Orang asli Papua di Kabupaten Merauke sampai dengan sekarang (tahun 2014), hanya tersisa 40 persen. Sisanya merupakan pendatang dari berbagai daerah. Dengan demikian, daerah ini sudah sangat heterogen dan persaingan dari berbagai aspek, masih sangat jauh.

Hal itu disampaikan Bupati Romanus Mbaraka seperti ditulis oleh Frans L Kobun dari tabloidjubi disaat memberikan arahan dalam kegiatan Bappeda Provinsi Papua yang berlangsung di Swissbelt Hotel Kamis (30/10). Mbaraka bilang dirinya terkadang berdoa dan meminta kepada Tuhan jika masih ada jalan potong untuk masyarakat Papua agar dari waktu ke waktu terus berkembang seperti orang di lokasi transmigrasi, agar bisa memberikan petunjuk lebih lanjut,” katanya.

Berbagai terobosan telah dilakukan pihaknya, termasuk mengirim anak-anak untuk melanjutkan studi di Jerman serta beberapa perguruan tinggi lain di Jawa agar mengambil fakultas kedokteran, namun tentunya membutuhkan waktu agak lama. Justru yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana memberikan dorongan dan atau motivasi kepada masyarakat asli Papua agar dari waktu ke waktu terus berkembang, terutama dari sisi pendapatan ekonomi keluarga. Pemerintah harus bisa menyusun program sekaligus mengirim anak-anak Papua untuk belajar tentang keterampilan di luar. Sehingga nantinya kembali dan menerapkan di kampung halaman,” katanya.

Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Merauke, Daswil menambahkan, berbagai program yang dijalankan pemerintah di bawah kepemimpinan Romanus Mbaraka-Sunarjo adalah dengan menurunkan dana ratusan juta ke kampung-kampung setiap tahun. Dengan demikian, masyarakat bisa dapat mengelola dan atau memanfaatkan dana yang ada untuk berbagai kegiatan pembangunan. (Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Orang asli Papua di Kabupaten Merauke sampai dengan sekarang (tahun 2014), hanya tersisa 40 persen. Sisanya merupakan pendatang dari berbagai daerah. Dengan demikian, daerah ini sudah sangat heterogen dan persaingan dari berbagai aspek, masih sangat jauh.

    Hal itu disampaikan Bupati Romanus Mbaraka seperti ditulis oleh Frans L Kobun dari tabloidjubi disaat memberikan arahan dalam kegiatan Bappeda Provinsi Papua yang berlangsung di Swissbelt Hotel Kamis (30/10). Mbaraka bilang dirinya terkadang berdoa dan meminta kepada Tuhan jika masih ada jalan potong untuk masyarakat Papua agar dari waktu ke waktu terus berkembang seperti orang di lokasi transmigrasi, agar bisa memberikan petunjuk lebih lanjut,” katanya.

    Berbagai terobosan telah dilakukan pihaknya, termasuk mengirim anak-anak untuk melanjutkan studi di Jerman serta beberapa perguruan tinggi lain di Jawa agar mengambil fakultas kedokteran, namun tentunya membutuhkan waktu agak lama. Justru yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana memberikan dorongan dan atau motivasi kepada masyarakat asli Papua agar dari waktu ke waktu terus berkembang, terutama dari sisi pendapatan ekonomi keluarga. Pemerintah harus bisa menyusun program sekaligus mengirim anak-anak Papua untuk belajar tentang keterampilan di luar. Sehingga nantinya kembali dan menerapkan di kampung halaman,” katanya.

    Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Merauke, Daswil menambahkan, berbagai program yang dijalankan pemerintah di bawah kepemimpinan Romanus Mbaraka-Sunarjo adalah dengan menurunkan dana ratusan juta ke kampung-kampung setiap tahun. Dengan demikian, masyarakat bisa dapat mengelola dan atau memanfaatkan dana yang ada untuk berbagai kegiatan pembangunan. (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on