Matahari persis berada di atas kepala, ketika sejumlah warga yang berasal dari Desa Katanjung dan Desa Tumbang Puroh, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, hari senin kemarin (1/09/2014)  mendatangi kantor perkebunan sawit PT Susantri Permai, di Kilometer 8, Tjilik Riwut, Kota Palangkaraya.

Kedatangan warga untuk menuntut dan menagih janji ganti rugi atas pengambilan lahan dan kawasan hutan yang dilakukan secara terpaksa untuk kepentingan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Susantri Permai yang beroperasi di wilayah mereka semenjak tahun 2008 dengan  konsesi seluas 15.000 ha.

Agustus 2014 lalu, warga melakukan aksi serupa, bahkan sempat menyegel kantor perusahaan dan membuat aktivitas kantor terhenti.

“Perusahaan telah menanam sawit di lahan kami, dulu mereka berjanji akan mengganti rugi lahan, nyatanya hingga kini  janji itu tak pernah mereka tepati”.  Papar Cornelis, salah satu perwakilan warga.

Peta Konsesi PT. Susantri Permasi

PT Susantri Permai merupakan anak perusahaan Genting Plantation Berhad Group asal negeri Malaysia. Selain itu, Genting Group mempunyai dua anak perusahaan kelapa sawit lainnya yang beroperasi di Kapuas Hulu, yakni: PT. Kapuas Maju Jaya dengan areal konsesi seluas 22.500 ha dan PT. Dwie Warna Karya dengan luas areal 13.000 ha.

Tahun 2013, Gubernur Teras Narang dan Bupati Ben pernah mengeluarkan surat penghentian sementara aktifitas perkebunan kelapa sawit kepada ketiga anak perusahaan Genting tersebut karena masih mempunyai permasalahan hukum yang belum Clear & Clean, seperti beroperasi di kawasan hutan tanpa ada surat izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan dan permasalahan pembebasan lahan.

PT. Susantri Permai sempat menjadi sorotan karena kasus pembukaan lahan hutan yang tidak sesuai prosedur. Dilapangan Desa Tumbang Puroh ditemukan kayu-kayu produktif berukuran besar berada dalam timbunan tanah. September tahun 2013, Polda Kalteng telah melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan Negeri Kapuas yang menetapkan Direktur Utama perusahaan tersebut sebagai tersangka perambah hutan.

Meski berbagai jejak kelam menyertai perjalanan perusahaan, faktanya PT Susantri Permai masih beraktivitas, pohon sawit yang tumbuh di Desa Tumbang Puroh, Desa Katanjung, Desa Tumbang Sirat dan Dusun Masaha itu kini sudah memasuki masa panen. Puluhan truk pengangkut tandan sawit hilir mudik tak kenal waktu.  Sementara, ketika warga menuntut haknya yang dirampas, perusahaan berdalih, bahwa yang berwenang mengambil keputusan sedang tidak berada di tempat.

“Maaf Pak! pihak management sedang tidak berada di tempat, kami hanya pegawai biasa”.

Jawaban singkat itu sering di dengar dan menjadi jurus perusahaan untuk mempersulit warga menagih janji dan mendapatkan haknya. Jawaban serupa kembali terdengar siang itu dari seorang security perusahaan, Cornelis dan kawan-kawan yang datang dari kampung terujung Kapuas itu pun, hanya bisa menahan sesak. (AP)

Diolah dari berbagai sumber (Sept 2014)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Matahari persis berada di atas kepala, ketika sejumlah warga yang berasal dari Desa Katanjung dan Desa Tumbang Puroh, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, hari senin kemarin (1/09/2014)  mendatangi kantor perkebunan sawit PT Susantri Permai, di Kilometer 8, Tjilik Riwut, Kota Palangkaraya.

    Kedatangan warga untuk menuntut dan menagih janji ganti rugi atas pengambilan lahan dan kawasan hutan yang dilakukan secara terpaksa untuk kepentingan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Susantri Permai yang beroperasi di wilayah mereka semenjak tahun 2008 dengan  konsesi seluas 15.000 ha.

    Agustus 2014 lalu, warga melakukan aksi serupa, bahkan sempat menyegel kantor perusahaan dan membuat aktivitas kantor terhenti.

    “Perusahaan telah menanam sawit di lahan kami, dulu mereka berjanji akan mengganti rugi lahan, nyatanya hingga kini  janji itu tak pernah mereka tepati”.  Papar Cornelis, salah satu perwakilan warga.

    Peta Konsesi PT. Susantri Permasi

    PT Susantri Permai merupakan anak perusahaan Genting Plantation Berhad Group asal negeri Malaysia. Selain itu, Genting Group mempunyai dua anak perusahaan kelapa sawit lainnya yang beroperasi di Kapuas Hulu, yakni: PT. Kapuas Maju Jaya dengan areal konsesi seluas 22.500 ha dan PT. Dwie Warna Karya dengan luas areal 13.000 ha.

    Tahun 2013, Gubernur Teras Narang dan Bupati Ben pernah mengeluarkan surat penghentian sementara aktifitas perkebunan kelapa sawit kepada ketiga anak perusahaan Genting tersebut karena masih mempunyai permasalahan hukum yang belum Clear & Clean, seperti beroperasi di kawasan hutan tanpa ada surat izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan dan permasalahan pembebasan lahan.

    PT. Susantri Permai sempat menjadi sorotan karena kasus pembukaan lahan hutan yang tidak sesuai prosedur. Dilapangan Desa Tumbang Puroh ditemukan kayu-kayu produktif berukuran besar berada dalam timbunan tanah. September tahun 2013, Polda Kalteng telah melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan Negeri Kapuas yang menetapkan Direktur Utama perusahaan tersebut sebagai tersangka perambah hutan.

    Meski berbagai jejak kelam menyertai perjalanan perusahaan, faktanya PT Susantri Permai masih beraktivitas, pohon sawit yang tumbuh di Desa Tumbang Puroh, Desa Katanjung, Desa Tumbang Sirat dan Dusun Masaha itu kini sudah memasuki masa panen. Puluhan truk pengangkut tandan sawit hilir mudik tak kenal waktu.  Sementara, ketika warga menuntut haknya yang dirampas, perusahaan berdalih, bahwa yang berwenang mengambil keputusan sedang tidak berada di tempat.

    “Maaf Pak! pihak management sedang tidak berada di tempat, kami hanya pegawai biasa”.

    Jawaban singkat itu sering di dengar dan menjadi jurus perusahaan untuk mempersulit warga menagih janji dan mendapatkan haknya. Jawaban serupa kembali terdengar siang itu dari seorang security perusahaan, Cornelis dan kawan-kawan yang datang dari kampung terujung Kapuas itu pun, hanya bisa menahan sesak. (AP)

    Diolah dari berbagai sumber (Sept 2014)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on