Jayapura-Pemerintah Kota Jayapura mengaku pengawasan terhadap lingkungan yakni hutan, tanah, dan air berlawanan dengan kekuasaan pemilik lahan. “Walaupun sudah ada Peraturan Daerah (Perda) tentang pengawasan terhadap hutan, tanah, dan air, tapi kami selalu lemah ketika berhadapan dengan pemilik tanah,” kata Wali Kota Jayapura, Benhur Tommy Mano, di Jayapura, Minggu (25 Januari 2015).

buah merah di daerah kepala air kamwolker IMG_6344

buah merah di daerah kepala air kamwolker IMG_6344

Ia mengaku, terkadang pihaknya tak bisa berbuat banyak dalam menerapkan aturan itu ketika berhadapan dengan pemilik hak ulayat atau masyarakat adat. Misalnya, jika terjadi penebangan hutan, kadang pemerintah tak bisa menegur pelaku penebangan ketika ia mengaku mendapat izin dari pemilik hak ulayat.

“Merambah hutan dengan sesukannya, pemerintah tak bisa bertindak karena pemilik tanah mengizinkan,” ujarnya. Padahal, katanya, sudah ada Perda tentang penyelamatan kawasan hutan lindung cylop dan penyelamatan lingkungan sepanjang Jayapura.

Wali Kota Benhur yang juga ketua umum Persipura itu menuturkan kini pihaknya telah berupaya membangun komunikasi dengan para pemilik lahan serta tokoh adat di daerah itu.

“Kami sudah buat pertemuan dengan para tokoh adat di Jayapura dan sepakat bersama-sama menjaga lingkungan,” ujarnya. Dia menambahkan, pemerintah kota dan para tokoh adat juga telah bersepakat membatasi areal tertentu baik di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, agar wilayah yang dibatasi tidak dirusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Rambah Hutan Rusak Kepala Air Jayapura

Pada pemantauan tahun 2014 silam, nampak kebun tradisional tambah galian c disekitar daerah gunung sebagai tutupan air disini, mengakibatkan erosi dan abrasi. Saluran air yang dipakai untuk kebutuhan penduduk Jayaura dan sekitarnya ini, menjadi tidak terawat akibat kurangnya pengawasan negara disini. Dengan bebas, orang-orang bebas merambah hutan untuk berkebun bahkan ada yang menggali gunung demi memburu butiran emas.

kebun warga di samping pipa air kamwolker jayapura IMG_6370

kebun warga di samping pipa air kamwolker jayapura IMG_6370

Mata air Kamwolker, salah satu tempat yang dikenal menyuplai air ke rumah penduduk melalui saluran pipa PDAM kota Jayapura, kini sungguh memperihatinkan. Kesadaran masyarakat lokal terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekitar demi kualitas suplai bagi air bersih, begitu minim.

Bendungan air peninggalan jaman Belanda tak lagi terawat dengan baik. Hunian liar dan pembabatan hutan di sekitar mata air, mengurangi daya alir dan bahkan sebagian sudah kering. Nampak ada tembok pembatas, dimana daerah tersebut tak bisa di pakai oleh siapun, sebagai peringatan bahwa disini khusus bagi pelindung mata air.

lahan kebun warga di areal konservasi jayapura IMG_6371

lahan kebun warga di areal konservasi jayapura IMG_6371

Merambah hutan dengan cara tradisional memang tidak selalu mematikan air, tapi, ketika permbahan hutan gunung dilakukan terus menerus, justru mengurangi daya serapan bagi air. Apalagi dilakukan tepat di mata air (kepala air). Kerusakan hutan memberi jalan kepada longsor dan gugurnya perawan penampungan air.

Otsus kasi ruang kepada orang Papua untuk seharusnya menjaga dan merawat Tanah Papua, bukan merusaknya. Kesadaran mencintai lingkungan yang minim, mengakibatkan, ancaman bagi kurangnya volume penampungan air yang diharapkan menyuplai air bersih ke seluruh penduduk kota ini. Apa daya, pemkot tidak menertibkan hunian liar dan membatasi penebangan liar disini, tahun-tahun akan datang, masyarakat disini justru terancam tidak ada air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jayapura-Pemerintah Kota Jayapura mengaku pengawasan terhadap lingkungan yakni hutan, tanah, dan air berlawanan dengan kekuasaan pemilik lahan. “Walaupun sudah ada Peraturan Daerah (Perda) tentang pengawasan terhadap hutan, tanah, dan air, tapi kami selalu lemah ketika berhadapan dengan pemilik tanah,” kata Wali Kota Jayapura, Benhur Tommy Mano, di Jayapura, Minggu (25 Januari 2015).

    buah merah di daerah kepala air kamwolker IMG_6344

    buah merah di daerah kepala air kamwolker IMG_6344

    Ia mengaku, terkadang pihaknya tak bisa berbuat banyak dalam menerapkan aturan itu ketika berhadapan dengan pemilik hak ulayat atau masyarakat adat. Misalnya, jika terjadi penebangan hutan, kadang pemerintah tak bisa menegur pelaku penebangan ketika ia mengaku mendapat izin dari pemilik hak ulayat.

    “Merambah hutan dengan sesukannya, pemerintah tak bisa bertindak karena pemilik tanah mengizinkan,” ujarnya. Padahal, katanya, sudah ada Perda tentang penyelamatan kawasan hutan lindung cylop dan penyelamatan lingkungan sepanjang Jayapura.

    Wali Kota Benhur yang juga ketua umum Persipura itu menuturkan kini pihaknya telah berupaya membangun komunikasi dengan para pemilik lahan serta tokoh adat di daerah itu.

    “Kami sudah buat pertemuan dengan para tokoh adat di Jayapura dan sepakat bersama-sama menjaga lingkungan,” ujarnya. Dia menambahkan, pemerintah kota dan para tokoh adat juga telah bersepakat membatasi areal tertentu baik di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, agar wilayah yang dibatasi tidak dirusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

    Rambah Hutan Rusak Kepala Air Jayapura

    Pada pemantauan tahun 2014 silam, nampak kebun tradisional tambah galian c disekitar daerah gunung sebagai tutupan air disini, mengakibatkan erosi dan abrasi. Saluran air yang dipakai untuk kebutuhan penduduk Jayaura dan sekitarnya ini, menjadi tidak terawat akibat kurangnya pengawasan negara disini. Dengan bebas, orang-orang bebas merambah hutan untuk berkebun bahkan ada yang menggali gunung demi memburu butiran emas.

    kebun warga di samping pipa air kamwolker jayapura IMG_6370

    kebun warga di samping pipa air kamwolker jayapura IMG_6370

    Mata air Kamwolker, salah satu tempat yang dikenal menyuplai air ke rumah penduduk melalui saluran pipa PDAM kota Jayapura, kini sungguh memperihatinkan. Kesadaran masyarakat lokal terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekitar demi kualitas suplai bagi air bersih, begitu minim.

    Bendungan air peninggalan jaman Belanda tak lagi terawat dengan baik. Hunian liar dan pembabatan hutan di sekitar mata air, mengurangi daya alir dan bahkan sebagian sudah kering. Nampak ada tembok pembatas, dimana daerah tersebut tak bisa di pakai oleh siapun, sebagai peringatan bahwa disini khusus bagi pelindung mata air.

    lahan kebun warga di areal konservasi jayapura IMG_6371

    lahan kebun warga di areal konservasi jayapura IMG_6371

    Merambah hutan dengan cara tradisional memang tidak selalu mematikan air, tapi, ketika permbahan hutan gunung dilakukan terus menerus, justru mengurangi daya serapan bagi air. Apalagi dilakukan tepat di mata air (kepala air). Kerusakan hutan memberi jalan kepada longsor dan gugurnya perawan penampungan air.

    Otsus kasi ruang kepada orang Papua untuk seharusnya menjaga dan merawat Tanah Papua, bukan merusaknya. Kesadaran mencintai lingkungan yang minim, mengakibatkan, ancaman bagi kurangnya volume penampungan air yang diharapkan menyuplai air bersih ke seluruh penduduk kota ini. Apa daya, pemkot tidak menertibkan hunian liar dan membatasi penebangan liar disini, tahun-tahun akan datang, masyarakat disini justru terancam tidak ada air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on