Utrek Inggeruhi, anak dari kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

Utrek Inggeruhi, anak dari kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

Ibu Florensina Hanebora bersama anaknya Utrek Inggeruhi masih terbaring lemas karena busung lapar yang didertitanya sejak Agustus 2013 belum juga baik. Mereka dirujuk untuk pengobatan selanjutnya ke Jayapura. Pihak keluarga sudah berupaya untuk berobat ke RS Nabire, namun karena kurang biaya, kini kembali tinggal di rumah.

Florensina Hanebora, seorang warga kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

Florensina Hanebora, seorang warga kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

Sekertaris Suku Yerisiam melaporkan bahwa kasus busung lapar ini sudah lebih dari setahun, sudah ada permohonan kepada pihak mitra mereka dari perkebunan untuk bantu penanganan biaya berobat, tapi, Roberth mengatakan hal itu ditolak mentah-mentah oleh manajemen kebun. Selama lebih dari setahun, katanya, sudah berobat ke RS di kota tapi dipulangkan akibat kekurangan biaya.

“Saya punya kaka perempuan yang mengalami kelumpuhan setengah namanya Laurensina Hanebora dan Keponakan bernama Utrek Inggeruhi yang mengalami Gizi Buruk”. Tino menyesalkan sikap dari PT. Nabire Baru yang tidak mau tanggapi permintaan pemilik hak ulayat setempat. Sa sudah tulis permohonan minta dana untuk antar ke Jayapura paska pihak RS kasi rujukan, namun tidak pernah dijawab. Alasan perusahaan kepada pemilik hak ulayat belum ada hasil buah sawit. Lanjutnya, perusahaan bilang sementara tidak ada pos keuangan untuk kesehatan dan pendidikan. Menanggapi sikap dari perusahaan, Tino kecewa. “Baru harus tunggu sampai panen baru dong berobat ka ???, kesalnya.

Dari pantauan PUSAKA, konsorsium usaha yang komandoi oleh Imam Basrowi di Nabire mengelola hutan kayu dan tanah untuk perkebunan Sawit dengan menjalankan tiga usaha berlapis. PT. Nabire Baru (Sawit), Sariwana Unggul Mandiri (IPK) dan PT. Sariwana Adi Perkasa (Sawit). Mereka borong lahan seluas 17,000 hetar yang tersebar di tiga titik pengelolaan kebun.

atas-PT. Nabire Baru (Sawit), tengah-Sariwana Adi Perkasa (sawit) dan bawah-Sariwana Unggul Mandiri (IPK), dok. pusaka

atas-PT. Nabire Baru (Sawit), tengah-Sariwana Adi Perkasa (sawit) dan bawah-Sariwana Unggul Mandiri (IPK), dok. pusaka

Ketiga perusahaan itu terbagi atas dua perusahaan pengelola kebun sawit dan satu perusahaan kelola kayu land clearing. Sementara Kampung Sima diapit oleh perusahaan tersebut. Hutan alam yang dulunya menjadi tempat bertahan hidup, kini dikusai perusahaan. (Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA
    Utrek Inggeruhi, anak dari kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

    Utrek Inggeruhi, anak dari kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

    Ibu Florensina Hanebora bersama anaknya Utrek Inggeruhi masih terbaring lemas karena busung lapar yang didertitanya sejak Agustus 2013 belum juga baik. Mereka dirujuk untuk pengobatan selanjutnya ke Jayapura. Pihak keluarga sudah berupaya untuk berobat ke RS Nabire, namun karena kurang biaya, kini kembali tinggal di rumah.

    Florensina Hanebora, seorang warga kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

    Florensina Hanebora, seorang warga kampung Sima pemilik hak ulayat yang sudah setahun menderita gizi buruk (busung lapar) dok. yerisiam

    Sekertaris Suku Yerisiam melaporkan bahwa kasus busung lapar ini sudah lebih dari setahun, sudah ada permohonan kepada pihak mitra mereka dari perkebunan untuk bantu penanganan biaya berobat, tapi, Roberth mengatakan hal itu ditolak mentah-mentah oleh manajemen kebun. Selama lebih dari setahun, katanya, sudah berobat ke RS di kota tapi dipulangkan akibat kekurangan biaya.

    “Saya punya kaka perempuan yang mengalami kelumpuhan setengah namanya Laurensina Hanebora dan Keponakan bernama Utrek Inggeruhi yang mengalami Gizi Buruk”. Tino menyesalkan sikap dari PT. Nabire Baru yang tidak mau tanggapi permintaan pemilik hak ulayat setempat. Sa sudah tulis permohonan minta dana untuk antar ke Jayapura paska pihak RS kasi rujukan, namun tidak pernah dijawab. Alasan perusahaan kepada pemilik hak ulayat belum ada hasil buah sawit. Lanjutnya, perusahaan bilang sementara tidak ada pos keuangan untuk kesehatan dan pendidikan. Menanggapi sikap dari perusahaan, Tino kecewa. “Baru harus tunggu sampai panen baru dong berobat ka ???, kesalnya.

    Dari pantauan PUSAKA, konsorsium usaha yang komandoi oleh Imam Basrowi di Nabire mengelola hutan kayu dan tanah untuk perkebunan Sawit dengan menjalankan tiga usaha berlapis. PT. Nabire Baru (Sawit), Sariwana Unggul Mandiri (IPK) dan PT. Sariwana Adi Perkasa (Sawit). Mereka borong lahan seluas 17,000 hetar yang tersebar di tiga titik pengelolaan kebun.

    atas-PT. Nabire Baru (Sawit), tengah-Sariwana Adi Perkasa (sawit) dan bawah-Sariwana Unggul Mandiri (IPK), dok. pusaka

    atas-PT. Nabire Baru (Sawit), tengah-Sariwana Adi Perkasa (sawit) dan bawah-Sariwana Unggul Mandiri (IPK), dok. pusaka

    Ketiga perusahaan itu terbagi atas dua perusahaan pengelola kebun sawit dan satu perusahaan kelola kayu land clearing. Sementara Kampung Sima diapit oleh perusahaan tersebut. Hutan alam yang dulunya menjadi tempat bertahan hidup, kini dikusai perusahaan. (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on