Hari masih pagi, Noorhadie Karben bersiap menuju ladang yang sebulan lalu ia tugal. Perbekalan sudah ia bungkus dalam tas, parang tergantung di pinggangnya dan ces sudah diisi minyak secukupnya. “ Hari ini kita ke ladang, sudah lama tak di tengok”. Katanya. Ia benar-benar merencanakan itu jauh-jauh hari ditengah padatnya aktivitas yang ia lakoni. Namun baru dua langkah meninggalkan rumah, ia terhenti,  ketika dua orang petani datang mencarinya.

“Lahan kami di belakang sebagian sudah digarap sawit, mereka tidak beritahu kita, kata perusahaan lahan itu sudah di jual kepada mereka, kami tak tahu siapa yang menjualnya”. Keluh dua orang petani, setelah mereka dipersilahkan duduk  di teras rumah  Noorhadie. Mereka mengeluhkan lahannya yang telah di gusur perusahaan sawit PT Kalimantan Lestari Mandiri yang sejak enam bulan lalu beroperasi di Desa Mantangai Hulu, Kalumpang dan Mantangai Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas-Kalteng. Lokasi tersebut, sebagian adalah bekas lahan reforestasi KFCP.

“Banyak warga yang kaget ketika ladang mereka digusur”. Papar Noorhadie, ia katakan, perusahaan menargetkan 5000 ha perkebunan sawit. Mereka beroperasi dalam konflik tumpang tindihnya klaim kepemilikan lahan. Saat ini lahan yang sudah tergarap mencapai 1000 ha lokasinya berada di perbatasan Desa Kalumpang dan Mantangai Hulu. Menurut penelusuran Serikat Tani Magatang Tarung yang Noorhadie pimpin, lahan warga seperti kebun karet di klaim oleh oknum tertentu dengan menerbitkan surat kepemilikan palsu, kemudian oknum tersebut menjual dokumen tersebut ke perusahaan.

“Padahal pemilik asli lahan sebagian besar tidak ingin menjualnya, karena dari situlah mereka gantungkan hidup”.

Kini, banyak warga yang memasang patok bertuliskan “ TANAH INI TIDAK DI JUAL” di lahan mereka. Setelah menyampaikan surat kepada pihak berwenang yang tak kunjung mendapat tanggapan, sebagai bentuk perlawanan selain memasang patok, warga pun menanami lahan yang telah di land clearing perusahaan.

PT Kalimantan Lestari Mandiri bukanlah satu-satunya investasi yang beroperasi di wilayah itu. Konservasi BOS Mawas, Perkebunan sawit PT Usaha Handalan Perkasa  dan PT Rezeki Alam Semesta Raya turut andil dalam mempersempit ruang kelola warga. (AP, Des 2014).

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Hari masih pagi, Noorhadie Karben bersiap menuju ladang yang sebulan lalu ia tugal. Perbekalan sudah ia bungkus dalam tas, parang tergantung di pinggangnya dan ces sudah diisi minyak secukupnya. “ Hari ini kita ke ladang, sudah lama tak di tengok”. Katanya. Ia benar-benar merencanakan itu jauh-jauh hari ditengah padatnya aktivitas yang ia lakoni. Namun baru dua langkah meninggalkan rumah, ia terhenti,  ketika dua orang petani datang mencarinya.

    “Lahan kami di belakang sebagian sudah digarap sawit, mereka tidak beritahu kita, kata perusahaan lahan itu sudah di jual kepada mereka, kami tak tahu siapa yang menjualnya”. Keluh dua orang petani, setelah mereka dipersilahkan duduk  di teras rumah  Noorhadie. Mereka mengeluhkan lahannya yang telah di gusur perusahaan sawit PT Kalimantan Lestari Mandiri yang sejak enam bulan lalu beroperasi di Desa Mantangai Hulu, Kalumpang dan Mantangai Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas-Kalteng. Lokasi tersebut, sebagian adalah bekas lahan reforestasi KFCP.

    “Banyak warga yang kaget ketika ladang mereka digusur”. Papar Noorhadie, ia katakan, perusahaan menargetkan 5000 ha perkebunan sawit. Mereka beroperasi dalam konflik tumpang tindihnya klaim kepemilikan lahan. Saat ini lahan yang sudah tergarap mencapai 1000 ha lokasinya berada di perbatasan Desa Kalumpang dan Mantangai Hulu. Menurut penelusuran Serikat Tani Magatang Tarung yang Noorhadie pimpin, lahan warga seperti kebun karet di klaim oleh oknum tertentu dengan menerbitkan surat kepemilikan palsu, kemudian oknum tersebut menjual dokumen tersebut ke perusahaan.

    “Padahal pemilik asli lahan sebagian besar tidak ingin menjualnya, karena dari situlah mereka gantungkan hidup”.

    Kini, banyak warga yang memasang patok bertuliskan “ TANAH INI TIDAK DI JUAL” di lahan mereka. Setelah menyampaikan surat kepada pihak berwenang yang tak kunjung mendapat tanggapan, sebagai bentuk perlawanan selain memasang patok, warga pun menanami lahan yang telah di land clearing perusahaan.

    PT Kalimantan Lestari Mandiri bukanlah satu-satunya investasi yang beroperasi di wilayah itu. Konservasi BOS Mawas, Perkebunan sawit PT Usaha Handalan Perkasa  dan PT Rezeki Alam Semesta Raya turut andil dalam mempersempit ruang kelola warga. (AP, Des 2014).

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on