SAROLANGUN–Bupati Sarolangun H. Cek Endra meminta para petani dan masyarakat untuk tidak menanam sawit lagi. Bupati juga tidak membenarkan petani mengalihfungsikan lahan sawah menjadi kebun sawit.

Hal itu diungkapkan Cek Endra saat memberikan penghargaan kelembagaan petani terbaik se-Kabupaten Sarolangun di Kantor Dinas Badan Penyuluh Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun baru-baru ini.

Cek Endra mengatakan, pengalihfungsian lahan tersebut dilarang oleh pemerintah pusat dan diatur dalam undang-undang nomor 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. ”Ada undang-undangnya, dilarang mengalihfungsikan lahan dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Selain ada larangan dari pemerintah pusat, lanjutnya, dia sangat mendambakan Kabupaten Sarolangun menjadi kabupaten yang bisa swasembada pangan, seperti beras. “Walaupun produksi beras kita belum mencukupi untuk permintaan pasar, tapi saya bangga masyarakat Kabupaten Sarolangun tidak membeli beras. Karena sudah bisa menikmati hasilnya sendiri setiap kali panen. Seperti di daerah Batangasai, Bukit Bulan, dan Bhatin VIII, itu masyarakatnya tidak lagi membeli beras,” jelas Cek Endra.

Karena itu dia meminta petani jangan mengubah atau mengalihfungsikan lahan sawah padinya. “Termasuk tumpang sari ataupun kebun karet untuk ditanami sawit,” katanya.

Cek Endra juga menjelaskan jika petani dan masyarakat membuka kebun sawit hanya sebatas dua atau tiga hektaran, tidak usah dilakukan. Sebab hasilnya tidak akan terasa bagi perekonomian masyarakat atau pun petani.

“Urusan kebun sawit biar perusahaan, karena biaya operasionalnya sangat tinggi dan hasilnya juga tidak memuaskan secara penuh. Baik masyarakat, ataupun petani berkebun karet saja kalau rasanya ingin membuka kebun. Hasil karet saya rasa lebih menjanjikan, dan kualitas karet kita juga bagus,” jelas Cek Endra.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sarolangun, Sakwan, soal larangan menanam sawit, menjelaskan, untuk saat ini tidak ada lagi lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi lahan sawit atau lahan karet dialihfungsikan menjadi kebun sawit. “Kalau dulu ada di beberapa wilayah di Sarolangun ini yang mengalihfungsikan. Namun, sudah kita kasih teguran dan mereka tidak lagi melakukan hal itu,” singkat Sakwan (4 Desember 2014)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    SAROLANGUN–Bupati Sarolangun H. Cek Endra meminta para petani dan masyarakat untuk tidak menanam sawit lagi. Bupati juga tidak membenarkan petani mengalihfungsikan lahan sawah menjadi kebun sawit.

    Hal itu diungkapkan Cek Endra saat memberikan penghargaan kelembagaan petani terbaik se-Kabupaten Sarolangun di Kantor Dinas Badan Penyuluh Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun baru-baru ini.

    Cek Endra mengatakan, pengalihfungsian lahan tersebut dilarang oleh pemerintah pusat dan diatur dalam undang-undang nomor 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. ”Ada undang-undangnya, dilarang mengalihfungsikan lahan dari pemerintah pusat,” jelasnya.

    Selain ada larangan dari pemerintah pusat, lanjutnya, dia sangat mendambakan Kabupaten Sarolangun menjadi kabupaten yang bisa swasembada pangan, seperti beras. “Walaupun produksi beras kita belum mencukupi untuk permintaan pasar, tapi saya bangga masyarakat Kabupaten Sarolangun tidak membeli beras. Karena sudah bisa menikmati hasilnya sendiri setiap kali panen. Seperti di daerah Batangasai, Bukit Bulan, dan Bhatin VIII, itu masyarakatnya tidak lagi membeli beras,” jelas Cek Endra.

    Karena itu dia meminta petani jangan mengubah atau mengalihfungsikan lahan sawah padinya. “Termasuk tumpang sari ataupun kebun karet untuk ditanami sawit,” katanya.

    Cek Endra juga menjelaskan jika petani dan masyarakat membuka kebun sawit hanya sebatas dua atau tiga hektaran, tidak usah dilakukan. Sebab hasilnya tidak akan terasa bagi perekonomian masyarakat atau pun petani.

    “Urusan kebun sawit biar perusahaan, karena biaya operasionalnya sangat tinggi dan hasilnya juga tidak memuaskan secara penuh. Baik masyarakat, ataupun petani berkebun karet saja kalau rasanya ingin membuka kebun. Hasil karet saya rasa lebih menjanjikan, dan kualitas karet kita juga bagus,” jelas Cek Endra.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sarolangun, Sakwan, soal larangan menanam sawit, menjelaskan, untuk saat ini tidak ada lagi lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi lahan sawit atau lahan karet dialihfungsikan menjadi kebun sawit. “Kalau dulu ada di beberapa wilayah di Sarolangun ini yang mengalihfungsikan. Namun, sudah kita kasih teguran dan mereka tidak lagi melakukan hal itu,” singkat Sakwan (4 Desember 2014)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on