Sesal duhulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Sepertinya, pepatah melayu ini patut disematkan bagi warga Kelurahan Ukui Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan ini. Kini masyarakat mengaku sulit ketika perkampungan mereka sudah dikepung HGU perusahaan oleh perkebunan kelapa sawit. Lahan ulayat puluhan tahun silam, direlakan kepada investor untuk mengelola perkebunan. Dengan harapan mereka bisa menyambung hidup dengan keberadaan perusahaan perkebunan ini. Akan tetapi, faktanya justru berbalik seratus delapan puluh derjat.

Harapan yang dinanti-nanti masyarakat ini, justru buram sudah. Lahan yang mau di olah itu lagi tidak ada. Terlebih lagi laju pertumbuhan penduduk yang kian tahun kian meningkat. Sementara peruntukan lahan ini, sudah di kuasai oleh HGU perusahaan. Beginilah, pengakuan Udin (65) pemangku Bathin Tomu Payung Kelurahan Ukui 1 Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kini sebut tokoh masyarakat setempat ini, hampir 80 persen penduduk asli di kecamatan Ukui tidak memiliki kebun.

Dia tidak bisa membayangkan masa depan, warga di masa mendatang. Saat ini, saja, masyarakat sudah mulai kesulitan ketika lahan yang mau di olah tidak ada lagi.”Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kedepan, mata pencarian bertamabah sulit. Lahan yang mau digarap sudah di kuasai oleh HGU perusahaan,” tegasnya berapi-api ketika berbincang dengan riauterkini.com. Secara tegas, HGU yang dimaksud adalah milik PT Sari Lembah Subur. HGU dari Astra Grup ini, bahkan hanya beberapa ratus meter berada di dekat perkampungan. “Liatlah, yang itu kebun sawit milik PT SLS,” ujarnya, seraya menunjukkan kebun inti PT SLS.

Derita masyarakat Ukui, paparnya kian bertambah, ketika, PT SLS tidak kunjung merealisasikan kebun plasma sebagai salah satu kewajiban pihak perusahaan. Sementara menurutnya, tiga desa lain seperti, desa Genduang, Pangkalan Lesung dan Kerumutan jauh-jauh sebelumnya sudah menikmati kebun plasma dari PT SLS ini. Sementara, desa Ukui, satu paket bersama-sama meneken kerjasama puluhan tahun silam bersama tiga desa di atas kata Udin, belum mendapatkan plasma dari PT SLS. Merekapun, sudah beberapa kali, menuntut dan menanyakan persoalan ini, kepada pihak perusahan akan tetapi, hasilnya nihil.

Padahal imbuhnya, plasma ini, menjadi salah satu harapan bagi kelanjutan masyarakat. Merekapun bertekad bakal memperjuangkan plasma ini, segera direalisasikan oleh PT SLS. “Sampaikan kapanpun, kami tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang telah menjadi hak kami ini,” tegasnya. Tidak ada alasan, bagi PT SLS untuk tidak menyerahkan, hak mereka ini. Sebab disatu sisi, HGU perusahaan ini, menggarap 3800 hektar lebih tanah ulayat masyarakat Ukui.

Sebelumnya, manajemen PT SLS Taufik sewaktu pertemuan dengan masyarakat Ukui yang di mediasi komisi 1 DPRD Pelalawan, menyebutkan pihak perusahaan hanya menjalankan ijin yang telah diberikan oleh pemerintah. Ketika, masyarakat dan anggota DPRD pada pertemuan itu meminta Taufik, menunjuk dokomen penyerahan, plasma untuk masyarakat Ukui. Taufik meminta waktu untuk mencari kelengkapan dokumen ini.

Anggota Komisi 1, Evi Zulfian, mengaku kaget mendengar keluhan masyarakat Ukui ini. Dia sangat menyayangkan sikap perusahaan yang belum merealisasi plasma bagi masyarakat Ukui. “Kita sangat menyayangkan setelah mendengar pengakuan masyarakat. Tiga desa lain sudah direalissaikan. Tapi kenapa desa Ukui belum. Padahal, Ukui dan tiga desa lain sama-sama teken MoU,” tegasnya. Terkait persoalan ini, dia berharap PT SLS harus mesti menunjukkan, Izin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT), sebab disinilah baru terbuka titik terang benderang persoalan yang sesungguhnya.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sesal duhulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Sepertinya, pepatah melayu ini patut disematkan bagi warga Kelurahan Ukui Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan ini. Kini masyarakat mengaku sulit ketika perkampungan mereka sudah dikepung HGU perusahaan oleh perkebunan kelapa sawit. Lahan ulayat puluhan tahun silam, direlakan kepada investor untuk mengelola perkebunan. Dengan harapan mereka bisa menyambung hidup dengan keberadaan perusahaan perkebunan ini. Akan tetapi, faktanya justru berbalik seratus delapan puluh derjat.

    Harapan yang dinanti-nanti masyarakat ini, justru buram sudah. Lahan yang mau di olah itu lagi tidak ada. Terlebih lagi laju pertumbuhan penduduk yang kian tahun kian meningkat. Sementara peruntukan lahan ini, sudah di kuasai oleh HGU perusahaan. Beginilah, pengakuan Udin (65) pemangku Bathin Tomu Payung Kelurahan Ukui 1 Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kini sebut tokoh masyarakat setempat ini, hampir 80 persen penduduk asli di kecamatan Ukui tidak memiliki kebun.

    Dia tidak bisa membayangkan masa depan, warga di masa mendatang. Saat ini, saja, masyarakat sudah mulai kesulitan ketika lahan yang mau di olah tidak ada lagi.”Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kedepan, mata pencarian bertamabah sulit. Lahan yang mau digarap sudah di kuasai oleh HGU perusahaan,” tegasnya berapi-api ketika berbincang dengan riauterkini.com. Secara tegas, HGU yang dimaksud adalah milik PT Sari Lembah Subur. HGU dari Astra Grup ini, bahkan hanya beberapa ratus meter berada di dekat perkampungan. “Liatlah, yang itu kebun sawit milik PT SLS,” ujarnya, seraya menunjukkan kebun inti PT SLS.

    Derita masyarakat Ukui, paparnya kian bertambah, ketika, PT SLS tidak kunjung merealisasikan kebun plasma sebagai salah satu kewajiban pihak perusahaan. Sementara menurutnya, tiga desa lain seperti, desa Genduang, Pangkalan Lesung dan Kerumutan jauh-jauh sebelumnya sudah menikmati kebun plasma dari PT SLS ini. Sementara, desa Ukui, satu paket bersama-sama meneken kerjasama puluhan tahun silam bersama tiga desa di atas kata Udin, belum mendapatkan plasma dari PT SLS. Merekapun, sudah beberapa kali, menuntut dan menanyakan persoalan ini, kepada pihak perusahan akan tetapi, hasilnya nihil.

    Padahal imbuhnya, plasma ini, menjadi salah satu harapan bagi kelanjutan masyarakat. Merekapun bertekad bakal memperjuangkan plasma ini, segera direalisasikan oleh PT SLS. “Sampaikan kapanpun, kami tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang telah menjadi hak kami ini,” tegasnya. Tidak ada alasan, bagi PT SLS untuk tidak menyerahkan, hak mereka ini. Sebab disatu sisi, HGU perusahaan ini, menggarap 3800 hektar lebih tanah ulayat masyarakat Ukui.

    Sebelumnya, manajemen PT SLS Taufik sewaktu pertemuan dengan masyarakat Ukui yang di mediasi komisi 1 DPRD Pelalawan, menyebutkan pihak perusahaan hanya menjalankan ijin yang telah diberikan oleh pemerintah. Ketika, masyarakat dan anggota DPRD pada pertemuan itu meminta Taufik, menunjuk dokomen penyerahan, plasma untuk masyarakat Ukui. Taufik meminta waktu untuk mencari kelengkapan dokumen ini.

    Anggota Komisi 1, Evi Zulfian, mengaku kaget mendengar keluhan masyarakat Ukui ini. Dia sangat menyayangkan sikap perusahaan yang belum merealisasi plasma bagi masyarakat Ukui. “Kita sangat menyayangkan setelah mendengar pengakuan masyarakat. Tiga desa lain sudah direalissaikan. Tapi kenapa desa Ukui belum. Padahal, Ukui dan tiga desa lain sama-sama teken MoU,” tegasnya. Terkait persoalan ini, dia berharap PT SLS harus mesti menunjukkan, Izin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT), sebab disinilah baru terbuka titik terang benderang persoalan yang sesungguhnya.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on