Riwayat Konsensi Perusahaan di Wilayah Adat Yerisiam Tanah Papua

3
626
areal sawit pt.nabire baru di km 12 nabire Papua
areal sawit pt.nabire baru di km 12 nabire Papua

Tiga perseroan yang beroperasi di wilayah adat Yerisiam merupakan konsorsium yang sama. PT. Sariwana Unggul Mandiri pertama masuk untuk tebang kayu. Ijin pengelolaan kayu indsutri (IPK). Lahan yang tadinya dikuasai Sariwana mandiri, kemudian dialihkan ke usaha kebun dengan nama PT. Nabire Baru dan Sariwana Adi Perkasa. Lokasi utama dengan luas lahan 17.000 hektar, kemudian dibagi menjadi tiga kebun. Kebun utama dikelola oleh PT. Nabire Baru, sedangkan sebagian dikelola secara terpisah oleh PT.Sariwana Adi Perkasa.

Sementara PT. Sariwana Unggul mandiri mengelola kayu indusri yang ditebang dari kebun (kayu lean clearing). Ijin ketiga PT diatas kemudian dibagi-bagi fungsi ijin. IPK dipegang oleh Sariwana Unggul Mandiri sedangkan Nabire baru dan Sariwana Adi Perkasa kantongi ijin kebun.

Letak areal operasi ketiga perusahaan diatas berada di tanah adat suku besar Yerisiam. Suku ini berada di ujung barat Kabupaten Nabire. Berdekatan dengan teluk cenderawasih. Perusahaan tersebut juga berada diantara hutan lindung dan taman konservasi teluk cenderawaih.

Lahan tersebut diakuisi oleh mereka dari lelang kementerian hutan tahun 1998 dimana hampir seluruh Nabire sudah dikapling oleh PT. Jati Dharma Indah. Perseroan usaha HPH yang tersebar Nabire, Kaimana dan Merauke. Berbekal HGU dan IPK, perusahaan merayu sebagian orang dari Suku Yerisiam. Marga Money kemudian melakukan hubungan mulus dengan perusahaan.

Perjalanan Ke Lokasi

Wilayah tersebut berada kampung Sima, Wami, distrik Yaur dan Kampung Wanggar Distrik Yaro Nabire Barat.   Melewati 8 kali besar;

  1. Wadio
  2. Bumi
  3. Wanggar
  4. Yaro
  5. Wami
  6. Bambu
  7. Waumi
  8. Sima.

Jarak dari ruas jalan ke laut rata-rata 10-20 km. Sepanjang jalan, tumpukan kayu olahan industri per kubikasi yang dikelola perorangan maupun usaha besar. Kali Bambu merupakan TKP dimana Otis Rumaropen, seorang warga sipil yang ditangkap oleh aparat Brimob dengan tuduhan separatis. Otis sendiri adalah anggota satuan pamong praja yang berbulan-bulan lamanya tak melaksanakan tugasnya. Disini juga kerap kali ada cekcokan antar masyarakat sepempat dengan pengusaha kayu.

Dari pusat kota Nabire, perjalanan kearah barat sepanjang pesisir, lalui daerah trasmigrasi (SP I-IV), kemudian kampung wanggar, kampung Wami dan Sima. Sementara Wilayah administratif Kabupaten Nabire sendiri, dari letak huniannya, daerah ini diapit oleh pemukiman transmigrasi. Persebaran trans di arah sebelah Timur dan barat, tengah-tengahnya berdiri perkantoran Negara yang juga pusat kota. Daerah selatan kabupaten ini berbatasan dengan pegunungan yang menuju enarotali, Paniai, dan daerah pegunungan Papua. Sebelah Utara berbatasan dengan laut.

Peradaban Suku Yerisiam terdiri atas

  1. Suku Waoha terdapat marga Hanebora, Money, Inggeruhi dan Refasi
  2. Suku Akaba terdapat marga Yarawobi, Waropen, Henawi, Yoweni.
  3. Suku Sarakwari terdapat marga Akubar, Nanaur, Kowoi.
  4. Suku Koroba terdapat marga Rumirawi, Maniburi, Marariampi, Waremuna.

Suku besar mendirikan dua koperasi. Akta Pendirian Koperasi Bumiowi Nomor 555/245/BH/ONDAGKOP Tanggal 22 Agustus 2007.

Mendiami pesisir barat Kabupaten Nabire, Suku Yerisiam dahulu dikenal dengan nama suku Bedu atau Beduba. Awalnya menetap di kampung Hamuku, lalu pindah lagi dan kini menetap di kampung Sima. Sima dalam bahasa Yerisiam artinya kamu turun dulu nanti jadi satu. Sedangkan Hamuku artinya kamu timba dulu. Hubungan kekerabatan tersebar ke daerah lain yang satu nyawa dengan Yerisiam, antara lain daerah selatan seperti Jamor, Erega, Etahima, Mairasi dll. Persebaran suku ke wilayah lainnya maupun pergantian nama suku terjadi akibat akulturasi budaya dan perang hongi.

Sekarang, sebagian suku Yerisiam yang mendiami kampung Sima diapit oleh tiga perusahaan. PT. Nabire Baru, PT. Sariwana Unggul Mandiri dan PT. Sariwana Adi Perkasa. Tiga pemodal diatas menguasai 17.000-22.000 hektar lahan. Tiga usaha diatas dikepalai oleh Imam Basrowi (orang Jogja).

Terdapat tempat keramat, dusun sagu dan hutan lindung.

  1. Kampung lama Hamuku/Parigi (hunian masyarakat yang kini berada di Kampung sima).
  2. Air terjun Wagoha
  3. Gunung Neggo
  4. Lapangan Sima (Peradaban Suku Yerisiam)
  5. Dusun sagu Hagami
  6. Daerah Konservasi Teluk Cenderawasih

Proses Ijin

  1. Pemilik Hak Ulayat

Rabu 15 Oktober 2008 penandatangan serah terima hak ulayat oleh Yunus Money kepada Imam Basrowi. Dengan batas-batas:

Sebelah utara berbatasan dengan Laut/Teluk Sarera

Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Ajare

Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Bebi

Sebelah Barat berbatasan dengan sungai Bambu sebelah Timur

Isi Perjanjian:

  1. Menyerahkan areal seluas 17.000 hektar beserta potensi alam yang ada diatas areal tersebut kepada pihak PT. Nabire Baru (Imam Basrowi) untuk mengambil serta mengelola hasil berupa kayu merbau yang ada diatas tanah adat.
  2. Pemilik hak ulayat bertanggungjawab penuh atas keamanan perusahaan.
  3. Pemerintah
  4. SK Gubernur Provinsi Papua N0.142 Tahun 2008 Tentang Pemberian Ijin Usaha Perkebunan Kepada PT. Nabire Baru. Ditetapkan di Jayapura pada tanggal 30 Desember 2008.
  5. Keputusan Bupati Kabupaten Nabire Nomor 74 Tahun 2010 tentang Pemberian izin Lokasi Untuk Keperluan Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit Kepada PT. Nabire Baru Seluas 17.000 Ha Yang Terletak di Kampung Sima Distrik Yaur Kabupaten Nabire. SK tersebut ditetapkan di Nabire pada tanggal 14 Juni 2010, sekaligus mencabut (melalui SK pencabutan Nomor 75/2010).
  6. Rekomendasi Bupati Nabire Nomor 503/0082/SET tanggal 24 Januari 2008 tentang Pencadangan Areal Untuk Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) Atas Nama PT.Nabire Baru
  7. Surat Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua Nomor 522.1/3176 tanggal 26 Agustus 2011 tentang Pertimbangan Teknis izin Pemanfaatan Kayu (IPK) atas nama PT.Sariwana Unggul Mandiri.
  8. SK Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Nabire Nomor 522.1/394/Dishut/2014 Tentang Pemberian Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) Kepada PT.Sariwana Unggul Mandiri Pada Areal Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Nabire. SK tersebut sekaligus mencabut SK 522.1/567/Dishut/2012. Ditetapkan di Nabire 30 Mei 2014.

Kronologis Perjuangan Suku Yerisiam 2011-2014:

  1. 22 September 2011, Kepala Suku Besar Yerisiam mengirim Surat kepada pihak Kepolisian Nabire untuk memediasi pertemuan antara pemilik hak ulayat dengan Direktur Nabire Baru (Imam Basrowi).
  2. 24 Oktober 2011, Kepala Suku Besar Yerisiam kirim surat kepada KOMNASHAM (Ridha Saleh) untuk memediasi pertemuan antara rombongan kepala suku dengan Pansus DPRD Nabire, Menteri/Dirjen Kehutanan serta Mitra Kerja PT. Nabire Baru
  3. 31 Juli 2012, Suku Yerisiam kirim surat:
  4. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Nabire soal penangguhan atas rencana pelaksanaan AMDAL perkebunan kelapa sawit PT. Nabire Baru sekaligus meminta penjelasan atas pelaksanaan amdal yang mau diadakan.
  5. Meminta kepala dinas kehutanan setempat untuk data kubikasi di areal perkebuna.
  6. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Nabire soal AMDAL
  7. 26 Agustus 2013, Suku Yerisiam kirim surat ke Ketua DPRD Nabire untuk mediasi pertemuan antara pemilik hak ulayat dengan perusahaan Nabire Baru soal ganti rugi kayu lean clearing.
  8. 3 Juni 2013, Suku Yerisiam mengadu ke POLDA Papua soal ganti rugi kayu dan rotan sekaligus meminta investigasi dari polisi ke lapangan.
  9. 21 September 2013, Suku Yerisiam keluarkan pers realize sebagai protes atas pendekatan militer dibalik hadirnya PT. Nabire Baru
  10. 6 November 2013, Suku Besar Yerisiam keluarkan 10 pernyataan sikap kepada BAPEDALDA Papua menolak AMDAL PT.Nabire Baru.
  11. 21 Juli 2014, Koperasi Bumiowi keluarkan surat protes 05/SP-KP.BMW/VIII/2014 tentang penarikan PAM Brimob dari areal kebun Sawit.

Para aktor investasi

  1. PT. Jati Dharma Indah, Direkturnya Richard Leimena, usaha kayu HPH di Naibre, Merauke, Kaimana dan Bintuni. Kawasan Nabire awalnya di kuasai oleh mereka, sebelum diakuisi oleh PT.Nabire Baru dari PT.Harvest via lelang lahan di kemenhut tahun 1990an.
  2. Imam Basrowi punya konsorsium bersama yang muncul dengan PT. Sariwana Unggul mandiri, PT. Sariwana Adi Perkasa dan PT. Nabire Baru. Usaha kayu gergajian (somel) dikelola oleh PT. Sariwana Unggul Mandiri, punya dua pabrik gergajian. Ekspor kayu ke Surabaya dan Singapura. Sementara PT. Nabire Baru kelola kebun utama sawit bersama PT. Sariwana Adi Perkasa.
  3. Di lingkup pemerintahan, konsensi lahan di berikan oleh eks menteri MS. Kaban, eks Gubernur Papua Barnabas Suebu dan eks Bupati Nabire A.P Youw.

Versi PDF: Riwayat Konsensi Perusahaan di Wilayah Adat Yerisiam Tanah Papua

Disajikan pada Juli-Agustus 2014 oleh:

  1. Simon Petrus Hanebora (Kepala Suku Besar Yerisiam)
  2. Robertino Hanebora (Sekertaris Suku Besar Yerisiam)
  3. Yunus Money (Ketua Koperasi Bumiowi)
  4. Arkilaus Baho (PUSAKA)