Perkebunan Tebu PT. Darma Agro Lestari - Okaba

Daerah selatan Papua, Merauke, Mappi dan Asmat, memiliki dataran yang rendah dan berawa dengan kemiringan 0 – 3 %. Menurut Syaeful Firdaus, Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Provinsi Papua, daerah selatan tersebut rawan bencana tanah longsor, banjir dan intrusi air laut.

Pulau Kimaam, Merauke, merupakan salah satu pulau diselatan Papua yang berstatus kawasan konservasi, tidak dapat digunakan untuk pengembangan investasi dan kegiatan pembangunan. Tahun 2012, Kementerian Kehutanan melalui SK 458, menetapkan kawasan Pulau Kimaam untuk dijadikan daerah Areal Penggunaan Lain (APL) pengembangan perkebunan tebu.

Pemerintah Provinsi Papua menolak perubahan peruntukkan kawasan hutan di Kimaam tersebut. Alasannya menurut Syaeful, berdasarkan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) diperkirakan dampak kegiatan perkebunan tebu dengan pembukaan lahan tidak dapat mengendalikan banjir, pembuatan kanal dan drainase akan meningkatkan intrusi air laut untuk masuk ke daratan yang mengakibatkan terganggunya ekosistem setempat.

Dampak penting intrusi adalah terkontaminasi dan menurunnya kwalitas air tanah sehingga masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih, selain itu tanaman sumber pangan, seperti sagu, akan mati karena tidak dapat tumbuh pada tanah dengan kandungan air asin yang tinggi.

Perkebunan tebu yang diperkirakan mendatangkan bencana masih tetap diterima di daerah pesisir lain di Distrik Malind, Okaba, Tubang dan Ilwayab. Pemerintah belum punya sikap untuk mengkaji dan mencabut izin-izin usaha pemanfaatan lahan milik sekitar 15 perusahaan yang beroperasi di daerah Merauke dengan luas mencapai 487.912 ha.

Ank, Nov 2014

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Perkebunan Tebu PT. Darma Agro Lestari - Okaba

    Daerah selatan Papua, Merauke, Mappi dan Asmat, memiliki dataran yang rendah dan berawa dengan kemiringan 0 – 3 %. Menurut Syaeful Firdaus, Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Provinsi Papua, daerah selatan tersebut rawan bencana tanah longsor, banjir dan intrusi air laut.

    Pulau Kimaam, Merauke, merupakan salah satu pulau diselatan Papua yang berstatus kawasan konservasi, tidak dapat digunakan untuk pengembangan investasi dan kegiatan pembangunan. Tahun 2012, Kementerian Kehutanan melalui SK 458, menetapkan kawasan Pulau Kimaam untuk dijadikan daerah Areal Penggunaan Lain (APL) pengembangan perkebunan tebu.

    Pemerintah Provinsi Papua menolak perubahan peruntukkan kawasan hutan di Kimaam tersebut. Alasannya menurut Syaeful, berdasarkan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) diperkirakan dampak kegiatan perkebunan tebu dengan pembukaan lahan tidak dapat mengendalikan banjir, pembuatan kanal dan drainase akan meningkatkan intrusi air laut untuk masuk ke daratan yang mengakibatkan terganggunya ekosistem setempat.

    Dampak penting intrusi adalah terkontaminasi dan menurunnya kwalitas air tanah sehingga masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih, selain itu tanaman sumber pangan, seperti sagu, akan mati karena tidak dapat tumbuh pada tanah dengan kandungan air asin yang tinggi.

    Perkebunan tebu yang diperkirakan mendatangkan bencana masih tetap diterima di daerah pesisir lain di Distrik Malind, Okaba, Tubang dan Ilwayab. Pemerintah belum punya sikap untuk mengkaji dan mencabut izin-izin usaha pemanfaatan lahan milik sekitar 15 perusahaan yang beroperasi di daerah Merauke dengan luas mencapai 487.912 ha.

    Ank, Nov 2014

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on