Maret 2015, kami mengunjungi Kampung Werianggi, Distrik Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Perjalanan dimulai dari Windesi, salah satu kampung tua dipesisir teluk Cendrawasih. Dari Windesi ke Werianggi menggunakan motor sewa ‘ojek’ menempuh jalan aspal sejauh sembilan kilometer melewati bukit terjal hingga tiba didataran Werianggi. Ada dua kampung didataran yang dikelilingi bukit ini, yakni: Kampung Werianggi dan Tamoge.

Kampung Tamoge masih baru dimekarkan dari Kampung Werianggi, jumlah penduduk di Kampung Tamoge sekitar 63 Kepala Keluarga (KK), yang menempati sekitar 50 bangunan rumah proyek transmigrasi. Tahun 2010 dan 2011, pemerintah mengembangkan program transmigrasi mendatangkan 200 KK penduduk lokal dari Wasior, Manokwari, Bintuni dan sekitarnya. Mereka menempati dataran dibagian barat Kampung Werianggi.

Kampung Werianggi sendiri mempunyai penduduk sekitar 254 jiwa (73 KK). Kebanyakan penduduk didaerah ini mempunyai mata pencaharian dari mengolah hasil hutan, bertani dan berburu. Sumber pendapatan diperoleh dari mengusahakan kayu gaharu, kulit masohi  dan kulit lawang, yang dilakukan pada waktu tertentu. Pada waktu tertentu, masyarakat mengusahakan sagu dan buah-buahan, seperti: durian dan langsat. Masyarakat mempunyai sumber pangan yang banyak dari hutan dan kebun-kebun tua. (Lihat Lansekap Kampung Werianggi:  http://pusaka.or.id/lansekap-dan-perkampungan-werianggi-papua-barat/)

Tahun 2013 lalu, Moses Nasey datang berkunjung ke Kampung Werianggi, dihadapan tokoh-tokoh masyarakat setempat, Moses menyampaikan maksudnya untuk mengembangkan perkebunan karet didaerah Werianggi dan Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Moses Nasey disebut-sebut sebagai tokoh Papua dan katanya bergelar “profesor” tinggal di pulau Jawa. Tetapi tokoh masyarakat Werianggi dan Windesi tidak banyak yang tahu keberadaan Moses, selain sebagai ‘orang perusahaan’ PT. Berkat Setiakawan Abadi (BSA).

Sebenarnya, semenjak tahun 2008, PT. BSA sudah mendapatkan SK Bupati Teluk Wondama Nomor 11 tahun 2008 tentang Izin Lokasi Perkebunan Karet seluas 9.700 hektar dan mengantongi SK Bupati Teluk Wondama Nomor 24 Tahun 2008 tentang Izin Usaha Perkebunan (IUP) berlokasi di Kampung Werianggi dan Sabubar, Distrik Nikiwar.

Hasil pengecekan teknis teknis Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat (2008) menunjukkan lokasi PT. BSA berada di kawasan hutan fungsi Hutan Produksi Konversi (HPK), bekas areal konsesi HPH/IUPHHK-HA PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I, dengan kondisi fisik datar dan bergelombang hingga kemiringan 0 – 25 % yang cocok untuk pengembangan kegiatan perkebunan. PT. BSA diwajibkan untuk mengurus mengajukan surat pelepasan kawasan hutan ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Pada November 2008 dan Desember 2010, PT. BSA bermohon kepada Kemenhut untuk pelepasan kawasan hutan seluas 10.397 ha berlokasi di Distrik Nikiwar, Kemenhut lalu mengeluarkan Surat Persetujuan Prinsip pelepasan kawasan Hutan Produksi Konversi pada tahun 2011 kepada PT. BSA dengan areal seluas 9.040 hektar.

Entah mengapa, PT. BSA tidak segera bertindak dilapangan sehingga Kemenhut tidak mengeluarkan surat pelepasan kawasan hutan. Masyarakat setempat juga tidak mengetahui rencana PT. BSA dan kebijakan pemerintah maupun Kemenhut terkait pengurusan hak pemanfaatan tanah dan kawasan hutan setempat.

Tahun 2010, marga-marga pemilik tanah dan kawasan hutan di wilayah Werianggi melepaskan hak atas tanah dan hutan untuk program transmigrasi lokal dan pemekaran kampung di Tamoge. Warga kampung sekitar dari Werianggi, Werabur, Windesi, Idoor, Wasior dan sekitarnya, menjadi peserta program transmigrasi ini. Selain penduduk asal Papua, terdapat pula warga trans asal Toraja, Bugis, Manado dan Jawa.

Kehadiran penduduk dan proyek infrastruktur transmigrasi inilah yang diperkirakan mendorong PT. BSA bergerak aktif meminta dukungan masyarakat setempat, mengurusi izin dan melakukan penataan batas. Modusnya, perusahaan butuh tenaga kerja dan dapat diperoleh dari kampung transmigrasi, biayanya bisa lebih murah dibanding mendatangkan penduduk dari luar Papua dan beresiko ditolak masyarakat adat setempat.

Berdasarkan pertimbangan Dirjen Planologi Kehutanan, Menteri Kehutanan memberikan restu atas permohonan PT. BSA dan menerbitkan surat keputusan Nomor SK.13/Menhut-II/2014 tentang pelepasan kawasan hutan yang dapat dikonversi untuk perkebunan karet seluas 8.937,39 hektar pada 6 Januari 2014. Keputusan tersebut antara lain memuat PT. BSA berkewajiban menyelesaikan hak-hak pihak ketiga pada kawasan hutan dimaksud, melaksanakan tanggung jawab sosial dengan memberdayakan masyarakat setempat, membangun landscape perkebunan karet yang memenuhi kriteria High Conservation Value Forest (HCVF), serta membangun sistem informasi kepada publik.

Menurut SK Menhut tersebut, tutupan lahan dari kawasan hutan lokasi PT. BSA dimaksud, terdiri dari: hutan bekas tebangan (106 hektar), belukar muda (7.954 hektar), tertutup awan (877 hektar). Lokasi dimaksud dahulu merupakan areal eks tebangan konsesi HPH/IUPHHK PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I dan kini sebagian daerah dataran dan lereng di lokasi tersebut sudah dikelola oleh masyarakat dan program transmigrasi.

Masyarakat Terbelah

Menurut John Kurube, tokoh masyarakat asal Werianggi, keberadaan PT. BSA masih kontroversial, tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat adat setempat. “Pada waktu pertemuan dengan pihak perusahaan di Wasior pada tahun 2013, masyarakat sebagian besar menolak investasi perkebunan karet, alasannya masyarakat ingin mengelola sendiri wilayahnya dan belum mengetahui manfaat perkebunan tersebut bagi masyarakat”, jelas John Kurube.

Perihal sikap penolakan masyarakat ini dibenarkan oleh Sekretaris Kampung Werianggi, Admon Tetiorim, “Kami sudah pernah merasakan dampak kehadiran perusahaan HPH PT. Wapoga, hasil hutan kayu habis dibawa keluar dan masyarakat tidak memperoleh manfaat”, ungkap Admon.

Ada juga kelompok kecil masyarakat yang menghendaki kehadiran perusahaan PT. BSA. Melkianus Wettebossi, Kepala Kampung Werianggi, mengemukakan “Kehadiran perusahaan akan meningkatkan pembangunan di daerah Werianggi dan sekitarnya, terbukanya akses transportasi yang lebih baik, memudahkan masyarakat untuk memasarkan hasil hutan dan kebun, serta meningkatkan pendapatan”, jelas Melkianus.

Hingga hari ini, tokoh-tokoh masyarakat adat setempat dan Kepala Marga, Marga Kurube, Werianggi dan Tetiorim, belum mempunyai sikap bulat dan bermufakat menyetujui rencana PT. BSA di daerah ini. Dilapangan, aktivitas PT. BSA juga belum kelihatan.

Bisnis BSA

Masyarakat di Werianggi tidak banyak tahu keberadaan dan kinerja PT. BSA, informasinya terbatas, sehingga masyarakat hanya duga-duga saja dari apa yang dilihat dan dijanjikan PT. BSA. Mereka juga tidak pernah membaca dan diperlihatkan dokumen resmi perusahaan, AMDAL dan perizinan, tidak ada informasi alternatif yang diperoleh masyarakat, kebanyakan sumber informasi hanya dari penyampaian Moses dan orang perusahaan lainnya.

Kami mendapatkan dokumen perusahaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Teluk Wondama. Diketahui, PT. Berkat Setiakawan Abadi didirikan tahun 2007 oleh Yosep Park, asal Korea, Hankwan Su, asal Korea, keduanya telah menjadi WNI dan tinggal di Jakarta, serta Abdullah Empy Lateka. Ketiganya merupakan pemilik saham PT. BSA. Kini, PT. BSA berkantor di Sampoerna Strategic Square, South Tower, 18th Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav 45-46, Jakarta, Direktur Utama PT. BSA bernama Yosep Park.

Dalam dokumen yang dikeluarkan Notaris Umar Saili, SH (2007), diketahui bisnis PT. BSA sangat beragam mencakup perdagangan, pembangunan, jasa, industri, pertambangan, percetakan, pertanian, perbengkelan dan transportasi. Untuk usaha pertanian, PT. BSA mengembangkan agro industri, industri pertanian, peternakan, perikanan darat/laut dan pertambakan, perkebunan, kehutanan, agro bisnis (perdagangan hasil pertanian). Tidak ada informasi khusus berhubungan dengan kinerja PT. BSA dalam perkebunan karet.

Ank, Maret 2015

[contact-form-7 404 "Not Found"]
Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Maret 2015, kami mengunjungi Kampung Werianggi, Distrik Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Perjalanan dimulai dari Windesi, salah satu kampung tua dipesisir teluk Cendrawasih. Dari Windesi ke Werianggi menggunakan motor sewa ‘ojek’ menempuh jalan aspal sejauh sembilan kilometer melewati bukit terjal hingga tiba didataran Werianggi. Ada dua kampung didataran yang dikelilingi bukit ini, yakni: Kampung Werianggi dan Tamoge.

    Kampung Tamoge masih baru dimekarkan dari Kampung Werianggi, jumlah penduduk di Kampung Tamoge sekitar 63 Kepala Keluarga (KK), yang menempati sekitar 50 bangunan rumah proyek transmigrasi. Tahun 2010 dan 2011, pemerintah mengembangkan program transmigrasi mendatangkan 200 KK penduduk lokal dari Wasior, Manokwari, Bintuni dan sekitarnya. Mereka menempati dataran dibagian barat Kampung Werianggi.

    Kampung Werianggi sendiri mempunyai penduduk sekitar 254 jiwa (73 KK). Kebanyakan penduduk didaerah ini mempunyai mata pencaharian dari mengolah hasil hutan, bertani dan berburu. Sumber pendapatan diperoleh dari mengusahakan kayu gaharu, kulit masohi  dan kulit lawang, yang dilakukan pada waktu tertentu. Pada waktu tertentu, masyarakat mengusahakan sagu dan buah-buahan, seperti: durian dan langsat. Masyarakat mempunyai sumber pangan yang banyak dari hutan dan kebun-kebun tua. (Lihat Lansekap Kampung Werianggi:  http://pusaka.or.id/lansekap-dan-perkampungan-werianggi-papua-barat/)

    Tahun 2013 lalu, Moses Nasey datang berkunjung ke Kampung Werianggi, dihadapan tokoh-tokoh masyarakat setempat, Moses menyampaikan maksudnya untuk mengembangkan perkebunan karet didaerah Werianggi dan Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

    Moses Nasey disebut-sebut sebagai tokoh Papua dan katanya bergelar “profesor” tinggal di pulau Jawa. Tetapi tokoh masyarakat Werianggi dan Windesi tidak banyak yang tahu keberadaan Moses, selain sebagai ‘orang perusahaan’ PT. Berkat Setiakawan Abadi (BSA).

    Sebenarnya, semenjak tahun 2008, PT. BSA sudah mendapatkan SK Bupati Teluk Wondama Nomor 11 tahun 2008 tentang Izin Lokasi Perkebunan Karet seluas 9.700 hektar dan mengantongi SK Bupati Teluk Wondama Nomor 24 Tahun 2008 tentang Izin Usaha Perkebunan (IUP) berlokasi di Kampung Werianggi dan Sabubar, Distrik Nikiwar.

    Hasil pengecekan teknis teknis Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat (2008) menunjukkan lokasi PT. BSA berada di kawasan hutan fungsi Hutan Produksi Konversi (HPK), bekas areal konsesi HPH/IUPHHK-HA PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I, dengan kondisi fisik datar dan bergelombang hingga kemiringan 0 – 25 % yang cocok untuk pengembangan kegiatan perkebunan. PT. BSA diwajibkan untuk mengurus mengajukan surat pelepasan kawasan hutan ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

    Pada November 2008 dan Desember 2010, PT. BSA bermohon kepada Kemenhut untuk pelepasan kawasan hutan seluas 10.397 ha berlokasi di Distrik Nikiwar, Kemenhut lalu mengeluarkan Surat Persetujuan Prinsip pelepasan kawasan Hutan Produksi Konversi pada tahun 2011 kepada PT. BSA dengan areal seluas 9.040 hektar.

    Entah mengapa, PT. BSA tidak segera bertindak dilapangan sehingga Kemenhut tidak mengeluarkan surat pelepasan kawasan hutan. Masyarakat setempat juga tidak mengetahui rencana PT. BSA dan kebijakan pemerintah maupun Kemenhut terkait pengurusan hak pemanfaatan tanah dan kawasan hutan setempat.

    Tahun 2010, marga-marga pemilik tanah dan kawasan hutan di wilayah Werianggi melepaskan hak atas tanah dan hutan untuk program transmigrasi lokal dan pemekaran kampung di Tamoge. Warga kampung sekitar dari Werianggi, Werabur, Windesi, Idoor, Wasior dan sekitarnya, menjadi peserta program transmigrasi ini. Selain penduduk asal Papua, terdapat pula warga trans asal Toraja, Bugis, Manado dan Jawa.

    Kehadiran penduduk dan proyek infrastruktur transmigrasi inilah yang diperkirakan mendorong PT. BSA bergerak aktif meminta dukungan masyarakat setempat, mengurusi izin dan melakukan penataan batas. Modusnya, perusahaan butuh tenaga kerja dan dapat diperoleh dari kampung transmigrasi, biayanya bisa lebih murah dibanding mendatangkan penduduk dari luar Papua dan beresiko ditolak masyarakat adat setempat.

    Berdasarkan pertimbangan Dirjen Planologi Kehutanan, Menteri Kehutanan memberikan restu atas permohonan PT. BSA dan menerbitkan surat keputusan Nomor SK.13/Menhut-II/2014 tentang pelepasan kawasan hutan yang dapat dikonversi untuk perkebunan karet seluas 8.937,39 hektar pada 6 Januari 2014. Keputusan tersebut antara lain memuat PT. BSA berkewajiban menyelesaikan hak-hak pihak ketiga pada kawasan hutan dimaksud, melaksanakan tanggung jawab sosial dengan memberdayakan masyarakat setempat, membangun landscape perkebunan karet yang memenuhi kriteria High Conservation Value Forest (HCVF), serta membangun sistem informasi kepada publik.

    Menurut SK Menhut tersebut, tutupan lahan dari kawasan hutan lokasi PT. BSA dimaksud, terdiri dari: hutan bekas tebangan (106 hektar), belukar muda (7.954 hektar), tertutup awan (877 hektar). Lokasi dimaksud dahulu merupakan areal eks tebangan konsesi HPH/IUPHHK PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I dan kini sebagian daerah dataran dan lereng di lokasi tersebut sudah dikelola oleh masyarakat dan program transmigrasi.

    Masyarakat Terbelah

    Menurut John Kurube, tokoh masyarakat asal Werianggi, keberadaan PT. BSA masih kontroversial, tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat adat setempat. “Pada waktu pertemuan dengan pihak perusahaan di Wasior pada tahun 2013, masyarakat sebagian besar menolak investasi perkebunan karet, alasannya masyarakat ingin mengelola sendiri wilayahnya dan belum mengetahui manfaat perkebunan tersebut bagi masyarakat”, jelas John Kurube.

    Perihal sikap penolakan masyarakat ini dibenarkan oleh Sekretaris Kampung Werianggi, Admon Tetiorim, “Kami sudah pernah merasakan dampak kehadiran perusahaan HPH PT. Wapoga, hasil hutan kayu habis dibawa keluar dan masyarakat tidak memperoleh manfaat”, ungkap Admon.

    Ada juga kelompok kecil masyarakat yang menghendaki kehadiran perusahaan PT. BSA. Melkianus Wettebossi, Kepala Kampung Werianggi, mengemukakan “Kehadiran perusahaan akan meningkatkan pembangunan di daerah Werianggi dan sekitarnya, terbukanya akses transportasi yang lebih baik, memudahkan masyarakat untuk memasarkan hasil hutan dan kebun, serta meningkatkan pendapatan”, jelas Melkianus.

    Hingga hari ini, tokoh-tokoh masyarakat adat setempat dan Kepala Marga, Marga Kurube, Werianggi dan Tetiorim, belum mempunyai sikap bulat dan bermufakat menyetujui rencana PT. BSA di daerah ini. Dilapangan, aktivitas PT. BSA juga belum kelihatan.

    Bisnis BSA

    Masyarakat di Werianggi tidak banyak tahu keberadaan dan kinerja PT. BSA, informasinya terbatas, sehingga masyarakat hanya duga-duga saja dari apa yang dilihat dan dijanjikan PT. BSA. Mereka juga tidak pernah membaca dan diperlihatkan dokumen resmi perusahaan, AMDAL dan perizinan, tidak ada informasi alternatif yang diperoleh masyarakat, kebanyakan sumber informasi hanya dari penyampaian Moses dan orang perusahaan lainnya.

    Kami mendapatkan dokumen perusahaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Teluk Wondama. Diketahui, PT. Berkat Setiakawan Abadi didirikan tahun 2007 oleh Yosep Park, asal Korea, Hankwan Su, asal Korea, keduanya telah menjadi WNI dan tinggal di Jakarta, serta Abdullah Empy Lateka. Ketiganya merupakan pemilik saham PT. BSA. Kini, PT. BSA berkantor di Sampoerna Strategic Square, South Tower, 18th Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav 45-46, Jakarta, Direktur Utama PT. BSA bernama Yosep Park.

    Dalam dokumen yang dikeluarkan Notaris Umar Saili, SH (2007), diketahui bisnis PT. BSA sangat beragam mencakup perdagangan, pembangunan, jasa, industri, pertambangan, percetakan, pertanian, perbengkelan dan transportasi. Untuk usaha pertanian, PT. BSA mengembangkan agro industri, industri pertanian, peternakan, perikanan darat/laut dan pertambakan, perkebunan, kehutanan, agro bisnis (perdagangan hasil pertanian). Tidak ada informasi khusus berhubungan dengan kinerja PT. BSA dalam perkebunan karet.

    Ank, Maret 2015

    [contact-form-7 404 "Not Found"]
    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on