Minggu 7 Desember 2014 malam sekitar pukul 24 .00 Waktu Paniai Papua, sebuah mobil Fortuner hitam yang didalamnya membawa anggota polisi dari tim khusus (TIMSUS) 753 dari posko Uwibutu melintasi perbukitan Togokotu, dengan kondisi lampu yang dipadamkan, persis dipuncak perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur. Di sana ada sebuah Posko Natal, yang di dalamnya ada beberapa anak.

Kepada suarapembaruan.com, ketua DAP Paniai, Jhon Gobai menjelaskan bahwa lantaran lampu mobil itu mati, anak-anak itu menegur dan meminta untuk menyalahkan lampu. Tak terima ditegur, terjadi pertengkaran mulut. Mobil itu terus melaju ke Posko Timsus 753 di Uwibutu. Kemudian mobil kembali ke lokasi Posko Natal diikuti beberapa anggota polisi dari Timsus 753. “Seorang anak berusia kira-kira 12 tahun dianiaya,” katanya. Tak terima dengan penganiayaan itu, pada senin pagi, rombongan masyarakat kampung Ipakiye beramai-ramai menuju Kota Enarotali yang berjarak 5 km, untuk meminta penjelasan aparat keamanan.

Pada jam 10.00 waktu setempat, warga marah, lalu membakar mobil Fortuner. Mereka lalu berkumpul di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, dengan menyanyi dan menari. Namun, upaya itu ditanggapi aparat keamanan dengan melakukan penembakan untuk melakukan pembubaran massa. Saat itulah, 4 warga tewas di tempat, di samping yang kritis dan puluhan lainnya luka-luka.

Dari data korban insiden ini yang dilansir majalahselangkah.com dari lokasi, terdata 4 orang yang meninggal 3 di antaranya pelajar SMA serta satu di antaranya adalah pemuda. Berikut nama-nama korban.

Korban Tewas

1.     Alpius Youw (17) seorang pemuda berdomisili di kampung Nunubado.

2.     Alpius Gobai (17) seorang siswa di SMA Negeri 1 Paniai Timur, Enarotali.

3.     Simon Degei (18) seorang siswa SMA Negeri 1 Paniai

4.     Yulian Yeimo (17) siswa SMA.Timur, Enarotali.

Luka Kritis

1.   Yulianus Tobai (33) seorang Satpam RSUD Paniai.

2.   Selpi Dogopia (34)

3.   Jermias Kayame (48) seorang kepala Kampung Awabutu.

4.   Marci Yogi (52) Ibu Rumah Tangga.

5.   Yulianus Mote (25)

6.   Agusta Degei (28).

tragedi enarotali paniai Papua 8 desember 2014

tragedi enarotali paniai Papua 8 desember 2014

Pihak RSUD Paniai yang menangani para korban bicara bahwa mereka melakukan penanganan di ruang darurat tersebut semenjak pukul 09.00 pagi. Dokter Yosua Purba, dokter yang menangani enam pasien yang dirawat di ruang IGD RSUD Paniai menjelaskan, pihaknya melayani korban sejak Pukul 09.00 dengan pasien yang berlumuran darah. Menurutnya, Ada tujuh pasien yang mereka rawat. Lukanya adalah luka tembakan peluru senjata,” kata dokter Yosua yang juga adalah Kepala Ruang IGD RSUD Paniai didampingi dr. Hendra Salmen Menda selaku dokter umum. “semua pasien mengalami luka berat. “Semua pasien memang luka berat,” ucapnya.

Ketika dikonfirmasi PUSAKA, seorang pemuda dari lokasi menceritakan bahwa situasi saat ini sunyi senyap karena warga ketakutan keluar rumah. Bahkan, jenasah masih ditaruh di tempat terbuka sampai Negara Indonesia bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Minggu 7 Desember 2014 malam sekitar pukul 24 .00 Waktu Paniai Papua, sebuah mobil Fortuner hitam yang didalamnya membawa anggota polisi dari tim khusus (TIMSUS) 753 dari posko Uwibutu melintasi perbukitan Togokotu, dengan kondisi lampu yang dipadamkan, persis dipuncak perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur. Di sana ada sebuah Posko Natal, yang di dalamnya ada beberapa anak.

    Kepada suarapembaruan.com, ketua DAP Paniai, Jhon Gobai menjelaskan bahwa lantaran lampu mobil itu mati, anak-anak itu menegur dan meminta untuk menyalahkan lampu. Tak terima ditegur, terjadi pertengkaran mulut. Mobil itu terus melaju ke Posko Timsus 753 di Uwibutu. Kemudian mobil kembali ke lokasi Posko Natal diikuti beberapa anggota polisi dari Timsus 753. “Seorang anak berusia kira-kira 12 tahun dianiaya,” katanya. Tak terima dengan penganiayaan itu, pada senin pagi, rombongan masyarakat kampung Ipakiye beramai-ramai menuju Kota Enarotali yang berjarak 5 km, untuk meminta penjelasan aparat keamanan.

    Pada jam 10.00 waktu setempat, warga marah, lalu membakar mobil Fortuner. Mereka lalu berkumpul di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, dengan menyanyi dan menari. Namun, upaya itu ditanggapi aparat keamanan dengan melakukan penembakan untuk melakukan pembubaran massa. Saat itulah, 4 warga tewas di tempat, di samping yang kritis dan puluhan lainnya luka-luka.

    Dari data korban insiden ini yang dilansir majalahselangkah.com dari lokasi, terdata 4 orang yang meninggal 3 di antaranya pelajar SMA serta satu di antaranya adalah pemuda. Berikut nama-nama korban.

    Korban Tewas

    1.     Alpius Youw (17) seorang pemuda berdomisili di kampung Nunubado.

    2.     Alpius Gobai (17) seorang siswa di SMA Negeri 1 Paniai Timur, Enarotali.

    3.     Simon Degei (18) seorang siswa SMA Negeri 1 Paniai

    4.     Yulian Yeimo (17) siswa SMA.Timur, Enarotali.

    Luka Kritis

    1.   Yulianus Tobai (33) seorang Satpam RSUD Paniai.

    2.   Selpi Dogopia (34)

    3.   Jermias Kayame (48) seorang kepala Kampung Awabutu.

    4.   Marci Yogi (52) Ibu Rumah Tangga.

    5.   Yulianus Mote (25)

    6.   Agusta Degei (28).

    tragedi enarotali paniai Papua 8 desember 2014

    tragedi enarotali paniai Papua 8 desember 2014

    Pihak RSUD Paniai yang menangani para korban bicara bahwa mereka melakukan penanganan di ruang darurat tersebut semenjak pukul 09.00 pagi. Dokter Yosua Purba, dokter yang menangani enam pasien yang dirawat di ruang IGD RSUD Paniai menjelaskan, pihaknya melayani korban sejak Pukul 09.00 dengan pasien yang berlumuran darah. Menurutnya, Ada tujuh pasien yang mereka rawat. Lukanya adalah luka tembakan peluru senjata,” kata dokter Yosua yang juga adalah Kepala Ruang IGD RSUD Paniai didampingi dr. Hendra Salmen Menda selaku dokter umum. “semua pasien mengalami luka berat. “Semua pasien memang luka berat,” ucapnya.

    Ketika dikonfirmasi PUSAKA, seorang pemuda dari lokasi menceritakan bahwa situasi saat ini sunyi senyap karena warga ketakutan keluar rumah. Bahkan, jenasah masih ditaruh di tempat terbuka sampai Negara Indonesia bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on