Kronologis Investasi Merusak Dusun Pala serta Intimidasi Aparat Brimob Penjaga Perusahaan Kayu PT. Arfak Indra di Wilayah Adat Suku Mbaham Matta Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat

1
627
BP Musa Muri, Pemilik Dusun Pala
BP Musa Muri, Pemilik Dusun Pala

Laporan Wenan Weripang dari Fakfak

Januari 2015: Arfak Indra melakukan penandatanganan semacam kesepakatan kerja atau kontrak kerja dengan beberapa marga sebagai pemilik hak tanah adat. Kesepakatan kerja sebagai legitimasi awal pihak perusahaan melakukan penebangan kayu log (Ijin Pengelolaan Kayu) di wilayah adat milik marga, diantaranya margaWanggabus, Patiran dan Wagab. Pihak manajemen perusahaan tidak memanggil semua masyarakat dari marga-marga yang melakukan kesepakatan tetapi hanya memanggil beberapa orang (oknum) untuk melakukan kesepakatan di tempat yang disebutkan di atas.

Manajemen PT. Arfak Indra juga pernah mengajak marga Weripangsupaya melakukan kerjasama guna melakukan penebangan kayu di wilayah adat margaWeripang tetapi marga Weripang menolak melakukan penebangan hutan di wilayah adatnya karena margaWeripang menganggap Hutan adalah Tempat Leluhur mereka yang perlu dilestarikan, hutan sebagai sumber mata pecaharian kehidupan, bagi marga Weripang. Menghancurkan hutan samahalnya dengan menghancurkan nasib anak cucu.

Berpatokan pada sikap Dewan Adat Mbaham Matta yang telah menerapkan SASI ADAT atau KERAKERA (baca: Masyarakat Adat Mbaham Matta Sasi Adat Investasi di Bomberay) pada tanggal 10 Desember 2014 dengan tujuan melarang semua investasi curang diwilayah adat Mbaham Matta, sehingga marga Weripang mematuhi keputusan yang dikeluarkan oleh Dewan Adat tersebut.

Jumat 3 April 2015: Masyarakat adat Mbaham Matta ke lokasi perusahan dan melakukan sasi adat di perempatan Jl. Trans Bomberai dekat kampung Baham Ndandara. Tindakan ini dilakukan karena masyarakat adat tidak puas dengan tanggapan wakil rakyat maupun pemerintah terhadap persoalan yang terjadi.

Setelah masyarakat melakukan sasi adat dan ke kampung Baham Ndandara, manajer perusahan bersama dengan anggota brimob datang kekampung Baham menemui masyarakat dan ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Zirzet Gwas Gwas. Pada pertemuan tersebut manejer perusahan tidak turun dari mobil tapi komandan brimob yang mewakili perusahan menemui masyarakat bersama Pak ketua Dewan Adat. Danpos brimob yang mewakili perusahan menanyakan kepada ketua DAP Mbaham Matta (Bpk Zirzet Gwas Gwas) apakah kita masih bekerja atau tidak? Pak Zirzet dengan tegas Mengatakan bahwa “Perusahan Hari ini juga ditutup”.

Sabtu 4 April 2015: Tim dari pemerintah, DPRD, Dewan Adat bersama aparat keamanan TNI dan Polri melakukan investigasi ke lokasi perusahan. Sampai di lokasi mereka mengajak salah satu perwakilan dari masyarakat meninjau lokasi kerja, tim yang melakukan investigasi tidak masuk ke semua dusun pala yang rusak tetapi hanya sampai di satu dusun dan pulang ke kamp perusahan. Ironisnya Sampai saat tindak lanjut dari tim ini tidak jelas hasilnya.

8 April 2015: Aparat brimob mendatangi operator senso yang disewa bapak Kamal Weripang, Dahlan Weripang, Yusup Weripang, Salim Weripang dan Musa Weripang. Brimob tersebut larang mereka agar tidak boleh mengesek kayu disini karena menurut aparat brimob, hutan ini adalah milik HPH Arfak Indra sehingga masyarakat tidak boleh gesek kayu dan mengacam apabilah ada masyarakat masih gesek kayu maka ‘resiko tanggung sendiri’. Padahal wilayah itu adalah Hak Tanah Adat Marga Weripang dari leluhur mereka. Anggota brimob juga masuk kedalam lokasi dan melakukan dokumentasi atau memotret tunggul-tunggul kayu yang sudah di tebang.

Unduh Kronologis Selengkapnya:

 Kronologis Investasi serta Intimidasi Aparat Brimob Penjaga Perusahaan Kayu PT Arfak Indra di Wilayah Adat Suku Mbaham Matta Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat