JAYAPURA, KOMPAS—Sekitar 2.000 pekerja PT Freeport Indonesia di areal pertambangan di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, yang melakukan pemogokan, sejak Kamis petang menghentikan aksi palang jalan. Namun, hingga Jumat (3/10) petang, kegiatan operasional di perusahaan pertambangan itu belum terlaksana.

Sesuai dengan keterangan juru bicara Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Freeport Indonesia, Juli Parorongan, para pekerja baru mencabut tenda yang menutup jalan di Mil 72, Tembagapura. Pencabutan tersebut sebagai buah dari dialog yang alot antara perwakilan pekerja dengan wakil Pemerintah Kabupaten Mimika dan aparat kepolisian.

”Aksi palang jalan dihentikan sejak Kamis sekitar pukul 17.00 WIT. Namun, sekitar 31.000 pekerja belum beraktivitas seperti biasa karena mereka takut akan kembali terjadi kecelakaan,” kata Juli saat dihubungi dari Jayapura, Papua, Jumat.

Juli mengatakan, pekerja masih menantikan kepastian dari perusahaan untuk menginvestigasi kecelakaan kerja yang terjadi beruntun di wilayah Tembagapura. ”Pencabutan tenda bukan berarti aksi pekerja terhenti. Namun, mereka masih menuntut tanggung jawab perusahaan. Kami berusaha menjalin komunikasi dengan manajemen terkait aspirasi pekerja,” ujarnya.

Juli menambahkan, pekerja juga merasa ada ketidakadilan terkait penahanan terhadap John Worisoi, pengemudi truk Haul yang menewaskan empat pekerja pada 27 September lalu.

”Selama ini perusahaan dinilai tak pernah transparan terkait dengan investigasi kecelakaan kerja, yang terjadi sebelum 27 September lalu. Misalnya, kasus kecelakaan di area Big Gossan yang menewaskan 28 pekerja pada Mei 2013. Tak ada satu pimpinan yang bertanggung jawab atas kejadian itu,” tutur Juli.

Juru Bicara PT Freeport Daisy Primayanti, melalui siaran pers, mengatakan, perusahaan terus menggalang kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kerja pada 27 September lalu. ”Penyelidikan dipimpin langsung Inspektur Tambang dari Kementerian ESDM. Kami berharap penyelidikan dapat segera selesai,” ujarnya.

Unsur kelalaian

Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende menyatakan, kepolisian bertanggung jawab menginvestigasi kecelakaan yang selama ini terjadi di Freeport. ”Kami akan menginvestigasi unsur kelalaian dalam setiap kasus dari teknik dan struktur penggalian di lokasi tambang. Kami akan menggandeng tenaga ahli dari Dinas Pertambangan Provinsi Papua dalam penyelidikan itu,” katanya.

Yotje menyatakan, Polda Papua telah mengirim tim intelijen ke Tembagapura untuk membantu Polres Mimika. Tim menyelidiki kecelakaan yang menewaskan pegawai Freeport. (FLO)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009276202

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    JAYAPURA, KOMPAS—Sekitar 2.000 pekerja PT Freeport Indonesia di areal pertambangan di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, yang melakukan pemogokan, sejak Kamis petang menghentikan aksi palang jalan. Namun, hingga Jumat (3/10) petang, kegiatan operasional di perusahaan pertambangan itu belum terlaksana.

    Sesuai dengan keterangan juru bicara Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Freeport Indonesia, Juli Parorongan, para pekerja baru mencabut tenda yang menutup jalan di Mil 72, Tembagapura. Pencabutan tersebut sebagai buah dari dialog yang alot antara perwakilan pekerja dengan wakil Pemerintah Kabupaten Mimika dan aparat kepolisian.

    ”Aksi palang jalan dihentikan sejak Kamis sekitar pukul 17.00 WIT. Namun, sekitar 31.000 pekerja belum beraktivitas seperti biasa karena mereka takut akan kembali terjadi kecelakaan,” kata Juli saat dihubungi dari Jayapura, Papua, Jumat.

    Juli mengatakan, pekerja masih menantikan kepastian dari perusahaan untuk menginvestigasi kecelakaan kerja yang terjadi beruntun di wilayah Tembagapura. ”Pencabutan tenda bukan berarti aksi pekerja terhenti. Namun, mereka masih menuntut tanggung jawab perusahaan. Kami berusaha menjalin komunikasi dengan manajemen terkait aspirasi pekerja,” ujarnya.

    Juli menambahkan, pekerja juga merasa ada ketidakadilan terkait penahanan terhadap John Worisoi, pengemudi truk Haul yang menewaskan empat pekerja pada 27 September lalu.

    ”Selama ini perusahaan dinilai tak pernah transparan terkait dengan investigasi kecelakaan kerja, yang terjadi sebelum 27 September lalu. Misalnya, kasus kecelakaan di area Big Gossan yang menewaskan 28 pekerja pada Mei 2013. Tak ada satu pimpinan yang bertanggung jawab atas kejadian itu,” tutur Juli.

    Juru Bicara PT Freeport Daisy Primayanti, melalui siaran pers, mengatakan, perusahaan terus menggalang kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kerja pada 27 September lalu. ”Penyelidikan dipimpin langsung Inspektur Tambang dari Kementerian ESDM. Kami berharap penyelidikan dapat segera selesai,” ujarnya.

    Unsur kelalaian

    Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende menyatakan, kepolisian bertanggung jawab menginvestigasi kecelakaan yang selama ini terjadi di Freeport. ”Kami akan menginvestigasi unsur kelalaian dalam setiap kasus dari teknik dan struktur penggalian di lokasi tambang. Kami akan menggandeng tenaga ahli dari Dinas Pertambangan Provinsi Papua dalam penyelidikan itu,” katanya.

    Yotje menyatakan, Polda Papua telah mengirim tim intelijen ke Tembagapura untuk membantu Polres Mimika. Tim menyelidiki kecelakaan yang menewaskan pegawai Freeport. (FLO)

    Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009276202

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on