Pekerja freeport yang berasal dari 7 suku minta manajamen perusahaan raksasa tambang tembaga dan emas itu kasi mereka satu departemen khusus yang menampung dan mengelola hak-hak suku yang bekerja disana. Untuk memenuhi tuntutannya, jalan freeport di mil 72 jadi tempat menumpahkan permintaan mereka.

Tepat pukul 1.00 dinihari (kamis, 9 Oktober 2014), aksi demo dilakukan karyawan perusahaan yang berasal dari tujuh suku itu dilaksanakan dengan duduk di tengah jalan yang menjadi jalan utama. Jalan itu menghubungkan sejumlah lokasi, baik itu pabrik pengolahan maupun tambang terbuka (Grasberg) serta tambang tertutup (underground).

Kepada PUSAKA, salah seorang anak adat disana mengatakan bahwa sebelum aksi tersebut digelar malam hari, siangnya di mile 66 ada tabrakan maut antara truk dan mobil. Empat orang tewas dan 5 orang dilarikan ke rumah sakit. Usai tambrakan maut itu, warga mereka naik dan palang freeport.

Menurut Damaris Onawame, pemalangan tersebut bertujuan agar pihak freeport membentuk satu unit khusus, departemen tersendiri bagi pemilik hak ulayat. Sebab, departemen yang ada saat ini semuanya disini oleh oyame (pendatang) mereka.

Diatanya soal pelibatan orang adat di dalam freeport, menurut perempuan Tanah Amungsa itu melanjutkan bahwa selama ini hak tujuh suku dipermainkan oleh freeport dengan memakai orang-orang dalam yang mengklaim mewakili kami semua. Padahal, Damaris bilang sebenarnya kami punya hak dilibatkan dalam proses pembicaraan terkait apapun di freeport.

Negosiasi freeport tra libatkan masyarakat adat, tapi orang yang sudah di kondisikan oleh freeport sendiri seolah-olah wakili semua, kesal Damaris“.

Sementara seorang karyawan asal suku setempat, Jacky Amisim kepada antaranews (kiblat.net) mengaku melakukan aksi demo damai karena PT Freeport hingga saat ini belum melaksanakan apa yang menjadi hak-hak dari ketujuh suku itu. “Kami akan menuntut agar apa yang menjadi hak ketujuh suku dapat segera dipenuhi PT Freeport,” kata Amisim yang mengaku tercatat sebagai karyawan perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia itu.

Para pendemo dari tujuh suku itu meminta kepada PT Freeport agar merealisasi pembentukan departemen khusus tujuh suku guna meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Ketujuh suku yang memiliki hak ulayat atas kawasan operasional PT Freeport yakni Amungme, Kamoro, Dani, Mee, Damal, Nduga dan Moni. Belum ada keterangan resmi dari PT Freeport Indonesia atas terjadinya aksi demo tersebut.

Freeport buka perawan gunung nemangkawi selama setengah abad lamanya, mengambil kandungan tembaga dan emas, bawa ke luar negeri Papua, mereka lalu olah bahan mentah itu menjadi logam berharga. Salah satu perusahaan asal Amerika yang bercabang di Papua itu, atas sumbangsihnya kepada freeport pusat (FCX), APBN Amerika mendapat cadangan 15 persen dari usaha rockefeller bersaudara itu. (Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pekerja freeport yang berasal dari 7 suku minta manajamen perusahaan raksasa tambang tembaga dan emas itu kasi mereka satu departemen khusus yang menampung dan mengelola hak-hak suku yang bekerja disana. Untuk memenuhi tuntutannya, jalan freeport di mil 72 jadi tempat menumpahkan permintaan mereka.

    Tepat pukul 1.00 dinihari (kamis, 9 Oktober 2014), aksi demo dilakukan karyawan perusahaan yang berasal dari tujuh suku itu dilaksanakan dengan duduk di tengah jalan yang menjadi jalan utama. Jalan itu menghubungkan sejumlah lokasi, baik itu pabrik pengolahan maupun tambang terbuka (Grasberg) serta tambang tertutup (underground).

    Kepada PUSAKA, salah seorang anak adat disana mengatakan bahwa sebelum aksi tersebut digelar malam hari, siangnya di mile 66 ada tabrakan maut antara truk dan mobil. Empat orang tewas dan 5 orang dilarikan ke rumah sakit. Usai tambrakan maut itu, warga mereka naik dan palang freeport.

    Menurut Damaris Onawame, pemalangan tersebut bertujuan agar pihak freeport membentuk satu unit khusus, departemen tersendiri bagi pemilik hak ulayat. Sebab, departemen yang ada saat ini semuanya disini oleh oyame (pendatang) mereka.

    Diatanya soal pelibatan orang adat di dalam freeport, menurut perempuan Tanah Amungsa itu melanjutkan bahwa selama ini hak tujuh suku dipermainkan oleh freeport dengan memakai orang-orang dalam yang mengklaim mewakili kami semua. Padahal, Damaris bilang sebenarnya kami punya hak dilibatkan dalam proses pembicaraan terkait apapun di freeport.

    Negosiasi freeport tra libatkan masyarakat adat, tapi orang yang sudah di kondisikan oleh freeport sendiri seolah-olah wakili semua, kesal Damaris“.

    Sementara seorang karyawan asal suku setempat, Jacky Amisim kepada antaranews (kiblat.net) mengaku melakukan aksi demo damai karena PT Freeport hingga saat ini belum melaksanakan apa yang menjadi hak-hak dari ketujuh suku itu. “Kami akan menuntut agar apa yang menjadi hak ketujuh suku dapat segera dipenuhi PT Freeport,” kata Amisim yang mengaku tercatat sebagai karyawan perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia itu.

    Para pendemo dari tujuh suku itu meminta kepada PT Freeport agar merealisasi pembentukan departemen khusus tujuh suku guna meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Ketujuh suku yang memiliki hak ulayat atas kawasan operasional PT Freeport yakni Amungme, Kamoro, Dani, Mee, Damal, Nduga dan Moni. Belum ada keterangan resmi dari PT Freeport Indonesia atas terjadinya aksi demo tersebut.

    Freeport buka perawan gunung nemangkawi selama setengah abad lamanya, mengambil kandungan tembaga dan emas, bawa ke luar negeri Papua, mereka lalu olah bahan mentah itu menjadi logam berharga. Salah satu perusahaan asal Amerika yang bercabang di Papua itu, atas sumbangsihnya kepada freeport pusat (FCX), APBN Amerika mendapat cadangan 15 persen dari usaha rockefeller bersaudara itu. (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on