Ada yang berbeda dari keseharian Orang Rimba. Mentari baru saja menampakkan sinarnya ketika Beteduh (17) tiba di studio kecil di puncak Bukit Suban, tepi barat Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Duduk menghadap mikrofon, remaja ini siap mengudara, menyapa dunia.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN-Remaja dari kelompok Orang Rimba di wilayah Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Beteduh (kiri), mengudara lewat Radio Benor, bersama Andi Agustanis, sukarelawan dari Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rabu (1/4). Jangkauan siaran radio mencakup empat kabupaten ruang jelajah Orang Rimba.

“Kanti-kanti (teman) pendengar setia.,” demikian sapaan akrab Beteduh kepada seluruh pendengar Radio Benor, di gelombang 88,8 FM, Rabu (1/4). Beteduh ditemani Andi Agustanis, manajer radio. Mereka mengawali siaran dengan terlebih dahulu menyuguhkan dendang melayu gembira. Acara obrolan pun siap dimulai. Kali ini seputar dampak perubahan lingkungan di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).

“Dulu rimba masih bungaron (hutan lebat). Masih utuh. Sejuk. Masih ada kayunan godong-godong (besar). Sekarangsegelonya lah helang (segalanya hilang),” jelas Beteduh, menjawab pertanyaan Andi mengenai kondisi “rumahnya” belakangan ini. Rimba Bukit Duabelas adalah tempat kelahiran Beteduh, sekaligus rumah tempat dia tumbuh hingga sekarang.

Beteduh adalah saksi perubahan di sekitar hutan itu. Dulu penghasilan Orang Rimba banyak, karena rimba masih utuh. Hampir setiap hari Beteduh mengudara lewat Radio Benor. Nama samarannya, Feri, sangat terkenal seantero Kecamatan Air Hitam, tempat stasiun radio itu. Suara Beteduh juga tertangkap hingga jarak 30-an kilometer di lima kabupaten sekitar TNBD: Sarolangun, Batanghari, Merangin, Tebo, dan Bungo.

Selain Beteduh, ada Meranggai, Betulus, Beteguh, Bejunjung, dan Sedia, yang bergantian siaran di Radio Benor. Mereka adalah anak-anak yang sudah pernah mendapatkan pendidikan baca, tulis, dan hitung. Sebagian bahkan menyelesaikan sekolah formal tingkas atas. Meskipun terdidik, dalam bersiaran mereka memilih tetap menunjukkan identitas diri sebagai Orang Rimba, yaitu dengan berbahasa asli.

Beteduh awalnya gentar ketika ditawari siaran. Namun, setelah berkenalan dengan berbagai jenis peralatan di stasiun, dan belajar teknik bersiaran, dia jadi ketagihan siaran. Suaranya mengalir lancar di telinga pendengar. Animo masyarakat terlihat dari banyaknya pesan yang masuk ke telepon di studio. “Dalam sehari, bisa 60-an pesan masuk. Macam-macam isinya, tetapi kebanyakan pesan lagu dan titip salam,” katanya.

Semenjak menjadi penyiar, setiap kali bepergian kemana-mana, Beteduh sering disapa warga. “Rasanya bangga,” tutur remaja lulusan SMP tersebut.

Semua informasi

Berbeda dari radio pada umumnya, lewat gelombang ini, Orang Rimba saling berbagi informasi tentang apa pun. Hampir setiap hari ada berita disampaikan, misalnya mengenai fluktuasi harga getah karet, rotan, atau buah-buahan. Ada pula kabar mengenai kerusakan hutan, tercemarnya sungai, penebangan pohon, hingga konversi lahan. Termasuk pula kabar kematian dan melangun (berpindah ke tempat hidup yang baru karena ada anggota kelompok meninggal) kelompok tertentu.

Ketika kematian beruntun terjadi di wilayah Terab, Kabupaten Batanghari, belakangan ini para penyiar dengan gencar menyosialisasikan pentingnya menjaga hutan tersisa sebagai rumah dan sumber bahan pangan mereka. Mereka juga menyisipkan tips-tips kesehatan dan pentingnya menjaga kebersihan. “Informasi tentang bahaya merokok, misalnya, penting, karena Orang Rimba dewasa umumnya perokok berat,” kata Elvidayanty, penyiar Benor.

Tidak ketinggalan ada pembahasan rutin mengenai budaya Orang Rimba, yang tersemat dalam ritual-ritual kelahiran dan perkawinan, hingga mengenai hukum-hukum adat dan denda adat di tengah rimba. Sekali-sekali diperdengarkan musik khas Orang Rimba.

Menurut Beteduh, inilah cara terbaik mendekatkan budaya Orang Rimba dan masyarakat luar. Dia ingin membuka mata dunia bahwa budaya mereka tidak seburuk yang diduga. Banyak hal menarik dan nilai-nilai positif yang dimiliki Orang Rimba. Dia juga berharap ada perhatian pemerintah atas kehidupan Orang Rimba yang tanah adatnya direbut menjadi konsesi berbagai perusahaan. Radio Benor dibangun atas inisiatif bersama Orang Rimba dan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi.

Tahun lalu, dalam kunjungan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Badan Pengelola REDD+, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto berjanji akan memfasilitasi peningkatan sarana kelistrikan untuk mendukung Radio Benor. Kuntoro menilai radio ini efektif sebagai kampanye gerakan penyelamatan lingkungan dan upaya menekan laju perubahan iklim. “Kegiatan seperti ini perlu didukung,” ujarnya.

April ini siaran akhirnya berjalan normal. Tegangan listrik sudah stabil. Anak-anak rimba memiliki lebih banyak waktu mengudara. Dari Bukit Duabelas, mereka kini rutin menyapa dunia.

(IRMA TAMBUNAN)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Ada yang berbeda dari keseharian Orang Rimba. Mentari baru saja menampakkan sinarnya ketika Beteduh (17) tiba di studio kecil di puncak Bukit Suban, tepi barat Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Duduk menghadap mikrofon, remaja ini siap mengudara, menyapa dunia.

    KOMPAS/IRMA TAMBUNAN-Remaja dari kelompok Orang Rimba di wilayah Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Beteduh (kiri), mengudara lewat Radio Benor, bersama Andi Agustanis, sukarelawan dari Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rabu (1/4). Jangkauan siaran radio mencakup empat kabupaten ruang jelajah Orang Rimba.

    “Kanti-kanti (teman) pendengar setia.,” demikian sapaan akrab Beteduh kepada seluruh pendengar Radio Benor, di gelombang 88,8 FM, Rabu (1/4). Beteduh ditemani Andi Agustanis, manajer radio. Mereka mengawali siaran dengan terlebih dahulu menyuguhkan dendang melayu gembira. Acara obrolan pun siap dimulai. Kali ini seputar dampak perubahan lingkungan di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).

    “Dulu rimba masih bungaron (hutan lebat). Masih utuh. Sejuk. Masih ada kayunan godong-godong (besar). Sekarangsegelonya lah helang (segalanya hilang),” jelas Beteduh, menjawab pertanyaan Andi mengenai kondisi “rumahnya” belakangan ini. Rimba Bukit Duabelas adalah tempat kelahiran Beteduh, sekaligus rumah tempat dia tumbuh hingga sekarang.

    Beteduh adalah saksi perubahan di sekitar hutan itu. Dulu penghasilan Orang Rimba banyak, karena rimba masih utuh. Hampir setiap hari Beteduh mengudara lewat Radio Benor. Nama samarannya, Feri, sangat terkenal seantero Kecamatan Air Hitam, tempat stasiun radio itu. Suara Beteduh juga tertangkap hingga jarak 30-an kilometer di lima kabupaten sekitar TNBD: Sarolangun, Batanghari, Merangin, Tebo, dan Bungo.

    Selain Beteduh, ada Meranggai, Betulus, Beteguh, Bejunjung, dan Sedia, yang bergantian siaran di Radio Benor. Mereka adalah anak-anak yang sudah pernah mendapatkan pendidikan baca, tulis, dan hitung. Sebagian bahkan menyelesaikan sekolah formal tingkas atas. Meskipun terdidik, dalam bersiaran mereka memilih tetap menunjukkan identitas diri sebagai Orang Rimba, yaitu dengan berbahasa asli.

    Beteduh awalnya gentar ketika ditawari siaran. Namun, setelah berkenalan dengan berbagai jenis peralatan di stasiun, dan belajar teknik bersiaran, dia jadi ketagihan siaran. Suaranya mengalir lancar di telinga pendengar. Animo masyarakat terlihat dari banyaknya pesan yang masuk ke telepon di studio. “Dalam sehari, bisa 60-an pesan masuk. Macam-macam isinya, tetapi kebanyakan pesan lagu dan titip salam,” katanya.

    Semenjak menjadi penyiar, setiap kali bepergian kemana-mana, Beteduh sering disapa warga. “Rasanya bangga,” tutur remaja lulusan SMP tersebut.

    Semua informasi

    Berbeda dari radio pada umumnya, lewat gelombang ini, Orang Rimba saling berbagi informasi tentang apa pun. Hampir setiap hari ada berita disampaikan, misalnya mengenai fluktuasi harga getah karet, rotan, atau buah-buahan. Ada pula kabar mengenai kerusakan hutan, tercemarnya sungai, penebangan pohon, hingga konversi lahan. Termasuk pula kabar kematian dan melangun (berpindah ke tempat hidup yang baru karena ada anggota kelompok meninggal) kelompok tertentu.

    Ketika kematian beruntun terjadi di wilayah Terab, Kabupaten Batanghari, belakangan ini para penyiar dengan gencar menyosialisasikan pentingnya menjaga hutan tersisa sebagai rumah dan sumber bahan pangan mereka. Mereka juga menyisipkan tips-tips kesehatan dan pentingnya menjaga kebersihan. “Informasi tentang bahaya merokok, misalnya, penting, karena Orang Rimba dewasa umumnya perokok berat,” kata Elvidayanty, penyiar Benor.

    Tidak ketinggalan ada pembahasan rutin mengenai budaya Orang Rimba, yang tersemat dalam ritual-ritual kelahiran dan perkawinan, hingga mengenai hukum-hukum adat dan denda adat di tengah rimba. Sekali-sekali diperdengarkan musik khas Orang Rimba.

    Menurut Beteduh, inilah cara terbaik mendekatkan budaya Orang Rimba dan masyarakat luar. Dia ingin membuka mata dunia bahwa budaya mereka tidak seburuk yang diduga. Banyak hal menarik dan nilai-nilai positif yang dimiliki Orang Rimba. Dia juga berharap ada perhatian pemerintah atas kehidupan Orang Rimba yang tanah adatnya direbut menjadi konsesi berbagai perusahaan. Radio Benor dibangun atas inisiatif bersama Orang Rimba dan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi.

    Tahun lalu, dalam kunjungan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Badan Pengelola REDD+, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto berjanji akan memfasilitasi peningkatan sarana kelistrikan untuk mendukung Radio Benor. Kuntoro menilai radio ini efektif sebagai kampanye gerakan penyelamatan lingkungan dan upaya menekan laju perubahan iklim. “Kegiatan seperti ini perlu didukung,” ujarnya.

    April ini siaran akhirnya berjalan normal. Tegangan listrik sudah stabil. Anak-anak rimba memiliki lebih banyak waktu mengudara. Dari Bukit Duabelas, mereka kini rutin menyapa dunia.

    (IRMA TAMBUNAN)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on