Lokasi hutan desa tersebut berada diantara Sungai Kampar dan laut. Berada di tengah kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) perusahaan. Lahan hutan yang luasnya mencapai 2.270 hektare itu sudah ditanami masyarakat jelutung, karet, dan tanaman keras lainnya. Bahkan, masyarakat menjaga kawasan hutan desa itu dengan hati mereka.

Siang itu pada awal bulan Maret lalu, Riau Pos bersama dengan Tokoh Pemuda Masyarakat Desa Segamai Eri Hariyanto, berkesempatan melihat pemandangan alam hijau di lokasi itu. Dari Kecamatan Pangkalan Kerinci menuju lokasi harus menempuh perjalanan dengan menggunakan speed boat dari bawah jembatan penyebrangan tepatnya di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan.

Tidak sampai disitu untuk menuju kawasan hutan Desa Segamai harus melalui kanal perusahaan. Dari Desa Segamai lalu menyebrang melewati perusahaan mempergunakan pompong. Lokasinya pas di pertemuan antara sungai dan laut. Lahan yang sebelumnya kosong karena illegal loging tahun 2000 an lalu yang memang berada di sekitar lokasi, sekarang sudah ditanam masyarakat dan tampak rindang kembali.

Kondisi hutanyang masih alami terlihat jelas ditempat tersebut. Walau dikelilingi kanal perusahaan, lahan yang memang gambut ini memiliki keanekaragam hayati eksotik. Di lokasi ini tumbuh juga pohon yang usianya mencapai setengah abad.

Masyarakat disini mempertahankan pohon yang ada. Mereka berusaha di dalam kawasan itu tanpa mengambil kayunya. Sebaliknya, masyarakat sekitar melakukan banyak aktifitas reboisasi, bloking kanal, dan penanaman pohon yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan keindahan alam di kawasan hutan desa tersebut.

Dalam perjalanan ke lokasi akar pohon meranti dengan diameter pelukan dua orang dewasa masih terlihat. Dedaunan kering berjatuhan di bawah pohon tinggi itu. Tanahnya yang becek terasa berat melangkah. Karena, tanah hitam itu menempel ditapak sepatu Riau Pos saat menelusuri kawasan hutan tersebut.

Walaupun menempuh rute yang cukup rumit dan melelahkan membuat perjalanan saat itu mengasyikkan. Panas terik matahari hanya terasa saat melewati kanal, namun setelah masuk dalam kawasan hutan desa, hembusan angin menyejukkan suasana siang itu. Pemandangan alamnya begitu indah membuat Riau Pos merasa betah di dalam kawasan hutan ini.

Pemandangan lainnya, kera ekor hitam bergelantungan dari atas pohon. Lompatannya yang jauh dari pohon lain menuju pohon lainnya menjadi pemandangan alam yang terasa siang itu. Kondisi yang nyaman inilah membuat suasana di lokasi hutan desa terasa memberikan pemandangan bagus.

Pemandangan alam ini merupakan selaras sebagai upaya perlindungan hutan Desa Segamai mengadaptasi kesepakatan menjaga kearifan lokal menjaga alam dari gangguan tangan manusia jahil. Hutan desa ini begitu banyak monyet-monyet yang makan tumbuhan yang subur di lokasi hutan tersebut. Serbuan monyet ekor panjang (macaca) terjadi saat kemarau sampai hujan.

Kawasan lindung hutan alam ini sudah ditetapkan masyarakat dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup mencakup sumberdaya alam. Tujuannya, meningkatkan fungsi lindung dari air, tanah dan mempertahankan keragaman hayati serta ekosistem maupun keunikan alam.

“Kami tak ambil pohon yang sudah tertanam. Justru kami menjaganya. Baru Februari 2015 lalu kita lakukan penanaman pohon jelutung. Ini langkah kita menjaga kawasan hutan desa dengan baik dan alami,” ungkapnya kepada Riau Pos.

Masyarakat sekitar juga ingin melakukan pengembangan ekowisata memetakan vegetasi alam dan hutan, baik pohon, semak (perdu), dan tanaman di wilayah pertanian atau perkebunan. Masyarakat sekitar mempertahankan kawasannya untuk menjaga warisan nenek moyang.

“Kalau kayu dirambah dan ditebangi, maka sumber air kami akan kering. Kalau kering maka kami pun akan mengalami kesulitan,” kata Eri lagi.

Kehidupan masyarakat Desa Segamai, ini menjadi bagian dari inisiatif dengan konteks hijau. Yang mana bagaimana tetap mempertahankan dan menjaga hutan. Kalau hutan dapat dijaga dengan baik, maka sektor produksi dapat ditekan sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

“Kami tidak merusak hutan untuk tanaman karet agar tidak mengambil hasil hutan, bukan kayunya. Hutan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Desa Segamai. Pengelolaan dan pemanfaatan hutan dilakukan masyarakat secara arif dan lestari, dengan menggunakan aturan . Kearifan masyarakat ini, ternyata mampu menjaga kelestarian kawasan hutan,” jelasnya.

Masyarakat Desa Segamai sudah memegang beberapa aturan terkait yang mendukung kearifan pengelolaan hutan, juga telah lama disepakati dan terapkannya. Seperti aturan menjaga kawasan hutan lindung, kawasan agroforest karet sebagai sumberdaya alam desa. Aturan ini tertuang dalam Kesepakatan Konservasi Desa.

Untuk mendukung keberadaan hutan, masyarakat desa juga sepakat mempertahankan keberadaan kawasan hutan yang merupakan salah satu daerah tangkapan air DAS Sungai Kampar. Sebab, memiliki arti penting untuk masyarakat desa yaitu untuk menjaga sumber air.

Warga Desa Segamai mengelola desa dalam bentuk hutan desa. Ruang kelola disekitar hutan diluar perusahaan. Ini sesuai dengan komitmen pusat. Dari tahun 2010 sudah diperjuangkan, hak Hutan Desa sejak tahun 2013 lalu sudah dikeluarkan SK oleh kementerian. Pemerintah pusat sudah memberikan izin, kepala daerah juga sudah.

Masyarakat, jelasnya, mempunyai kepedulian untuk menyelamatkan hutan tersisa. Karena hampir separuh lebih hutan alam yang ada di Pelalawan ditanami sawit dan HTI. Hutan yang tersisa. Bagi masyarakat Desa Segamai, kawasan hutan yang ada merupakan tempat mereka menjaga alam dari kehancuran.

Edi juga menyebutkan kegiatan yang ada di kawasan hutan desa merupakan salah satu usaha menyelamatkan ekologi sangat unik. Karena hutan itu dikelilingi HTI. Ini salah satu untuk menyelamatkan hewan langka yang ada di tengah itu. Selain menutupi kanal yang berada di hutan desa dengan menanam pohon, bisa melindungi lahan gambut disini.

Menurut dia, dengan hilangnya aktivitas illegal loging, terlihat keberanian masyarakat. Ini namanya aktifitas ilegal kayu. Dengan rasa kepemilikan rasa megelola yang mempunyai hak. Ini membuktikan kepedulian lebih tinggi terhadap kawasan tersebut. Rencana kerja mengenai hutan desa sudah dilakukan. “ Bagaimana pengelolaan hutan desa ini untuk kelestrian hutan,” ujarnya lagi.

Aktivis Lingkungan Hidup dari Yayasan Mitra Insani, Helbert menyatakan, hutan Desa Segamai dan Serapung yang ada di Kabupaten Pelalawan menjadi hutan desa pertama di Riau. Kondisi ini sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjaga hutan secara berkelanjutan.

Bahkan bisa lebih baik daripada perusahaan. Hutan Desa juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi masa depan. Hutan desa tersebut berada di lansekap Semenanjung Kampar yang merupakan hutan lindung gambut seluas yang memiliki kekayaan hayati tinggi dan merupakan habitat penting harimau Sumatra.

Gambut Semenanjung Kampar, juga memiliki kandungan karbon tinggi dan penting bagi upaya menahan laju pemanasan global dari deforestasi, sehingga Hutan Desa ini juga memiliki signifikansi global. Perlindungan Semenanjung Kampar menjadi penting sebagai salah satu tolak ukur atas keberhasilannya pemerintah melindungi hutan yang ditunjukkan dengan penetapan status hutan desa.

“Hutan desa ini hak pengelolaannya tepat. Kita lihat Semenanjung Kampar ada sebanyak 22 ribu hektar, di Serapung, Pulau Muda, Teluk Meranti. Pengelolaannya dilakukan oleh perusahaan. Hak pengelolaan hutan desa ketika dikelola oleh masyarakat merupakan langkah yang tepat,” jelasnya. Menurut dia, selama ini masyarakat dianggap pelaku illegal loging. Dengan memberdayakan masyarakat di sekitar hutan, namun dalam pengelolaannya di awasi Pemkab Pelalawan ini bisa berjalan dengan baik, bila bekerjasama dengan di Provinsi Riau. Harpan dengan adanya hutan desa bisa memberikan jawaban.

“Tidak mungkin kami membuat perkebunan kelapa sawit. Haram hukumnya bagi kami menanam hutan desa yang berada di tengah HTI. Kami punya rencana menanam hutan desa dengan tanaman yang berguna. Tapi mengharamkan menebang pohonnya. Bagaimana kami bermusyawarah inilah hutan untuk anak cucu kami yang ada di Semenanjung Kampar,” tegasnya.

Dari penuturan Helbert, disekitaran tasik dalam kawasan hutan masih asli hutan alam . Pohon Ramen, Meranti, Sungkai, Mentangor, Terentang, Durian tumbuh dengan baik. Bahkan Burung Rangkong juga masih terlihat terbang di lokasi hutan. Sedangkan dalam tasik ada Ikan Arwana, Toman, dan Tapah.

Bupati Pelalawan, H Haris, mengatakan, jerih payah masyarakat Desa Segamai dan Serapung, Kabupaten Pelalawan Riau untuk memperoleh hak kelola legal terhadap hutan akhirnya mulai berbuah. Izin pencadangan hutan desa bagi dua desa terpencil itu kini telah disahkan dan diserahterimakan.

“Kami sudah memberikan izin untuk hutan tanaman rakyat. Jadi kalau ada kawasan hutan, kita bagi kepada rakyat untuk dikelola untuk tanaman beguna dan menjaga kawasan hutan gambut,” ujarnya.

Berdasarkan riset terakhir soal tingkat biodiversitas, hutan rawa gambut ini memiliki kedalaman hingga 20 meter dengan dua kubah gambut dalam yang jika rusak akan melepaskan emisi karbon yang cukup besar dan memperkukuh Indonesia sebagai pelepas emisi terbesar ketiga dunia setelah Amerika dan China.

Dia mengatakan penetapkan status hutan desa ini juga harus dilihat sebagai bagian dari program perlindungan keseluruhan Semenanjung Kampar secara kawasan dan tolak ukur keberhasilan pemerintah melindungi hutan Indonesia. Selain berpacu dengan laju deforestasinya, izin Hutan Desa dari Menhut ini ternyata masih memerlukan waktu panjang untuk diandalkan menjadi pelindung gambut Kampar. Prosesnya masih jauh. Masih ada izin penetapan dan pengelolaan yang nantinya dikeluarkan oleh Gubernur. Kepala Dinas Kehutanan Riau, Irwan Efendi mengatakan, terkait dengan izin ini masih di tangan Gubernur Riau. “Kita masih menunggu dari Gubernur Riau. Nanti saya kabari lagi,” ujarnya singkat saat dihubungi melalui selulernya.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Lokasi hutan desa tersebut berada diantara Sungai Kampar dan laut. Berada di tengah kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) perusahaan. Lahan hutan yang luasnya mencapai 2.270 hektare itu sudah ditanami masyarakat jelutung, karet, dan tanaman keras lainnya. Bahkan, masyarakat menjaga kawasan hutan desa itu dengan hati mereka.

    Siang itu pada awal bulan Maret lalu, Riau Pos bersama dengan Tokoh Pemuda Masyarakat Desa Segamai Eri Hariyanto, berkesempatan melihat pemandangan alam hijau di lokasi itu. Dari Kecamatan Pangkalan Kerinci menuju lokasi harus menempuh perjalanan dengan menggunakan speed boat dari bawah jembatan penyebrangan tepatnya di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan.

    Tidak sampai disitu untuk menuju kawasan hutan Desa Segamai harus melalui kanal perusahaan. Dari Desa Segamai lalu menyebrang melewati perusahaan mempergunakan pompong. Lokasinya pas di pertemuan antara sungai dan laut. Lahan yang sebelumnya kosong karena illegal loging tahun 2000 an lalu yang memang berada di sekitar lokasi, sekarang sudah ditanam masyarakat dan tampak rindang kembali.

    Kondisi hutanyang masih alami terlihat jelas ditempat tersebut. Walau dikelilingi kanal perusahaan, lahan yang memang gambut ini memiliki keanekaragam hayati eksotik. Di lokasi ini tumbuh juga pohon yang usianya mencapai setengah abad.

    Masyarakat disini mempertahankan pohon yang ada. Mereka berusaha di dalam kawasan itu tanpa mengambil kayunya. Sebaliknya, masyarakat sekitar melakukan banyak aktifitas reboisasi, bloking kanal, dan penanaman pohon yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan keindahan alam di kawasan hutan desa tersebut.

    Dalam perjalanan ke lokasi akar pohon meranti dengan diameter pelukan dua orang dewasa masih terlihat. Dedaunan kering berjatuhan di bawah pohon tinggi itu. Tanahnya yang becek terasa berat melangkah. Karena, tanah hitam itu menempel ditapak sepatu Riau Pos saat menelusuri kawasan hutan tersebut.

    Walaupun menempuh rute yang cukup rumit dan melelahkan membuat perjalanan saat itu mengasyikkan. Panas terik matahari hanya terasa saat melewati kanal, namun setelah masuk dalam kawasan hutan desa, hembusan angin menyejukkan suasana siang itu. Pemandangan alamnya begitu indah membuat Riau Pos merasa betah di dalam kawasan hutan ini.

    Pemandangan lainnya, kera ekor hitam bergelantungan dari atas pohon. Lompatannya yang jauh dari pohon lain menuju pohon lainnya menjadi pemandangan alam yang terasa siang itu. Kondisi yang nyaman inilah membuat suasana di lokasi hutan desa terasa memberikan pemandangan bagus.

    Pemandangan alam ini merupakan selaras sebagai upaya perlindungan hutan Desa Segamai mengadaptasi kesepakatan menjaga kearifan lokal menjaga alam dari gangguan tangan manusia jahil. Hutan desa ini begitu banyak monyet-monyet yang makan tumbuhan yang subur di lokasi hutan tersebut. Serbuan monyet ekor panjang (macaca) terjadi saat kemarau sampai hujan.

    Kawasan lindung hutan alam ini sudah ditetapkan masyarakat dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup mencakup sumberdaya alam. Tujuannya, meningkatkan fungsi lindung dari air, tanah dan mempertahankan keragaman hayati serta ekosistem maupun keunikan alam.

    “Kami tak ambil pohon yang sudah tertanam. Justru kami menjaganya. Baru Februari 2015 lalu kita lakukan penanaman pohon jelutung. Ini langkah kita menjaga kawasan hutan desa dengan baik dan alami,” ungkapnya kepada Riau Pos.

    Masyarakat sekitar juga ingin melakukan pengembangan ekowisata memetakan vegetasi alam dan hutan, baik pohon, semak (perdu), dan tanaman di wilayah pertanian atau perkebunan. Masyarakat sekitar mempertahankan kawasannya untuk menjaga warisan nenek moyang.

    “Kalau kayu dirambah dan ditebangi, maka sumber air kami akan kering. Kalau kering maka kami pun akan mengalami kesulitan,” kata Eri lagi.

    Kehidupan masyarakat Desa Segamai, ini menjadi bagian dari inisiatif dengan konteks hijau. Yang mana bagaimana tetap mempertahankan dan menjaga hutan. Kalau hutan dapat dijaga dengan baik, maka sektor produksi dapat ditekan sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

    “Kami tidak merusak hutan untuk tanaman karet agar tidak mengambil hasil hutan, bukan kayunya. Hutan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Desa Segamai. Pengelolaan dan pemanfaatan hutan dilakukan masyarakat secara arif dan lestari, dengan menggunakan aturan . Kearifan masyarakat ini, ternyata mampu menjaga kelestarian kawasan hutan,” jelasnya.

    Masyarakat Desa Segamai sudah memegang beberapa aturan terkait yang mendukung kearifan pengelolaan hutan, juga telah lama disepakati dan terapkannya. Seperti aturan menjaga kawasan hutan lindung, kawasan agroforest karet sebagai sumberdaya alam desa. Aturan ini tertuang dalam Kesepakatan Konservasi Desa.

    Untuk mendukung keberadaan hutan, masyarakat desa juga sepakat mempertahankan keberadaan kawasan hutan yang merupakan salah satu daerah tangkapan air DAS Sungai Kampar. Sebab, memiliki arti penting untuk masyarakat desa yaitu untuk menjaga sumber air.

    Warga Desa Segamai mengelola desa dalam bentuk hutan desa. Ruang kelola disekitar hutan diluar perusahaan. Ini sesuai dengan komitmen pusat. Dari tahun 2010 sudah diperjuangkan, hak Hutan Desa sejak tahun 2013 lalu sudah dikeluarkan SK oleh kementerian. Pemerintah pusat sudah memberikan izin, kepala daerah juga sudah.

    Masyarakat, jelasnya, mempunyai kepedulian untuk menyelamatkan hutan tersisa. Karena hampir separuh lebih hutan alam yang ada di Pelalawan ditanami sawit dan HTI. Hutan yang tersisa. Bagi masyarakat Desa Segamai, kawasan hutan yang ada merupakan tempat mereka menjaga alam dari kehancuran.

    Edi juga menyebutkan kegiatan yang ada di kawasan hutan desa merupakan salah satu usaha menyelamatkan ekologi sangat unik. Karena hutan itu dikelilingi HTI. Ini salah satu untuk menyelamatkan hewan langka yang ada di tengah itu. Selain menutupi kanal yang berada di hutan desa dengan menanam pohon, bisa melindungi lahan gambut disini.

    Menurut dia, dengan hilangnya aktivitas illegal loging, terlihat keberanian masyarakat. Ini namanya aktifitas ilegal kayu. Dengan rasa kepemilikan rasa megelola yang mempunyai hak. Ini membuktikan kepedulian lebih tinggi terhadap kawasan tersebut. Rencana kerja mengenai hutan desa sudah dilakukan. “ Bagaimana pengelolaan hutan desa ini untuk kelestrian hutan,” ujarnya lagi.

    Aktivis Lingkungan Hidup dari Yayasan Mitra Insani, Helbert menyatakan, hutan Desa Segamai dan Serapung yang ada di Kabupaten Pelalawan menjadi hutan desa pertama di Riau. Kondisi ini sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjaga hutan secara berkelanjutan.

    Bahkan bisa lebih baik daripada perusahaan. Hutan Desa juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi masa depan. Hutan desa tersebut berada di lansekap Semenanjung Kampar yang merupakan hutan lindung gambut seluas yang memiliki kekayaan hayati tinggi dan merupakan habitat penting harimau Sumatra.

    Gambut Semenanjung Kampar, juga memiliki kandungan karbon tinggi dan penting bagi upaya menahan laju pemanasan global dari deforestasi, sehingga Hutan Desa ini juga memiliki signifikansi global. Perlindungan Semenanjung Kampar menjadi penting sebagai salah satu tolak ukur atas keberhasilannya pemerintah melindungi hutan yang ditunjukkan dengan penetapan status hutan desa.

    “Hutan desa ini hak pengelolaannya tepat. Kita lihat Semenanjung Kampar ada sebanyak 22 ribu hektar, di Serapung, Pulau Muda, Teluk Meranti. Pengelolaannya dilakukan oleh perusahaan. Hak pengelolaan hutan desa ketika dikelola oleh masyarakat merupakan langkah yang tepat,” jelasnya. Menurut dia, selama ini masyarakat dianggap pelaku illegal loging. Dengan memberdayakan masyarakat di sekitar hutan, namun dalam pengelolaannya di awasi Pemkab Pelalawan ini bisa berjalan dengan baik, bila bekerjasama dengan di Provinsi Riau. Harpan dengan adanya hutan desa bisa memberikan jawaban.

    “Tidak mungkin kami membuat perkebunan kelapa sawit. Haram hukumnya bagi kami menanam hutan desa yang berada di tengah HTI. Kami punya rencana menanam hutan desa dengan tanaman yang berguna. Tapi mengharamkan menebang pohonnya. Bagaimana kami bermusyawarah inilah hutan untuk anak cucu kami yang ada di Semenanjung Kampar,” tegasnya.

    Dari penuturan Helbert, disekitaran tasik dalam kawasan hutan masih asli hutan alam . Pohon Ramen, Meranti, Sungkai, Mentangor, Terentang, Durian tumbuh dengan baik. Bahkan Burung Rangkong juga masih terlihat terbang di lokasi hutan. Sedangkan dalam tasik ada Ikan Arwana, Toman, dan Tapah.

    Bupati Pelalawan, H Haris, mengatakan, jerih payah masyarakat Desa Segamai dan Serapung, Kabupaten Pelalawan Riau untuk memperoleh hak kelola legal terhadap hutan akhirnya mulai berbuah. Izin pencadangan hutan desa bagi dua desa terpencil itu kini telah disahkan dan diserahterimakan.

    “Kami sudah memberikan izin untuk hutan tanaman rakyat. Jadi kalau ada kawasan hutan, kita bagi kepada rakyat untuk dikelola untuk tanaman beguna dan menjaga kawasan hutan gambut,” ujarnya.

    Berdasarkan riset terakhir soal tingkat biodiversitas, hutan rawa gambut ini memiliki kedalaman hingga 20 meter dengan dua kubah gambut dalam yang jika rusak akan melepaskan emisi karbon yang cukup besar dan memperkukuh Indonesia sebagai pelepas emisi terbesar ketiga dunia setelah Amerika dan China.

    Dia mengatakan penetapkan status hutan desa ini juga harus dilihat sebagai bagian dari program perlindungan keseluruhan Semenanjung Kampar secara kawasan dan tolak ukur keberhasilan pemerintah melindungi hutan Indonesia. Selain berpacu dengan laju deforestasinya, izin Hutan Desa dari Menhut ini ternyata masih memerlukan waktu panjang untuk diandalkan menjadi pelindung gambut Kampar. Prosesnya masih jauh. Masih ada izin penetapan dan pengelolaan yang nantinya dikeluarkan oleh Gubernur. Kepala Dinas Kehutanan Riau, Irwan Efendi mengatakan, terkait dengan izin ini masih di tangan Gubernur Riau. “Kita masih menunggu dari Gubernur Riau. Nanti saya kabari lagi,” ujarnya singkat saat dihubungi melalui selulernya.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on