Lima Marga asal Kampung Saga, Distrik Metamani, Sorong Selatan, yakni Marga Rariaro, Sinauriago, Korerago, Bawey dan Werisaru, yang mengklaim sebagai pemilik tanah adat, masih palang jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Permata Putra Mandiri (PPM), yang beroperasi menggunakan tanah dan hutan adat tanpa musyawarah dan persetujuan Marga pemilik tanah.

Diketahui semenjak tahun 2014 lalu, PT. PPM telah menggusur kawasan hutan dan dusun tanaman pangan masyarakat di daerah Benawa, Distrik Kais dan Jamarema, Kampung Puragi. Distrik Metamani, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. PT. PPM tidak pernah melakukan kajian dan konsultasi secara luas terhadap masyarakat setempat.

Marga pemilik tanah di Jamarema, asal Kampung Saga kaget kawasan hutan mereka sudah digusur dan dibongkar untuk perkebunan kelapa sawit. “Kami tidak pernah diberitahu PT.PPM, masyarakat temukan tanah dan hutan sudah digusur”, jelas Adam Rariaro.

Anak Moi Mempertahankan Hutan Tersisa

Anak Moi Mempertahankan Hutan Tersisa

Tanah dan hutan yang dibongkar dan digusur sudah luas mulai dari daerah Benawa hingga Jamarema. Kisah Adam Rariaro bahwa PT. PPM sudah memberikan uang “ketuk pintu” seperti uang penghargaan sebanyak dua kali kepada tujuh Marga di Kampung Puragi, nilainya masing-masing tahap pertama sebesar Rp. 25 juta per marga dan tahap kedua sebesar Rp. 20 juta per marga.

Lima marga asal Kampung Saga yang tidak pernah memberikan izin dan menerima uang ketuk pintu langsung protes karena hutan dan tanah adat mereka di daerah Jamarema sudah digusur tanpa ada kesepakatan. Mereka menuding perusahaan salah orang dalam meminta persetujuan dan memberikan uang ketuk pintu.

Pada Januari 2015, Kelima Marga asal Kampung Saga protes dan melakukan pemalangan jalan perusahaan di tempat bernama Ureko. Pada pertengahan Februari 2015, Kelima Marga tersebut melayangkan surat tuntutan kepada pimpinan PT. PPM untuk memohon ganti rugi sebesar Rp. 15.000.000.000.- atas penggusuran lahan dan hutan untuk jalan dan persiapan lahan perkebunan kurang lebih 20 Kilometer dan lebar 12 meter.

Hingga kini, PT. PPM, milik Austindo Nusantara Jaya Group, belum memberikan tanggapan atas tuntutan masyarakat. Palang yang menandakan adat penghentian aktifitas di lokasi PT. PPM juga belum dibuka. “Kapolres Sorong Selatan merencanakan untuk mempertemukan marga pemilik tanah di Kampung Saga dan Puragi, serta pihak perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan dan tuntutan masyarakat, namun hingga saat ini belum ada pertemuan”, jelas Adam Rariaro.

Ank, Maret 2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Lima Marga asal Kampung Saga, Distrik Metamani, Sorong Selatan, yakni Marga Rariaro, Sinauriago, Korerago, Bawey dan Werisaru, yang mengklaim sebagai pemilik tanah adat, masih palang jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Permata Putra Mandiri (PPM), yang beroperasi menggunakan tanah dan hutan adat tanpa musyawarah dan persetujuan Marga pemilik tanah.

    Diketahui semenjak tahun 2014 lalu, PT. PPM telah menggusur kawasan hutan dan dusun tanaman pangan masyarakat di daerah Benawa, Distrik Kais dan Jamarema, Kampung Puragi. Distrik Metamani, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. PT. PPM tidak pernah melakukan kajian dan konsultasi secara luas terhadap masyarakat setempat.

    Marga pemilik tanah di Jamarema, asal Kampung Saga kaget kawasan hutan mereka sudah digusur dan dibongkar untuk perkebunan kelapa sawit. “Kami tidak pernah diberitahu PT.PPM, masyarakat temukan tanah dan hutan sudah digusur”, jelas Adam Rariaro.

    Anak Moi Mempertahankan Hutan Tersisa

    Anak Moi Mempertahankan Hutan Tersisa

    Tanah dan hutan yang dibongkar dan digusur sudah luas mulai dari daerah Benawa hingga Jamarema. Kisah Adam Rariaro bahwa PT. PPM sudah memberikan uang “ketuk pintu” seperti uang penghargaan sebanyak dua kali kepada tujuh Marga di Kampung Puragi, nilainya masing-masing tahap pertama sebesar Rp. 25 juta per marga dan tahap kedua sebesar Rp. 20 juta per marga.

    Lima marga asal Kampung Saga yang tidak pernah memberikan izin dan menerima uang ketuk pintu langsung protes karena hutan dan tanah adat mereka di daerah Jamarema sudah digusur tanpa ada kesepakatan. Mereka menuding perusahaan salah orang dalam meminta persetujuan dan memberikan uang ketuk pintu.

    Pada Januari 2015, Kelima Marga asal Kampung Saga protes dan melakukan pemalangan jalan perusahaan di tempat bernama Ureko. Pada pertengahan Februari 2015, Kelima Marga tersebut melayangkan surat tuntutan kepada pimpinan PT. PPM untuk memohon ganti rugi sebesar Rp. 15.000.000.000.- atas penggusuran lahan dan hutan untuk jalan dan persiapan lahan perkebunan kurang lebih 20 Kilometer dan lebar 12 meter.

    Hingga kini, PT. PPM, milik Austindo Nusantara Jaya Group, belum memberikan tanggapan atas tuntutan masyarakat. Palang yang menandakan adat penghentian aktifitas di lokasi PT. PPM juga belum dibuka. “Kapolres Sorong Selatan merencanakan untuk mempertemukan marga pemilik tanah di Kampung Saga dan Puragi, serta pihak perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan dan tuntutan masyarakat, namun hingga saat ini belum ada pertemuan”, jelas Adam Rariaro.

    Ank, Maret 2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on