Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat se Kalimantan yang terdiri dari lima lembaga mendampingin orang adat setempat untuk mengembangkan produk-produk asli mereka. Merek tas Borneo Chic mengangkat kerajinan tradisional masyarakat Dayak asal Kalimantan ke tengah-tengah masyarakat urban.

Mereka yang tergabung dalam jaringan Craft tersebut, sejak berdiri tahun 2008, baru melakukan misi pengembangan entitas tradisi. Produk Borneo Chic merupakan salah satu wujud yang ada dari pendampingan tersebut. Jaringan Craft Kalimantan yang merupakan program dari lima Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yakni Non-Timber Forest Product- Exchange Programme for South and Southeast Asia (NTFP-EP), Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, Koperasi Jasa Menenun Mandiri, dan Yayasan Petak Danum. Masing-masing LSM mendampingi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk mengembangkan potensi lokal mereka, seperti anyaman, tenun, hingga madu.

Niken Mayangsari dari Business Manager Borneo Chic yang juga merupakan anggota dari NTFP-EP Indonesia via beritasatu.com (Senin 20 Oktober 2014), mengatakan Borneo Chic bagian dari Jaga Kelangsungan Hutan Melalui Pengembangan Produk Kerajinan Bukan Kayu.

Niken menjelaskan, dalam pemberdayaan masyarakat Dayak, Jaringan Craft Kalimantan tidak hanya berupaya melestarikan kerajinan tradisional, namun juga meyakinkan masyarakat Dayak agar selalu menjaga hutan. Menurutnya, cara yang paling efektif menjaga kelestarian lingkungan adalah dengan membuat masyarakat yang tinggal di sekitar hutan merasa ketergantungan karena manfaat yang diberikan hutan ke kehidupan mereka.

“Bila masyarakat Dayak sudah mendapat manfaat dari segi ekonomi, otomatis mereka akan lebih melindungi hutannya yang menjadi sumber penghasilan mereka,” pungkas Niken. Lanjutnya, selain itu, hal utama lain yang ditekankan Jaringan Craft Kalimantan adalah, bagaimana masyarakat Dayak menghasilkan produk bermanfaat dari hutan tanpa mengganggu pohon-pohon yang ada disana.

“Niken juga bilang mereka banyak advokasi dari produk-produk kayunya, seperti illegal logging, moratorium, dan sebagainya. Tidak hanya NTFP-EP, tetapi semua LSM yang tergabung dalam Jaringan Craft Kalimantan juga menginisiasi untuk membuat produk yang tidak berbahan dasar kayu,” pungkasnya.

Dengan begitu, Craft Kalimantan lebih memfokuskan kepada produk-produk kerajinan tangan seperti anyaman rotan dan tenun yang menjadi kerajinan khas Kalimantan dan mereka kembangkan menjadi produk tas dan clutch dengan desain modern. Bahkan mereka juga mengembangkan madu dari Kalimantan untuk produk kecantikan.

Tentang distribusi dan pasar, ditambahkan Niken bahwa distribusi Borneo Chic saat ini masih di dalam negeri dan juga ekspor dengan sistem indirect. Borneo Chic memiliki showroom di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, dan mendistribusikan produk-produk mereka ke beberapa outlet, yakni Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia Shopping Mall, Kemang Village, dan tiga tempat lainnya di Bali.

“Kami belum melakukan ekspor secara direct karena memang belum sanggup memproduksi secara massal. Hal itu disebabkan produk kita benar-benar buatan tangan dan materialnya terbatas,” Niken mengakuinya.

Dengan begitu, saat ini mereka berupaya memperluas jaringan melalui pameran di luar negeri. Dengan upaya tersebut, banyak warga asing yang menghampiri mereka dan membeli beberapa produk untuk dibawa ke negara mereka.

“Sejauh ini warga asing yang banyak tertarik berasal dari Jepang dan negara-negara di Eropa. Untuk presentase konsumen lokal dan ekspatriat sekitar 50 persen masing-masing,” katanya kepada Kharina Triananda dari beritasatu.

Borneo Chic, menurut craft memang menyasar komunitas ekspatriat yang sangat menghargai produk-produk kerajinan tangan, dan juga konsumen lokal di kelas atas. Menurutnya, banyak ibu-ibu pejabat yang tertarik dengan produk-produk Borneo Chic, namun tidak sedikit juga yang menganggap harga produk mereka terlalu mahal untuk produk dalam negeri.

“Kami membanderol tas dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 1-3 juta. Namun, masih banyak konsumen yang menganggap mahal, padahal produk kami semuanya buatan tangan dengan material terbatas,” tandas Niken. Namun, walaupun begitu Niken tetap bersyukur karena setiap tahun mereka bisa memenuhi target dengan meningkatkan penjualan hingga 10 persen.

“Harapan kami akan semakin banyak orang yang memahami produk-produk kita dengan cerita di baliknya. Kami juga berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih untuk inisiasi seperti yang kita lakukan. Karena saat ini pemerintah jauh lebih memperhatikan personal business dibandingkan bisnis komunitas ini,” demikian Niken dari craft Kalimantan. (Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat se Kalimantan yang terdiri dari lima lembaga mendampingin orang adat setempat untuk mengembangkan produk-produk asli mereka. Merek tas Borneo Chic mengangkat kerajinan tradisional masyarakat Dayak asal Kalimantan ke tengah-tengah masyarakat urban.

    Mereka yang tergabung dalam jaringan Craft tersebut, sejak berdiri tahun 2008, baru melakukan misi pengembangan entitas tradisi. Produk Borneo Chic merupakan salah satu wujud yang ada dari pendampingan tersebut. Jaringan Craft Kalimantan yang merupakan program dari lima Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yakni Non-Timber Forest Product- Exchange Programme for South and Southeast Asia (NTFP-EP), Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, Koperasi Jasa Menenun Mandiri, dan Yayasan Petak Danum. Masing-masing LSM mendampingi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk mengembangkan potensi lokal mereka, seperti anyaman, tenun, hingga madu.

    Niken Mayangsari dari Business Manager Borneo Chic yang juga merupakan anggota dari NTFP-EP Indonesia via beritasatu.com (Senin 20 Oktober 2014), mengatakan Borneo Chic bagian dari Jaga Kelangsungan Hutan Melalui Pengembangan Produk Kerajinan Bukan Kayu.

    Niken menjelaskan, dalam pemberdayaan masyarakat Dayak, Jaringan Craft Kalimantan tidak hanya berupaya melestarikan kerajinan tradisional, namun juga meyakinkan masyarakat Dayak agar selalu menjaga hutan. Menurutnya, cara yang paling efektif menjaga kelestarian lingkungan adalah dengan membuat masyarakat yang tinggal di sekitar hutan merasa ketergantungan karena manfaat yang diberikan hutan ke kehidupan mereka.

    “Bila masyarakat Dayak sudah mendapat manfaat dari segi ekonomi, otomatis mereka akan lebih melindungi hutannya yang menjadi sumber penghasilan mereka,” pungkas Niken. Lanjutnya, selain itu, hal utama lain yang ditekankan Jaringan Craft Kalimantan adalah, bagaimana masyarakat Dayak menghasilkan produk bermanfaat dari hutan tanpa mengganggu pohon-pohon yang ada disana.

    “Niken juga bilang mereka banyak advokasi dari produk-produk kayunya, seperti illegal logging, moratorium, dan sebagainya. Tidak hanya NTFP-EP, tetapi semua LSM yang tergabung dalam Jaringan Craft Kalimantan juga menginisiasi untuk membuat produk yang tidak berbahan dasar kayu,” pungkasnya.

    Dengan begitu, Craft Kalimantan lebih memfokuskan kepada produk-produk kerajinan tangan seperti anyaman rotan dan tenun yang menjadi kerajinan khas Kalimantan dan mereka kembangkan menjadi produk tas dan clutch dengan desain modern. Bahkan mereka juga mengembangkan madu dari Kalimantan untuk produk kecantikan.

    Tentang distribusi dan pasar, ditambahkan Niken bahwa distribusi Borneo Chic saat ini masih di dalam negeri dan juga ekspor dengan sistem indirect. Borneo Chic memiliki showroom di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, dan mendistribusikan produk-produk mereka ke beberapa outlet, yakni Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia Shopping Mall, Kemang Village, dan tiga tempat lainnya di Bali.

    “Kami belum melakukan ekspor secara direct karena memang belum sanggup memproduksi secara massal. Hal itu disebabkan produk kita benar-benar buatan tangan dan materialnya terbatas,” Niken mengakuinya.

    Dengan begitu, saat ini mereka berupaya memperluas jaringan melalui pameran di luar negeri. Dengan upaya tersebut, banyak warga asing yang menghampiri mereka dan membeli beberapa produk untuk dibawa ke negara mereka.

    “Sejauh ini warga asing yang banyak tertarik berasal dari Jepang dan negara-negara di Eropa. Untuk presentase konsumen lokal dan ekspatriat sekitar 50 persen masing-masing,” katanya kepada Kharina Triananda dari beritasatu.

    Borneo Chic, menurut craft memang menyasar komunitas ekspatriat yang sangat menghargai produk-produk kerajinan tangan, dan juga konsumen lokal di kelas atas. Menurutnya, banyak ibu-ibu pejabat yang tertarik dengan produk-produk Borneo Chic, namun tidak sedikit juga yang menganggap harga produk mereka terlalu mahal untuk produk dalam negeri.

    “Kami membanderol tas dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 1-3 juta. Namun, masih banyak konsumen yang menganggap mahal, padahal produk kami semuanya buatan tangan dengan material terbatas,” tandas Niken. Namun, walaupun begitu Niken tetap bersyukur karena setiap tahun mereka bisa memenuhi target dengan meningkatkan penjualan hingga 10 persen.

    “Harapan kami akan semakin banyak orang yang memahami produk-produk kita dengan cerita di baliknya. Kami juga berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih untuk inisiasi seperti yang kita lakukan. Karena saat ini pemerintah jauh lebih memperhatikan personal business dibandingkan bisnis komunitas ini,” demikian Niken dari craft Kalimantan. (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on