Tim “Anti Illegal Fishing” Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan burung endemik Papua diperdagangkan. Wakil Ketua Tim Yunus Husein pada Jumat lalu mengatakan segera berkoordinasi dengan lembaga terkait, seperti Kementerian Kehutanan dan kepolisian, untuk menentukan legalitas penjualan itu.

Tim bentukan Menteri Susi Pudjiastuti itu menemukan hewan tersebut setelah melakukan inspeksi mendadak ke Kampung Woegekel, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua, Kamis lalu. Mereka ke sana mengecek dokumen kapal-kapal milik sejumlah perusahaan, antara lain PT Dwikarya Reksa Abadi.

Burung-burung asli Papua itu dikirim ke Cina dengan kapal itu. Namun Perwakilan PT Dwikarya di Ilwayab, Tomo Khusein, mengaku tidak tahu ihwal pengiriman burung-burung di kapalnya. Perdagangan satwa itu sudah lama terjadi. Hendori, seorang penjual di sana bilang kepada tempo.co, kebanyakan yang dijual burung kakatua jambul kuning, beo, nuri, gagak, dan buaya yang telah diawetkan. “Peminatnya orang-orang Cina,” ujarnya saat ditemui Tempo di rumahnya.

Di rumah Hendori, ada seekor kakatua jambul kuning. Burung itu kurus dan bulunya sudah rontok. “Sepi setelah kapal Cina tidak datang,” kata dia. Pemerintah memberlakukan moratorium kapal asing untuk menghentikan pencurian ikan.

Menurut dia, ketika kapal-kapal ke Cina masih aktif menangkap ikan, permintaan satwa tinggi. Biasanya, ucap lelaki asal Jawa Tengah ini, hewan tersebut dikirim dua kali sebulan. Sekali kirim bisa 100 ekor. Dulu, sehari ia bisa menangkap 20 burung endemik. Terkadang dia membeli dari penduduk, lalu dijual ke nelayan Cina Rp 1,5-3 juta per ekor.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menanyakan kebenaran temuan itu ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua. “Kegiatan seperti itu marak tapi tak tampak,” kata juru bicara Kementerian, Eka Widodo Sugiri, kemarin.

Akhir Februari lalu polisi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, juga menggagalkan penyelundupan ratusan ekor satwa di sebuah kapal yang berangkat dari Papua. Satwanya antara lain cenderawasih, tupai terbang, dan kakatua hitam, yang disimpan di dalam kamar mesin.

(Baca juga: Sebanyak 5.284 Kura-kura Moncong Babi ini Hanya Bisa Hidup di Papua)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Tim “Anti Illegal Fishing” Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan burung endemik Papua diperdagangkan. Wakil Ketua Tim Yunus Husein pada Jumat lalu mengatakan segera berkoordinasi dengan lembaga terkait, seperti Kementerian Kehutanan dan kepolisian, untuk menentukan legalitas penjualan itu.

    Tim bentukan Menteri Susi Pudjiastuti itu menemukan hewan tersebut setelah melakukan inspeksi mendadak ke Kampung Woegekel, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua, Kamis lalu. Mereka ke sana mengecek dokumen kapal-kapal milik sejumlah perusahaan, antara lain PT Dwikarya Reksa Abadi.

    Burung-burung asli Papua itu dikirim ke Cina dengan kapal itu. Namun Perwakilan PT Dwikarya di Ilwayab, Tomo Khusein, mengaku tidak tahu ihwal pengiriman burung-burung di kapalnya. Perdagangan satwa itu sudah lama terjadi. Hendori, seorang penjual di sana bilang kepada tempo.co, kebanyakan yang dijual burung kakatua jambul kuning, beo, nuri, gagak, dan buaya yang telah diawetkan. “Peminatnya orang-orang Cina,” ujarnya saat ditemui Tempo di rumahnya.

    Di rumah Hendori, ada seekor kakatua jambul kuning. Burung itu kurus dan bulunya sudah rontok. “Sepi setelah kapal Cina tidak datang,” kata dia. Pemerintah memberlakukan moratorium kapal asing untuk menghentikan pencurian ikan.

    Menurut dia, ketika kapal-kapal ke Cina masih aktif menangkap ikan, permintaan satwa tinggi. Biasanya, ucap lelaki asal Jawa Tengah ini, hewan tersebut dikirim dua kali sebulan. Sekali kirim bisa 100 ekor. Dulu, sehari ia bisa menangkap 20 burung endemik. Terkadang dia membeli dari penduduk, lalu dijual ke nelayan Cina Rp 1,5-3 juta per ekor.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menanyakan kebenaran temuan itu ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua. “Kegiatan seperti itu marak tapi tak tampak,” kata juru bicara Kementerian, Eka Widodo Sugiri, kemarin.

    Akhir Februari lalu polisi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, juga menggagalkan penyelundupan ratusan ekor satwa di sebuah kapal yang berangkat dari Papua. Satwanya antara lain cenderawasih, tupai terbang, dan kakatua hitam, yang disimpan di dalam kamar mesin.

    (Baca juga: Sebanyak 5.284 Kura-kura Moncong Babi ini Hanya Bisa Hidup di Papua)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on