Daerah-daerah perbatasan di selatan Papua, Merauke dan Boven Digoel, ymenjadi incaran investasi perkebunan besar kelapa sawit. Puluhan perusahaan pemodal besar sudah mendapatkan izin prinsip usaha perkebunan kelapa sawit, salah satunya perusahaan PT. Tunas Sawa Erma (TSE), milik perusahaan modal asing asal Korea, Korindo Group, yang beroperasi di kampung-kampung wilayah Distrik Kia, Boven Digoel.

Saat ini, kawasan hutan di wilayah Kampung Ujung Kia, Distrik Kia, sudah berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Tahun 2004, PT. TSE membongkar dan menggusur hutan milik masyarakat adat Suku Auyu. Mereka kehilangan tempat mencari makan, tempat penting, rawa-rawa, tempat berburu dan hutan sumber pangan.

Masyarakat tidak pernah menyatakan menolak perusahaan dan terpaksa membuat keputusan untuk menerima rencana perusahaan. Marselus Kesboy, tokoh masyarakat adat Kampung Ujung Kia, mengungkapkan “masyarakat tidak mampu menolak karena khawatir dengan tindakan aparat keamanan dan janji pembangunan”.

Pos-pos aparat keamanan TNI dapat ditemukan disepanjang jalan diperbatasan mulai dari Merauke hingga Boven Digoel. Dalam banyak kasus, kehadiran aparat keamanan TNI dan Polri di daerah ini justeru memunculkan rasa tidak aman dan membatasi kebebasan masyarakat karena terdapat aksi-aksi kekerasan, diskriminasi, penyiksaan, penganiayaan, intimidasi dan penangkapan sewenang-wenang dialami masyarakat adat setempat oleh aparat keamanan dan Polri. Pemerintah dan aparat kemanan cenderung melindungi kepentingan perusahaan.

“Perusahaan menggunakan aparat keamanan dan orang-orang suruhan ketika melakukan sosialisasi dan negosiasi, sehingga masyarakat gugup dan takut untuk menyampaikan pendapat atau pertimbangan, musyawarah dan mufakat tidak ada, perusahaan mengatur sendiri saja”, kata Marselus. Petugas dan dan orang suruhan tersebut paling diuntungkan dari kegiatan perusahaan didaerah ini.

Menurut Marselus, Suku Auyu dikenal sebagai orang yang rasa cinta dan mengasihinya tinggi dikalangan masyarakat umum, namun kehadiran perusahaan merusak kerukunan hidup masyarakat Auyu. Masyarakat mulai malas kerja, minum keras beralkohol beredar bebas, judi-judian, pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga hampir setiap saat terjadi.

Ank, Nov 2014

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Daerah-daerah perbatasan di selatan Papua, Merauke dan Boven Digoel, ymenjadi incaran investasi perkebunan besar kelapa sawit. Puluhan perusahaan pemodal besar sudah mendapatkan izin prinsip usaha perkebunan kelapa sawit, salah satunya perusahaan PT. Tunas Sawa Erma (TSE), milik perusahaan modal asing asal Korea, Korindo Group, yang beroperasi di kampung-kampung wilayah Distrik Kia, Boven Digoel.

    Saat ini, kawasan hutan di wilayah Kampung Ujung Kia, Distrik Kia, sudah berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Tahun 2004, PT. TSE membongkar dan menggusur hutan milik masyarakat adat Suku Auyu. Mereka kehilangan tempat mencari makan, tempat penting, rawa-rawa, tempat berburu dan hutan sumber pangan.

    Masyarakat tidak pernah menyatakan menolak perusahaan dan terpaksa membuat keputusan untuk menerima rencana perusahaan. Marselus Kesboy, tokoh masyarakat adat Kampung Ujung Kia, mengungkapkan “masyarakat tidak mampu menolak karena khawatir dengan tindakan aparat keamanan dan janji pembangunan”.

    Pos-pos aparat keamanan TNI dapat ditemukan disepanjang jalan diperbatasan mulai dari Merauke hingga Boven Digoel. Dalam banyak kasus, kehadiran aparat keamanan TNI dan Polri di daerah ini justeru memunculkan rasa tidak aman dan membatasi kebebasan masyarakat karena terdapat aksi-aksi kekerasan, diskriminasi, penyiksaan, penganiayaan, intimidasi dan penangkapan sewenang-wenang dialami masyarakat adat setempat oleh aparat keamanan dan Polri. Pemerintah dan aparat kemanan cenderung melindungi kepentingan perusahaan.

    “Perusahaan menggunakan aparat keamanan dan orang-orang suruhan ketika melakukan sosialisasi dan negosiasi, sehingga masyarakat gugup dan takut untuk menyampaikan pendapat atau pertimbangan, musyawarah dan mufakat tidak ada, perusahaan mengatur sendiri saja”, kata Marselus. Petugas dan dan orang suruhan tersebut paling diuntungkan dari kegiatan perusahaan didaerah ini.

    Menurut Marselus, Suku Auyu dikenal sebagai orang yang rasa cinta dan mengasihinya tinggi dikalangan masyarakat umum, namun kehadiran perusahaan merusak kerukunan hidup masyarakat Auyu. Masyarakat mulai malas kerja, minum keras beralkohol beredar bebas, judi-judian, pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga hampir setiap saat terjadi.

    Ank, Nov 2014

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on