Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat Desa Semoyo yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mengembangkan hutan rakyat sebagai salah satu upaya untuk mengatasi ketersediaan air.  Cuaca panas dan kekeringan yang sering melanda daerah ini memberikan kesadaran kepada masyarakatnya untuk merehabilitasi lahan 472 hektare dari total luas wilayah Desa Semoyo yaitu 572,6 hektare.

Ketua Serikat Petani Pembaru Desa Semoyo Mugi Riyanto mengatakan warga Desa Semoyo dan desa-desa lain di Gunung Kidul mengalami kesulitan air saat memasuki musim kemarau. Untuk menambah persediaan air, warga biasanya membeli air tangki dengan harga Rp90 ribu-Rp100 ribu per tangki berisikan 5000 liter air. Air sebanyak itu bisa mencukupi kebutuhan satu atau dua minggu tergantung jumlah anggota keluarga.

Selain itu pihak Kecamatan juga memberikan bantuan air bersih. Terkadang warga masih mengambil dari sumber mata air jika masih ada. Di dalam kondisi seperti itu tidak jarang warga menjual hewan ternak miliknya yang kebanyakan adalah sapi. Misalkan satu keluarga memiliki empat sapi, saat musim kemarau dijual satu sapi untuk memberi makan tiga sapi lainnya.

Harga pakan ternak per ikat adalah Rp7.500-Rp10.000. Sapi induk biasanya menghabiskan 1,5 ikat per hari. Sementara sapi jantan lebih sedikit. Hal ini sangat disayangkan mengingat bagi mereka, sapi adalah investasi jangka panjang.

Konservasi untuk memelihara sumber mata air dilakukan dengan cara membuat terasering, galangan, atau membuat semur resapan dengan menampung air yang turun. Upaya ini dapat menambah ketersediaan air hingga satu bulan.

“Ada 817 kk 3.509 jiwa di Desa Semoyo. Untungnya jumlah luasan hutan rakyat terus bertambah karena adanya kesadaran untuk mengatasi ketersediaan air dan kebutuhan keluarga. Akhirnya warga memilih tanaman kayu yang mampu bertahan hidup di musim kemarau. Kalau tanaman pangan tidak bisa. Tanam tanaman kayu karena luasan lahan sempit dan bisa ditinggal untuk mencari nafkah lain,” jelas Mugi kepada Media Indonesia.

Selain itu, tanaman kayu bisa dijadikan tabungan untuk kebutuhan lain seperti biaya anak sekolah dan pernikahan. Sampai saat ini sudah 85% dari lahan Desa Semoyo sudah jadi hutan atau ditanami kayu. Jenis-jenis pohon kayu yang biasa ditanam antara lain adalah pohon jati, sonokeling, mahoni, sengon dan akasia.

Teknik panen menggunakan teknik tebang butuh yaitu disesuaikan dengan kebutuhan para pemilik lahan dan pohon. Hal ini, kata Mugi, juga merupakan bagian dari ancaman pelestarian. Oleh karena itu warga desa diarahkan untuk memiliki pekerjaan lain di luar menjadi petani kayu agar penghasilan dari bidang itu mampu menopang perekonomian keluarga.

“Ancaman dari pelestarian hutan rakyat sebenarnya adalah pemilik lahan itu sendiri. Kendati tekniknya adalah tebang butuh tapi kebutuhannya itu mengancam upaya rehabilitasi jika terus-menerus dilakukan,” tegas Mugi yang akrab disapa Pak Gatot kepada Medai Indonesia via metronews.com di Gunung Kidul, Sabtu (1/11/2014).

Untuk melestarikan upaya rehabilitasi, bidan desa juga membuat satu kebijakan yaitu untuk setiap satu kelahiran maka warga wajib menanam satu bibit pohon. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang di Desa Semoyo memiliki satu pohon. Tanpa memakai aturan, masyarakat sudah antusias menanam banyak pohon sebagai bentuk investasi di masa depan.

Upaya konservasi dengan melestarikan hutan rakyat dimulai salah satunya akibat pertembahan penduduk, banyaknya sumur gali dan program panca usaha tani yang menggunakan pupuk yang merusak tanah. Selain itu kepemilikan lahan di desa semakin lama semakin sempit antara lain karena jumlah penduduk yang semakin banyak.

Seksi Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul Taufik mengatakan puncak kritis ketandusan terjadi pada 1964. Hal ini karena dulu hutan itu dibuka untuk ditanami kopi pada masa pemerintahan Belanda. Setelah ditanami ternyata hasil kopinya tidak laku di pasaran. Lalu lahan ditinggal begitu saja dan menjadi lahan kering.

Akibat pertambahan penduduk, jumlah lahan menjadi semakin terbatas. Berdasarkan penelitian Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Darmono, setiap keluarga harus memiliki tanah minimal 7.000 hektare untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kini rata-rata kepemilikan lahan untuk satu keluarga adalah hanya 2.500 meter persegi dan itu tidak cukup untuk mendukung kebutuhan keluarganya,” terangnya.

Bupati Gunung Kidul Batinah mengatakan wilayah Kabupaten Gunung Kidul adalah wilayah dengan keadaan geografis yang unik. Potensi sumber daya alam dan plasma nutfahnya memerlukan penanganan yang khas karena cuacanya sangat kering. Hutan dan lahan yang merupakan penopang hidup masyarakat yang utama.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat Desa Semoyo yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mengembangkan hutan rakyat sebagai salah satu upaya untuk mengatasi ketersediaan air.  Cuaca panas dan kekeringan yang sering melanda daerah ini memberikan kesadaran kepada masyarakatnya untuk merehabilitasi lahan 472 hektare dari total luas wilayah Desa Semoyo yaitu 572,6 hektare.

    Ketua Serikat Petani Pembaru Desa Semoyo Mugi Riyanto mengatakan warga Desa Semoyo dan desa-desa lain di Gunung Kidul mengalami kesulitan air saat memasuki musim kemarau. Untuk menambah persediaan air, warga biasanya membeli air tangki dengan harga Rp90 ribu-Rp100 ribu per tangki berisikan 5000 liter air. Air sebanyak itu bisa mencukupi kebutuhan satu atau dua minggu tergantung jumlah anggota keluarga.

    Selain itu pihak Kecamatan juga memberikan bantuan air bersih. Terkadang warga masih mengambil dari sumber mata air jika masih ada. Di dalam kondisi seperti itu tidak jarang warga menjual hewan ternak miliknya yang kebanyakan adalah sapi. Misalkan satu keluarga memiliki empat sapi, saat musim kemarau dijual satu sapi untuk memberi makan tiga sapi lainnya.

    Harga pakan ternak per ikat adalah Rp7.500-Rp10.000. Sapi induk biasanya menghabiskan 1,5 ikat per hari. Sementara sapi jantan lebih sedikit. Hal ini sangat disayangkan mengingat bagi mereka, sapi adalah investasi jangka panjang.

    Konservasi untuk memelihara sumber mata air dilakukan dengan cara membuat terasering, galangan, atau membuat semur resapan dengan menampung air yang turun. Upaya ini dapat menambah ketersediaan air hingga satu bulan.

    “Ada 817 kk 3.509 jiwa di Desa Semoyo. Untungnya jumlah luasan hutan rakyat terus bertambah karena adanya kesadaran untuk mengatasi ketersediaan air dan kebutuhan keluarga. Akhirnya warga memilih tanaman kayu yang mampu bertahan hidup di musim kemarau. Kalau tanaman pangan tidak bisa. Tanam tanaman kayu karena luasan lahan sempit dan bisa ditinggal untuk mencari nafkah lain,” jelas Mugi kepada Media Indonesia.

    Selain itu, tanaman kayu bisa dijadikan tabungan untuk kebutuhan lain seperti biaya anak sekolah dan pernikahan. Sampai saat ini sudah 85% dari lahan Desa Semoyo sudah jadi hutan atau ditanami kayu. Jenis-jenis pohon kayu yang biasa ditanam antara lain adalah pohon jati, sonokeling, mahoni, sengon dan akasia.

    Teknik panen menggunakan teknik tebang butuh yaitu disesuaikan dengan kebutuhan para pemilik lahan dan pohon. Hal ini, kata Mugi, juga merupakan bagian dari ancaman pelestarian. Oleh karena itu warga desa diarahkan untuk memiliki pekerjaan lain di luar menjadi petani kayu agar penghasilan dari bidang itu mampu menopang perekonomian keluarga.

    “Ancaman dari pelestarian hutan rakyat sebenarnya adalah pemilik lahan itu sendiri. Kendati tekniknya adalah tebang butuh tapi kebutuhannya itu mengancam upaya rehabilitasi jika terus-menerus dilakukan,” tegas Mugi yang akrab disapa Pak Gatot kepada Medai Indonesia via metronews.com di Gunung Kidul, Sabtu (1/11/2014).

    Untuk melestarikan upaya rehabilitasi, bidan desa juga membuat satu kebijakan yaitu untuk setiap satu kelahiran maka warga wajib menanam satu bibit pohon. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang di Desa Semoyo memiliki satu pohon. Tanpa memakai aturan, masyarakat sudah antusias menanam banyak pohon sebagai bentuk investasi di masa depan.

    Upaya konservasi dengan melestarikan hutan rakyat dimulai salah satunya akibat pertembahan penduduk, banyaknya sumur gali dan program panca usaha tani yang menggunakan pupuk yang merusak tanah. Selain itu kepemilikan lahan di desa semakin lama semakin sempit antara lain karena jumlah penduduk yang semakin banyak.

    Seksi Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul Taufik mengatakan puncak kritis ketandusan terjadi pada 1964. Hal ini karena dulu hutan itu dibuka untuk ditanami kopi pada masa pemerintahan Belanda. Setelah ditanami ternyata hasil kopinya tidak laku di pasaran. Lalu lahan ditinggal begitu saja dan menjadi lahan kering.

    Akibat pertambahan penduduk, jumlah lahan menjadi semakin terbatas. Berdasarkan penelitian Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Darmono, setiap keluarga harus memiliki tanah minimal 7.000 hektare untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    “Kini rata-rata kepemilikan lahan untuk satu keluarga adalah hanya 2.500 meter persegi dan itu tidak cukup untuk mendukung kebutuhan keluarganya,” terangnya.

    Bupati Gunung Kidul Batinah mengatakan wilayah Kabupaten Gunung Kidul adalah wilayah dengan keadaan geografis yang unik. Potensi sumber daya alam dan plasma nutfahnya memerlukan penanganan yang khas karena cuacanya sangat kering. Hutan dan lahan yang merupakan penopang hidup masyarakat yang utama.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on