Paulinus Mendapat Intimidasi Pulang dari Inkuiri Nasional Komnas HAM

0
405

Tokoh masyarakat adat asal Kampung Onggari, Paulinus Balagaize, merasa mendapatkan intimidasi oleh orang tertentu di Merauke. Ditenggarai intimidasi tersebut dikarenakan pihak tertentu tidak senang atas kesaksian beliau yang menceritakan permasalahan MIFEE dan keberadaan perusahaan perkebunan tebu Rajawali Group yang beroperasi di Kampung Onggari, pada Dengar Pendapat Umum Inkuiri Nasional Komnas HAM berlangsung di Kanwil Hukum dan HAM, Jayapura, 26 – 28 November 2014.

Jumat pagi (29/11), Paulinus baru tiba di Bandara Mopa, Merauke, lalu HP berbunyi ada panggilan dari salah satu petugas Polsek Kurik dan menanyakan keberadaan Paulinus, yang menjelaskan posisinya masih di Bandara Mopa.

Paulinus menceritakan, “Saya khawatir dan bertanya-tanya maksud panggilan itu karena tara biasa. Saya lalu pergi istirahat sampe makan siang di rumah keluarga di Merauke. Lalu dengan anak perempuan boncengan motor pergi ke Kampung Onggari. Setelah melewati jembatan tujuh wali-wali Kali Maro, saya melihat ada dua kendaraan kijang membuntuti dari belakang”, jelas Paulinus.

Di daerah Wendu, Paulinus menghentikan kendaraannya untuk istirahat sebentar dan menggunakan kesempatan untuk melihat siapa saja di mobil yang berhenti agak jauh. Sopir dan penumpang mobil kijang berwarna hitam dan krem tidak kelihatan. Paulinus melanjutkan perjalanan hingga ketempat penyeberangan Kali Kumbe. Kedua kendaraan tidak terlihat lagi. Paulinus mendapat jemputan anak-anaknya di Kampung Kumbe dan baru tiba di Kampung Onggari malam hari.

Paulinus mengirimkan SMS meminta Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi Korban untuk memperoleh keterangan dari Kapolsek Kurik dan Kapolres Merauke mengenai intimidasi yang dialaminya karena indikasi pelanggaran HAM. Sandra Moniaga, anggota Komisioner Komnas HAM dari Jayapura mengatakan akan menindaklanjuti permintaan SMS tersebut.

Ank, Nove 2014