Sabtu (3/4) lalu, bertempat di Desa Palimbangan Gusti Kecamatan Haur Gading Kabupaten HSU, dilaksanakan kegiatan pembentukan komunitas dayak pesisir yang merupakan warga Kota Amuntai. Diketahui dalam rembukan ratusan warga dari lima desa dan dua kecamatan itu, disepakati membentuk Paguyuban (Kelompok) Dayak Pesisir yang dipusatkan di Desa Palimbangan Gusti Kecamatan Haurgading.

Menariknya dalam pembentukan dan pemilihan pucuk pimpinan, semua dilaksanakan dengan urun rembuk yang mengedepankan nilai kebersamaan khas dayak. Dalam peguyuban itu, dipilih seorang Datuk Adat Pangerak (Ketua, Red), Panglima Sanggam I dan Panglima Sanggam II. Pimpinan yang terpilih secara aklamasi oleh ratusan warga dayak pesisir yang hadir. Sebagai Datuk Adat Pangerak adalah Syamsuddin warga Desa Palimbang Gusti, Panglima Sanggam I Jauhari atau lebih dikenal dengan sebutan Abang Ijau, serta Abbdussalim sebagai panglima Sanggam II dari Desa Harusan.

Jauhari yang menyandang Panglima Sanggam I mengatakan, berjanji mempertahankan kelestarian nilai-nilai adat dayak serta norma adat yang selama ini dianut masyarakat di daerah ini. “Kalau ada masalah menyangkut norma adat, saya siap memfasilitasi untuk penyelesaian secara kekeluargaan sebelum diselesaikan secara proses hukum,” ujar Jauhari dilansir kaltengpos via Radar Banjarmasin Minggu (5/4).

Eksistensi Budaya Leluhur

Soal eksistensi dayak pesisir sendiri, Jauhari menjelaskan sebenarnya selama ini tidak hilang dari tengah masyarakat. Mengingat warga Amuntai yang merupakan bagian dari suku dayak pesisir masih mengakui garis keturunan. “Maka itu, ratusan warga terpanggil untuk bermusyawarah untuk membentuk paguyuban ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, sampai saat ini sejumlah komunitas adat dayak tersebar di beberapa kabupaten yang ada di Kalsel, mereka masih mempertahankan adat istiadat dan akrab dengan alam. “Sebagai keturunan dayak, tentu kami ingin bersama-sama menjaga nilai-nilai adat istiadat dan persatuan sesama keturunan dayak,” jelas Jauhari.

Masih dilokasi yang sama, Kades Palimbangan, Gusti, menjelaskan, dibentuknya dayak pesisir, dikarenakan keinginan warga untuk menghidupkan lagi jati diri, bahwa di Kalimantan Selatan juga ada dayak yang disebut dayak pesisir. “Niat warga hanya satu, menginginkan agar budaya dayak, tetap terjaga utuh sehingga para generasi muda sekarang tetap mengenal adat dayak yang merupakan peninggalan nenek moyang seperti di Amuntai,” kata Munawiri yang juga aktivis lokal Amuntai tersebut.

Selain itu, wadah ini dijadikan sebagai sarana untuk mencari solusi bagi pemerintah, dalam memecahkan permasalahan sengketa wilayah yang erat kaitannya dengan aturan adat. Sementara itu, Sekda HSU Ir H Edyyan Noor Idur, menyambut baik adanya paguyuban dayak. Menurutnyan dengan hadirnya dayak pesisir yang merupakan istilah keturunan dayak di Amuntai semakin menambah keragamaan adat istiadat asli Amuntai.

“Tentu pemerintah sangat mendukung adanya kemunculan Paguyuban Dayak Pesisir. Ini budaya dan ciri Amuntai yang harus mulai dikenalkan,” singkat Eddy. Sekedar diketahui desa yang masuk dalam Paguyuban, yakni Desa Harusan, Palimbangan, Palimbangan Gusti, Palimbangan Sari dan Sungai Baring yang berada di Kecamatan Haur Gading dan Amuntai Tengah.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sabtu (3/4) lalu, bertempat di Desa Palimbangan Gusti Kecamatan Haur Gading Kabupaten HSU, dilaksanakan kegiatan pembentukan komunitas dayak pesisir yang merupakan warga Kota Amuntai. Diketahui dalam rembukan ratusan warga dari lima desa dan dua kecamatan itu, disepakati membentuk Paguyuban (Kelompok) Dayak Pesisir yang dipusatkan di Desa Palimbangan Gusti Kecamatan Haurgading.

    Menariknya dalam pembentukan dan pemilihan pucuk pimpinan, semua dilaksanakan dengan urun rembuk yang mengedepankan nilai kebersamaan khas dayak. Dalam peguyuban itu, dipilih seorang Datuk Adat Pangerak (Ketua, Red), Panglima Sanggam I dan Panglima Sanggam II. Pimpinan yang terpilih secara aklamasi oleh ratusan warga dayak pesisir yang hadir. Sebagai Datuk Adat Pangerak adalah Syamsuddin warga Desa Palimbang Gusti, Panglima Sanggam I Jauhari atau lebih dikenal dengan sebutan Abang Ijau, serta Abbdussalim sebagai panglima Sanggam II dari Desa Harusan.

    Jauhari yang menyandang Panglima Sanggam I mengatakan, berjanji mempertahankan kelestarian nilai-nilai adat dayak serta norma adat yang selama ini dianut masyarakat di daerah ini. “Kalau ada masalah menyangkut norma adat, saya siap memfasilitasi untuk penyelesaian secara kekeluargaan sebelum diselesaikan secara proses hukum,” ujar Jauhari dilansir kaltengpos via Radar Banjarmasin Minggu (5/4).

    Eksistensi Budaya Leluhur

    Soal eksistensi dayak pesisir sendiri, Jauhari menjelaskan sebenarnya selama ini tidak hilang dari tengah masyarakat. Mengingat warga Amuntai yang merupakan bagian dari suku dayak pesisir masih mengakui garis keturunan. “Maka itu, ratusan warga terpanggil untuk bermusyawarah untuk membentuk paguyuban ini,” ujarnya.

    Seperti diketahui, sampai saat ini sejumlah komunitas adat dayak tersebar di beberapa kabupaten yang ada di Kalsel, mereka masih mempertahankan adat istiadat dan akrab dengan alam. “Sebagai keturunan dayak, tentu kami ingin bersama-sama menjaga nilai-nilai adat istiadat dan persatuan sesama keturunan dayak,” jelas Jauhari.

    Masih dilokasi yang sama, Kades Palimbangan, Gusti, menjelaskan, dibentuknya dayak pesisir, dikarenakan keinginan warga untuk menghidupkan lagi jati diri, bahwa di Kalimantan Selatan juga ada dayak yang disebut dayak pesisir. “Niat warga hanya satu, menginginkan agar budaya dayak, tetap terjaga utuh sehingga para generasi muda sekarang tetap mengenal adat dayak yang merupakan peninggalan nenek moyang seperti di Amuntai,” kata Munawiri yang juga aktivis lokal Amuntai tersebut.

    Selain itu, wadah ini dijadikan sebagai sarana untuk mencari solusi bagi pemerintah, dalam memecahkan permasalahan sengketa wilayah yang erat kaitannya dengan aturan adat. Sementara itu, Sekda HSU Ir H Edyyan Noor Idur, menyambut baik adanya paguyuban dayak. Menurutnyan dengan hadirnya dayak pesisir yang merupakan istilah keturunan dayak di Amuntai semakin menambah keragamaan adat istiadat asli Amuntai.

    “Tentu pemerintah sangat mendukung adanya kemunculan Paguyuban Dayak Pesisir. Ini budaya dan ciri Amuntai yang harus mulai dikenalkan,” singkat Eddy. Sekedar diketahui desa yang masuk dalam Paguyuban, yakni Desa Harusan, Palimbangan, Palimbangan Gusti, Palimbangan Sari dan Sungai Baring yang berada di Kecamatan Haur Gading dan Amuntai Tengah.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on