Agustus 2014, dibawah rindang pohon kelapa berkumpul tokoh masyarakat Marind di Kampung Makaling, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, Papua. Seharian warga mendiskusikan keberadaan investor perkebunan tebu yang bolak balik memprovokasi masyarakat untuk menyerahkan tanah dan menjanjikan pembangunan.

Adalah PT. Dharma Agro Lestari (DAL), investor perkebunan tebu dibawah bendera Astra Group, yang sudah mengembangkan kebun percontohan di Kampung Alaku, Distrik Okaba. Tahun 2013 lalu, BKPM Provinsi Papua sudah mengeluarkan Izin Usaha Perkebunan kepada PT. DAL dengan luas lahan 50.000 hektar. Areal PT. DAL dalam skema MIFEE masuk dalam Klaster V Okaba untuk produksi Padi Sawah, namun realitasnya izin yang diberikan untuk perkebunan tebu.

Masyarakat di Kampung Makaling, Iwool dan Duv Mirah, yang perkampungannya terletak dipinggiran “Isikla” masih menolak keinginan perusahaan. April 2012, mereka menyatakan sikap penolakan ini pada tiang kahu melalui prosesi adat. “Tanah adat kami hanya diperuntukkan buat kehidupan masyarakat hari ini dan anak cucu dimasa datang”, jelas Martinus Aluend, Ketua Adat Imoh di Kampung Makaling.

Martinus menolak keinginan perusahaan karena tidak punya lahan luas dan sudah dimanfaatkan warga, “semua lahan dan hutan di tanah adat ini sudah dimanfaatkan untuk masyarakat, seperti: dusun sagu, hutan untuk tempat berburu, obat-obatan, makanan dan ritual adat, rawa tempat mencari ikan, dan sebagainya”, kata Martinus.

Secara etnografis, ketiga kampung ini dan kampung Sanggase, Alatep, Alaku, Okaba dan Wambi, berada dalam kesatuan wilayah Duv Imah, kampung-kampung dipesisir pantai yang berada sepanjang Kali Bian hingga ke Kali Buraka. Sedangkan tetangga kampung Duv Imah dibagian pedalaman dikelompokkan sebagai Timan Imah, terdiri dari: Kampung Yawimu, Yomof, Po epe, Taga epe, Nakias, Salamepe, Kwemsik, Bu epe, Ihalik, Kaniskobat, Kaptel. Disebelah timur berbatasan dengan Kali Buraka hingga ke daerah Kali Digoel terdapat kampung-kampung komunitas Maklew. Sedangkan daerah Bian ke Kali Kumbe, Komunitas di kampung-kampung sekitar pesisir Kali Bian hingga ke Kali Kumbe disebut wilayah komunitas Paleelik.

Pada September hingga Oktober 2014, selama dua minggu, perwakilan tuan dusun, kepala marga dan ketua adat, terlibat pembuatan peta tanah adat, melakukan survey pengambilan informasi data lapangan posisi batas-batas tanah adat ketiga kampung, tempat penting, hutan, rawa, kali dan dusun-dusun sagu. Mereka juga membuat gambaran peta skala secara manual tentang batas tanah adat dan penggunaan lahan di daerah tersebut.

Peta tanah adat ini menunjukkan keberadaan dan hak-hak masyarakat atas tanah. Tanah-tanah dimiliki dan dikuasai berdasarkan hukum adat setempat, sejarah penguasaan dan cerita-cerita mitologi tanah yang mengandung nilai dan norma. Tanah, hutan, rawa, kali, padang savana, dusun-dusun sagu dan perairan laut, seluruhnya digunakan oleh masyarakat dan masih dikelola secara terbatas dengan teknologi sederhana.

Gambaran Orang Malind di Kampung Makaling dan kegiatan pemetaan tanah adat bisa dilihat disini: http://pusaka.or.id/orang-marind-di-makaling-dan-pemetaan-tanah-adat/

Ank, Januari 2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Agustus 2014, dibawah rindang pohon kelapa berkumpul tokoh masyarakat Marind di Kampung Makaling, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, Papua. Seharian warga mendiskusikan keberadaan investor perkebunan tebu yang bolak balik memprovokasi masyarakat untuk menyerahkan tanah dan menjanjikan pembangunan.

    Adalah PT. Dharma Agro Lestari (DAL), investor perkebunan tebu dibawah bendera Astra Group, yang sudah mengembangkan kebun percontohan di Kampung Alaku, Distrik Okaba. Tahun 2013 lalu, BKPM Provinsi Papua sudah mengeluarkan Izin Usaha Perkebunan kepada PT. DAL dengan luas lahan 50.000 hektar. Areal PT. DAL dalam skema MIFEE masuk dalam Klaster V Okaba untuk produksi Padi Sawah, namun realitasnya izin yang diberikan untuk perkebunan tebu.

    Masyarakat di Kampung Makaling, Iwool dan Duv Mirah, yang perkampungannya terletak dipinggiran “Isikla” masih menolak keinginan perusahaan. April 2012, mereka menyatakan sikap penolakan ini pada tiang kahu melalui prosesi adat. “Tanah adat kami hanya diperuntukkan buat kehidupan masyarakat hari ini dan anak cucu dimasa datang”, jelas Martinus Aluend, Ketua Adat Imoh di Kampung Makaling.

    Martinus menolak keinginan perusahaan karena tidak punya lahan luas dan sudah dimanfaatkan warga, “semua lahan dan hutan di tanah adat ini sudah dimanfaatkan untuk masyarakat, seperti: dusun sagu, hutan untuk tempat berburu, obat-obatan, makanan dan ritual adat, rawa tempat mencari ikan, dan sebagainya”, kata Martinus.

    Secara etnografis, ketiga kampung ini dan kampung Sanggase, Alatep, Alaku, Okaba dan Wambi, berada dalam kesatuan wilayah Duv Imah, kampung-kampung dipesisir pantai yang berada sepanjang Kali Bian hingga ke Kali Buraka. Sedangkan tetangga kampung Duv Imah dibagian pedalaman dikelompokkan sebagai Timan Imah, terdiri dari: Kampung Yawimu, Yomof, Po epe, Taga epe, Nakias, Salamepe, Kwemsik, Bu epe, Ihalik, Kaniskobat, Kaptel. Disebelah timur berbatasan dengan Kali Buraka hingga ke daerah Kali Digoel terdapat kampung-kampung komunitas Maklew. Sedangkan daerah Bian ke Kali Kumbe, Komunitas di kampung-kampung sekitar pesisir Kali Bian hingga ke Kali Kumbe disebut wilayah komunitas Paleelik.

    Pada September hingga Oktober 2014, selama dua minggu, perwakilan tuan dusun, kepala marga dan ketua adat, terlibat pembuatan peta tanah adat, melakukan survey pengambilan informasi data lapangan posisi batas-batas tanah adat ketiga kampung, tempat penting, hutan, rawa, kali dan dusun-dusun sagu. Mereka juga membuat gambaran peta skala secara manual tentang batas tanah adat dan penggunaan lahan di daerah tersebut.

    Peta tanah adat ini menunjukkan keberadaan dan hak-hak masyarakat atas tanah. Tanah-tanah dimiliki dan dikuasai berdasarkan hukum adat setempat, sejarah penguasaan dan cerita-cerita mitologi tanah yang mengandung nilai dan norma. Tanah, hutan, rawa, kali, padang savana, dusun-dusun sagu dan perairan laut, seluruhnya digunakan oleh masyarakat dan masih dikelola secara terbatas dengan teknologi sederhana.

    Gambaran Orang Malind di Kampung Makaling dan kegiatan pemetaan tanah adat bisa dilihat disini: http://pusaka.or.id/orang-marind-di-makaling-dan-pemetaan-tanah-adat/

    Ank, Januari 2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on