Jalan cenderawasih sudah terpampang di sebagian wilayah Indonesia. Penamaan jalan menurut para pendahulu Indonesia sebagai wujud nasionalisme semata dan lebih pada konteks politis. Tetapi di tahun 2015, puluhan tahun paska Indonesia merdeka, kaki merapi jadi saksi keabadian Papua diberikan atas sebuah dedikasi kaum muda asal negri cenderawasih.

Warga Yogyakarta yang berdomisi di dusun Sumberan memberi penghargaan dalam bentuk nama “Jalan Papua” atas dedikasi dan perjuangan anak-anak muda asal Papua. Penghargaan berupa nama jalan tersebut lantaran sebelum erupsi Merapi 2010, ada tujuh mata air dalam keadaan bagus. Tapi karena erupsi, mata air itu rusak.

Kondisinya semakin memprihatinkan ketika ada pertambangan pasir yang membuat debit airnya berkurang. Kondisi tersebut memnggunggah mahasiswa Papua, bergotong-royong membuka kembali tujuh mata air yang terdapat di Dusun Sumberan, Desa Candibinangun Kecamatan Pakem, Sleman.

Dedikasi dan Perjuangan

Indra Gunawan, koordinator Stiper Agroenterpreneurship and Tourism kepada kompas.com menuturkan, Selama enam hari, 151 mahasiswa Stiper Jayapura, Papua, yang magang disana bergotong-royong membuka kembali tujuh mata air yang terdapat di Dusun ini. melihat kondisi itu 151 mahasiswa dari Stiper Jayapura Papua yang magang lalu berinisiatif untuk membuka kembali tujuh mata air di dusun Sumberan. Sebab, sejak jaman dulu, mata air tersebut digunakan warga sebagai sarana memenuhi kehidupan sehari-hari. Selama enam hari, lanjutnya, 151 mahasiswa Papua dari Stiper bergotong-royong membersihkan tujuh sumber mata air. Mereka juga menyusun batu-batuan melingkari mata air sebagai pembatas.

Beberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu (KOMPAS.com/wijaya kusuma)  http://regional.kompas.com/read/2015/04/14/23194191/Mahasiswa.Papua.Gelar.Ritual.Bakar.Batu.di.Kaki.Gunung.Merapi

Beberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu (KOMPAS.com/wijaya kusuma) http://regional.kompas.com/read/2015/04/14/23194191/Mahasiswa.Papua.Gelar.Ritual.Bakar.Batu.di.Kaki.Gunung.Merapi

Tak hanya itu, karena letaknya berdekatan dengan sungai dan rumah, para mahasiswa juga memberikan edukasi agar warga tetap menjaga kebersihan salah satunya tidak membuang sampah sembarangan. “Enam hari kita bersama-sama membuka kembali, membersihkan. Sekarang airnya dan lokasinya bersih, debit air melimpah,” kata Indra.

Atas dedikasi dan perjuangan para mahasiswa dari Stiper Jaya Pura papua itulah warga lantas berinisiatif untuk memberikan penghargaan. “Ini penghargaan warga atas perjuangan mahasiswa Stiper Papua. Warga memberi nama jalan menuju sumber air dengan nama Jalan Papua,” ucapnya. Tujuh sumber mata air yang sudah diperbaiki ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat. Baik itu sebagai memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk melakukan tradisi budaya. “Semoga ke depan tujuh mata air ini bisa menjadi ikon dusun. Tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya,” ucap Indra.

Kaki Merapi Jadi Saksi Tradisi Jawa dan Papua

Kaki Gunung Merapi menjadi saksi, tak hanya nama jalan yang diabadikan, bertemunya dua tradisi dan kebudayaan masyarakat yang berbeda (Jawa dan Papua). Sebab, proses pemasangan prasasti nama jalan pun diwarnai penampilan tarian khas Papua yang berkolaborasi dengan seni kuda lumping Khas Jawa. Sebelum diletakkan, prasasti nama itu diarak keliling desa.

Momentum istimewa itu terjadi di Dusun Sumberan, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman selasa 14 April 2015 sore. Dusun yang terletak di kaki Gunung Merapi ini mendadak dipenuhi lengkingan teriakan-teriakan khas masyarakat Papua. Sambil berteriak-teriak, puluhan pemuda dari Papua menari-nari sambil mengelilingi kampung di Dusun Sumberan.

Perlu diketahui, bukan hanya nama Papua yang jadi ikon berupa jalan, Sri Sultan IX ketika intergrasi Papua kedalam NKRI paska tahun 1969 menyerahkan sebidang Tanah bagi pemukiman Papua yang kini dibangun asrama Kamasan I Yogyakarta. Dikemudian hari, aset tersebut milik pemprov Papua.

Nasib 7 Mata air di Yogyakarta tertutup akibat bencana alam erupsi gunung merapi dan penambangan yang dilakukan para pemodal serakah. Sementara wilayah pesisir dan pegunungan Tanah Papua mengalir limbah indsutri yang mencemari air akibat ekstrasi perusahaan sawit dan tambang batu bara dan mineral lainnya. Semoga disaat Papua sudah buka 7 Mata Air di Yogyakarta pulih kembali dan beri penghidupan pada warga disekitar ini untuk melangsungkan hidup sebagaimana air adalah penghidupan, pemerintah perlu buka mata untuk selamatkan masyarakat adat dan hutan Papua.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jalan cenderawasih sudah terpampang di sebagian wilayah Indonesia. Penamaan jalan menurut para pendahulu Indonesia sebagai wujud nasionalisme semata dan lebih pada konteks politis. Tetapi di tahun 2015, puluhan tahun paska Indonesia merdeka, kaki merapi jadi saksi keabadian Papua diberikan atas sebuah dedikasi kaum muda asal negri cenderawasih.

    Warga Yogyakarta yang berdomisi di dusun Sumberan memberi penghargaan dalam bentuk nama “Jalan Papua” atas dedikasi dan perjuangan anak-anak muda asal Papua. Penghargaan berupa nama jalan tersebut lantaran sebelum erupsi Merapi 2010, ada tujuh mata air dalam keadaan bagus. Tapi karena erupsi, mata air itu rusak.

    Kondisinya semakin memprihatinkan ketika ada pertambangan pasir yang membuat debit airnya berkurang. Kondisi tersebut memnggunggah mahasiswa Papua, bergotong-royong membuka kembali tujuh mata air yang terdapat di Dusun Sumberan, Desa Candibinangun Kecamatan Pakem, Sleman.

    Dedikasi dan Perjuangan

    Indra Gunawan, koordinator Stiper Agroenterpreneurship and Tourism kepada kompas.com menuturkan, Selama enam hari, 151 mahasiswa Stiper Jayapura, Papua, yang magang disana bergotong-royong membuka kembali tujuh mata air yang terdapat di Dusun ini. melihat kondisi itu 151 mahasiswa dari Stiper Jayapura Papua yang magang lalu berinisiatif untuk membuka kembali tujuh mata air di dusun Sumberan. Sebab, sejak jaman dulu, mata air tersebut digunakan warga sebagai sarana memenuhi kehidupan sehari-hari. Selama enam hari, lanjutnya, 151 mahasiswa Papua dari Stiper bergotong-royong membersihkan tujuh sumber mata air. Mereka juga menyusun batu-batuan melingkari mata air sebagai pembatas.

    Beberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu (KOMPAS.com/wijaya kusuma)  http://regional.kompas.com/read/2015/04/14/23194191/Mahasiswa.Papua.Gelar.Ritual.Bakar.Batu.di.Kaki.Gunung.Merapi

    Beberapa warga tampak berfoto bersama para mahasiswa dari papua di acara Bakar Batu (KOMPAS.com/wijaya kusuma) http://regional.kompas.com/read/2015/04/14/23194191/Mahasiswa.Papua.Gelar.Ritual.Bakar.Batu.di.Kaki.Gunung.Merapi

    Tak hanya itu, karena letaknya berdekatan dengan sungai dan rumah, para mahasiswa juga memberikan edukasi agar warga tetap menjaga kebersihan salah satunya tidak membuang sampah sembarangan. “Enam hari kita bersama-sama membuka kembali, membersihkan. Sekarang airnya dan lokasinya bersih, debit air melimpah,” kata Indra.

    Atas dedikasi dan perjuangan para mahasiswa dari Stiper Jaya Pura papua itulah warga lantas berinisiatif untuk memberikan penghargaan. “Ini penghargaan warga atas perjuangan mahasiswa Stiper Papua. Warga memberi nama jalan menuju sumber air dengan nama Jalan Papua,” ucapnya. Tujuh sumber mata air yang sudah diperbaiki ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat. Baik itu sebagai memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk melakukan tradisi budaya. “Semoga ke depan tujuh mata air ini bisa menjadi ikon dusun. Tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya,” ucap Indra.

    Kaki Merapi Jadi Saksi Tradisi Jawa dan Papua

    Kaki Gunung Merapi menjadi saksi, tak hanya nama jalan yang diabadikan, bertemunya dua tradisi dan kebudayaan masyarakat yang berbeda (Jawa dan Papua). Sebab, proses pemasangan prasasti nama jalan pun diwarnai penampilan tarian khas Papua yang berkolaborasi dengan seni kuda lumping Khas Jawa. Sebelum diletakkan, prasasti nama itu diarak keliling desa.

    Momentum istimewa itu terjadi di Dusun Sumberan, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman selasa 14 April 2015 sore. Dusun yang terletak di kaki Gunung Merapi ini mendadak dipenuhi lengkingan teriakan-teriakan khas masyarakat Papua. Sambil berteriak-teriak, puluhan pemuda dari Papua menari-nari sambil mengelilingi kampung di Dusun Sumberan.

    Perlu diketahui, bukan hanya nama Papua yang jadi ikon berupa jalan, Sri Sultan IX ketika intergrasi Papua kedalam NKRI paska tahun 1969 menyerahkan sebidang Tanah bagi pemukiman Papua yang kini dibangun asrama Kamasan I Yogyakarta. Dikemudian hari, aset tersebut milik pemprov Papua.

    Nasib 7 Mata air di Yogyakarta tertutup akibat bencana alam erupsi gunung merapi dan penambangan yang dilakukan para pemodal serakah. Sementara wilayah pesisir dan pegunungan Tanah Papua mengalir limbah indsutri yang mencemari air akibat ekstrasi perusahaan sawit dan tambang batu bara dan mineral lainnya. Semoga disaat Papua sudah buka 7 Mata Air di Yogyakarta pulih kembali dan beri penghidupan pada warga disekitar ini untuk melangsungkan hidup sebagaimana air adalah penghidupan, pemerintah perlu buka mata untuk selamatkan masyarakat adat dan hutan Papua.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on