Dua warga dari Kampung Sima Distrik Yaur Kabupaten Nabire yang tak lain adalah pemilik hak ulayat, kini mendekam dalam tahanan PAM Swakarsa di dalam areal perusahaan milik konsorsium Imam Basrowi itu. Warga tersebut memasang plang adat di areal hutan yang menurut mereka belum ada konsensi apapun dan masih prawan.

Mendapat informasi pemasangan plang (papan nama), kubu perusahaan Nabire Baru memerintahkan aparat brimob yang bertugas sebagai PAM Swakarsa terjun ke lokasi. Mereka tangkap dan intimidasi warga setempat. Kedua warga adat tersebut ditahan dengan alasan areal tersebut masuk konsensi kebun sawit Nabire Baru.

Jalan Masuk ke areal utama kebun sawit PT.Nabire Baru di KM 12-16, foto diambil pada agustus 2014@pusaka

Jalan Masuk ke areal utama kebun sawit PT.Nabire Baru di KM 12-16, foto diambil pada agustus [email protected]

Usaha konsorsium di daerah Sima dan Wami memang cukup mengerikan. Kampung tersebut diapit oleh tiga aktivitas perusahaan yang kolaboratornya seorang Imam Basrowi. Lahan seluas 17.000 hektar versi perusahaan, seluas 21.000 hektar versi masyarakat adat setempat, dikelola secara terpisah. Nabire Baru kelola di KM 12, 16 dan 19 Wami, sementara Adi Perkasa kelola di sebelah kampung Sima. Gurita penghancuran sudah dirasakan warga setempat semenjak perusahaan itu datang dengan ditopang oleh sebagian suku sendiri juga.

Kejadian penangkapan dan penganiayaan dua warga pemilik hak ulayat tersebut terjadi pada senin sore, 10 November 2014 sekitar jam tiga sore waktu setempat. Yorampit Henawi (47) dan Heris Nanaor (33), ditangkap dan dibawa ke sel tahanan milik perkebunan Sawit setempat.

Kejadian tersebut bikin resah warga pemilik hak ulayat. Menurut Sekertaris Yerisiam Robertino Hanebora, yang menyampaikan kabar tersebut kepada jaringan pendukung hak-hak masyarakat adat se-dunia, bahwa pemasangan plang berawal ketika suku Yerisiam mensosialisasikan hak-hak adat yang patut dilindungi dan diproteksi, kata Tino saat duhubungi Pusaka by telepon Selasa 11 November 2014.

“Selesai temu rakyat korban investasi di Jayapura beberapa waktu lalu kemudian mereka (suku Yerisiam duduk bicara dan sosialisasi hasil kemudian sepakat pasang papan nama di areal milik adat yang tidak masuk daerah konsensi Nabire Baru”, kata Tino”.

Tino bilang, kesepakatan itulah yang bikin dua warganya dari kampung Sima datang pasang papan nama, karena menurut mereka tahan sekitar KM 16 selama ini tidak diserahkan kepada Nabire Baru. Namun, lanjut Papales lagi, pihak perusahaan mengklaim bahwa areal dekat kebun sawit Nabire Baru sekitar KM 12, masuk areal konsensi mereka (PT. Nabire Baru, Sariwana Adi Perkasa dan Sariwana Unggul Mandiri), bilang Tino

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 IMG_6451

lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 IMG_6451

Sampai berita ini dipublis, belum diketahui nasib dua warga setempat yang masih di tahan dan di aniaya PAM Sawakarsa setempat. Pemilik Hak Ulayat sedang resah dengan kejadian tersebut. Sebab, pendekatan keamanan yang diterapkan manajemen kebun tra sejalan dengan MOU yang mereka teken dimana penjaga keamanan diserahkan kepada masyarakat adat, namun perusahaan justru pakai polisi.

Dari pantauan Pusak seketika bepergian ke daerah ini, perjalanan menuju lokasi sawit Nabire baru dari Jalan Utama Nabira-Sima, berjarak sekitar 3 KM. Sebelum tiba ke lokasi kebun Sawit di KM 16 ada tanah kosong alias menurut warga pemilik hak ulayat, areal ini tidak diserahkan kepada perusahaan. Ini bisa dibuktikan seketika aktivitas penebangan kayu pakai sensor masih terlihat disini dan dilakukan oleh oprator kayu yang mengelola kayu untuk kebutuhan kecil. Itu artinya, alam sekitar hutan itu bukan milik perusahaan.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Dua warga dari Kampung Sima Distrik Yaur Kabupaten Nabire yang tak lain adalah pemilik hak ulayat, kini mendekam dalam tahanan PAM Swakarsa di dalam areal perusahaan milik konsorsium Imam Basrowi itu. Warga tersebut memasang plang adat di areal hutan yang menurut mereka belum ada konsensi apapun dan masih prawan.

    Mendapat informasi pemasangan plang (papan nama), kubu perusahaan Nabire Baru memerintahkan aparat brimob yang bertugas sebagai PAM Swakarsa terjun ke lokasi. Mereka tangkap dan intimidasi warga setempat. Kedua warga adat tersebut ditahan dengan alasan areal tersebut masuk konsensi kebun sawit Nabire Baru.

    Jalan Masuk ke areal utama kebun sawit PT.Nabire Baru di KM 12-16, foto diambil pada agustus 2014@pusaka

    Jalan Masuk ke areal utama kebun sawit PT.Nabire Baru di KM 12-16, foto diambil pada agustus [email protected]

    Usaha konsorsium di daerah Sima dan Wami memang cukup mengerikan. Kampung tersebut diapit oleh tiga aktivitas perusahaan yang kolaboratornya seorang Imam Basrowi. Lahan seluas 17.000 hektar versi perusahaan, seluas 21.000 hektar versi masyarakat adat setempat, dikelola secara terpisah. Nabire Baru kelola di KM 12, 16 dan 19 Wami, sementara Adi Perkasa kelola di sebelah kampung Sima. Gurita penghancuran sudah dirasakan warga setempat semenjak perusahaan itu datang dengan ditopang oleh sebagian suku sendiri juga.

    Kejadian penangkapan dan penganiayaan dua warga pemilik hak ulayat tersebut terjadi pada senin sore, 10 November 2014 sekitar jam tiga sore waktu setempat. Yorampit Henawi (47) dan Heris Nanaor (33), ditangkap dan dibawa ke sel tahanan milik perkebunan Sawit setempat.

    Kejadian tersebut bikin resah warga pemilik hak ulayat. Menurut Sekertaris Yerisiam Robertino Hanebora, yang menyampaikan kabar tersebut kepada jaringan pendukung hak-hak masyarakat adat se-dunia, bahwa pemasangan plang berawal ketika suku Yerisiam mensosialisasikan hak-hak adat yang patut dilindungi dan diproteksi, kata Tino saat duhubungi Pusaka by telepon Selasa 11 November 2014.

    “Selesai temu rakyat korban investasi di Jayapura beberapa waktu lalu kemudian mereka (suku Yerisiam duduk bicara dan sosialisasi hasil kemudian sepakat pasang papan nama di areal milik adat yang tidak masuk daerah konsensi Nabire Baru”, kata Tino”.

    Tino bilang, kesepakatan itulah yang bikin dua warganya dari kampung Sima datang pasang papan nama, karena menurut mereka tahan sekitar KM 16 selama ini tidak diserahkan kepada Nabire Baru. Namun, lanjut Papales lagi, pihak perusahaan mengklaim bahwa areal dekat kebun sawit Nabire Baru sekitar KM 12, masuk areal konsensi mereka (PT. Nabire Baru, Sariwana Adi Perkasa dan Sariwana Unggul Mandiri), bilang Tino

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 IMG_6451

    lokasi kebun sawit nabire baru di km 12 IMG_6451

    Sampai berita ini dipublis, belum diketahui nasib dua warga setempat yang masih di tahan dan di aniaya PAM Sawakarsa setempat. Pemilik Hak Ulayat sedang resah dengan kejadian tersebut. Sebab, pendekatan keamanan yang diterapkan manajemen kebun tra sejalan dengan MOU yang mereka teken dimana penjaga keamanan diserahkan kepada masyarakat adat, namun perusahaan justru pakai polisi.

    Dari pantauan Pusak seketika bepergian ke daerah ini, perjalanan menuju lokasi sawit Nabire baru dari Jalan Utama Nabira-Sima, berjarak sekitar 3 KM. Sebelum tiba ke lokasi kebun Sawit di KM 16 ada tanah kosong alias menurut warga pemilik hak ulayat, areal ini tidak diserahkan kepada perusahaan. Ini bisa dibuktikan seketika aktivitas penebangan kayu pakai sensor masih terlihat disini dan dilakukan oleh oprator kayu yang mengelola kayu untuk kebutuhan kecil. Itu artinya, alam sekitar hutan itu bukan milik perusahaan.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on