Dari 12,3 juta hektar lahan perkebunan di Indonesia, 95% dikuasai hanya oleh 25 orang konglomerat. Para taipan itu, baik lokal maupun dari Singapura dan Malaysia, total kekayaannya mencapai 45% dari APBN. Mouna Wasef dari Indonesia Corruption Watch (ICW) bilang sebanyak 57,4% dikuasai korporasi-korporasi besar, hanya sedikit oleh masyarakat atau BUMN.

Korporasi besar tak hanya milik Indonesia, tapi Malaysia dan Singapura. Jika ditambah lahan inti dan plasma bahkan penguasaan sampai 95%, penguasaan sebanyak 25 taipan. Mouna mengungkapkan itu dalam diskusi soal Praktik Korupsi dan Penyimpangan Pajak di Sektor Perkebunan, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/11). Sebagaimana dilansir bisnismedan, Ia menjelaskan, dari 25 taipan tersebut kekayaannya mencapai 45% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2014 atau sekitar Rp 651 triliun.

Pemerintah Targetkan Produksi Minyak Sawit Capai 40 juta ton

Sementara itu, seruu.com mengabarkan bahwa pemerintah menargetkan produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2020 mencapai 40 juta ton. Indonesia adalah salah satu produsen sawit besar di dunia, tahun ini proyeksi produksi sawit mencapai 29,5 juta ton,” kata Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Keamanan Hutan Basuki Karya Atmaja di Jakarta, Senin (10/11/2014).

Basuki mengatakan permintaan kelapa sawit di dunia akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang dipicu pertambahan jumlah penduduk di dunia. Penduduk di dunia diprediksi mencapai 7,7 miliar orang dari 6,9 miliar orang pada 2010,” ujarnya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa produksi kelapa sawit di Indonesia harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Jangan sampai merusak lingkungan, ekonomi hijau itu mutlak harus dilakukan,” katanya.

Pada 2013, luas areal kelapa sawit mencapai 44 persen dari total area perkebunan Indonesia, yaitu 10 juta hektare. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit terletak di Sumatera dengan luas 6,4 juta hektare, di Kalimantan seluas 3,2 juta hektare dan sisanya di Sulawesi, Maluku, Papua dan Jawa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting juga mengemukakan bahwa ekonomi masa depan harus mengedepankan ekonomi berkelanjutan karena sumber daya alam terbatas. Petani kelapa sawit yang menggarap lahan dalam skala kecil merupakan salah satu pemegang peran penting.

Penghasil kelapa sawit setengahnya adalah petani kecil,” tukasnya. Ia mengatakan lagi bila pertanian skala kecil dikelola dengan baik maka produktivitas sawit pun akan lebih efektif. Hal itu berdampak pada kesejahteraan petani yang meningkat serta lingkungan yang tetap terjaga dengan baik.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Dari 12,3 juta hektar lahan perkebunan di Indonesia, 95% dikuasai hanya oleh 25 orang konglomerat. Para taipan itu, baik lokal maupun dari Singapura dan Malaysia, total kekayaannya mencapai 45% dari APBN. Mouna Wasef dari Indonesia Corruption Watch (ICW) bilang sebanyak 57,4% dikuasai korporasi-korporasi besar, hanya sedikit oleh masyarakat atau BUMN.

    Korporasi besar tak hanya milik Indonesia, tapi Malaysia dan Singapura. Jika ditambah lahan inti dan plasma bahkan penguasaan sampai 95%, penguasaan sebanyak 25 taipan. Mouna mengungkapkan itu dalam diskusi soal Praktik Korupsi dan Penyimpangan Pajak di Sektor Perkebunan, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/11). Sebagaimana dilansir bisnismedan, Ia menjelaskan, dari 25 taipan tersebut kekayaannya mencapai 45% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2014 atau sekitar Rp 651 triliun.

    Pemerintah Targetkan Produksi Minyak Sawit Capai 40 juta ton

    Sementara itu, seruu.com mengabarkan bahwa pemerintah menargetkan produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2020 mencapai 40 juta ton. Indonesia adalah salah satu produsen sawit besar di dunia, tahun ini proyeksi produksi sawit mencapai 29,5 juta ton,” kata Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Keamanan Hutan Basuki Karya Atmaja di Jakarta, Senin (10/11/2014).

    Basuki mengatakan permintaan kelapa sawit di dunia akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang dipicu pertambahan jumlah penduduk di dunia. Penduduk di dunia diprediksi mencapai 7,7 miliar orang dari 6,9 miliar orang pada 2010,” ujarnya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa produksi kelapa sawit di Indonesia harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Jangan sampai merusak lingkungan, ekonomi hijau itu mutlak harus dilakukan,” katanya.

    Pada 2013, luas areal kelapa sawit mencapai 44 persen dari total area perkebunan Indonesia, yaitu 10 juta hektare. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit terletak di Sumatera dengan luas 6,4 juta hektare, di Kalimantan seluas 3,2 juta hektare dan sisanya di Sulawesi, Maluku, Papua dan Jawa.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting juga mengemukakan bahwa ekonomi masa depan harus mengedepankan ekonomi berkelanjutan karena sumber daya alam terbatas. Petani kelapa sawit yang menggarap lahan dalam skala kecil merupakan salah satu pemegang peran penting.

    Penghasil kelapa sawit setengahnya adalah petani kecil,” tukasnya. Ia mengatakan lagi bila pertanian skala kecil dikelola dengan baik maka produktivitas sawit pun akan lebih efektif. Hal itu berdampak pada kesejahteraan petani yang meningkat serta lingkungan yang tetap terjaga dengan baik.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on