan. Sementara aktor kapitalisasi hutan bebas merambah hutan di Indonesia. Mereka smua pada gila hutan. #Dari berbagai sumber oleh (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on