Pakar sejarah dosen jurusan sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Prof. Dr. Warto, mengritik sejarah Indonesia yang sampai kini masih terkurung dalam kerangkeng kolonial Belanda, karena penulisan sejarah sampai era modern ini masih menggunakan perspektif kolonial. Dia menyarankan, perlunya dekolonisasi sejarah Indonesia dengan menekankan penulisan sejarah dari sudut pandang orang Indonesia sendiri.

Kritik tersebut dikemukakan Prof. Warto kepada wartawan, Senin (1/12/2014) siang, terkait dengan pengukuhannya sebagai guru besar ilmu sejarah UNS. Pakar sejarah itu mengangkat masalah “Dekolonisasi Histotiografi Indonesia dan Kesadaran Dekonstruktif”, dalam orasi ilmiah di depan sidang senat terbuka UNS.

“Penulisan sejarah Indonesia seharusnya dari perspektif orang Indonesia. Tetapi hal itu tidak mudah. Padahal, implikasi setelah dekolonisasi akan memberikan pencerahan kepada masyarakat, sekaligus mendekonstruksi narasi-narasi besar sejarah dan meninjau kembali kebenaran sejarah yang tunggal,” jelasnya.

Dia menunjuk contoh sejarah orang Samin yang memiliki konsep tanah hutan sejak nenek-moyang semilik mereka. Ketika orang Samin, mengambil kayu di hutan, mereka tidak tahu bahwa hutan telah beralih ke negara dan dikelola Perhutani.

“Antara sejarah orang Samin dengan sejarah peralihan hutan itu ada kesenjangan, sehingga terjadi konflik. Orang Samin yang mengambil kayu karena menganggap milik nenek-moyangnya, harus masuk bui dan itu sering terjadi,” katanya.

Menurut Prof. Warto, penulisan sejarah pada masa lalu, selalu dimulai dari pedalaman yang tidak mempertimbangkan pluraritas Indonesia. Pada masa depan, penulisan sejarah harus dalam koridor keindonesiaan, bukan menggunakan kebenaran tunggal tetapi harus mengngat kebinekaan.

Dia menganggap munculnya gugatan-gugatan terhadap narasi sejarah belakangan ini wajar dan jangan menganggap narasi sejarah paling benar. Sebab, kalau terjadi distorsi penilisan sejarah akan bisa menimbulkan perdebatan yang kontra produktif.

Bersamaan Prof. Warto, pada hari yang sama juga dikukuhkan Prof. Dr. Sariyatun, guru besar FKIP UNS. Pakar pendidikan tersebut menyampaikan orasi ilmiah terntang, “Redefinisi Nilai-nilai Filosofis Batik Klasik melalui Pembelajaran IPS untuk Ketahanan Budaya Lokal”.

“Nilai-nilai universal sevara filosofis dalam simbol batik kasik, berlaku di kalangan masyarakat di daerah yang mengembangkan batik. Di dalam simbol-simbol batik itu terkandung kearifan budaya lokal yang harus dipertahankan melalui pendidikan,” ujarnya.

Guru besar ilmu sosial itu menyayangkan, jika generasi muda tidak lagi mengenal nilai-nilai filosofis batik, yang di setiap daerah berbeda-beda. Dia berharap batik yang di keraton merupakan bagian dari politik dan Presiden Jokowi juga pernah menjadikan inovasi politik, didekonstruksi sehingga dapat menjadi inovasi pendidikan karakter generasi muda (pikiran-rakyat.com)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pakar sejarah dosen jurusan sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Prof. Dr. Warto, mengritik sejarah Indonesia yang sampai kini masih terkurung dalam kerangkeng kolonial Belanda, karena penulisan sejarah sampai era modern ini masih menggunakan perspektif kolonial. Dia menyarankan, perlunya dekolonisasi sejarah Indonesia dengan menekankan penulisan sejarah dari sudut pandang orang Indonesia sendiri.

    Kritik tersebut dikemukakan Prof. Warto kepada wartawan, Senin (1/12/2014) siang, terkait dengan pengukuhannya sebagai guru besar ilmu sejarah UNS. Pakar sejarah itu mengangkat masalah “Dekolonisasi Histotiografi Indonesia dan Kesadaran Dekonstruktif”, dalam orasi ilmiah di depan sidang senat terbuka UNS.

    “Penulisan sejarah Indonesia seharusnya dari perspektif orang Indonesia. Tetapi hal itu tidak mudah. Padahal, implikasi setelah dekolonisasi akan memberikan pencerahan kepada masyarakat, sekaligus mendekonstruksi narasi-narasi besar sejarah dan meninjau kembali kebenaran sejarah yang tunggal,” jelasnya.

    Dia menunjuk contoh sejarah orang Samin yang memiliki konsep tanah hutan sejak nenek-moyang semilik mereka. Ketika orang Samin, mengambil kayu di hutan, mereka tidak tahu bahwa hutan telah beralih ke negara dan dikelola Perhutani.

    “Antara sejarah orang Samin dengan sejarah peralihan hutan itu ada kesenjangan, sehingga terjadi konflik. Orang Samin yang mengambil kayu karena menganggap milik nenek-moyangnya, harus masuk bui dan itu sering terjadi,” katanya.

    Menurut Prof. Warto, penulisan sejarah pada masa lalu, selalu dimulai dari pedalaman yang tidak mempertimbangkan pluraritas Indonesia. Pada masa depan, penulisan sejarah harus dalam koridor keindonesiaan, bukan menggunakan kebenaran tunggal tetapi harus mengngat kebinekaan.

    Dia menganggap munculnya gugatan-gugatan terhadap narasi sejarah belakangan ini wajar dan jangan menganggap narasi sejarah paling benar. Sebab, kalau terjadi distorsi penilisan sejarah akan bisa menimbulkan perdebatan yang kontra produktif.

    Bersamaan Prof. Warto, pada hari yang sama juga dikukuhkan Prof. Dr. Sariyatun, guru besar FKIP UNS. Pakar pendidikan tersebut menyampaikan orasi ilmiah terntang, “Redefinisi Nilai-nilai Filosofis Batik Klasik melalui Pembelajaran IPS untuk Ketahanan Budaya Lokal”.

    “Nilai-nilai universal sevara filosofis dalam simbol batik kasik, berlaku di kalangan masyarakat di daerah yang mengembangkan batik. Di dalam simbol-simbol batik itu terkandung kearifan budaya lokal yang harus dipertahankan melalui pendidikan,” ujarnya.

    Guru besar ilmu sosial itu menyayangkan, jika generasi muda tidak lagi mengenal nilai-nilai filosofis batik, yang di setiap daerah berbeda-beda. Dia berharap batik yang di keraton merupakan bagian dari politik dan Presiden Jokowi juga pernah menjadikan inovasi politik, didekonstruksi sehingga dapat menjadi inovasi pendidikan karakter generasi muda (pikiran-rakyat.com)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on