SITUBONDO, KOMPAS-Asyani (63), terdakwa kasus pencurian dua batang kayu jati milik PT Perhutani di Situbondo, Jawa Timur, menitipkan sepucuk surat untuk Presiden Joko Widodo. Surat itu dititipkan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise yang menemuinya pada Selasa (14/4).

Yohana datang khusus ke Situbondo untuk bertemu dengan Asyani. Mereka bertemu di Pusat Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak RSUD dr Abdoer Rahem, Situbondo, Selasa siang. Saat bertemu, Asyani yang sudah menunggu sedari pagi di halaman kantor pusat pelayanan terpadu langsung menyalami Yohana. Yohana pun membalas dengan pelukan erat layaknya ibu dan anak. Kepada Yohana, Asyani menyerahkan sepucuk surat. “Saya minta tolong Bu… agar disampaikan ke Pak Presiden. Saya ingin bebas,” kata Asyani.

Surat bersampul putih bertuliskan “Kepada Bapak Presiden Jokowi” itu pun diterima Yohana. Ia memastikan kepada Asyani bahwa suratnya akan diserahkan langsung kepada Presiden. Pertemuan Yohana dan Asyani berlanjut di ruang pelayanan terpadu secara tertutup, didampingi istri Bupati Situbondo, Ummi Dadang Wigiarto. Asyani selama ini memang ingin bertemu dengan Presiden. Namun, ia bingung bagaimana cara agar bisa bertemu. Kedatangan Yohana pun membukakan jalan baginya untuk berkomunikasi dengan Presiden. Apalagi, Kamis pekan depan ia akan menghadapi putusan hakim.

Ingin bertemu

Dalam suratnya yang singkat yang baru dibuat Selasa pagi, Asyani memohon kepada Presiden untuk bisa bertemu. Tentang kepastian waktu dan tempat, Asyani menyerahkannya kepada Presiden. Asyani mengaku bahwa selembar surat itu tidak ditulis olehnya sendiri karena dirinya buta huruf. Pendampingnya di pusat pelayanan terpadu yang membantu menuliskannya. Surat itu berbahasa Indonesia, diterjemahkan dari bahasa Madura yang sehari- hari dipakai Asyani.

Pada akhir surat, Asyani membubuhi cap jempol tangan sebagai bukti surat itu memang dari dirinya. Asyani mengatakan ingin bertemu dengan Presiden untuk memohon pertolongan. Saat ini Asyani dijerat Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ia dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan 18 bulan masa percobaan dan denda Rp 500 juta subsider 1 hari kurungan.

Tuntutan jaksa tersebut dinilai sangat memberatkan, apalagi Asyani merasa tidak mencuri kayu jati. “Dari mana saya dapat Rp 500 juta itu Nak, untuk makan saja saya susah,” ujar Asyani. Menurut Yohana, Asyani membutuhkan pendampingan karena secara psikologis dia sangat tertekan. (NIT)

sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/04/15/Asyani-Surati-Presiden

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    SITUBONDO, KOMPAS-Asyani (63), terdakwa kasus pencurian dua batang kayu jati milik PT Perhutani di Situbondo, Jawa Timur, menitipkan sepucuk surat untuk Presiden Joko Widodo. Surat itu dititipkan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise yang menemuinya pada Selasa (14/4).

    Yohana datang khusus ke Situbondo untuk bertemu dengan Asyani. Mereka bertemu di Pusat Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak RSUD dr Abdoer Rahem, Situbondo, Selasa siang. Saat bertemu, Asyani yang sudah menunggu sedari pagi di halaman kantor pusat pelayanan terpadu langsung menyalami Yohana. Yohana pun membalas dengan pelukan erat layaknya ibu dan anak. Kepada Yohana, Asyani menyerahkan sepucuk surat. “Saya minta tolong Bu… agar disampaikan ke Pak Presiden. Saya ingin bebas,” kata Asyani.

    Surat bersampul putih bertuliskan “Kepada Bapak Presiden Jokowi” itu pun diterima Yohana. Ia memastikan kepada Asyani bahwa suratnya akan diserahkan langsung kepada Presiden. Pertemuan Yohana dan Asyani berlanjut di ruang pelayanan terpadu secara tertutup, didampingi istri Bupati Situbondo, Ummi Dadang Wigiarto. Asyani selama ini memang ingin bertemu dengan Presiden. Namun, ia bingung bagaimana cara agar bisa bertemu. Kedatangan Yohana pun membukakan jalan baginya untuk berkomunikasi dengan Presiden. Apalagi, Kamis pekan depan ia akan menghadapi putusan hakim.

    Ingin bertemu

    Dalam suratnya yang singkat yang baru dibuat Selasa pagi, Asyani memohon kepada Presiden untuk bisa bertemu. Tentang kepastian waktu dan tempat, Asyani menyerahkannya kepada Presiden. Asyani mengaku bahwa selembar surat itu tidak ditulis olehnya sendiri karena dirinya buta huruf. Pendampingnya di pusat pelayanan terpadu yang membantu menuliskannya. Surat itu berbahasa Indonesia, diterjemahkan dari bahasa Madura yang sehari- hari dipakai Asyani.

    Pada akhir surat, Asyani membubuhi cap jempol tangan sebagai bukti surat itu memang dari dirinya. Asyani mengatakan ingin bertemu dengan Presiden untuk memohon pertolongan. Saat ini Asyani dijerat Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ia dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan 18 bulan masa percobaan dan denda Rp 500 juta subsider 1 hari kurungan.

    Tuntutan jaksa tersebut dinilai sangat memberatkan, apalagi Asyani merasa tidak mencuri kayu jati. “Dari mana saya dapat Rp 500 juta itu Nak, untuk makan saja saya susah,” ujar Asyani. Menurut Yohana, Asyani membutuhkan pendampingan karena secara psikologis dia sangat tertekan. (NIT)

    sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/04/15/Asyani-Surati-Presiden

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on