GLobal Witness: 49 Persen Masyarakat Adat di 35 Negara Tewas saat Melindungi Hak atas Tanah dan Lingkungan

Home/Berita, Orang-orang di Kawasan Hutan/GLobal Witness: 49 Persen Masyarakat Adat di 35 Negara Tewas saat Melindungi Hak atas Tanah dan Lingkungan

Filipina memimpin negara-negara di asia dalam hal jumlah tertinggi orang yang tewas karena mempertahankan tanah dan melindungi lingkungan mereka saat berhadapan dengan peningkatan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA), demikian sebuah laporan terbaru dari GLobal Witness yang berbasis di London, yang melaporkan hub antara eksploitasi lingkungan dan pelanggaran ham.

Pembunuhan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 20% pada tahun lalu, dalam sengketa proyek PLTA, pertambangan, agribisnis dan penebangan hutan- pendorong utama kematian dimana yang mengejutkan bahwa 49% korban adalah masyarakat adat. Di Filipina sendiri, dari tahun 2002-2014, berdasarkan laporan berjudul “berapa banyak lagi?”, ditemukan sebanyak 82 orang telah terbunuh.

Laporan ini mencatat bahwa dalam tahun 2014 saja, 116 kasus pembunuhan di 17 negara tercatat di Amerika Tengah dan Selatan dan Asia Tenggara, sementara Brazil sebagai negara terparah dengan 29 orang terbunuh, diikuti oleh Kolombia dengan 25 orang terbunuh, Filipina 15 orang dan Honduras 12 orang.

Sedikitnya 935 orang telah terbunuh di 35 negara dari tahun 2002 sampai dengan 2014, bandingkan dengan 908 orang terbunuh tahun sebelumnya (2002-2013), demikian studi yang dirilis (Senin, 20 April 2015) di Washington DC pada saat pengumuman pemenang Goldman Environmental Prize 2015. Penghargaan ini adalah yang terbesar di dunia untuk perlindungan lingkungan akar rumput yang melindungi lingkungan dan alam.

“Semakin banyak orang yang terbunuh saat melindungi hak atas tanah dan lingkungan. Hal ini terjadi krn melonjaknya permintaan atas Sumber Daya yang menyebabkan tekanan pada lingkungan, dan pada orang orang yang paling bergantung pada itu,” demikian Billy Kytes, juru kampanye Global Witness kepada intetAksyon.com.

“ini tidak terungkap, dan sebagian besar tidak dihukum, karena pemerintah gagal melindungi warganya dari bahaya”, sebut Billy Kytes. Filipina merupakan tempat yang paling berbahaya di Asia bagi aktivis lingkungan dengan 15 kematian, kytes mengatakan dengan mengutip laporan tersebut. Sekitar 9 dari mereka yang menjadin korban adalah masyarakat adat

Banyak pembunuhan di Filipina terjadi dalam konteks perlawanan terhadap proyek pertambangan. Kelompok paramiliter yang diduga sebagai pelaku dalam banyak kasus kematian. Warisan konflik bersenjata yang lebih luas terus membahayakan kehidupan pembela tanah dan negara membatasi perlindungan terhadap mereka.

Seperti halnya pembunuhan, pembela lingkungan dan lahan adalah korban terparah yang sering mendapat ancaman dan kekerasan fisik, kriminalisasi dan pembatasan atas kebebasan mereka.

(Arkilaus Baho)

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

Berkomentar

Leave A Comment

Berita Terkait

Jelajahi berita lainnya:

BERITA LAINNYA