PT. Nabire Baru dilaporkan oleh suku besar Yerisiam ke polisi terkait ganti rugi. Kepala Suku setempat, Simon Petrus Hanebora telah melayangkan surat resmi kepada pihak polisi Nabire, 15 Januari 2015. Pemilik hak ulayat meminta pertanggunggjawaban perusahaan terkait kayu putih (kayu mix) yang diambil perusahaan dalam lahan Kebun Sawit. Selain kayu, penggunaan material pasir untuk penimbunan jalan perusahaan belum ada ganti rugi.

Konsorsium perusahaan gabungan dari PT. Nabire Baru, PT. Sariwana Unggul Mandiri dan PT. Sariwana Adi Perkasa, melanggenggkan usaha mereka dibidang kebun Sawit dan pengelolaan kayu Industri. Untuk usaha industry kayu yang dijual ke laur negeri, konsorsium ini tampil dengan perusahaan Sariwana Unggul Mandiri. Sementara Nabire Baru dan Adi Perkasa kelola kebun. Mereka kemudian menguasai lahan seluas 22 ribu hektar. Hasil-hasil didalamnya berupa sagu, kayu, rotan, dan lainnya, belum semuanya dipertanggungjawabkan perusahaan.

Maka itu, menindak lanjuti laporan warga, polres Nabire hari ini, Senin 19 Januari 2015, melalui surat N0:B/16/1/2015/BINMAS. Klasifikasi: Biasa, perihal undangan atas nama Kepala Kepolisian Resort Nabire, KASAD BINMAS Mardi Marpaung, S.Sos AKP NRP 68030176, mengadakan pertemuan dengan pelapor yang juga dihadiri puluhan warga Yerisiam. Pertemuan berlangsung di Aula Bayangkari POLRES Nabire.

Robertino Hanebora selaku Sekertaris suku ini melaporkan kepada PUSAKA bahwa mereka menuntut pertanggungjawaban perusahaan untuk ganti rugi atas hasil-hasil ulayat yang diambil perusahaan dan sampai sekarang belum ada pertanggungjawaban. Lanjut Tino, bila hari ini (senin, 15 Januari 2015), warga Yerisiam bersama kepala suku mendatangi kepolisian untuk memberikan keterangan terkait laporan yang mereka ajukan, ungkap Tino..

Perjuangan Suku Yerisiam mendapat tanggapan luas dari berbagai pihak. Salah satunya, melalui INKUIRI KOMNASHAM, persoalan Yerisia masuk agenda hearing Nasional yang diselenggarakan tahun 2014. Upaya mencari keadilan paska kedatangan perusahaan disini, sudah dilakukan sejak tahun 2009, hingga sekarang. Berbagai protes berupa surat, tatap muka dengan manajemen perusahaan, semua sudah dilakukan. Pengaduan hari ini adalah bagian yang mereka lakukan demi mendapatkan hak atas Tanah mereka.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    2 Comments

    1. yames numberi 30 Januari 2015 at 15:34 - Reply

      km dri pihak pemuda tdk munyetujui perusahan kelapa sawit karna sdh merusak hutan yg bgtu bsr.
      Dan tdk membayar hakulayat masyarakat dng baik,dan meraka sdh merusak tempat-tempat keramat yg tdk blh di rusak.

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    PT. Nabire Baru dilaporkan oleh suku besar Yerisiam ke polisi terkait ganti rugi. Kepala Suku setempat, Simon Petrus Hanebora telah melayangkan surat resmi kepada pihak polisi Nabire, 15 Januari 2015. Pemilik hak ulayat meminta pertanggunggjawaban perusahaan terkait kayu putih (kayu mix) yang diambil perusahaan dalam lahan Kebun Sawit. Selain kayu, penggunaan material pasir untuk penimbunan jalan perusahaan belum ada ganti rugi.

    Konsorsium perusahaan gabungan dari PT. Nabire Baru, PT. Sariwana Unggul Mandiri dan PT. Sariwana Adi Perkasa, melanggenggkan usaha mereka dibidang kebun Sawit dan pengelolaan kayu Industri. Untuk usaha industry kayu yang dijual ke laur negeri, konsorsium ini tampil dengan perusahaan Sariwana Unggul Mandiri. Sementara Nabire Baru dan Adi Perkasa kelola kebun. Mereka kemudian menguasai lahan seluas 22 ribu hektar. Hasil-hasil didalamnya berupa sagu, kayu, rotan, dan lainnya, belum semuanya dipertanggungjawabkan perusahaan.

    Maka itu, menindak lanjuti laporan warga, polres Nabire hari ini, Senin 19 Januari 2015, melalui surat N0:B/16/1/2015/BINMAS. Klasifikasi: Biasa, perihal undangan atas nama Kepala Kepolisian Resort Nabire, KASAD BINMAS Mardi Marpaung, S.Sos AKP NRP 68030176, mengadakan pertemuan dengan pelapor yang juga dihadiri puluhan warga Yerisiam. Pertemuan berlangsung di Aula Bayangkari POLRES Nabire.

    Robertino Hanebora selaku Sekertaris suku ini melaporkan kepada PUSAKA bahwa mereka menuntut pertanggungjawaban perusahaan untuk ganti rugi atas hasil-hasil ulayat yang diambil perusahaan dan sampai sekarang belum ada pertanggungjawaban. Lanjut Tino, bila hari ini (senin, 15 Januari 2015), warga Yerisiam bersama kepala suku mendatangi kepolisian untuk memberikan keterangan terkait laporan yang mereka ajukan, ungkap Tino..

    Perjuangan Suku Yerisiam mendapat tanggapan luas dari berbagai pihak. Salah satunya, melalui INKUIRI KOMNASHAM, persoalan Yerisia masuk agenda hearing Nasional yang diselenggarakan tahun 2014. Upaya mencari keadilan paska kedatangan perusahaan disini, sudah dilakukan sejak tahun 2009, hingga sekarang. Berbagai protes berupa surat, tatap muka dengan manajemen perusahaan, semua sudah dilakukan. Pengaduan hari ini adalah bagian yang mereka lakukan demi mendapatkan hak atas Tanah mereka.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      2 Comments

      1. yames numberi 30 Januari 2015 at 15:34 - Reply

        km dri pihak pemuda tdk munyetujui perusahan kelapa sawit karna sdh merusak hutan yg bgtu bsr.
        Dan tdk membayar hakulayat masyarakat dng baik,dan meraka sdh merusak tempat-tempat keramat yg tdk blh di rusak.

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on